…. jejakku, cintaku ….

Cerita untuk Rendy

Namanya Rendy, seorang anak kelas IV SD yang gendut, lucu, menggemaskan dan banyak tingkah. Seorang anak bermata sipit, berkulit putih dan calon bisnisman ulung kurasa, mewarisi ketelitian hitung-menghitung dari kedua orang tuanya yang peranakan Cina. Salah satu murid dari sekian murid privat saya yang memberi cerita tersendiri untuk saya.

 

Seorang anak yang menjadi korban kesibukan kedua orang tuanya, dan menjadi pelampiasan rasa lelah mereka. Saya tidak tahu apakah anak seusia mereka sudah paham tentang kesibukan orang tua yang katanya mencari nafkah untuk kebahagiaan sang anak. Yang saya tahu ketika amarah sang ibu menghampiri saat dia belum siap ketika saya datang, dia hanya diam. Dia hanya tertunduk sambil menahan air mata saat amarah mulut dan ayunan tangan menderanya. Dan saat itu saya hanya diam menatapnya dengan iba, berharap setelah itu kata-kata saya bisa sedikit menghiburnya.

 

Saya sendiri guru ke sekian yang di datangkan oleh sang ibu, menggantikan guru-guru sebelumnya, dengan pesan pertama yang dia sampaikan, dan kurasa ini mungkin pesan yang sama untuk para guru sebelum saya,

 

Rendy itu nakal, susah di suruh belajar, pokoknya entar kalo gak mau belajar lapor saja sama saya

 

Sekali dua kali mengajar, saya masih mendapati Rendy yang seperti kata ibunya, bandel dan susah belajar, serta rasa ngeyelnya yang luar biasa, seolah sama sekali tidak menghargai kehadiran saya yang betul-betul ingin menjadi guru buat dia, hingga kesabaran saya di uji, dan akhirnya dengan sedikit emosi kukatakan padanya…

 

Rendi dengar!! Tahu gak kakak berangkat dari kostan jam 3 dan makan waktu hampir 1 jam perjalananan itupun kalo tidak terjebak macet. Jika hari ini kakak ngajarin 2 orang maka paling gak kakak baru sampe kostan jam 9 malam, itupun kalo gak terlalu macet. Dan Rendy tahu kakak cuman di bayar berapa sama mami? 15 ribu satu jam, kakak cuman ngajar 1,5 jam, dan kakak harus bayar angkot 8 ribu sekali ngajarin kamu. Kalo kakak mau, kakak datang ajah dan cuman main-main sama kamu, kita gak usah belajar, toh mami gak tahu dan tetep bayar kakak kan? Ngapain susah-susah ngajarin kamu. Capek!!”

Dia diam, mungkin tidak menyangka saya mengucapkan kata-kata itu.

 

Tapi kakak gak mau seperti itu Ren. Kakak datang untuk bantu kamu jadi tahu kalo kamu gak tahu, bantu kamu jadi ngerti kalo kamu gak ngerti, dan bantu kamu jadi bisa kalo kamu gak bisa. Tapi kalo Rendy menolak bantuan kakak, besok kakak bilang sama mami suruh cari guru yang lain saja!”

 

Dia masih diam, mungkin masih menangkap kekagetan dengan lontaran kata-kata saya. Sampai akhirnya keputusan yang saya harapkan keluar dari bibirnya..

 

Jangan kak, aku mau belajar kok….”

 

 

Setelah itu, semuanya menjadi lebih baik. Dia semakin menghargai kehadiran saya. Dan satu hal yang membuat saya menikmati menjadi pengajarnya adalah rasa keingintahuannya tentang Islam walaupun seoarang khatolik, yah, dia tak henti-henti bertanya. Ketika adzan magrib berkumandang dan saya minta untuk behenti sejenak misalnya, dia tanya “kak, apa sih artinya adzan, kenapa harus adzan, kenapa pake bahasa arab, kalo ke gereja mah gak usah ditereakin orang sudah pada datang tuh”, atau ketika mendapati saya sholat “kak kenapa harus sholat, bibi (pembantu.red) juga gak sholat, kenapa harus madep sono (kiblat.red), bacanya apa saja, kenapa gerakannya kayak gitu…dll”, hingga kadang saya kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya, tapi saya menikmatinya.

 

 

Yah, akhirnya dia paham bahwa pikiran dan raga saya benar-benar hadir untuknya. Bahwa saya mengajari dia tidak semata-mata karena saya butuh uang, saya mengajari dia tidak semata-mata memenuhi kewajiban saya dan memenuhi permintaan sang ibu. Saya mengajari dia karena saya mau, karena saya suka dan saya menikmatinya.

 

Hingga setiap kali saya mau pulang, dia selalu menyisihkan jajanan oleh-oleh ayahnya untuk bisa saya bawa pulang ke kostan, entah itu martabak, kue, coklat ataupun sekedar permen. Jika dia punya 20 permen, maka dia akan ambil 1 dan sisanya diserahkan ke saya sambil berkata :

 

Ini buat kakak

kok banyak amat” kata saya

temen kakak di kostan kan banyak, buat yang lain juga yah” sebuah ketulusan yang indah walaupun hanya untuk beberapa butir permen.

 

Atau setiap kali menjelang magrib, dia sudah menghamparkan sajadah untuk saya dan berani mengingatkan sang bibi untuk sholat. Sebuah pengingatan yang indah dari seorang anak, tanpa rasa beban di hati.

 

Tapi ada satu hal yang bikin saya geleng-geleng kepala, ketelitian waktunya untuk mengingatkan saya. Jika saya mengajar 1,5 jam, maka waktu segitu harus tepat, jadi dia akan selalu menghitung seberapa menit saya terlambat dan jam berapa saya harus berhenti.

 

Kakak tadi datang jam 17.10, dikurangi sholat 10 menit, jadi nanti kakak pulang jam 18.50

Lalu jam weker akan disetel sesuai dengan kepulangan saya, saya hanya tersenyum melihat kebiasaan itu.

 

Tapi akhirnya, keputusan saya harus kembali ke kota kelahiran, membuat kami harus berpisah. Saya hanya berharap guru penggantinya bisa jauh lebih baik dari saya, dan memahami betul apa kemauannya. Karena dia anak yang istimewa, jika kita bisa melihat keistimewaannya.

 

 

Rendy,

Jika suatu saat kau membaca cerita ini,

Kakak ingin kamu tahu,

Bahwa kakak sangat peduli padamu.

Kakak menyayangimu lebih dari yang kau tahu

Walaupun mungkin kau tak kan mengenaliku

Jika suatu saat kita bertemu,

Paling tidak aku pernah menjadi bagian dari kisahmu

Salam rindu selalu….

.

Kakak

4 responses

  1. Cerita yang begitu mengesankan. Salam kenal dari blogger baru. Ditunggu kunjungan baliknya.

    Desember 10, 2010 pukul 20:52

  2. Cerita waktu kuliah ya…
    Semoga Rendy baca cerita ini, sepertinya dia ada bakat jadi anak baik😀

    Desember 11, 2010 pukul 12:51

  3. bener banget…
    sekarang..
    banyak para orang tua..
    yang lebih memikirkan materi buat anaknya aja..
    dan lupa..
    kalau anak..anak..
    tuch gak cuma butuh uang…
    tapi juga butuh kasih sayang…

    Desember 13, 2010 pukul 13:16

  4. ayah iffa

    mengajar dengan hati pasti akan sampai dengan hati juga
    menikmati dan menjalani apapun peran kita dalam kehidupan ini,…
    salam kenal 165

    Januari 10, 2013 pukul 11:12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s