…. jejakku, cintaku ….

Seputih Melati

Aida selalu menatap nanar kawan sebayanya. Ingin rasanya memiliki waktu yang cukup untuk bermain bersama mereka, dan tentunya bisa memiliki seperangkat alat masak-masakan ataupun satu boneka Barbie. Tapi Aida selalu tak bisa memilikinya. Ia harus membantu kakak-kakaknya sekedar berjualan kacang ataupun merapikan buku-buku di percetakan tetangga. Kalau tak begitu, bagaimana Aida bisa sekolah dan membeli buku.

Beranjak dewasa, keadaan Aida belum juga berubah. Ia masih saja harus berkutat dengan setumpuk pekerjaan rumah tangga dan mengais rejeki disana-sini. Tapi semua terasa indah, ketika segenggam recehan diperolehnya dan membuat sang ibu tersenyum dengan hasil jerih payahnya. Ah, Aida tak pernah lagi bermimpi memiliki baju yang indah, sepatu yang layak ataupun bisa menikmati malam minggu yang indah seperti kawan-kawan sebayanya. Aida cukup bahagia melihat ibunda tak lagi berbalut luka, setelah ditinggal sang ayah.

Allah ternyata membukakan jalan bagi Aida untuk bisa melanjutkan ke jenjang kuliah. Kuliah yang dijalani Aida dengan penuh kesungguhan dan ketekunan. Sekalipun kadang tak sepeserpun uang ada di tangan, ataupun sehari penuh tak menyentuh makanan. Senyum Aida selalu terkembang jika seluruh amanah bisa terselesaikan. Hingga saat penyematan kelulusan tiba, Aida memutuskan tak mengikuti wisuda. Aida terbayang begitu banyak ongkos yang harus dikeluarkan oleh kakak dan bunda jika Ia memutuskan mengikuti wisuda. Aida selalu berpikir, Allah akan menggantikan dengan kebahagiaan yang lebih indah bagi mereka lebih dari sekedar melihat Aida diwisuda. Aida yakin itu.

Kini Aida telah tegak berdiri. Jika mau, Aida bisa membeli apapun yang diinginkan. Kendaraan, rumah, gaun yang paling indah, perhiasan dan segala kemewahan lainnya. Tapi tidak. Aida ada untuk mereka, untuk ibu, kakak, adik, dan siapapun yang tak seberuntung Aida. Bagi Aida, memberi dengan ketulusan adalah kebahagiaan yang terindah, menebarkan senyum adalah ketenangan yang tak ada bandingnya, dan mempersembahkan hidup untukNya adalah keindahan yang luar biasa.

Ah, Aida bahagia…. Sekalipun ada banyak hal yang lepas dari genggaman, tapi Aida yakin… Ia akan selalu mendapatkan ganti yang lebih baik, dan lebih indah.

Aida selalu ingat sebuah lagu yang dipersembahkan oleh seseorang, yang selalu mengingatkan Aida, bahwa bunga terindah adalah bunga yang mampu menebarkan wanginya, dan membentangkan keindahannya, sekalipun harus menghadapi belukar berduri, harus menghadapi terpaan angin dan harus menghadapi hamburan debu. Ya… memberi, dan terus memberi… hingga raga ini tak mampu berderma lagi…

Alhamdulillahi rabbil alamin….

*Teruslah berusaha menjadi seputih melati Aida, sekalipun tak sempurna…..

Kau…

Melati…

Suntingan hati

Kau tumbuh diantara belukar berduri

Seakan… tak peduli lagi

Meski dalam hidupmu kau hanya memberi…

Kau tebar harum

Sebagai tanda

Cinta yang tlah kau hayati

Di sepanjang waktu…

(Kau seputih melati by Dian Pramana Putra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s