…. jejakku, cintaku ….

Jejak Ilmu

Matematika Ramah Keluarga

Oleh: Dr. Fahmi Amhar

Setelah baca tulis, tingkat kecerdasan seseorang diukur dengan matematika. Ini berlaku juga untuk skala keluarga maupun skala bangsa.  Berapa kira-kira skala matematika keluarga Anda?  Apakah Anda puas dengan matematika yang pernah diperoleh di bangku sekolah?  Apakah matematika yang Anda lihat sudah “ramah keluarga”, sehingga Anda merasakan gunanya di kehidupan sehari-hari, dan anak-anak Anda bersemangat mempelajarinya?

Islam tidak hanya mengangkat peradaban di tingkat elite, tetapi juga untuk tingkat rumah tangga rakyat jelata.  Seperti membaca dan menulis, matematika juga di bawah Islam menjadi ilmu yang dikuasai nyaris oleh semua anak-anak yang menuntut ilmu, di mana akses sekolah telah dibuka selebar-lebarnya.

Namun salah seorang matematikawan yang paling berjasa menjadikan matematika “ramah keluarga” ini adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780 – 850 M).

Masa remaja Al-Khawarizmi di Khurasan (Iran) tidak banyak diketahui.  Yang jelas dia kemudian berkarier sebagai matematikawan di Baitul Hikmah (Akademi Ilmu Pengetahuan) di Baghdad yang didirikan oleh Khalifah al-Mansur yang berkuasa dari 754 – 775 M.  Semua orang tahu bahwa al-Makmun adalah politisi yang sangat antusias dengan logika dan matematika.  Dan al-Makmun tidak salah.  Al-Khawarizmi membuktikan diri sebagai orang pertama yang berhasil “mengawinkan” geometri Yunani dengan arimetika India, baik di kecanggihannya sehingga mampu memecahkan berbagai persoalan rumit, maupun di kesederhanaan bahasanya, sehingga dapat dipelajari oleh anak sekolah dasar.

Karya Al-Khawarizmi yang mengubah sejarah matematika sehingga dapat diterapkan di setiap rumah tangga, bukanlah karyanya canggih secara ilmiah, melainkan dua buah buku yang isinya terhitung ringan, meskipun yang satu memiliki judul yang menggetarkan: “Kitab Aljabar wa al-Muqobalah”, sedang satunya lagi sebuah buku tentang teknik berhitung dengan angka India, tentang bagaimana menjumlah, mengurangi, mengalikan dan membagi.  Pada abad-12 buku ini diterjemahkan ke bahasa Latin dan tersebar di Eropa.  Lambat laun, teknik berhitung ala al-Khawarizmi disebut algorizmus, atau algoritma.

Algoritma akhirnya menggusur cara berhitung Yunani dengan abakus (seperti sempoa).  Abakus memang lebih cepat untuk menghitung angka-angka besar, namun hanya terbatas untuk operasi aritmetika sederhana (misalnya menjumlah harga dagangan).  Pada hitungan yang kompleks (seperti menghitung pembagian waris atau menghitung titik berat kapal), algoritma jauh lebih praktis, cepat dan akurat.

Anehnya bangsa Eropa sendiri kemudian sempat lupa asal-usul kata algoritma.  Ada yang menyangka algoritma berasal dari kata “alleos” (asing) dan “goros” (cara pandang), karena teknik ini memerlukan cara pandang yang baru.  Ada lagi yang menduga algoritma dari “algos” (pasir) dan “ritmos” (angka), atau teknik dengan angka-angka yang mampu menghitung obyek sebanyak pasir di pantai.  Ada juga yang menyangka bahwa algoritma adalah judul buku Mesir kuno seperti Almagest karya Ptolomeus.  Demikian puluhan teori muncul, sampai akhirnya pada 1845, Franzose Reinand menemukan kembali al-Khawarizmi dalam algoritma.  Salah satu buktinya adalah bahwa dalam perhitungan aritmetika, selalu dihitung satuan dulu yang ditaruh paling kanan, lalu ke kiri dengan puluhan dan seterusnya.  Sebagaimana huruf Arab ditulis dan dibaca dari kanan ke kiri.

Ilustrasi adu cepat berhitung antara kaum Abacist (yang menggunakan abakus) vs Algoritmiker (pengikut metode al-Khawarizmi), dan dimenangkan oleh kaum Algoritmiker.

Pada tahun 773 Masehi, seorang astronom India bernama Kankah mengunjungi al-Mansur.  Lelaki itu membawa buku berjudul Sindhind tentang aritmetika, yang dengannya dia terbukti mampu menghitung bintang dengan sangat baik.  Al-Mansur lalu memerintahkan agar buku itu diterjemahkan ke bahasa Arab, kemudian agar dibuat sebuah pedoman untuk menghitung gerakan-gerakan planet.  Muhammad bin Ibrahim al-Fasari lalu membuat pedoman ini, yang di kalangan astronom kemudian disebut “Sindhind besar”.  Belakangan karya ini diedit ulang oleh Al-Khawarizmi.

Dengan karya ini, angka India menjadi populer.  Ketika Khalifah al-Walid I (668 – 715 M) menguasai Spanyol dan segera melarang penggunaan bahasa Yunani atau Latin dalam urusan resmi untuk diganti bahasa Arab, dia masih mengecualikan penggunaan angka Yunani, karena angka ini belum ada penggantinya.  Namun ketika buku al-Fasari dan al-Khawarizmi keluar, dengan segera “angka India” diadopsi tak hanya oleh birokrasi, tetapi juga kalangan pebisnis dan surveyor, bahkan akhirnya oleh ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak mereka. Bagi orang-orang Spanyol, angka yang dibawa oleh para matematikawan Muslim yang berbahasa Arab ini lalu disebut “Angka Arab”.  Matematika akhirnya bisa menjadi cabang ilmu yang ramah keluarga.

Pada masa Yunani kuno, para matematikawan lebih asyik berfilosofi tentang geometri daripada memikirkan aplikasi praktis capaian geometri mereka.  Contoh: mereka telah berhasil menghitung hubungan jari-jari lingkaran dengan keliling lingkaran, yaitu bilangan pi (π).  Karena nilai pi ini saat dihitung “tidak mau selesai”, maka bilangan ini disebut “trancendental”, artinya: hanya Tuhan yang tahu.

Kalau sebuah bidang memotong kerucut dan membentuk suatu bangun geometri (ellips, parabola atau hiperbola) lalu pertanyaannya berapa luas atau keliling bangun tersebut, maka geometri Yunani tak lagi bisa memberi jawaban.  Pada saat yang sama, seni berhitung ala India juga tak pernah dipakai menghitung persoalan serumit ini.  Di sinilah Al-Khawarizmi “mengawinkan” aritmetika dan geometri. Potongan kerucut dengan bidang menghasilkan beberapa unknown (yang nilainya dicari), yang akan ditemukan kalau rumus bidang datar, kerucut dan kemiringan perpotongan disatukan lalu diselesaikan.  Inilah aljabar.

Hitungan ini lalu dipakai untuk membuat berbagai benda teknis yang dipasang di depan masjid hingga di dalam rumah, dari jam matahari hingga wajan penggorengan, dan di zaman modern dari desain bendungan hingga antena TV.  Model hitungan “perpotongan kerucut” ini belakangan dipakai untuk menghitung lintasan peluru manjaniq di medan jihad, dan beberapa ratus tahun kemudian dipakai oleh NASA untuk memprediksikan gerakan pesawat ruang angkasa.

Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2012/11/19/matematika-ramah-keluarga/

Iklan

Rasulullah dan Intelijen yang Berakhlaq

Pernah menonton film Enemy of the state? film yang bercerita tentang kehebatan agen rahasia NSA (National Security Agency). Film yang bercerita seputar intrik-intrik spionase, serta kecanggihan peralatan penyadapan ini dimainkan Will smith (sebagai Robert Clayton).

Dalam cerita, pengacara kulit hitam Clayton diburu secara membabi-buta oleh intel NSA karena telah menyimpan informasi penting tentang pembunuhan. Dengan alat-alat deteksi canggih, Clayton diburu selama 24 jam penuh oleh agen NSA. Tanpa disadari, sekujur tubuhnya sudah dipasangi alat penyadap canggih. Mulai pulpen, sepatu, jas, arloji dan kancing celana. Bahkan untuk kepentingan intelijen pula, aparat-aparat intel itu harus membunuh siapa saja yang ditemui jika dianggap perlu.

Intelijen merupakan salah satu unsur dari manajemen yang telah digunakan oleh manusia sejak zaman prasejarah. Ilmu intelijen bahkan berkembang menjadi salah satu unsur manajemen perang sejak 400 tahun sebelum masehi.

Salah satu tugas pokok dari intelijen adalah kemampuan menggambarkan perkiraan keadaan yang akan terjadi secara tepat, sehingga selain mendapatkan informasi penting juga diharapkan mampu memenangkan peperangan. Selain itu, fungsi intelijen juga memperkecil resiko yang timbul baik terhadap manusia (pasukan) maupun peralatan (logistik). Kirka secara sederhana mencakup empat hal penting, yakni terhadap pasukan sendiri (intern), terhadap pasukan lawan, terhadap medan atau lokasi di lapangan dan terhadap cuaca.

Dalam perkembangannya, kegiatan mata-mata seperti ini telah melahirkan teknologi dan peralatan informasi yang begitu canggih. Dalam Perang Dunia (PD) II, misalnya, bahkan pernah dikenal tehnik Radio Direct Finding (RDF), teknik yang dipakai untuk melacak sinyal pemancar-pemancar “clandestine”.

Dinas rahasia Jerman dan Swiss pernah juga pernah menggunakan perangkat teknologi RDF, memaksa pemancar-pemancar lain untuk menghilang dari udara dengan jalan memancarkan sinyal super kuat. Taktik yang dipakai armada Jerman adalah menyebarkan kapal-kapal selam kecil yang dikenal dengan u-boatratusan mil menyeberangi samudra untuk mencari konvoi kapal perang musuh. Bila sebuah konvoi berhasil dideteksi u-boat, maka pesawat radio u-boat mengabarkannya dan tentu saja juga kepada u-boat lain yang berdekatan. Intelejen Naval sekutu mampu melakukan RDF terhadap pancaran dari u-boat yang memberi probabilita 50% bahwa u-boat tersebut berada dalam radius diameter 100 mil laut. Perangkat RDF yang dipasang pada kapal-kapal konvoi memastikan lebih baik hasil-hasil DF bahkan intelejen Naval dapat menginformasikan saat-saat u-boat tersebut muncul ke permukaan laut dan di sana sebuah pesawat tempur yang dilengkapi radar telah siap menantika kehadiran ‘sang musuh’.

Inti dari pekerjaan intelijen adalah memenangkan informasi. Dalam doktrin militer, informasi merupakan bagia integral dari komando dan kendali yang merupakan kunci setiap operasi. Dulu, konsep intelijen hanya sebatas tentang penginderaan di batas-batas wilayah, kegiatan lalulintas manusia, kapal laut dan udara, sistem deteksi dan peringatan dini atau radar surveilance untuk di darat, laut dan udara. Termasuk remote sensing dan sistem navigasi udara.

Di era 90-an, dengan kemajuan teknologi komputer melahirkan konsep Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer dan Intelijen (K4I). Tetapi, belakangan ini, konsep baru yang diterapkan adalah; Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, dan Manajemen Pertempuran (command, control, communications, computers, intelligence and battle management) atau sering disebut (K4I/MP). Ini menunjukan, teknologi baru dalam penerapan teknik berperang juga menggunakan prinsip manajemen. Yakni manajemen pertempuran. Karenanya, di era modern, infrastructure telecommunication and computer network begitu amat berharga.

Semenjak perkembangan teknologi informasi menjadi sangat pesat, maka barang siapa menguasai informasi, menguasai dunia. Inilah yang mendorong negara adi daya untuk berlomba-lomba memasuki medan peperangan yang baru yaitu perang informasi terutama dengan memanfaatkan media masa dan jaringan informasi global. Karena itulah, wajar bila mantan presiden AS, Ronald Reagan pernah mengeluarkan gagasan ‘Perang Bintang’.

Kemajuan teknologi informasi menyebabkan terjadinya pergeseran konsep memenangkan perang. Janganlah heran bila kemudian Amerika Serikat (AS) tiba-tiba memiliki data foto satelit tiga dimensi tentang kondisi Propinsi Aceh Darussalam (NAD). Foto satelit, adalah diantara teknologi informasi modern yang dipakai dalam dunia intelijen.

.

Intelligence tapi tak pintar

Intelijen adalah ilmu penting yang dibutuhkan masyarakat semenjak dahulu. Sebagai kebutuhan masyarakat atau atas nama negara, pelaku intelijen tak hanya diharapkan mampu berbahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Tagalog, Thai, dan Vietnam sebagai layaknya materi wajib yang diajarkan di Institut Intelijen Negara. Atau sekedar teknik-teknik pengintaian, fotografi rahasia, keamanan teknologi informatika, penggunaan senjata-senjata kecil dalam ‘Sarana Latihan Khusus’ seperti yang dikelola BIN, yang ada di Pejaten dan Cipayung Jakarta atau International School of Intelligence yang ada di Batam. Intelijen yang sejati –tak sekedar teknik-teknik dan berbagai keahlian—tetapi berangkat dari akhlaq yang baik.

Intelijen sebenarnya diambil dari kata intelligence yang berarti kecerdasan. Tapi dalam prakteknya mereka benar-benar tak mencerminkan pengertian itu. Intelijen mengalami cidera dan stigma yang benar-benar negatif karena fungsinya tidak benar-benar diterapkan sesuai namanya.

Sudah lazim, jika dalam perkembangannya, intelijen diterapkan dan dikembangkan melalui tipu muslihat dan strategi politik. Cara-cara seperti; penggalangan, rekrutmen, pembinaan, penugasan dan pembinasaan terus diterapkan layaknya sebuah mesin kekejaman para penguasa. Cara-cara seperti itu pernah dipakai BAKIN untuk merekayasa terhadap kader-kader Masyumi dengan merekayasa adanya kebangkitan “Neo NII”.

Dengan kebijakan politik kooptasi, konspirasi dan kolaborasi rekayasa intelejen –galang, rekrut, bina, tugaskan dan binasakan—diterapkan pada gerakan NII sejak tahun 70-an bahkan berlanjut hingga kini.

Melalui cara kooptasi, Ali Murtopo kemudian merekrut Danu Moh. Hasan (mantan panglima divisi gerakan DI-TII). Danu kemudian dikaryakan di lembaga formal Bakin di Jalan Raden Saleh 24 Jakarta Pusat.

Para infiltran dan kader intelejen militer juga menyusup ke dalam gerakan ummat Islam Indonesia yang berlangsung sejak Orde Baru di bawah Soeharto. Melalui Ali Moertopo, intelijen melakukan gerakan pembusukan dalam tubuh gerakan-gerakan Islam. Maka muncullah kasus “Komando Jihad” (Komji) di Jawa Timur pada tahun 1977. Tahun 1981 BAKIN juga sukses menyusupkan salah satu anggota kehormatan intelnya (berbasis Yon Armed) bernama Najamuddin, ke dalam gerakan Jama’ah Imran yang kemudian lahir kasus “Imran”. Juga kasus-kasus rekayasa kejam intel seperti kasus “Woyla”.

Dalam konsep pertahanan keamanan (nasional maupun internasional), tugas badan intelijen secara umum adalah memberikan dukungan penuh kepada negara atau pemerintah untuk mengumpulkan informasi mengenai strategi musuh. Lembaga ini kemudian bertugas memberikan laporan mengenai keamanan nasional dan internasional, masalah sosial, politik, ekonomi, dan militer domestik maupun pihak asing. Baik dengan menggunakan berbagai teknik atau strategi informasi yang canggih dan kreatif.

Namun sayangnya, pekerjaan-pekerjaan intelijen sering paralel dengan nafsu penguasa hanya sekedar mempertahankan kekuasaannya. Karenanya, yang berkembang kemudian justru para petugas intelijen sibuk mengawasi musuh politik penguasa bahkan sibuk memata-matai rakyatnya sendiri. Meski mereka dibayar negara dari hasil pajak yang dikumpulkan dari rakyat. Untuk kekuasaan dan politik, mereka bisa menciduk, bahkan harus rela mengilangkan nyawa orang.

Di zaman Nazi Jerman, pencidukan dilakukan oleh Gestapo tidak tedeng aling-aling. Pintu digedor, manusianya diangkut ke tempat tahanan diinterograsi, digebuk, disetrom dan dipaksa mengaku meski tidak pernah melakukan. Di zaman Stalin, NKVD/KGB melakukan teror pada malam hari. Jika malam hari pintu rumah diketok orang, dan jika sang tamu sudah memperlihatkan kartu merah (tanda pengenal KBG) tanpa debat, orang tersebut diapit aparat menuju mobil hitam dan membawanya ke tempat tahanan. Biasanya, mereka yang dibawa KGB dan tidak akan pernah pulang kembali. Di Chili, perempuan yang diciduk tidak hanya disiksa tapi malah dalam keadaan tangan-tangan dan kaki-kaki diikat dibiarkan disetubuhi oleh anjing herder yang khusus terlatih.

Di kamp eksukusi Siberia, agen intelijen bisa menjadikan orang dan tahanan didomisilikan di rumah sakit gila, untuk dijadikan orang gila.

Kasus “Jama’ah Islamiyah” (JI) yang mampu menyeret nama Ustad Abubakar Ba’asyir menggoreskan nama penting anggota BAKIN, Abdul Haris, Lc, yang menyusup ke dalam anggota Mejelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Meski belum jelas bersalah apa tidak, cara kerja intelijen telah menyudutkan dan merugikan banyak kelompok orang dan berbagai organisasi. Cara-cara memperlakukan ‘tersangka’ tak pernah dipikirkan akibatnya. Apakah kelak nasib anak dan keluarganya atau sahabat-sahabatnya. Bahkan terkadang, hanya karena kenal dekat, orang bisa diciduk, dipenjarakan beberapa minggu, kalau perlu digebuki. Jika kemudian tak terbukti, terangksa dikembalikan dengan alasan, “tersangka hanya dikenakan beberapa pertanyaan”. Polisi tak pernah menjelaskan pada pers mereka tak bersalah. Sedangkan, anak dan keluarganya di rumah telah ‘dihukum’ masyarakat dengan cap buruk ‘teroris’ sepanjang hidupnya.

Intel-intel masa kini, tak pernah banyak mengerti agama. Memburu orang-orang yang dianggap merugikan banyak orang akibat tindakan ‘terorisme’ adalah perbuatan baik. Tetapi melukai perasaan orang dan keluarganya karena salah sasaran ‘terorisme’ justru dosa besar.

Rekayasa, adu domba, dan pembusukan, adalah kenangan buruk –khususnya terhadap umat Islam– terhadap cara kerja intelijen masa kini. Bahkan umumnya, dunia intelejen di zaman modern, dianggap sangat kejam, sadis, dan tak bermoral. Lebih kejam dari pelaku teror itu sendiri.

Ingat kasus Abu Jihad, seseorang yang telah mengabdikan diri kepada kepentingan intelejen Indonesia (BIN dan BAIS) justru bernasib tragis. Ia dieliminasi akhir Februari tahun 2003 di Ambon melalui sebuah eksekusi –yang kabarnya– oleh sebuah operasi intelejen, oleh lembaga yang telah merekrutnya. Kejam bukan?

.

Intelijen yang Berakhlaq

Islam telah mengenal fungsi intelijen 1400 tahun, setelah Muhammad menjadi Rasul. Meski secara teknologi kalah dibanding zaman modern, dasar-dasar intelijen yang telah dikenalkan oleh Rasulullah Muhammad SAW jauh lebih berakhlaq.

Bulan Jumadil Akhir 1424, seorang sahabat bernama Abdullah bin Jahsy Asady, beserta dua belas sahabat dari kalangan muhajirin diperintahkan Rasulullah berangkat untuk menjalankan sebuah operasi intelejen rahasia. Ikut dalam rombongan itu Sa’ad bin Abi Waqqash dan ‘Utbah bin Ghazwan. Rasulullah SAW memberinya sebuah surat yang boleh dibaca jika perjalanan mereka sudah mencapai dua hari.

Setelah dua hari dalam perjalanan, sang komandan, Abdullah bin Jahsy kemudian membuka isi surat tersebut. Isinya, tak lain adalah sebuah perintah untuk memata-matai musuh: “Berangkatlah menuju Nikhlah, antara Mekkah dan Tha’if. Intailah keadaan orang orang Quraisy di sana dan laporkan kepada kami keadaan mereka.” Selepas membaca surat itu, Abdullah bin Jahsy dan para rombongan kemudian berujar, “Kutaati perintah ini!”

Kemudian diceritakanlah isi surat Rasulullah tersebut kepada para sahabatnya yang lain seraya berkata, “Rasul Allah telah melarang aku memaksa seorang pun dari kalian. Siapa yang ingin mati sebagai pahlawan syahid, marilah berjalan terus bersama aku, dan siapa yang tidak menyukai hal tersebut hendaklah dia pulang…!”

Muhammad adalah panglima perang sejati. Saat melalukan pembebasan negeri Mekah dari suku Quraisy, Nabi Muhammad –ketika itu berencana—akan mengerahkan 10.000 pasukan tentara Muslim. Untuk mempertahankan ‘serangan mendadak’ ini, Rasulullah kemudian melepaskan petugas intelijennya menuju Mekah yang ditugaskan mengacaukan informasi pada musuh agar mereka tidak mengerti bila pasukan Islam yang berencana melakukan serangan mendadak itu jumlahnya banyak.

Untuk kepentingan intelijen dan kerahasiaan militer, Nabi Muhammad bahkan menyimpa rapat-rapat informasi jumlah pasukan ini bahkan kepada istri tercinta Siti Aisyah atau pada sahabat kepercayaannya sendiri, Abu Bakar Ash Shidiq.

Esoknya, dalam penyerangan mendadak itu kau kafir Quraisy benar-benar kelabakan dan kedodoran. Mereka tak menyangka di pagi hari buta itu, telah datang puluhan ribu orang dari pasukan Islam di kota Mekah. Tanpa persiapan, mereka kemudian menyerah. Muhammad paham, orang Quraisy tak akan melakukan perlawanan. Sebab, di tangannya, Rasulullah telah menguasai informasi kekuatan musuh, situasi yang bakal terjadi, hingga informasi logistik, menyangkut keadaan jalan-jalan yang akan dilalui pasukan Islam dan kondisi mata air. Detil, rapi dan rahasia. Itulah strategi Muhammad dalam menjalankan perang dan intelijen.

Bedanya, Nabi Muhammad tak pernah mengajarkan kerja-kerja intelijen yang keluar dalam akhlaq Islam sebagaimana halnya gaya intelejen modern sekarang ini. Muhammad tak pernah memerintahkan pasukan pengintainya untuk melakukan fitnah terhadap musuh, menculik atau menghilangkan nyawa orang tanpa alasan syar’I. Jauh berbeda dengan intelijen Indonesia atau CIA seperti ratusan kasus-kasus rekayasa jahatnya terhadap umat Islam selama ini.

.

Misi Rahasia 

Rasulullah juga pernah melakukan operasi intelijen dan misi rahasia ke pasukan musuh. Seorang sahabat Abdullah bin Unis dikirim Rasulullah menyusup masuk ke dalam pusat kekuatan musuh. Sasaran utama misi itu adalah Bani Lihyaan dari Kabilah Huzail yang dipimpin oleh panglima mereka, Khalid bin Sofyan El Hazaly.

Misi ini dilakukan karena umat Islam mendapatkan kabar bahwa Khalid bin Sofyan El Hazaly tengah berupaya mengadakan pemusatan kekuatan pasukan gabungan kaum kafir yang cukup besar di daerah Uranah untuk menyerang Islam. Karena itu, Rasulullah mengirim Abdullah bin Unis untuk melakukan misi pengintaian sekaligus penyelidikan untuk membenarkan kabar berita tersebut.

Abdullah kemudian berangkat dan melakukan menyamaran. Tak terduga, di tengah jalan, Abdullah bertemu Khalid yang ditemani beberapa wanita dan pasukannya. Khalid kemudian menyapa Abdullah, “Hai laki-laki, siapa gerangan Engkau?”

Jawab Abdullah, “Saya adalah laki-laki Arab juga. Saya mendengar bahwa engkau telah memusatkan kekuatan pasukan untuk menyerang Muhammad. Apakah benar demikian?” tanya Abdullah. Dan tanpa curiga, Khalid membenarkan rencananya itu. Abdullah meminta diperbolehkan bergabung dan meminta dizinkan menemani Khalid. Tanpa curiga, Khalid mengizinkannya. Suatu kali, Abdullah mendapatkan Khalid sendirian dan terpisah dari pasukan utamanya. Abdullah tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, secepat kilat, Abdullah kemudian menyergap Khalid dan membunuh pemimpin kaum kafir itu dengan pedangnya. Peristiwa itu membuat kaum kafir gempar. Pasukan musyrikin geger dan urung menyerang umat Islam karena diketahui pemimpinnya telah tiada. Abdullah kemudian pulang ke Madinah setelah melakukan misi rahasianya.

.

Propaganda dan Tipuan 

Dalam misi intelijen Rasulullah juga pernah melakukan propaganda untuk memperlemah kekuatan musuhnya. Dalam kisah, pernah suatu ketika kekuatan musuh gabungan porak-poranda dan bercerai-berai akibat tidak adanya kekompakan diantara mereka akibat propaganda yang dilancarkan Nu’aim bin Mas’ud Al-Ghathafany, mantan musuh yang kemudian bergabung ke pasukan Islam. Nu’aim melakukan psyco war (perang urat syarat) dan propaganda yang membuat kekuatan musuh goyah dan bercerai-berai.

Rasulullah juga pernah melakukan tipuan yang kratif untuk mengecoh lawan dalam peperangan. Suatu kali, ketika Rasulullah berencana akan berperang dengan kaum Quraisy. Di sebuah tempat, di Marru Dzahraan, tempat Rasulullah dan pasukannya bermarkas, beliau memerintahkan seluruh pasukannya menyalakan obor.

Nyala obor 10.000 orang pasukan Islam itu kemudian bercahaya ke seluruh penjuru kota hingga kaum Quraisy melihatnya dari kejauhan. Melihat cahaya api pasukan Islam, Abu Sofyan berkata, “Belum pernah saya melihat malam seperti terbakar ini dan belum pernah pula saya melihat ada pasukan seperti ini!” Cerita itu kemudian cepat tersebar dari mulut ke mulut hingga sampai ke para pemimpin kaum Quraisy dan pasukan kafir.

Akibat taktik itu, Rasulullah berhasil mengecoh lawan dengan mengesankan pasukan muslimin luar biasa banyaknya hingga membuat nyali pasukan musuh menjadi ciut. Sebagaian kaum kafir bahkan berlarian memeluk Islam agar aman, sebagian lainnya tetap melawan meski sudah tak lagi memiliki keberanian akibat sudah kalah secara psikologis. Dan Rasulullah akhirnya mampu menguasai Mekah tanpa ada perlawanan yang berarti.

Nabi tak pernah melibatkan orang-orang yang tidak berasalah untuk dilibatkan dalam perang. Apalagi orang tua, wanita atau anak-anak. Ini berbeda dengan gaya kerja intel kita yang meniru intel CIA atau BIN yang bisa menjerat keluarga atau istri korban dengan UU Anti-Terorisme. Bahkan karena bernafsu memburu korban, intel-intel kita bisa melibatkan apa saja yang pernah dekat dengan si korban. Termasuk melibatkan teman dekat, kenalan hanya karena nama-nama kerabatnya ada di nomor HP “si korban”.

Staf intelijen Rasulullah umumnya adalah perwira-perwira yang amanah dan berakhlaq tinggi. Mereka adalah orang yang memiliki integritas tinggi, kuat dalam ibadah, amanah memegang kejujuran, taat kepada perintah Rasul dan tidak keluar dari Al-Qur’an dan Sunnah. Intel gaya Rasulullah jauh antara langit dan bumi dibanding intel gaya CIA bahkan BIN sekalipun.

Ketika Abdullah bin Jahsy mendapat perintah pengintaian langsung dari Rasulullah di kota Nikhlah, dekat Mekah dan Tha’if, komandan intel ini bahkan tak melakukan pemaksaan kepada anggota intel yang lain. “Rasul Allah telah melarang aku memaksa seorang pun dari kalian. Siapa yang ingin mati sebagai pahlawan syahid, marilah berjalan terus bersama aku, dan siapa yang tidak menyukai hal tersebut hendaklah dia pulang…!”

Santun itulah akhlaq sfat intel Rasulullah. Dan akhlaq dalam strategi perang dan intelijen Rasulullah itu sudah diajarkan hampir 14 abad lalu.

Berbeda dengan intel-intel kita meski kejadiannya sudah dikatakan abad modern. Intel-intel modern justru berusaha memojokkan orang, kelompok atau organisasi tertentu. Intel Rasulullah juga tidak akan melakukan rekayasa-rekayasa licik yang merugikan masa depan orang lain atau kelompok tertentu. Kecuali melalukan strategi dan taktik di medan perang. Bedanya, intel kita bisa memata-matai rakyatnya sendiri dan melalukan rekayasa-rekayasa tak terpuji –bahkan perintahnya justru dari negara lain– seperti negara semacam Amerika Serikat (AS)

.

Intel Nabi dan Intel zaman Komji

Juni tahun 2002, sebuah peristiwa penting terjadi di Masjid Raya Bogor. Seorang pria keturunan Timur Tengah, ditangkap karena pelanggaran dokumen imigrasi. Pria bernama Umar al Faruq,  yang pernah tercatat sebagai penduduk Desa Cijambu, Kecamatan Cijeruk, Jawa Barat, disebut-sebut TIME , punya hubungan dengan petinggi Al-Qaidah untuk kawasan Asia Tenggara.

Ia bahkan ikut dikait-kaitkan dengan  rencana pembunuhan Megawati, dianggap terlibat dalam peledakan bom di sejumlah kota di Indonesia pada malam Natal tahun 2000, serta merencanakan peledakan sejumlah sarana milik AS di Singapura dan Indonesia.  Siapa sesungguhnya Umar al Faruq? Tidak jelas hingga sekarang.

Selain Umar al Faruq, dalam kasus penangkapan tujuh tahun silam itu, tersangkut pula nama Abdul Haris, yang kemudian ikut dibebaskan oleh pihak intelijen. Kepada Majalah TEMPO, Haris mengaku bahkan sempat ikut mengurus paspor.  “Saya mengenal Faruq karena membantu menguruskan paspor isterinya, Mbak Mira,” ujarnya. Namun, penelusuran TEMPO menemukan indikasi kuat bahwa dia bukan sekadar “calo paspor”: dia orang BIN yang ditanam dalam Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Siapa Abdul Haris? Haris tak lain adalah pengurus di Departemen Hubungan Antar-Mujahid, sebuah posisi strategis yang mengatur hubungan antar-organisasi Islam di dalam dan di luar negeri.

Sebagaimana dikutip TEMPO dalam Edisi 25 November-1 Desember 2002, menyebutkan, Muchyar Yara, Asisten Kepala BIN Bidang Hubungan Masyarakat, mengaku Haris tak lain adalah seorang agen BIN yang telah “ditanamkan” untuk mengawasi gerak-gerik berbagai jaringan Islam, termasuk MMI.

“Haris adalah teman lama Hendropriyono sejak masih menjadi Panglima Daerah Militer Jaya, bahkan mungkin sejak masih kolonel. Hubungan antara Haris dan Pak Hendro (Jenderal TNI (Purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono, red) sebatas teman. Tapi, tidak benar Haris ikut ditangkap bersama Al-Faruq,” ujar Muchyar Yara kepada TEMPO.

Pria bernama lengkap Muhammad Abdul Haris adalah lulusan IAIN, pernah menempuh pendidikan di Madinah untuk meraih gelar Lc. Ia adalah perwira sebuah angkatan di lingkungan TNI dan melanjutkan studi ke Madinah, sebagai salah salah satu tugas yang harus ia jalankan.

Selama di MMI, Haris mengurusi pusat informasi. Ia kerap menyerahkan catatan yang disebutnya sebagai ‘info intelijen’ mengenai kasus Maluku dan Poso. Ia juga mengetahui aktivis Islam Indonesia yang pernah ikut berperang di Afghanistan. Meski aktif, anehnya, Haris selalu menghindar jika difoto. Karena itu, dalam dokumentasi MMI, gambar Haris tak pernah ada.

Soal Abdul Haris ini diakui pernah diakui Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Irfan S Awwas, suatu kali. Menurut Irfan, keberadaan Haris tiba-tiba hilang seiring ditangkapnya Umar al-Faruq dan dijebloskannya Ustad Abubakar Ba’asyir ke penjara.

“Sudah sekitar enam bulan Haris tidak aktif. Kami memang mendapat kabar bahwa dia seorang agen yang disusupkan, tapi kami tidak gegabah mempercayainya sebelum diklarifikasi,” ujarnya.

.

Rekayasa

Sejarah hubungan intelijen Indonesia dengan kelompok-kelompok rekaan dalam Islam bukan sesuatu yang baru. Dan bukan hal baru kalangan intelijen menanam agennya ke organisasi Islam dengan tujuan melumpuhkannya. Pernyataan ini pernah disampaikan Profesor Emiritus dari Universitas Washington, AS,  Prof. Dr. Daniel S Lev.

“Sejak masa Orde Baru, kelompok Islam selalu dipermainkan,” kata Daniel Lev. “Dari sudut pandang intelijen seperti BIN –dulu Bakin– orang-orang radikal Islam berguna sekali karena gampang digerakkan dan dipakai,” ujarnya dikutip TEMPO suatu ketika.

Dalam buku “Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Dan Peristiwa 15 Januari 1974”, oleh Heru Cahyono, (Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998),  secara rinci menjelaskan bagaimana peran-peran intelijen memainkan peran terhadap kaum Muslim.

Permainan intelijen terhadap kalangan Islam cukup terkemuka, ketika Opsus (Operasi Khusus) melalui Ali Moertopo melakukan rekayasa terhadap Parmusi (Partai Muslimin Indonesia), wadah aspirasi politik golongan Islam modernis yang berbasis masa  bekas partai Masjumi. Sementara terhadap Islam tradisional dilakukan penggalangan melalui organisasi massa GUPPI (Gabungan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam), yang mana selanjutnya secara efektif menggarap massa Islam tradisional untuk ditarik masuk Golkar.

Terhadap Islam, pemerintah Orde Baru dan Angkatan Darat khususnya, sejak awal menyadari mengenai kemungkinan naiknya pamor politik kekuatan Islam. Jatuhnya kekuatan ekstrim kiri PKI –yang kemudian secara formal diperkuat dengan keputusan pembubaran PKI—secara politis mengakibatkan naiknya pamor politik Islam sehingga terjadilah ketidakseimbangan (imbalance). Sayap Islam yang sedang mendapat angin, kemudian cenderung hendak memperkuat posisinya. Padahal disadari oleh Angtakan Darat ketika itu bahwa di dalam sayap Islam dinilai ada bibit-bibit “ekstrimisme” yang potensial.

Intelijen ketika itu berusaha ‘menghancurkan’ PKI, menekan sayap Soekarno, dan ‘mencegah’ naiknya pamor Islam. Tugas Opsus kala itu adalah menyelesaikan segala sesuatu dengan cara mendobrak dan “merekayasa”.

Dalam buku “Konspirasi Intelijen dan Gerakan Islam Radikal”,  (penyunting Umar Abduh 2003), kebijakan intelijen yang berpijak pada prinsip “kooptasi, konspirasi dan kolaborasi (galang, rektrut, bina, tugaskan, dan binasakan)” telah mampu ‘menjebak’ anggota NII. Intelijen juga berhasil melakukan ‘pembusukan’  Islam tahun 1977 dengan merekrut Danu Moh. Hasan dan Ateng Djaelani sebagai agen, yang akhirnya memunculkan kasus Komando Jihad (Komji). Danu yang semula divonis 10 tahun, dinyatakan bebas tahun 1979. Namun dikabarkan tewas diracun arsenikum. Intel juga dianggap menyusupkan Hasan Baw ke gerakan Warman tahun 1978-1979.

“Komando Jihad adalah hasil penggalangan Ali Moertopo melalui jaringan Hispran di Jatim. Tapi begitu keluar, langsung ditumpas oleh tentara, sehingga menjelang akhir 1970-an ditangkaplah sejumlah mantan DI/TII binaan Ali Moertopo seperti Hispran, Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad Hasan, serta dua putra Kartosoewiryo, Dodo Muhammad Darda dan Tahmid Rahmat Basuki.

Kelak ketika pengadilan para mantan tokoh DI/TII itu digelar pada tahun 1980, terungkap beberapa keanehan. Pengadilan itu sendiri dicurigai sebagai upaya untuk memojokkan umat Islam. Dalam kasus persidangan Danu Mohammad Hassan [tds] umpamanya, dalam persidangan ia mengaku sebagai orang Bakin. “Saya bukan pedagang atau petani, saya pembantu Bakin.” [Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Dan Peristiwa 15 Januari 1974, Tahun 1998].

Tahun 1981 Bakin (Sekarang BIN) sukses menyusupkan salah satu anggota kehormatan intelnya (berbasis Yon Armed) bernama Najammudien ke dalam gerakan Jama’ah Imran yang dikenal kasus pembacajakan pesawat Woyla.

“Pancingan” intel juga dianggap melahirkan kasus pembunuhan massal umat Islam yang dikenal “Peristiwa Tanjung Priok”, 12 September 1984. Tahun 1986, intel kembali dinilai melakukan rekayasa dengan memasukkan agennya bernama Syhahroni dan Syafki, mantan preman Blok M, dalam gerakan Usrah NII pimpinan Ibnu Thayyib. Alhasil, gerakan-gerakan “rekayasa” yang dimunculkan itulah yang akhirnya melahirkan stigma kekerasan dan gerakan ekstrim di kalangan Islam.

 .

Penyusupan

Intel di zaman Nabi juga mirip intel-intel zaman sekarang. Al kisah, setelah Kabilah Hauzan mendengar bahwa Mekah sudah dikuasai oleh kaum Muslimin, Malik bin Auf An Nashri, salah satu pemuka kabilah mengumpulkan para pemuka lainnya. Mereka sepakat melakukan penyerangan terhadap Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Seperti biasanya, sebelum berangkat mereka mengirim beberapa mata-mata. Akan tetapi, mata-mata itu gagal dan tercerai berai, karena berhadapan dengan seorang penunggang kuda yang tidak mereka kenal.

Sebaliknya, Rasulullah SAW telah mengirim Abdullah bin Abi Hadrad Al Aslami, untuk menyusup, dan bermukim di Hauzan. Selama tinggal di sana, beliau berhasil mendapatkan informasi yang berasal dari pembesar Hauzan, Malik bin Aufah An Nashri. Informasi itu menyangkut semua hal yang terjadi di sana, termasuk kesepakatan mereka untuk melakukan serangan kepada Rasulullah SAW.

Akhirnya, Rasulullah SAW memutuskan membawa 12 ribu pasukan menuju Hauzan. Sesampai di lembah Hunain, ternyata pasukan Musyrikin sudah menunggu terlebih dahulu, hingga berkecamuklah Perang Hunain pada tahun ke-8 setelah hijrah, pasca Fathu Mekah. Yang membedakan, intelijen di zaman Nabi tak pernah merekayasa untuk menjatuhkan reputasi seseorang –apalagi terhadap kelompok kaum Muslim— dibanding intelijen masa kini. Mungkin, itu adalah cerminan intel berakhlak dan tidak berakhlak.

 

Sumber : hidayatullah.com


Menepis Pesimisme Perjuangan Khilafah

MENARIK untuk menanggapi tulisan saudara Asrir Sutanmaradjo (AS) pada kolom tsaqafah hidayatullah.com (01/07/11), berjudul: “Khilafah; Antara Cita-cita dan Fakta”.

Sebagai sebuah khasanah jurnalistik, artikel tersebut layak untuk mendapat apreasiasi. Namun jika ditelisik dari sisi penjagaan pemikiran Islam, ada beberapa ulasan yang kiranya perlu dikritisi.

Petikan dari sebuah hadits riwayat Imam Ahmad: ”Tsuma takunu Khilafat[an] ‘ala Minhajin nubuwwah.” Ini saja sudah cukup untuk menjawab pihak yang tak mengakui bahwa pernyataan khilafah ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Belum lagi ditambah nash-nash lain.

Pula halnya secara terminologis, dimaksud Imamah adalah khilafah, dan Imam adalah khalifah atau Amirul Mu’minin. Yang jelas begitu banyak pernyataan di dalam sumber hukum Islam tersebut. Dr. Dhiyauddin ar-Rays pun juga menyatakan dalam kitabnya An-Nazhariyat As-Siyasiyah al-Hayatul Islamiyyah: “Perlu diperhatikan bahwa Khilafah, Imamah Al-Kubra, dan Imarah Al-Mu’minin adalah istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama.”

Di sini kapasitas kami tidak mengetahui saudara AS berada dipihak mana, namun kami berkhusnudzon bahwasanya beliau berada dipihak yang mengakui adanya pernyataan khilafah dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebab jika beliau berada di pihak seberang, maka itu menyerupai tipikal kaum sekularisme, pluralisme dan liberalisme (baca; Sepilis) yang mencoba menghadang tegaknya khilafah dengan dalih tersebut.

Selanjutnya saudara AS menyatakan bahwa sesungguhnya penerapan syari’at adalah suatu hal dan penegakkan khilafah adalah suatu hal lain.

Kami rasa ini aneh, padahal substansi khilafah adalah penerapan syariah Islam secara kaffah. Namun jika yang dimaksud penerapan sebagian dari syariah (setengah-setengah) adalah berbeda dengan penerapan syariah Islam secara kaffah, tentu ungkapan saudara AS itu benar. Memang berbeda.

Menyangkut konsep detail khilafah, mungkin ada ketidaksamaan dari para ulama, tetapi konsep-konsep dasar utamanya mengenai prinsip kedaulatan (as-siyadah), kekuasaan (al-sulthah), kesatuan kepemimpinan dan hak tabanni pada khalifah, pastilah sama meski dalam buku-buku itu dibahas dalam istilah yang berbeda-beda. Karena itu, tidak perlu dikhawatirkan adanya perbedaan konsep, apalagi dikhawatirkan bakal munculnya kekacauan atau perpecahan. Lagi pula, fakta sejarah menunjukkan, konsep khilafah itu bisa diterapkan dengan baik. Menurut para sejarahwan, paling sedikit selama 700 tahun dari era kejayaan Islam disebut sebagai the golden age. (Ismail Yusanto, majalah al-waie, 2008).

Bagaimanapun, sistem khilafah adalah sistem yang dijalankan oleh manusia, jika ada beberapa noktah hitam (seperti pertikaian, dsb) perjalanan akibat kesalahan manusianya bukan sistemnya. Kami kira saudara AS tau akan hal itu. Nilainya pun tidak seberapa dibanding noktah hitam sistem-sistem yang lain. Farid Wadjdi (Ilusi Negara demokrasi, 2009) menuturkan adanya noktah hitam tersebut bisa dijadikan pelajaran dan kajian tentang pelaksanaan dari hukum-hukum syara oleh manusia. Artinya, dari sejarah kita mengetahui apakah hukum syara’ tersebut dilaksanakan atau tidak, kita juga tahu bahwa apa akibat kalau hukum-hukum syara’ tersebut tidak dilaksanakan.

Padahal membeberkan noktah hitam sistem khilafah dengan tidak menyertakan kegemilangan peradaban Islam (khilafah) seperti pada artikel saudara AS, hanyalah akan menimbulkan keraguan ditengah-tengah masyarakat. Lagi-lagi kaum Sipilis yang tersenyum.

Terkait ungkapan KH Agus Salim, dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap beliau, tentu tidak ada yang tidak sepakat bahwa ungkapan itu bukanlah dalil syara’. Apalagi kita juga tidak tahu jika beliau merevisi pemikirannya sebelum akhir hayatnya, dengan belum adanya pubikasi. Seperti halnya Sayyid Qutb pun merevisi pemikirannya yang terdahulu setelah mendapat ma’lumat baru yang cemerlang.

.

Adanya Penolakan

Penolakan dari kaum Sepilis merupakan hal ini sangat wajar terjadi, sistem manapun pasti ada penolakan. Sebagai contoh, sistem demokrasi juga banyak kaum muslim yang menolak, namun juga mampu berdiri, awal berdirinya pun tanpa menanyai masyarakat apakah setuju atau tidak. Andai saja demokrasi bukan sistem kufur serta mampu menyejahterakan, tentu banyak yang kemudian mendukung.

Demikian halnya contoh sederhana lain, ketika pemilu presiden tahun 2009, presiden SBY menang dengan prosentase perolehan suara 60, 8 persen, sedangkan pasangan Mega-Prabowo 26, 7 persen, JK-Wiranto 12, 4 persen, semua itu diluar prosentase golput disengaja, alias berniat tidak memilih. Hal tersebut setidaknya menunjukkan bahwa hampir sebagian masyarakat tidak setuju dengan SBY. Meski begitu, SBY juga masih berkuasa. Dan jika saja SBY mampu menyejahterakan, lebih-lebih memberi kepuasan ideologis, tentu banyak yang kemudian berbondong-bondong mendukung SBY. Sebaliknya jika kepemimpinan SBY mendapat raport merah, dukungan kepadanya pun menurun drastis. Hasil survei yang dilakukan LSI pada 1-7 Juni 2011, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan SBY turun anjlok.

Karena itu, penolakan adalah bagian dari tantangan perjuangan yang seharusnya tak membuat pesimis. Jumlah sipilis aktif pun sejatinya juga tidak terlalu banyak. Meski sampai detik ini diantara mereka ada yang bebal ketika didakwahi , namun bukan hal yang mustahil kaum sipilis pun akan berbondong-bondong mendukung syariah Islam setelah dakwah efektif yang diselenggarakan negara khilafah, ditambah dengan tatanan kehidupan yang memberikan kesejahteraan lahir dan batin.

.

Berteriak-teriak ?

Entah elemen umat Islam mana yang di tuding oleh saudara AS ini, sebab tidak ada satupun selama ini organisasi Islam yang menyatakan bahwa metode menegakkan khilafah adalah dengan berteriak-teriak dan “unjuk gigi” di televisi. Demikian halnya HTI yang disinggung saudara AS di awal artikel pun tidak menggunakan metode itu.

Setelah melalui pengkajian yang mendalam terhadap sirah Nabi Saw, HTI telah menemukan bagaimana metode menegakkan negara Islam sebagaimana metode Rasulullah Saw, pertama: Tatsqif (pembinaan), kedua: Tafa’ul ma’al ummah (interaksi dengan ummat), ketiga: Istilamul Hukmi (penerapan hukum) melalui thalabun nushrah (mendakwahi sekaligus meminta dukungan) para pemilik kekuatan riil di tengah masyarakat. Sedangkan acara seperti masirah, konferensi rajab yang di liput media adalah merupakan beberapa uslub saja dalam rangka memberikan penyadaran pada masyarakat, semuai itu bagian dari interaksi dengan umat. Masih banyak uslub-uslub lain, seperti berceramah di Masjid, mengadakan kajian di kantor-kantor, kontak tokoh (termasuk politisi, jenderal, pengacara, budayawan, dst)

Jika perjuangan ini dianalogikan seperti permainan sepak bola sebagaimana menurut uraian saudara AS, maka inilah urgensinya setiap elemen umat untuk diajak benar-benar bermain bola, patut disayangkan memang jika berniat main bola tapi justru bermain kasti atau badminton.

Nada pesimistis juga tidak seharusnya keluar dari ucapan kita. Di satu sisi wajar jika dalam benak belum ada gambaran bagaimana langkah taktis dalam meraih asa tersebut. Ibarat orang Solo yang hendak ke Jakarta tapi tidak tahu jalan yang harus dilewati.

Pertolongan Allah itu dekat. Dan perlu diingat, perjuangan penegakkan syariah dan khilafah bukan dalam lingkup mindset berfikir lokal keIndonesiaan. Artinya, khilafah Islam tidak harus mulai tegak dari Indonesia. Namun juga tak ada salahnya jika berharap negri ini yang menjadi titik awal berdirinya negara adi daya khilafah. “Perlawanan tak kenal padam”. Wallahu a’lam.

.

sumber : hidayatullah.com


ISLAM, Selalu lebih Unggul!

Melihat keunggulan sistem pidana dalam ISLAM

Pengantar

Sistem pidana Islam dalam media massa atau buku-buku karya para orientalis kafir dan pengikutnya –yakni kaum liberal— selalu diopinikan kejam dan tidak manusiawi. Hukuman potong tangan untuk pencuri atau hukuman mati untuk orang murtad, misalnya, sering dituduh terlalu kejam dan sadis. Ujung-ujungnya, ide yang mereka tawarkan adalah mencari “substansi” sistem pidana Islam, yaitu memberikan hukuman bagi yang bersalah, apa pun bentuk hukumannya. Pencuri cukup dipenjara, misalnya, bukan dipotong tangannya. Pada akhirnya, sistem pidana kafir warisan penjajah tetap bisa bercokol terus di negeri Islam ini.

 

Pandangan sinis terhadap sistem pidana Islam itu lahir bukan karena sistem pidana Islamnya yang batil, melainkan lahir karena 2 (dua) alasan utama.

 

Pertama, secara konseptual, sistem pidana Islam dianggap bertentangan dengan pola pikir kaum sekuler/liberal. Misalnya, hukuman mati untuk orang murtad, dianggap kejam dan salah bukan karena Islamnya yang salah, tapi karena bertentangan dengan prinsip kebebasan beragama yang dianut secara fanatik oleh kaum sekuler.

 

Kedua, secara praktikal, sistem pidana yang sedang diterapkan memang bukan sistem pidana Islam. Hukum potong tangan untuk pencuri dipandang salah dan sadis bukan karena Islamnya yang salah, melainkan karena bertentangan dengan sistem pidana kafir warisan penjajah, yaitu pasal 362 KUHP. Dalam pasal ini, pencuri diancam pidana penjara paling lama lima tahun. Patut diketahui KUHP ini adalah pidana warisan penjajah Belanda yang dikenal dengan nama Wetboek van Strafrecht yang berlaku di negeri muslim ini sejak 1946 (Muljatno, KUHP, 2001:128).

 

Padahal, studi mendalam dan objektif terhadap sistem pidana Islam telah menunjukkan berbagai keunggulannya bila dibandingkan dengan sistem pidana sekuler yang tengah diterapkan. Tulisan ini mencoba mengungkap segi-segi keunggulan sistem pidana Islam tersebut, baik keunggulan secara konseptual (teoretis), maupun keunggulan praktikal (empiris).

Keunggulan Konseptual

Secara konsektual (teoretis), paling tidak ada 5 (lima) keunggulan sistem pidana Islam.

 

Pertama, sistem pidana Islam berasal dari Allah, Dzat yang Maha Mengetahui perihal manusia secara sempurna termasuk gerak-gerik hati dan kecenderungan naluriah manusia. Ini tentu sangat berbeda dengan sistem pidana sekuler yang dibuat oleh manusia yang sok tahu dan sok pinter tentang manusia, padahal sebenarnya ia lemah dan serba terbatas jangkauan pandangannya.

 

Allah SWT berfirman :

 

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maa`idah [5] : 50)

 

Ayat di atas maknanya adalah tidak ada hukum siapapun yang lebih baik daripada hukum Allah. (Imam as-Suyuthi, Tafsir Al-Jalalain, hal. 91). Jadi, meski redaksinya berupa pertanyaan (“siapakah”), tapi yang dimaksud adalah menafikan atau mengingkari sesuatu (“tidak ada siapa pun”). (Ghayalaini, Jami’ al-Durus al-‘Arabiyah, I/139).

 

Sumber sistem pidana Islam yang berasal dari wahyu Allah ini selanjutnya melahirkan keunggulan-keunggulan lain sebagai implikasinya. Antara lain, penerapan sistem pidana Islam akan dianggap sebagai wujud ketakwaan individu kepada Allah.

 

Sebaliknya, penerapan sistem pidana sekuler dengan sendirinya sama sekali akan kosong dari unsur ketakwaan, karena ia tidak bersumber dari wahyu Allah. Ketika hukum potong tangan diterapkan, ia adalah wujud ketakwaan kepada Allah. Sebab hukuman itu diperintahkan Allah dalam Al-Qur`an (lihat QS Al-Maidah [5] : 38).

 

Tapi ketika manusia menerapkan hukum pidana penjara untuk pencuri, yaitu menerapkan pasal 362 KUHP, berarti ia tidak bertakwa kepada Allah, karena ia tidak menjalankan sanksi ketetapan Allah, tapi sekedar sanksi bikinan manusia sesamanya. Kalau hakim muslim merasa bertakwa kepada Allah dengan menjalankan pasal 362 KUHP, jelas ia sedang berkhayal atau bermimpi kosong.

 

Dengan kata lain, menjalankan sistem pidana Islam tak ubahnya dengan melaksanakan sholat, puasa, haji, dan ibadah ritual lainnya. Jadi sistem pidana Islam bersifat spiritual (ruhiyah). Sebab semuanya adalah hukum yang berasal dari Allah SWT yang merupakan ketakwaan jika dilaksanakan dengan benar oleh seorang muslim.

 

Kedua, sebagai implikasi dari keunggulan pertama, maka keunggulan berikutnya adalah, sistem pidana Islam bersifat tetap (dawam), konsisten, dan tidak berubah-ubah mengikuti situasi, kondisi, waktu dan tempat. (Audah, at-Tasyri’ al-Jina`i al-Islami, I/24-25). Allah SWT berfirman :

 

Telah sempurna kalimat Tuhanmu, sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’aam [6] : 115)

 

Sebaliknya sistem pidana sekuler tidak memiliki sifat konsisten ini, karena ia akan selalu berubah dan berbeda-beda mengikuti kehendak manusia sesuai situasi, kondisi, waktu dan tempat. Penyebab hal ini tiada lain karena sumbernya bukan dari wahyu Allah, tapi dari manusia itu sendiri, sehingga berpotensi sangat tinggi untuk berubah, berbeda, dan berganti.

 

Dalam sistem pidana Islam, meminum minuman keras (khamr) adalah haram dan merupakan kejahatan (jarimah/jinayah) untuk siapapun di mana pun dan kapan pun (al-Maliki, Nizham al-Uqubat, hal. 49). Minum khamr hukumnya haram di negeri Arab yang panas, sebagaimana ia haram untuk muslim yang tinggal di Rusia yang dingin.

 

Ini beda sekali dengan sistem pidana sekuler. Dulu pada tahun 1920-an Amerika Serikat pernah melarang minuman keras. Tapi dasar bangsa Amerika adalah bangsa pemabok, akhirnya mereka tidak tahan dan minuman keras lalu dibolehkan lagi untuk ditenggak oleh masyarakat Amerika yang kafir.

 

Memang dalam sistem pidana Islam ada jenis hukuman ta’zir yang memungkinkan adanya perbedaan sanksi hukuman yang penetapannya diserahkan kepada qadhi (hakim). Misalnya pengguna narkoba, dapat dipenjara sampai 15 tahun atau dikenakan denda yang besarnya diserahkan kepada qadhi (al-Maliki, Nizham al-Uqubat, hal.189). Ini berarti bisa saja sanksi penjaranya bisa kurang dari 15 tahun, dan besarnya denda bisa berbeda-beda.

 

Tetapi ini bukan berarti hukum bisa berubah mengikuti waktu dan tempat, sebab hukumnya tidak berubah, yaitu hukum mengkonsumsi narkoba itu tetap haram. Yang berbeda hanyalah kadar sanksinya, bukan boleh tidaknya mengkonsumsi narkoba. Ini beda sekali dengan kejadian di AS, dimana yang berubah justru boleh tidaknya minum khamr.

 

Ketiga, sanksi dalam pidana Islam bersifat zawajir (membuat jera di dunia) dan jawabir (menghapus dosa di akhirat). Jadi sistem pidana Islam itu berdimensi dunia dan akhirat. Sedang sistem pidana sekuler jelas hanya berdimensi dunia saja. Sistem sekuler memang sangat cetek (dangkal) dan picik wawasan dan dimensinya.

 

Sifat zawajir itu, artinya sistem pidana Islam akan membuat jera manusia sehingga tidak akan melakukan kejahatan serupa. Misalnya dengan menyaksikan hukuman qishash bagi pelaku pembunuhan, akan membuat anggota masyarakat enggan untuk membunuh sehingga nyawa manusia di tengah masyarakat akan dapat terjamin dengan baik. Allah SWT berfirman :

 

Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS al-Baqarah [2] : 179)

 

Sedang sifat jawabir, artinya sistem pidana Islam akan dapat menggugurkan dosa seorang muslim di akhirat nanti. Dalam peristiwa Baiat Aqabah II, Rasulullah SAW menerangkan bahwa barangsiapa yang melakukan suatu kejahatan, seperti berzina, mencuri, dan berdusta, lalu ia dijatuhi hukuman atas perbuatannya itu, maka sanksi itu akan menjadi kaffarah (penebus dosa) baginya (HR. Bukhari, dari Ubadah bin Shamit RA) (M. Husain Abdullah, Dirasat fi al-Fikr al-Islami, hal. 64).

 

Maka, dalam sistem pidana Islam, kalau orang mencuri lalu dihukum potong tangan, di akhirat Allah tidak akan menyiksanya lagi akibat pencurian yang dilakukannya di dunia. Hukum potong tangan sudah menebus dosanya itu. Tapi dalam sistem pidana sekuler, sifat jawabir ini tidak ada. Nihil. Jadi kalau seseorang mencuri dan dipenjara (bukan dipotong tangan), di akhirat nanti masih akan diazab oleh Allah karena pencurian yang dilakukannya di dunia. Jadi, dengan sistem pidana sekuler, orang akan menderita secara double, di dunia sekaligus di akhirat. Mengerikan, bukan? Nauzhu billah….

 

Keempat, Dalam sistem pidana Islam, peluang permainan hukum dan peradilan sangat kecil. Ini terutama karena, sistem pidana Islam itu bersifat spiritual, yakni menjalankannya berarti bertakwa kepada Allah. Selain itu, hakim yang curang dalam menjatuhkan hukuman, atau menerima suap dalam mengadili, diancam hukuman yang berat oleh Allah, yaitu masuk neraka atau malah bisa menjadi kafir (murtad).

 

Rasulullah SAW bersabda : “Akhdhul amiiri suhtun wa qabuulul qaadhiy ar-risywata kufrun.” (Hadiah yang diterima oleh seorang penguasa adalah suht (haram) dan suap yang diterima oleh hakim adalah kufur) (HR. Ahmad).

 

Berdasar hadits itu, seorang ulama dari kalangan tabi’in, yakni Abu Wa`il bin Salamah berkata,”Seorang qadhi (hakim) yang menerima hadiah, ia makan barang haram dan jika menerima suap, ia telah sampai pada kekufuran.” (Al-Baghdadi, Serial Hukum Islam, hal. 62)

 

Kelima, Dalam sistem pidana Islam, seorang qadhi memiliki independensi tinggi, yaitu vonis yang dijatuhkannya tak bisa dibatalkan, kecuali jika vonis itu menyalahi syariat.

 

Kaidah fiqih menyebutkan,”al-ijtihad laa yunqadhdhu bi-mitslihi.” (Ijtihad tidak dapat dibatalkan dengan ijtihad yang semisalnya). (Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, hal. 193). Artinya, vonis yang dijatuhkan seorang hakim sebagai hasil ijtihadnya, tidak dapat dibatalkan oleh ijtihad yang dihasilkan oleh hakim lainnya.

 

Maka dalam peradilan Islam tidak dikenal sistem “banding” yakni mengajukan peninjauan vonis pada tingkat peradilan yang lebih tinggi, sebagaimana dalam sistem peradilan sekuler. Sebab sekali vonis dijatuhkan, ia berlaku secara mengikat dan langsung dijalankan. Kecuali jika vonis itu salah, maka wajib dibatalkan. Misalnya seorang yang dijatuhi vonis hukuman mati (qishash) atas dasar pengakuan, lalu terbukti pengakuannya tidak benar karena ada saksi-saksi yang membatalkan kesaksiannya itu.

Keunggulan Praktis (Empiris)

Secara empiris, keunggulan sistem pidana Islam pun masih dapat dibuktikan hingga sekarang, meski negara Khilafah sebagai institusi penegaknya sudah hancur sejak tahun 1924.

 

Negara Arab Saudi, walau pun belum Islami seratus persen –karena masih menggunakan sistem monarki (bukan Khilafah)– tapi sistem pidana Islam yang diterapkannya menunjukkan keunggulan signifikan bila dibandingkan sistem pidana sekuler yang dijalankan di negara-negara Arab lainnya, yaitu di Suriah, Sudan, Mesir, Irak, Libanon, dan Kuwait. Rata-rata angka pembunuhan di Saudi (dalam 100.000 penduduk) dalam periode 1970-1979 yang besarnya 53, ternyata hanya 1/6 dari angka pembunuhan Mesir dan Kuwait, 1/7 dari angka pembunuhan Suriah, 1/9 dari angka pembunuhan Sudan, 1/16 dari angka pembunuhan Irak, dan hanya 1/25 dari angka pembunuhan Libanon. (Topo Santoso, 2003: 138-143).

 

Jika Saudi dibandingkan dengan negara Barat, seperti Amerika Serikat, angkanya akan lebih signifikan dan dramatis. Bayangkan, angka pembunuhan Saudi selama 1 tahun sama dengan angka pembunuhan AS dalam sehari! Sebab rata-rata angka pembunuhan Saudi selama 10 tahun (1970-1979) hanya ada 53 kasus pembunuhan per tahun. Di AS (sepanjang 1992 saja) terjadi 20.000 kasus pembunuhan, atau 54 orang terbunuh per hari (al-Basyr, 1995:45).

 

Bayangkan pula, angka perkosaan di Saudi selama 1 bulan sama dengan angka perkosaan AS dalam sehari! Sebab rata-rata angka perkosaan Saudi selama 10 tahun (1970-1979) hanya ada 352 kasus perkosaan per tahun. Jadi per bulan di Saudi terjadi sekitar 29 perkosaan. Di AS (sepanjang 1992 saja) terjadi 10.000 kasus perkosaan, atau sekitar 27 perempuan diperkosa per hari. Ini kurang lebih setara dengan angka perkosaan Saudi selama 1 bulan (Qonita, 2001:53-54). Subhanallah!

 

Penutup

Dari uraian keunggulan konseptual dan praktikal di atas, nampak jelas sistem pidana Islam jauh lebih unggul jika dibandingkan sistem pidana sekuler yang diterapkan saat ini.

 

Sudah saatnya sistem pidana sekuler warisan penjajah yang kafir itu dihapuskan sekarang juga, sebab ia bertentangan secara total dengan Islam dan hanya menimbulkan dosa dan kerusakan di dunia dan akhirat. [ ]

Oleh : M. Shiddiq al-Jawi

***

Lalu mengapa umat ISLAM seolah tidak menunjukkan keunggulannya? maka pasti jawabnya hanya satu, karena saat ini aturan ISLAM tidak diterapkan secara kaffah dalam bingkai Khilafah!


Integrasi Sains dan ISLAM

Ada sejumlah pertanyaan menarik tentang kedudukan sains dan Islam. Pertanyaan ini berakar dari fenomena-fenomena berikut:

Munculnya kegairahan baru atas sebagian cendekiawan Islam atas sains dan keyakinan bahwa kemunduran Islam itu akibat melalaikan sains dan terlalu menonjolnya fiqih.

Munculnya sebagian cendekiawan yang meyakini kembali bahwa Qur’an adalah sumber inspirasi sains, setelah ditemukannya bukti-bukti sains modern yang sesuai dengan ayat-ayat Qur’an. Ilmu yang terinspirasi Quran ini bahkan sering diklaim sebagai sains Islami.

Di sisi lain: tingkat religiositas yang tetap belum membaik di kalangan ilmuwan sains Barat – sekalipun dapat teramati bahwa tingkat religiositas di kalangan ilmuwan sains ini masih lebih baik daripada ilmuwan sosial.

Tiga fenomena ini membuat di satu sisi umat Islam semakin bersemangat dalam beragama, namun di sisi lain mereka masih mencari bentuk, bagaimana sesungguhnya integrasi sains dan Islam.

Pada berbagai jenis pendidikan Islam di Indonesia, integrasi ini dicoba baru dalam taraf penggabungan kurikulum (Depdiknas+Depag), sehingga total jam belajar siswa menjadi relatih jauh besar dibanding sekolah biasa. Karena itu kajian bagaimana integrasi sains dan Islam itu perlu ditelaah lebih jauh.

Sejarah Kedudukan Ilmu di dalam Islam

Kalau melihat sejarah, sering ada dugaan bahwa kemunduran dunia riset Islam dimulai ketika iklim kebebasan berpikir – yang sering dianggap direpresentasikan kaum mu’tazilah – berakhir, dan digantikan oleh iklim fiqh yang skripturalis dan kaku. Teori ini terbukti bertentangan dengan fakta bahwa munculnya ilmu-ilmu fiqh dan ilmu-ilmu sains dan teknologi berjalan beriringan. Bahkan ketika ilmu dasar ummat musim mulai kendur, teknologi mereka masih cukup tinggi untuk bertahan lebih lama.

Hunke dengan cukup baik melukiskan latar belakang masyarakat Islam di masa khilafah Islam sehingga keberhasilan pengembangan teknologi terjadi, dan ini bisa diklasifikasikan menjadi dua hal.

Pertama adalah paradigma yang berkembang di masyarakat Islam, yang akibat faktor teologis menjadikan ilmu “saudara kembar” dari iman, menuntut ilmu sebagai ibadah, salah satu jalan mengenal Allah (ma’rifatullah), dan ahli ilmu sebagai pewaris para nabi, sementara percaya tahayul adalah sebagian dari sirik. Paradigma ini menggantikan paradigma jahiliyah, atau juga paradigma di Romawi, Persia atau India kuno yang menjadikan ilmu sesuatu privilese kasta tertentu dan rahasia bagi awam. Sebaliknya, Hunke menyebut “satu bangsa pergi sekolah”, untuk menggambarkan bahwa paradigma ini begitu revolusioner sehingga terjadilah kebangkitan ilmu dan teknologi. Para konglomeratpun sangat antusias dan bangga bila berbuat sesuatu untuk peningkatan taraf ilmu atau pendidikan masyarakat, seperti misalnya membangun perpustakaan umum, observatorium ataupun laboratorium, lengkap dengan menggaji pakarnya.

Kedua adalah peran negara yang sangat positif dalam menyediakan stimulus-stimulus positif bagi perkembangan ilmu. Walaupun kondisi politik bisa berubah-ubah, namun sikap para penguasa muslim di masa lalu terhadap ilmu pengetahuan jauh lebih positif dibanding penguasa muslim sekarang ini. Sekolah yang disediakan negara ada di mana-mana dan bisa diakses masyarakat dengan gratis. Sekolah ini mengajarkan ilmu tanpa dikotomi ilmu agama dan sains yang bebas nilai.

Rasulullah pernah mengatakan “Antum a’lamu umuri dunyaakum” (Kalian lebih tahu urusan dunia kalian) – dan hadits ini secara jelas berkaitan dengan masalah teknologi – waktu itu teknologi penyerbukan kurma. Ini adalah dasar bahwa teknologi bersifat bebas nilai. Bahkan Rasulullah telah menyuruh umat Islam untuk berburu ilmu sampai ke Cina, yang saat itu pasti bukan negeri Islam.

Namun demikian, dalam pencarian ilmu, Islam memberikan sejumlah motivasi dan guideline.

Motivasi pencarian ilmu dimulai dari hadits-hadits seperti “Mencari ilmu itu hukumnya fardhu atas muslim laki-laki dan muslim perempuan”, “Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahad”, “Carilah ilmu, walaupun sampai ke negeri Cina”, “Orang yang belajar dan mendapatkan ilmu sama pahalanya dengan sholat sunat semalam suntuk”, dsb

Sedang guideline bisa dibagi dalam tiga kelompok sesuai pembagian dalam filsafat ilmu, yaitu dalam kelompok ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Ontologi

menyangkut masalah mengapa suatu hal perlu dipelajari atau diteliti. Qur’an memuat cukup banyak ayat-ayat yang merangsang pembacanya untuk menyelidiki alam, seperti “Apakah tidak kalian perhatikan, bagaimana unta diciptakan, atau langit ditinggikan, …” (al-Ghasiyah 17-18). Maka tidak heran bahwa di masa al-Makmun, para pelajar tafsir menyandingkan buku Almagest karya Ptolomeus (astronom Mesir kuno) sebagai “syarah” surat al-Ghasiyah tersebut.

Kaidah “Ma laa yatiimul waajib illaa bihi, fahuwa wajib” (Apa yang mutlak diperlukan untuk menyempurnakan sesuatu kewajiban, hukumnya wajib pula) juga memiliki peran yang besar. Maka ketika kaum muslimin melihat bahwa untuk menyempurnakan jihad melawan adikuasa Romawi memerlukan angkatan laut yang kuat, maka mereka – berpacu dengan waktu – mempelajari teknik perkapalan, navigasi dengan astronomi maupun kompas, mesiu dsb. Dan bila untuk mempelajari ini mereka harus ke Cina yang waktu itu lebih dulu mengenal kompas atau mesiu, merekapun pergi ke sana, sekalipun menempuh perjalanan yang berat, dan harus mempelajari sejumlah bahasa asing.

Dengan ontologi syariah ini, kaum muslim di masa lalu berhasil mendudukkan skala prioritas pembelajaran dan penelitian secara tepat, sesuai dengan ahkamul khomsah (hukum yang lima: wajib-sunnah-mubah-makruh-haram) dari perbuatannya.

Epistemologi

menyangkut metode suatu ilmu dipelajari. Epistemologi Islam mengajarkan bahwa suatu ilmu harus dipelajari tanpa melanggar satu hukum syara’pun. Maka beberapa eksperimen dilarang, karena bertentangan dengan syara’, misalnya cloning manusia.

Di sisi lain, ilmu dipelajari dengan mempraktekkannya. Karena itu, ilmu seperti sihir menjadi haram dipelajari, karena konteks epistemologinya adalah dipelajari sambil dipraktekkan. Namun di sisi lain, ilmu-ilmu seperti kedokteran, fisika, namun juga ilmu sosiologi atau hukum (fiqh) menjadi tumbuh pesat karena setiap yang mempelajarinya punya gambaran yang jelas bagaimana nanti ilmu itu digunakan. Berbeda dengan sekarang ketika banyak mahasiswa di “menara gading”, dan ketika turun ke masyarakat ternyata tidak mampu harus mulai dari mana dalam menggunakan ilmunya.

Sedang aksiologi

menyangkut bagaimana suatu ilmu diterapkan. Ilmu atau teknologi adalah netral, sedang akibat penggunaannya tergantung pada peradaban (hadharah) manusia / masyarakat yang menggunakannya. Banyak hasil riset yang walaupun dibungkus dengan suatu metode statistik, namun dipakai hanya untuk membenarkan suatu model yang bias ideologis ataupun kepentingan tertentu.

Pada masyarakat muslim penggunaan teknologi dibatasi hukum syara’. Teknologi hanya akan digunakan untuk memanusiakan manusia, bukan memperbudaknya. Teknologi digunakan untuk menjadikan Islam rahmat seluruh alam, bukan menjajah negeri-negeri lain. Karena itu kebuntuan untuk mencapai kemajuan pada negeri-negeri miskin – seperti yang terjadi dewasa ini di Afrika – akan bisa didobrak dengan aksiologi syariah.

Qur’an sebagai Sumber Inspirasi Ilmu

Obsesi menjadikan Qur’an sebagai sumber inspirasi segala ilmu tentu suatu hal yang positif, karena ini bukti keyakinan seseorang bahwa Qur’an memang datang dari Zat Yang Maha Tahu. Namun, obsesi ini bisa jadi kontra produktif jika seseorang mencampuradukkan hal-hal yang inspiratif dengan sesuatu yang empiris, atau memaksakan agar kaidah hukum empiris sesuai penafsiran inspiratifnya.

Contoh yang pertama misalnya ketika ada seseorang yang menafsirkan ayat:

“ … Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia …” (QS 57-al Hadid: 25)

Kami pernah mendapatkan seseorang yang ingin menggugat Hukum Kekekalan Energi dengan landasan ayat ini, seraya mengajukan proposal untuk membuat energy multiplier.

Energy Multiplier adalah pengganda energi. Alat semacam ini – kalau ada – akan memiliki konsekuensi yang sangat jauh, karena dengan rangkaian beberapa multiplier, teoretis energi 1 watt saja akan mampu memberi energi untuk seluruh dunia. Tentu saja alat semacam ini secara fisika maupun teknis mustahil. Namun perancangnya yakin 100% bahwa dia benar, karena rancangan mesinnya diyakininya di-backup oleh ayat al-Hadid tadi. Tentu saja ini penafsiran yang sembrono.

Sedang contoh yang kedua adalah ketika pada suatu saat, teori sains yang berlaku dianggap cocok dengan suatu ayat, lalu beberapa abad kemudian eksperimen membuktikan bahwa teori tadi keliru atau tidak lengkap, lalu orang cenderung menolak penemuan baru itu dengan alasan tidak sesuai dengan Qur’an. Hal seperti ini terjadi di abad pertengahan di kalangan gereja di Eropa, yang menolak teori heliosentris dari Copernicus dan Galileo, karena dianggap bertentangan dengan dogma al-Kitab bahwa bumi adalah pusat perhatian Tuhan. Hal serupa – walaupun dalam skala yang lebih kecil – juga terjadi di beberapa kalangan umat Islam. Sebagai contoh: ketika di Qur’an disebutkan adanya 7 buah langit,

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Qs. 41-Fussilat:12)

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. (Qs. 67-al Mulk:5)

ada sejumlah orang yang kemudian menafikan perjalanan ke bulan atau ke planet-planet, apalagi bila itu dilakukan orang-orang kafir yang dianggap temannya syaitan. Kita tentu ingat bahwa “planet” seperti Venus atau Mars dalam bahasa Arab akan disebut “bintang”. Mungkin di sini tafsir kita yang perlu direvisi.

Religiousitas di kalangan Ilmuwan

Bagi orang yang menekuni sains dan al-Quran, akan didapatkan banyak ayat yang menyentuh suatu cabang sains – yang baru bisa dikenali sebagai sains setelah zaman modern. Karena saya mempelajari geodinamika, saya amat tersentuh dengan ayat seperti berikut:

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan…(QS 27 – an-Naml:88).

Tersentuhnya adalah bahwa fakta pergerakan benua beserta gunung-gunung di atasnya beberapa decimeter pertahun baru diketemukan abad-20. Darimana Rasulullah, yang hidup 14 abad yang lalu, bisa mengetahui fenomena ini, kalau bukan Yang Maha Berilmu yang memberitahunya?

Hal serupa akan ditemui oleh orang astronomi, biologi, oceanologi dan sebagainya. Pertanyaannya, mengapa tidak semua saintis kemudian menjadi religious?

Jawabannya: tidak cukup hanya mengenal keberadaan Tuhan. Seperti tidak cukupnya kita ketika sadar punya boss, namun tidak tahu apa visi-missi boss, dan juga tidak tahu apa yang membuat boss senang atau marah.

Mereka menganggap persoalan Tuhan ini persoalan pribadi, bahkan bisa-bisa justru “menyalahkan” Tuhan ketika dilihatnya Tuhan “tak berbuat apa-apa” ketika ada ummat-Nya yang menderita, tertindas, lapar atau sakit.

Mereka mungkin akan menyembah Tuhan dengan suatu cara yang menurutnya paling rasional. Mereka gagal memahami kemauan boss – karena mereka berhenti dengan tahu bahwa ada boss, namun tidak mencari tahu, siapa orang kepercayaan boss yang pantas mereka jadikan rujukan dan juga teladan.

Wajarlah, bahwa dalam Islam dituntut dua jenis pengakuan: dikenal dengan syahadat Tauhid dan syahadat Rasul. Tanpa mengikuti Rasul, pengenalan keberadaan tuhan tidak akan banyak berbuah, karena kita tetap belum tahu hidup kita mau dikemanakan. Jadinya kita tidak tahu bahwa Tuhan akan menolong orang-orang yang tertindas atau lapar atau sakit itu melalui tangan-tangan kita. Kita akan terinspirasi untuk melakukan upaya itu setelah mengkaji manual yang diberikan Tuhan via para Rasul. Di situlah kita tahu, bahwa kita hidup sebagai agen, untuk sebuah missi pada sautu lahan yaitu planet bumi ini.

Integrasi Sains & Islam pada Pendidikan

Dengan mengetahui seluruh “duduk perkara” sains dan Islam di atas, tampak bahwa hakekat persoalannya adalah memadukan agar pada setiap aktivitas kita, setelah ada kerja keras dari kekuatan tubuh kita, ada kerja cerdas berdasarkan sains dan kerja ikhlas berdasarkan Islam.

Dalam dunia pendidikan, yang biasanya akan dikembangkan pada seorang anak didik adalah olah fikirnya (kognitif), sikapnya (afektif) dan life-skill-nya (psikomotorik). Di sinilah perlu penelaahan yang mendalam agar di setiap aspek ada muatan sains dan Islam secara sinergi. Bahkan lebih jauh lagi, beberapa mata pelajaran bisa dipadukan sehingga tercipta suatu fokus yang berguna secara praktis.

Sebagai contoh: Mengajarkan masalah air.

Kita bisa membahas mulai dari soal siklus air (IPA/fisika). Agar terkesan, bahasan bisa dilakukan di tepi kolam atau sungai. Di situ sekaligus ada pengetahuan tentang IPS/geografi. Kemudian bagaimana manusia berbagi air (matematika). Lalu bagaimana hukum-hukum Islam yang berkait dengan air (thaharah, hadits “manusia berserikat dalam air, api dan padang gembalaan”). Dan terakhir siswa diminta membuat karangan tentang bagaimana menjaga sumberdaya air (bahasa Indonesia / bahasa Inggris).

Contoh lain: mengajarkan masalah tuas.

Tuas atau pengungkit umumnya diberikan dalam pelajaran fisika (IPA). Kenapa tidak melakukannya di tukang beras yang punya timbangan, sekaligus mengenalkan pasar (IPS). Lalu anak-anak diminta menghitung berapa Rupiah yang dibayarkan bila yang dijual sepuluh kilo beras dan dua kilo gula pasir (matematika). Lalu diberikan hukum-hukum Islam tentang larangan mengurangi timbangan (agama). Dan terakhir: buat karangan tentang bagaimana agar pasar tampak rapi dan nyaman (bahasa).

Dalam cakupan yang lebih mikro, kita bisa pula memasukkan motivasi Islam ke dalam semua kajian sains. Konon Imam al-Khawarizmi ingin mengembangkan persamaan-persamaan aljabar karena ingin menyelesaikan persoalan pembagian waris dalam Islam yang akurat.

Seorang pendidik muslim dapat membuat contoh-contoh yang amat relevan dengan sisi peran murid sebagai siswa/siswi muslim.

Misalnya: untuk matematika geometri, bisa dibuatkan contoh untuk menghitung tinggi masjid atau luas areal yang diperlukan untuk membangun masjid.

Untuk pelajaran fisika mekanika bisa dibuat soal berapa sudut lontaran meriam untuk dapat mencapai benteng kafir penjajah.

Untuk pelajaran kimia titrasi bisa dibuat soal berapa cc larutan yang harus disediakan – sampai warnanya berubah – untuk mendeteksi adanya lemak babi.

Demikianlah, masih banyak hal yang bisa dilakukan oleh para pendidik muslim. Islam menjadi ontologi, epistemologi dan aksiologi dari semua aspek sains, dan pada gilirannya, sains yang dipelajari semua terasa terkait dengan kehidupannya praktis sehari-hari.

Yuph, Islam membumi. Sekolahpun jadi menyenangkan.

 

Dr. Ing Fahmi Amhar
Dosen Pascasarjana Universitas Paramadina

(Profesor Riset di BAKOSURTANAL)


JODOH


Maha suci Allah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui (QS Yaasin, 36:36)

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah (QS Adz Dzariyat:49)

.

Siapakah Jodoh…..

Misi penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an surat Adz Dzariyaat, 51:56. Dengan demikian manusia seharusnya menyadari bahwa segala perbuatan dalam hidupnya hendaklah bernilai ibadah. Bahkan berkaitan dengan terbatasnya perjalanan hidup seseorang Allah SWT memperingatkan kita untuk tidak mati kecuali dalam keadaan Islam. (QS Ali Imran, 3:102) Tentulah hal ini menegaskan kembali nilai ibadah dalam seluruh aspek kehidupan sampai akhir hayat kita. Untuk mencapai misi yang mulia ini manusia tidak sepenuhnya dapat menjalankannya sendirian. Pada tataran individual hal tersebut masih dimungkinkan. Tetapi karena manusia adalah makhluk sosial maka interaksi dalam mencapai misi ini perlu dilakukan ibadah sosial, dilakukan secara komunal.

Untuk membangun masyarakat tentulah ada unsur pembentuknya. Keluarga dipahami sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat. Dan pembentukan keluarga haruslah melalui institusi pernikahan yang legal dan sebuah pernikahan biasanya didahului dengan perjodohan.

Jodoh, dengan kata lain pasangan (azwaj dalam bahasa Arab), telah ditetapkan bagi tiap orang. Allah SWT menciptakan manusia berpasangan dalam konteks hubungan yang legal – pernikahan- agar mendapatkan ketenangan (sakinah), cinta yang timbal balik (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Lantas seperti apakah jodoh yang akan kita dapatkan. Anis Matta dalam bukunya Sebelum Mengambil Keputusan itu menyatakan bahwa yang penting bukanlah mendapatkan pasangan yang ideal, melainkan pasangan yang tepat. Barangkali dalam istilah bahasa Jawa seperti “Tumbu ketemu tutup”.

Surat Ar Ruum ayat 21 dalam Al Qur’an menjelaskan adanya kompatibilitas yang terbangun. Pasangan yang tepat adalah yang dapat saling mengisi dan memperbaiki kekurangan serta saling mendorong untuk mengoptimalisasi potensi masing-masing. Jangan sampai pernikahan justru membuat potensi kebajikan keduanya merosot sampai titik nol. Na’udzubillahimindzaalik!

.

Kriteria memilih jodoh

Pada dasarnya manusia memiliki berbagai kecenderungan sebagaimana telah disinyalir oleh Allah SWT dalam QS Ali Imran, 3:14. Adapun kecenderungan terhadap lawan jenis telah disyariatkan dalam bentuk yang legal dan dihalalkan yaitu pernikahan. Menuju sebuah pernikahan tentu didahului dengan proses pemilihan.

Rasulullah telah menyebutkan 4 hal yang bersifat fitrah yang akan muncul dalam proses ini, yaitu: kecantikan, kekayaan, keturunan dan Diin. Abu Hurairah ra. Berkata: Bersabda Nabi Saw: Wanita dinikahi karena 4 perkara: karena harta kekayaannya, atau karena kecantikannya, atau karena kebangsawanannya atau karena agamanya. Maka utamakan isteri yang beragama, pasti tidak rugilah usahamu (HR Bukhari, Muslim).

Dalam Hadits lain diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menikahi perempuan hanya karena kemuliaannya, Allah tidak akan menambah kepadanya kecuali kehinaan. Barang siapa menikahi perempuan hanya karena hartanya, Allah tidak akan menambah kecuali kefakiran. Barangsiapa yang menikahi perempuan hanya karena keturunannya, Allah tidak akan menambahkan kepadanya kecuali kerendahan” (HR. Thabrani).

Kemudian Rasulullah SAW menambahkan, “Barang siapa yang menikahi seorang perempuan karena ingin menjaga pandangan mata, memelihara kemaluan dari perbuatan zina, atau menyambung tali persaudaraan, maka Allah akan mencurahkan keberkahan kepada keduanya. (HR Thabrani).

Memilih kecantikan atau ketampanan bukanlah sesuatu yang sifatnya kekal. Bertambahnya usia berarti pembuktian atas proses penuaan. Maka kecantikan dan ketampanan sudah tentu akan berkurang. Meskipun demikian bukan berarti hal ini tidak bisa menjadi bahan pertimbangan. Boleh saja asalkan bukan merupakan bahan pertimbangan yang utama. Jika kekayaan yang menjadi dasar utama pemilihan, renungkanlah. Kekayaan itu milik siapa? Allah dapat mencabut kapanpun Dia menghendaki. Kekayaan yang ada padanya sekarang ini milik orang tuanyakah atau memang miliknya. Jangan lupa harta seorang wanita adalah miliknya pribadi. Suaminya tidak dapat menggugat untuk memilikinya. Kekayaan juga dapat menyebabkan seseorang jatuh dalam kesombongan Keturunan atau kebangsawanan tidak menjamin seseorang berakhlak baik. Tidak ada jaminan keturunan bangsawan akan menjadi ahlul jannah. Demikian juga sebaliknya. Dasar pemilihan yang paling aman adalah Diinnya. Seseorang yang memiliki pemahaman keagamaan yang baik akan mampu mengorientasikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah. Perilakunya akan dijaga agar tidak mendapat murka Allah SWT. Dan keinginan kuat untuk memasuki surga bersama keluarganya akan mendorongnya untuk bahu membahu dalam meningkatkan kualitas kebajikan keluarga.

Hal yang juga perlu diperhatikan dalam kriteria ini adalah sekufu. Sekufu bukan berarti seorang pemuda tampan hanya bisa berjodoh dengan gadis cantik. Atau jika anda sarjana lulusan Perguruan Tinggi Negeri terkemuka harus mendapatkan pasangan dari Perguruan tinggi yang sederajat pula. Sekufu yang dimaksud adalah adanya kesesuaian dan tidak ada kesenjangan yang terlalu jauh. Kesenjangan ini dikhawatirkan akan membuat proses adaptasi berjalan lambat dan berakhir pada pembangkangan terhadap pasangannya dan tidak mensyukuri ni’mat Allah SWT. Meskipun tidak ada ketentuan yang jelas tentang sekufu ini, para ulama menitikberatkan pada agamanya. Konteks sekufu ini dapat ditemui dalam surat An Nuur ayat 26 yang mengindikasikan bahwa wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya. Tidak ada masalah jika seorang menikah meski perbedaan jenjang pendidikan yang tajam. Yang perlu di atasi adalah masalah kesenjangan informasi dan komunikasi kelak ketika mereka menikah. Selama masalah tersebut dapat di atasi hal ini tidak menjadi hambatan. Sebagian ulama lain menyatakan bahwa sekufu terkait pada harta dan nasab. Tetapi sekali lagi tidak ada nash yang menegaskan sekufu dalam hal ini. Jika kita ingin menelusuri jejak Rasulullah Saw dan para sahabat dapat diketahui bahwa Rasulullah saw berusia 25 tahun saat menikah dengan ibunda Khadijah yang berusia 40 tahun. Juga dapat diketahui bahwa ketika Aisyah menggenapkan pernikahannya dengan Rasulullah pada usia 9 tahun dan Rasulullah telah mencapai usia 53 tahun. Jadi.. usia bukan penghalang.

Dalam hal kekayaan Ibunda Khadijah adalah pemilik maskapai dagang yang besar dimana Rasulullah adalah pegawainya. Dalam hal keturunan, Fatimah binti Qais adalah salah satu contohnya. Ketika habis masa iddahnya Rasulullah Saw melamar Fatimah untuk Usamah bin Zaid, anak seorang mantan budak. Semula Fatimah ingin menolak karena Usamah masih keturunan budak sedangkan ia adalah keturunan keluarga terhormat bangsa Quraisy. Namun akhirnya ia menikah dengan Usamah bermodalkan ketaatan kepada Rasulullah Saw dan menyatakan secara eksplisit hidupnya bahagia.

.

Menanti jodoh.. atau Mencari jodoh

Rasulullah SAW pernah menanyakan pada seorang sahabat dengan pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali pada waktu yang berbeda, “Apakah engkau sudah menikah?”. Ini menyiratkan bahwa Rasulullah berharap agar sang pemuda segera menikah. Pertanyaan Rasulullah Saw adalah kalimat motivasi agar pemuda itu mulai memikirkan tentang pernikahan dan tidak larut dalam kehidupan melajang.

Kita juga mengetahui bersama dalam rangka pencegahan terhadap kerusakan moral yang terjadi pada masa nabi Luth as beliau menawarkan putri-putrinya dan putri-putri bangsanya untuk dinikahi oleh para lelaki kota Sodom. Tetapi mereka tetap menolak sampai turun azab Allah bagi mereka. Naudzubillahimindzaalik.

Umar bin Khattab juga melakukan hal yang sama pada putranya Ashim. Ketika suatu malam dalam perjalanan mengamati kehidupan masyarakatnya, Umar mendapati kekuatan iman seorang gadis penjual susu. Pagi harinya segeralah Ashim diminta untuk menikahi gadis tersebut. Salah satu keturunan mereka adalah Umar bin Abdul Aziz, seorang Khalifah terpandang. Umar juga melakukannya ketika mendapati menantunya, suami Hafshah, wafat. Ia berkeliling kepada para sahabat menanyakan kesediaan mereka untuk menikahi putrinya tapi tak seorangpun berkenan. Sampai akhirnya ia mengadu pada Rasulullah Saw. Setelah itu Rasulullah menikahi Hafshah.

Abdul Halim Abu Syuqqoh dalam bukunya mengisahkan tentang seorang wanita Mauritania yang mengajak seorang laki-laki shaleh untuk menikah. Ketika laki-laki itu terkejut, sang wanita hanya menyatakan, “Mengapa engkau terkejut? Bukankah yang aku tawarkan bukanlah perzinahan tetapi hal yang dibolehkan Allah?” Singkat cerita terjadilah pernikahan mereka.

Dikisahkan setelah Ibunda Khadijah ra wafat beberapa waktu berselang Rasulullah didatangi seorang wanita yang menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh Rasulullah Saw. Keberaniannya muncul karena merasa iba melihat Rasulullah Saw dengan beban dakwah yang berat tidak memiliki pendamping untuk berbagi. Karena Rasulullah tidak berkenan salah seorang sahabat meminta izin kepada beliau untuk menikahi wanita itu. Setelah pernikahan wanita itu kembali menghadap Rasulullah Saw dan menawarkan kepada Rasulullah untuk menikah dengan wanita yang telah dipilihkannya, Saudah binti Zam’ah dan Aisyah binti Abu Bakar.

Beragam kisah yang telah kita baca menunjukkan bahwa jodoh adalah taqdir ikhtiari. Meski sudah ditetapkan oleh Allah, kita tidak pernah tahu sebelumnya siapa yang akan berjodoh dengan kita. Oleh karena itu tidak ada salahnya manusia mencari jodoh asalkan tidak melanggar aturan syar’i yang telah Allah tetapkan.

.

Cara Mencari Jodoh

Bicara tentang perjodohan seringkali pikiran kita melayang pada kisah Siti Nurbaya dan penderitaannya. Seakan-akan semua perjodohan pastilah berakhir mengenaskan seperti kisah itu. Apalagi kalau perjodohan itu dilakukan oleh orang tua. Padahal tidak ada jaminan perjodohan yang dilakukan oleh teman atau orang yang dipercaya lebih baik daripada yang dilakukan oleh orang tua.

Mencari jodoh memang bukan pekerjaan yang mudah. Hal ini sangat berkaitan dengan kedekatan hubungan kita dengan Allah dan kesiapan mental kita.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mencari jodoh:

a. Memohon kepada Allah SWT

. Mulailah dengan bersangka baik pada Allah (husnudzhan) bahwa Allah SWT telah menciptakan pasangan bagi kita. Ia tidak akan melupakan dan menyia-nyiakan kita. Sebagaimana tercantum dalam surat Yasin dan Adz Dzariyat yang dituliskan pada awal makalah ini.

• Mintalah kepada Allah mulai sekarang. Yang paling penting anda telah memohon kepada Dzat yang Maha Mengatur. Terserah Allah kapan jodoh itu akan diberikan. Jangan menyesal bila ternyata datangnya lebih cepat dari dugaan anda atau bahkan lebih lambat. Allah tahu mana saat yang paling tepat untuk kita.

b. Jadikan diri anda semakin baik dari waktu ke waktu.

Surat An Nuur ayat 26 menjelaskan bahwa jika anda menginginkan pasangan yang baik, maka tingkatkanlah kualitas diri anda. Kita tidak dapat menuntut orang untuk menjadi baik sementara kita tidak mau berubah menjadi lebih baik. Proses perubahan ini akan sangat berguna sampai anda menikah kelak. Karena adanya pasang surut dalam keimanan, bisa jadi lemahnya iman akan mempengaruhi satu sama lain. Karena itu harus ada yang terlatih untuk selalu memperbaiki diri dan memberikan pengaruh positif pada pasangannya

c. Meminta bantuan mediator

Perjodohan bukanlah semata-mata merupakan tanggung jawab individu yang akan menikah. Tanggung jawab ini pada dasarnya adalah pada kedua orang tua. Orang tualah yang berkewajiban memilihkan jodoh yang sesuai dengan kriteria Rasulullah SAW. Bukan yang semata-mata dapat membahagiakan anaknya secara materi. Tetapi jodoh yang tepat bagi anaknya dengan standar agama dan perilaku yang memadai. Dan tentunya dapat mempertanggung jawabkan amanah yang diemban didunia dan akhirat.

Pihak lain yang juga bertanggung jawab adalah kaum muslimin secara umum. Sebagaimana firman Allah dalam surat An Nuur, 24:32, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak berkawin dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui”.

Yang dimaksudkan dengan pihak lain bisa saja teman, orang dekat yang dapat dipercaya atau kerabat. Sebaiknya jika anda meminta bantuan mereka, yakinkan bahwa mereka mengenali anda secara baik dan anda telah memberikan gambaran pasangan seperti apa yang anda harapkan. Ingatlah prioritas yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Inisiatifpun bisa datang dari sang mediator maupun orang yang bersangkutan.

d. Mencari sendiri

Proses pencarian yang dilakukan sendiri tidak dapat mengedepankan hawa nafsu semata-mata. Juga bukan berarti dibolehkan pacaran sebagaimana yang banyak dilakukan orang pada masa ini. Mencari sendiri juga bukan proses “trial and error”. Dasar proses pencarian ini hendaknya tetap berpegang pada syariat Allah yang tidak membenarkan manusia untuk berdua-duaan (khalwat) dengan non muhrim (apalagi bersentuhan!). Juga tetap harus menundukkan pandangan dan hati.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan Al Fadhal bin Abbas bin Abdul Muthalib sedang menunggang unta bersama Rasulullah SAW melewati seorang wanita muda. Al Fadhal dan wanita itu saling memandang sampai Rasulullah SAW palingkan wajah Al Fadhal dan menegurnya. Kisah ini menunjukkan ketertarikan terhadap lawan jenis adalah sesuatu yang fitrah, namun tidak berarti boleh menabrak rambu-rambu Allah. Agar proses mencari sendiri tetap dalam batasan syar’i dan tetap objektif dalam pemilihannya, musyawarah perlu dilakukan dengan orang terdekat untuk meyakinkan bahwa betul orang yang dituju memiliki Diin yang baik.

Dua hal terdahulu, meminta kepada Allah dan menjadikan diri semakin baik, adalah hal yang bersifat mutlak. Karena Allah yang paling tahu siapa jodoh kita. Sedangkan dua hal terakhir lebih bersifat teknis.

.

Keberanian mengambil keputusan

Mari kita sama-sama melihat hadits Rasulullah SAW yang disampaikan oleh ibnu Mas’ud r.a: “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Wahai pemuda, barang siapa diantara kalian telah mencapai ba’ah maka kawinlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu lebih mampu menahan pandangan mata dan menjaga kemaluan. Dan barang siapa belum mampu melaksanakannya, hendaklah ia berpuasa. Karena puasa itu akan meredakan gejolak hasrat”. (HR Imam yang Lima)

Kata ba’ah dimaknai sebagai kemampuan untuk menafkahi. Tidak bermakna berpenghasilan besar. Maka penekanannya adalah pada etos kerja yang harus dibangun dan dipelihara. Janganlah lupa untuk senantiasa melakukan shalat istikharah sebagaimana Rasulullah mengajarkan para sahabat jika menemui persoalan hidup. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir ra Rasulullah SAW mengajari kami untuk istikharah dalam semua perkara sebagaimana beliau mengajarkan kami Al Qur’an. Beliau bersabda, “Apabila salah satu diantara kamu berkepentingan terhadap satu urusan, maka hendaklah ia melakukan shalat 2 rakaat yang bukan fardhu, kemudian berdo’a:

Allahumma inni astakhiruka bi’ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa a’saluka min fadhlikal ‘adzim, fainnaka taqdiru wala aqdiru wa ta’lamu wala a’lamu wa anta ‘allamulghuyub. Allahumma inkunta ta’lamu anna hadzal amrakhoirun lifiddiini wama ‘asyi wa ‘aqibati amri faqdurhu li wayassirhu li tsumma barikli fihi. Wainkunta ta’lamu anna hadzal amrasyarrun li fi diini wa ma’asyi wa ‘aqibati amri fashrifhu ‘anni, washrifni ‘anhu, waqdurliyal khoiru haitsu kaana tsumma radidihni bihi.

( Ya Allah sesungguhnya aku memohon padaMu, dengan ilmuMu, dan aku memohon kepadaMu dengan kekuasaanMu, dan aku memohon sebagian dari karuniaMu yang agung. Karena sesungguhnya Engkaulah yang berkuasa sedang aku tidak berkuasa. Engkaulah yang mengetahui sedang aku tidak mengetahui. Dan Engkaulah yang mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Ya Allah jika engkau mengetahui bahwa hal ini baik bagiku dalam agamaku dan kehidupanku serta akibat urusanku maka tentukanlah ia untukku dan mudahkanlah ia bagiku, kemudian berilah aku berkah padanya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa buruk bagiku dalam agamaku dan kehidupanku serta akibat urusanku, maka palingkanlah ia dariku dan palingkan aku darinya. Dan tentukanlah untukku kebaikan dimana saja dia berada kemudian jadikanlah aku ridho kepadanya)

Istikharah dimaksudkan agar hati kita berada dalam posisi menyerahkan segala urusan kepada Allah dan telah siap untuk menerima segala konsekuensi dari pilihan Allah SWT. Setelah istikharah dilakukan hendaknya segera menyelesaikan urusan tersebut. Adapun bila dalam perjalanannya ternyata menemui hambatan atau kesulitan maka serahkan segalanya kepada Allah SWT.

.

Langkah selanjutnya: Ta’aruf

Ta’aruf adalah terminology baru dalam proses pernikahan. Maksudnya adalah agar masing-masing pihak memiliki gambaran tentang orang yang akan menikah dengannya. Pada masa kenabian tidak dikenal istilah ta’aruf. Karena pada masa itu orang tua sangat memahami kewajiban mereka untuk menikahkan putra-putri mereka dengan pasangan yang shaleh. Merekalah yang lebih mengenal calon menantunya secar mendalam.Sedangkan pada masa ini peran orang tua dalam menjodohkan anaknya tidak terlalu menonjol.

Ta’aruf dapat dilakukan dengan cara kedua pihak telah memiliki informasi tentang pihak lain baik berupa biodata maupun foto. Selain itu dapat juga pihak laki-laki melihat pihak wanita tanpa sepengetahuannya, sebagaimana mazhab Syafi’I, Maliki, Ahmad dan jumhur yang menyatakan kebolehan memandang calon yang akan dikhitbah tanpa sepengetahuannya. Maka boleh jadi ia membatalkan maksudnya tanpa menimbulkan ketersinggungan di pihak yang lain.

Langkah selanjutnya dapat dilakukan pertemuan antara kedua belah pihak dengan melibatkan mediator (teman atau kerabat). Tujuannya adalah untuk lebih mengenali jasadiah (bentuk, rupa, penampilan), fikriyah (wawasan) dan nafsiah (sifat, karakter, akhlaq). Juga perlu disampaikan jika memiliki penyakit yang harus diketahui calon pasangannya. Perlu difahami bahwa ta’aruf tidak memiliki kekuatan legal apapun dalam konteks hubungan laki-laki dan perempuan. Jadi jangan pernah berfikir bahwa setelah ta’aruf berarti anda terikat dengan seseorang. Ta’aruf hanya merupakan jembatan menuju proses selanjutnya yaitu khitbah atau meminang. Ta’aruf juga diperlukan untuk membuka proses komunikasi dengan orang tua kedua belah pihak.

.

Khitbah

Khitbah dalam terminology Arab berasal dari kata al khithaab dan al khatb. Artinya pembicaraan dan persoalan. Secara bahasa khitbah berarti pinangan atau permintaan seorang laki-laki kepada perempuan tertentu untuk menikahinya. Sedangkan secara syariat Khitbah berarti lamaran, pinangan atau permintaan secara resmi untuk menikah yang ditujukan kepada seorang perempuan melalui walinya jika ia gadis ataupun secara langsung bila ia janda, baik telah ada kepastian diterimanya maupun belum ada kepastian. Khitbah adalah langkah awal menuju pernikahan yang telah disyariatkan, namun belum memiliki kekuatan hukum. Karena khitbah bukanlah akad atau transasksi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses khitbah ini:

a. Tidak boleh meminang wanita yang sedang dalam pinangan

b. Tetap memperlakukan laki-laki yang meminang sebagai orang yang bukan mahram karena khitbah tidak berarti membenarkan seseorang untuk berkhalwat.

c. Diterima dan ditolaknya sebuah pinangan sebaiknya berlandaskan pada Diin.

d. Dianjurkan untuk membawa hadiah jika akan meminang.

e. Jangan menggantungkan waktu aqad karena dapat merusak hati anda.

.

Pernikahan

Pernikahan bukan sekedar walimatul ‘ursy atau resepsi. Pernikahan ditandai dengan adanya aqad nikah. Aqad nikah ini adalah sebuah peristiwa besar pengambil alihan tanggung jawab terhadap seorang wanita dari ayahnya kepada orang yang menjadi suaminya. Aqad nikah juga merupakan perjanjian fitrah yang kokoh dari perjanjian manapun. Firman Allah SWT: “Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat” (QS An Nisaa, 4:21).

Rasulullah Saw bersabda: “Takutlah kamu kepada Allah mengenai wanita (isteri) karena kamu telah mengambil mereka dengan amanah Allah SWT” (HR Muslim)

Pengambil alihan tanggung jawab ini bukan sekedar tanggung jawab fisik. Termasuk didalamnya tanggung jawab terhadap perkembangan pemahaman dan wawasan, peningkatan amal shaleh, serta peningkatan potensi. Jangan sampai terjadi justru setelah menikah potensi yang dimiliki kedua belah pihak tidak berkembang. Pernikahan juga membutuhkan komitmen kedua belah pihak untuk tetap menjadikan kehidupan berkeluarga sebagai ibadah. Pernikahan juga memberikan kesadaran pada kita bahwa berbagai permasalahan yang selama ini dihadapi sendiri akan dihadapi bersama dan mungkin ada permasalahan-permasalah baru yang muncul.

Mari kita simak Hadits Rasulullah Saw berikut ini: “Seseorang yang menikah berarti telah menyempurnakan setengah agamanya. Oleh karena itu, hendaklah ia bertaqwa kepada Allah untuk meraih setengah lainnya” (HR Ahmad)

Ketika Allah SWT memberikan setengah Diin bagi orang yang menikah tentulah karena banyak tantangannya. Dan untuk mengatasi tantangan ini agar dapat memenuhi kesempurnaan Diin kita harus memiliki modal ketaqwaan.

Mari kita penuhi Diin kita dengan taqwa dan tawakkal kepada Allah

.

by Ledia Hanifa


Kriminalisasi Negara Islam

Perang ideologi selalu dimulai dalam bentuk perang pemikiran. Selama dasawarsa terakhir, negara-negara Barat di bawah pimpinan AS gencar mengembangkan ide-ide yang muncul dari ideologi mereka, yakni Kapitalisme-Sekularisme di negeri-negeri Muslim. Di antaranya adalah nasionalisme, demokrasi, pluralisme politik, HAM, kebebasan dan politik pasar bebas. Melalui kalangan intelektual yang menjadi ’abdi dalem’ mereka, ide-ide tersebut dipropagandakan sebagai sistem modern yang mampu melahirkan kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, syariah Islam, khususnya yang terkait dengan sistem politik dan pemerintahan. yakni Khilafah Islamiyah, terus mereka kritik sebagai ide utopis yang tidak relevan lagi dengan kondisi dunia modern.

Namun kini, setelah sistem Kapitalisme semakin tampak kebobrokannya secara telanjang, sementara seruan penegakan syariah dan Khilafah semakin menguat di berbagai belahan dunia, mereka mulai menggeser perang pemikiran tersebut pada derajat intelektual yang lebih rendah, yakni mereka berupaya membangun brand image negatif bahwa perjuangan penegakan syariah dan Khilafah identik dengan perbuatan kriminal. Misal, mereka membangun opini publik bahwa pelaku terorisme di berbagai tempat di dunia ini dilatarbelakangi oleh perjuangan penegakan Negara Islam (baca: Khilafah). Dengan itu mereka berharap nantinya akan terjadi penolakan massif dari masyarakat terhadap ide penegakan syariah dan Khilafah. Semua itu tentu bermuara pada satu tujuan, yaitu memberangus Islam sebagai kekuatan politik ideologis serta menghalangi tegaknya Khilafah Islamiyah dan penerapan syariah Islam secara kaffah.

Kriminalisasi Negara Islam

Proses kriminalisasi terhadap ide syariah dan Negara Islam atau Khilafah akhir-akhir ini makin menguat dan terbuka. Tidak hanya terjadi di negeri-negeri Barat yang menjadi sentral kendali Kapitalisme global, namun juga terjadi di negeri-negeri Islam termasuk Indonesia. Berikut sebagian fakta proses kriminalisasi tersebut yang tampak dilakukan secara sistematik.

Pertama: dalam jumpa pers di Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat (24/9), Kapolri Jenderal (Pol.) Bambang Hendarso Danuri menyatakan, “Aksi teroris yang dilakukan sejak tahun 2000 hingga kasus terakhir penembakan tiga polisi di Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumut, tahun 2010 memiliki target mengambil alih kekuasaan negara untuk menegakkan Negara Islam” (Kompas, 25/9/2010).

Kapolri juga menambahkan bahwa para tersangka teroris menganggap harta hasil perampokan sebagai fai yang sah dan halal, karena harta tersebut didapat dari orang kafir.

Sebelumnya, Kapolri juga mengungkapkan bahwa rencana kelompok teroris yang berlatih di pegunungan di Aceh Besar digunakan untuk melancarkan aksi pembunuhan terhadap para pejabat negara saat upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2010. Ketika semua pejabat negara berhasil dibunuh, termasuk Presiden dan Wakil Presiden, kata Kapolri, kelompok teroris akan mendeklarasikan Negara Islam Indonesia (Kompas.com, 14/5/2010).

Hal ini yang kemudian menjadi alasan dan pembenaran atas tindakan aparat Densus 88 yang membabi-buta terhadap orang-orang yang disangka pelaku tindak pidana terorisme. Selama kurun waktu 2000-2010 saja, sebanyak 44 orang yang disangka teroris tewas ditembak aparat. Terakhir, Densus 88 secara arogan dan kasar menginjak-injak tubuh Khairil Ghazali yang sedang menunaikan shalat magrib saat Densus yang berjumlah sekitar 30 orang dan bersenjata lengkap menyerbu dan mendobrak rumahnya. Ghazali dituding sebagai bagian jaringan teroris yang melakukan perampokan Bank CIMB Niaga di Medan.

Kedua: Presiden SBY juga mengeluarkan pernyataan resmi yang mengaitkan kasus terorisme dengan pendirian Negara Islam. Dalam keterangan persnya di Bandara Halim Perdanakusuma, Senin (17/5/2010), sebelum bertolak ke Singapura dan Malaysia, Presiden SBY menegaskan bahwa tujuan dari para teroris adalah mendirikan Negara Islam. Padahal, menurut SBY, perdebatan tentang pendirian Negara Islam sudah rampung dalam sejarah Indonesia. Menurut dia juga, aksi teroris telah bergeser dari target asing ke pemerintah dan menolak kehidupan berdemokrasi. Karena itu, menurut Presiden keinginan mendirikan Negara Islam dan sikap anti demokrasi tidak bisa diterima rakyat Indonesia.

Pernyataan Presiden ini sejalan dengan proyek kontra-terorisme yang berada di bawah Kementerian Koordinator Polhukam. Paradigma dasar yang dibangun pada proyek kontra-terorisme ini adalah mengaitkan terorisme dengan pemahaman agama yang dianggap radikal dan fundamentalis. Berdasarkan asumsi paradigma ini, mereka kemudian membangun strategi deradikalisasi agama. Misal, melalui pengarusutamaan tokoh-tokoh Islam moderat, penerbitan buku-buku Islam moderat, perubahan kurikulum pesantren atau sekolah. Islam moderat yang dimaksudkan adalah Islam yang bisa menerima ide-ide Barat seperti pluralisme, liberalisme, sekularisme dan demokrasi.

Ketiga: pada 27-28 Juli 2010 lalu, Pemerintah mengadakan Simposium Nasional yang bertema “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme”, di Hotel Le Meridien Jakarta.

Hasil rekomendasi simposium tersebut di antaranya adalah dukungan kepada Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) untuk memainkan peran selaku focal point serta koordinator pencegahan dan pemberantasan teror secara komprehensif. Pemerintah dianggap perlu mengamandemen UU Tindak Pidana Terorisme No. 15 Tahun 2003, terutama tentang kriminalisasi atau perluasan obyek hukum dan perbaikan mekanisme hukum acara, agar lebih mampu menggulung jaringan teroris sebelum beraksi.

Sebagaimana diketahui, BNPT lahir melalui Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010 yang ditandatangani Presiden SBY pada tanggal 16 Juli 2010 di Jakarta. Meskipun undang-undang yang berkaitan dengan aspek keamanan belum diundangkan, karena RUU Intelijen baru masuk program legislasi nasional DPR tahun 2010, dengan peraturan Presiden ini bisa dianggap cukup sebagai payung hukum dalam proyek kontra-terorisme.

Keempat: media juga turut memainkan perannya untuk menanamkan opini kepada publik bahwa pelaku terorisme adalah kaum Muslim. Salah satunya tampak dari pemberitaan Detik.com dengan judul, “Penggerebekan Teroris di Bandung, Ditemukan Lembaran Kertas Arab Gundul Soal Hijrah dan Jihad” . Detik.com (8/8) melaporkan dalam mobil milik Fahri, yang ditangkap Densus 88 karena diduga teroris, ditemukan ceceran kertas berisi tulisan Arab gundul, antara lain kumpulan fatwa Ibnu Taimiyah tentang jihad, hijrah dan dakwah. Tentu saja pemberitaan seperti ini sangat tendensius dan dapat menimbulkan citra negatif terhadap syariah Islam.

Selama ini pemberitaan tentang terorisme lebih banyak datang dari Polri secara sepihak. Keterkaitan aksi terorisme dengan perampokan yang dianggap sebagai harta fa’i juga datang sepihak dari Polri, meskipun katanya berdasarkan keterangan pelaku yang ditangkap. Stasiun TVOne termasuk yang terdepan dalam memberitakan kasus terorisme seraya mengaitkannya dengan Islam dan kaum Muslim. Mereka biasanya mendatangkan para narasumber yang selama ini memang concern menuding Islam radikal berada di balik aksi-aksi terorisme. Terkait hal ini tentu tidak bisa dipungkiri kedekatan hubungan Gories Mere dengan Karni Ilyas di TVOne. Gories Mere adalah pengendali satgas anti teror di luar struktur, di samping tugasnya di BNN (Badan Narkotika Nasional).

Kelima: kriminalisasi terhadap syariah dan Khilafah juga gencar dipropagandakan oleh para pemimpin negara-negara Barat, khususnya Amerika dan Inggris. Baru-baru ini sebuah panel ahli keamanan nasional Amerika Serikat mendesak pemerintah Obama untuk meninggalkan sikapnya bahwa Islam tidak terkait dengan terorisme dan menyatakan bahwa Muslim radikal menggunakan hukum Islam untuk menumbangkan Amerika Serikat (The Washington Times ,14/09/2010).

Pada 14/5/2010 lalu, mantan kepala staf Angkatan Darat Inggris, Jenderal Richard Dannat, dalam BBC’s Today Program, dengan sangat gamblang menyatakan bahwa perang di Afganistan adalah perang melawan Islam. Ketika ia ditanya tentang alasan pendudukan di Afganistan, dengan tegas ia menyatakan bahwa hal itu untuk mencegah agenda Islamis yang ingin menegakkan Khilafah Islam abad ke 14 dan 15, yang sekarang bergerak tumbuh dari Asia Selatan, Timur Tengah hingga Afrika Utara.

Sebelumnya, dalam wawancaranya dengan Radio BBC (05/01/2010), Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menyerukan peningkatan intervensi Barat di Yaman. Ia menyerang tuntutan dunia Islam akan Khilafah sebagai ideologi pembunuh dan menganggapnya sebagai penyimpangan terhadap Islam.

Lalu pada Juli 2007, Menteri Pertahanan Inggris saat itu, Lord Wist, ketika menceritakan para pelaku yang berusaha meledakkan mobil di London, ia menyatakan, “Mereka adalah kaum rasis dan puritan. Mereka sedang mencari kekuatan. Mereka adalah orang-orang yang gila harta dan selalu berbicara tentang Khilafah.”

Mantan PM Inggris Tony Blair, di hadapan Konggres Partai Buruh, pernah menyatakan bahwa Islam adalah ideologi iblis (BBC News, 16/7/2005). Ia menjelaskan bahwa ciri-ciri ideologi iblis itu adalah ingin mengeliminasi Israel, menjadikan syariah Islam sebagai sumber hukum, menegakkan Khilafah serta menentang nilai-nilai liberal.

Perlu dipahami bahwa tegaknya Negara Islam, apalagi dalam wujud Negara Islam global Khilafah Islamiyah, sebenarnya sangat ditakuti oleh Barat. Sebab, tegaknya Khilafah akan menghentikan hegemoni Kapitalisme Barat yang telah terbukti gagal memberikan kesejahteraan dan keamanan bagi dunia. Karena itu, tuntutan pelaksanaan syariah Islam secara kaaffah dalam format institusi Khilafah Islamiyah harus dapat dibaca sebagai wujud kepedulian terhadap problema dunia baik ekonomi, sosial, militer, hukum maupun politik yang mengalami krisis dan karut-marut akibat penerapan sistem Kapitalisme global.

Penegakan Khilafah Tanpa Teror

Mayoritas kaum Muslim tentu memiliki pemahaman yang sama, bahwa aksi terorisme yang merusak dan membunuh manusia tanpa hak, apalagi disertai dengan perampokan, merupakan kejahatan besar yang diharamkan oleh Islam.

Sebagaimana diketahui, thariqah (metode) Rasulullah saw. dalam upayanya menegakkan syariah dan Daulah Islamiyah dilakukan melalui proses perang pemikiran, bukan perang senjata. Hal ini tampak dalam aktivitas dakwah beliau pada Periode Makkah yang sama sekali tidak menggunakan kekerasan. Bahkan aksi jihad berupa perang baru dilakukan oleh Rasulullah saw. setelah berdirinya Daulah Islam di Madinah. Karena itu, jika seseorang memiliki pemahaman bahwa kondisi saat ini sama dengan kondisi Makkah maka thariqah dakwah Rasulullah saw. yang tidak pernah menggunakan aksi-aksi kekerasan inilah yang harus diteladani.

Karena itu pula, jika ada pihak yang melakukan aksi terorisme apalagi disertai perampokan untuk mendirikan Negara Islam maka harus dipertanyakan. Mungkin mereka tidak memahami tentang metode penegakan Negara Islam (baca: Khilafah) yang tidak boleh menggunakan aksi kekerasan apalagi kriminalitas. Namun, tidak tertutup kemungkinan pula, bahwa mereka dikendalikan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin menjelek-jelekkan syariah dan Khilafah. Pengamat intelijen Wawan Purwanto dalam bukunya yang berjudul ’Terorisme Undercover’ (CMB, 2007) membeberkan bahwa Noordin M Top dan Dr. Azhari hanyalah pelaku lapangan yang dibayar. Pakar intelijen AC Manullang yang juga mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) berpendapat bahwa Noordin M Top hanya dipakai kekuatan asing untuk menjelek-jelekkan Islam (Tempointeraktif.com, 09/8/2009).

Patut pula diperhatikan bahwa propaganda perang melawan terorisme (the war on terrorism) yang diusung AS dan sekutunya pada dasarnya perang melawan Islam dan kaum Muslim. Propaganda tersebut menjadi salah satu alat untuk mempertahankan imperialismenya di Dunia Islam yang memiliki potensi strategis. Pasca keruntuhan Uni Soviet dengan ideologi Komunismenya, hanya Islam yang dianggap menduduki posisi sebagai ancaman paling potensial terhadap keberlangsungan ideologi Kapitalisme global.

Indonesia merupakan salah satu negeri Dunia Islam yang memiliki banyak nilai strategis bagi peneguhan ideologi Kapitalisme. Posisi geopolitik Indonesia dapat menjadi basis strategis bagi kepentingan Kapitalis Barat di Dunia Islam dan kawasan Asia Pasifik. Negeri yang memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia ini juga memiliki potensi untuk menjadi pusat Negara Islam global Khilafah Islamiyah. Karena itu, analisis terhadap aksi-aksi terorisme di Indonesia yang tidak mengaitkannya dengan agenda imperialisme global AS ’the war on terrorism’ hanya akan menghasilkan analisis dangkal yang out of context dan menyesatkan.

Wallahu a’lam bi ash-shawab. [Dr. M. Kusman Sadik]