…. jejakku, cintaku ….

Islam, menjadikan hidup lebih hidup!

Sejak lahir aku muslim, sekalipun dulu ayahku masih penganut kepercayaan Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal). Tapi jujur, Islam bagiku hanya sekedar simbolik. Dalam benakku saat itu, banyak aturan Islam yang tidak sesuai dengan kenyataan. Katanya sholat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, faktanya banyak orang sholat tetap melakukan kemungkaran, bahkan Imam masjid dikampungku  pernah kesandung kasus penggelapan uang hingga akhirnya dipenjara. Katanya Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, tapi semua kegiatan simpan pinjam sejak tataran RT, RW sampai nasional selalu ada ribanya, kredit juga ada ribanya, semua bank juga ada ribanya. Katanya juga haji itu bagian dari rukun Islam, faktanya banyak kaum muslim yang tidak bisa berhaji karena terlalu, terlalu dan terlalu mahal. Apalagi waktu SMA aku pernah dengar, pacaran haram dalam Islam! Gubrak! Makin aneh aja Islam itu, hawong para kiyai di kampungku saja konon dapetin istri dari pacaran, dan semua anak-anak mereka juga pacaran. Doh! Banyak aturan yang gak real deh, dan membuatku hanya menjadikan Islam identitas di KTP saja. Gak lebih, gak kurang.

Maka wajar jika dalam benakku yang tak pernah mengenal Islam yang utuh, yang males ikutan Rohis, yang tidak pernah nimbrung majelis ilmu keislaman sedikitpun, maka yang terbersit adalah masa muda itu masa hura-hura, seneng-seneng, dan masa menikmati hidup. Dan aku ingat betul aktivitasku saat itu, hang out sama teman-teman, jadi penggemar bola, tiap hari mantau MTV, ngapalin lagu-lagunya backstreet boys, westlife, spice girls, tiap hari ngelongok majalah remaja yang gaul, cari berita kawan-kawan siapa yang putus siapa yang nyambung, mantengin infotainment, kalo kepepet PR selalu nyontek, dan be te sama yang namanya pelajaran. Gak ngerti apa yang harus diraih dan tentu saja, hidup itu harus bagaimana sih?

Beruntung, sungguh beruntungnya aku, masih diberi kesempatan mengenyam bangku kuliah. Dan disinilah, sedikit demi sedikit ada yang mengenalkanku tentang Islam yang sesungguhnya. Sesuatu yang mampu mengubah hidupku, drastis, tujuh ratus derajat, dan lima ratus persen, totally. Islam mengajarkan tentang tingginya derajat orang-orang yang berilmu, tentang Ilmu yang bisa menjadikan kita lebih dari sekedar ahli ibadah, ilmu yang bisa mengantarkan kita memiliki amal jariyah, tabungan sesungguhnya saat nanti kita mati. Maka kuliah bagiku tak sekedar mengejar gelar, tak sekedar untuk dapet kerja  atau tak sekedar membuatku tak malu karena semua teman-teman SMA ku kuliah. Tapi karena tingginya balasan Allah bagi orang-orang yang berilmu, hingga mata kuliah yang sepertinya berat kupelajari (seperti halnya Fisika, matematika, akuntansi yang sempat membuatku stress saat SMA) bagiku adalah tantangan untuk bisa kukuasai. Kuliah bagiku dan bagi teman-teman yang telah ‘ngaji’ saat itu bukanlah kesia-siaan sekalipun mungkin kelak hanya jadi seorang ibu rumah tangga, karena seorang Ibu yang berilmu, tentu berbeda dengan mereka yang tanpa Ilmu. Ya, aku baru merasakan energi ibadah dalam seluruh aktivitas, aktivitas kuliah, aktivitas sosial, bahkan seluruh aktivitas keseharian, tidur sekalipun. Saat itu, akupun semakin paham, bahwa Islam tak sekedar simbolik, bahwa apapun perintah Allah pasti sesuai dengan kenyataan, kalaupun saat ini tak bisa dilaksanakan, bukan hukumnya yang salah, tapi faktanya yang harus dirubah. Oleh siapa? Tentu saja oleh kita, manusia, kaum muslimin.

Islam lah yang mengajarkanku tentang bagaimana memaknai hidup, bagaimana menghadapi masalah yang silih berganti, bagaimana memaknai rejeki, serta memaknai sukses hakiki. Banyak hal yang membuatku tidak pernah merasa sendiri, sekalipun berada jauh dari keluarga. Hidup yang tak sekedar lahir, sekolah, kerja, menikah lalu mati. Tapi hidup yang lebih hidup. Mampu menjawab, Untuk apa aku sekolah, untuk apa aku menikah, untuk apa berdakwah, dan tentu saja, untuk apa aku hidup?

Hingga aku berjuang keras untuk bisa menjadi seperti sekarang ini, menjadi seorang muslimah yang kebetulan peneliti yang insyaAllah sebentar lagi diberi kesempatan melanjutkan studi, menjadi seorang istri yang kebetulan diberi kemudahan rejeki untuk memperbesar usaha suami, menjadi seorang Ibu dari seorang putri yang tak pernah ingin meninggalkannya demi karir, dan seorang anak yang Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk memberikan bakti terbaiknya untuk mamak tercinta… dan tentu saja menjadi seorang pengemban dakwah yang bergabung dalam sebuah jamaah dakwah yang konsisten dalam penegakan syariah dan khilafah.

Semua itu,

Tak akan masuk dalam benak pemikiran dan arah perjuanganku, jika aku tak kenal ROHIS saat di kampus, karena tanpa paham Islam, mungkin aku hanya akan jadi sarjana kebanyakan, sarjana yang mengandalkan tawaran pekerjaan, sarjana yang hanya rentetan gelar di ujung nama, atau jangan-jangan sarjana yang hanya jadi sampah peradaban! Naudzubillah…

Buat kamu generasi muda, atau para orang tua, jangan takut dengan ROHIS atau kajian keislaman di sekolah atau di kampus, karena mereka tak pernah mengajarkan kita untuk menjadi TERORIS, tapi menjadi muslim seutuhnya, yang bangga dengan Islamnya, dan mengerti arah hidupnya… jika tak percaya, silakan cari buktinya, karena sudah nyata hasilnya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s