…. jejakku, cintaku ….

Pada Siapa Kita Percaya?

suami-istri1

Saat suatu kali kupandangi diri di depan cermin,

“Ummi semakin keliatan tua ya Bi, katanya kalo gak pake pelembab bakalan cepat berkerut kulitnya Bi, Ummi boleh beli pelembab Bi?”

Kulihat suamiku tersenyum sambil melirik ke arahku, lalu katanya,

“Itu kan perasaan Ummi, nurut Abi Ummi keliatan muda terus kok, Abi kan gak pernah bo’ong sama Ummi” katanya,

“Ah iya, buat Ummi yang penting apa kata Abi…hehehehe…” Lalu suamiku mendekatiku sambil mengatakan sesuatu,

“ Kalau ada yang bilang Ummi keliatan tua, berarti pandangan mata orang itu yang uda mulai kabur, jadi doakan saja semoga penglihatannya segera normal kembali” Ah Abi, bisa aja nghiburnya. Aku pun tersenyum mendengarnya.

***

Yakinkan setiap masalah ada solusi? Lalu solusi siapa yang kita percaya? Adakah solusi yang lebih baik selain yang Maha Tau Masalah?!

Sebagai perempuan, saya kembali menjerit dalam hati. Menjerit membaca berita (entah benar entah lebay) seorang wanita menuntut cerai dengan alasan sang suami tidak bisa member uang minimal yang dia minta, yang lebih membuat saya ‘emosi’ dalam hati adalah, bahwa uang puluhan juta yang dia minta bukan untuk kebutuhan keluarga, namun untuk kebutuhan penampilan, ‘demi cantik dihadapan orang lain’!.

Benarlah kata Allah, pemberi solusi yang terpercaya. Bahwa Dia menetapkan apa itu mahram, sehingga tak layak lah seorang wanita mempertontonkan auratnya pada siapapun yang bukan mahram nya. Ya, sudang jamak seorang wanita selalu ingin memperlihatkan ‘kecantikannya’ dan ‘sangat senang dipuji’. Maka bayangkan jika Allah tidak melarang wanita dengan pembatasan aurat dan mahram baginya. Mereka akan berlomba-lomba menghabiskan hartanya untuk mempercantik diri di depan umum, mereka akan melakukan banyak hal demi mengejar pujian, dan waktu dihabiskan hanya demi penampilan. Jika sudah seperti itu, bisa kah kau bayangkan apa hasilnya? Pertama, ketika dia memiliki anak, maka sudah pasti fokus pendidikan adalah penampilan, dan lahirlah generasi yang tidak jauh berbeda, pemuja fisik! Kedua, ketika dia memiliki suami, maka sudah pasti akan menjadi istri yang penuntut, dan jika hidup bersama dengan orang penuntut, tunggulah alarm kepenatan dan kebosanan menyala.

Allah Maha Benar, ketika mewajibkan istri berhias hanya untuk suami semata, bukan untuk orang lain! Karena keinginan suami tentu akan selalu disesuaikan dengan kebutuhannya, namun bayangkan jika orang umum yang notabene ada dimanapun dipenuhi keinginannya, maka yang terjadi adalah ‘tak pernah’ melihat keadaan sendiri, bahkan rela berhutang demi memenuhi tuntutan orang lain, yang seringnya hanya berdasar ‘anggapan’ saja, bukan kebutuhan yang sesungguhnya. Dan lihatlah, apa dampaknya. Suami mereka ketika keluar rumah disuguhi perempuan-perempuan ‘yang menggoda’, namun ketika berada dirumah, kehadiran ‘istri yang menyejukkan pandangan’ tak lagi dia temui. Lalu kapal pun pecah, karam, hanyut dan tenggelam.

Allah, Allah, Allah. Kenapa banyak yang tak lagi percaya pada solusiNya?!  Tidak cukup kah bukti penciptaan Alam Semesta menjadi jaminan akan Ke Maha DigdayaanNya?

Mungkin, memang harus menghadapNya dulu, baru banyak manusia menyadarinya. Namun sayangnya, saat hari itu terjadi, sudah terlambat untuk kembali…..

2 responses

  1. Rebirth_Young

    ikut share ya ukhti
    syukron ^^

    Mei 24, 2013 pukul 11:29

  2. beruntung…. suami ibu insya Allah lelaki yang mulia. Rajulun kariim insya Allah… Allah yubaarik fii hayaatikum!

    Mei 26, 2014 pukul 14:30

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s