…. jejakku, cintaku ….

Ahmadiyah tersangka, bukan KORBAN!

Kejadian bentrokan di desa Desa Umbulan Kecamatan Cikeusik Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten beberapa hari lalu (Ahad, 6 Februari 2011) yang menewaskan 6 orang menjadi headline news di hampir seluruh surat kabar yang terbit hari Senin dan menjadi liputan utama berbagai stasiun televisi. Hampir seluruh media memberitakan bahwa Ahmadiyah DISERANG / DISERBU oleh ratusan warga.

Penonjolan berita DISERANG atau DISERBU seolah-olah menempatkan Ahmadiyah pada posisi benar dan terzolimi.

Berikut beberapa headline media:

  • Ahmadiyah: Diserang di RI, Dibom di Pakistan
  • Massa Beringas Menyerang Ahmadiyah
  • Kekerasan Menimpa Jamaah Ahmadiyah
  • Seribu Warga Cikeusik, Pandeglang Serang Jamaah Ahmadiyah
  • Seribuan Warga Cikeusik Serang Jemaah Ahmadiyah

Berita pun berlanjut dengan pernyataan-pernyataan kecaman serta kutukan oleh banyak tokoh-tokoh yang –konon katanya- merupakan tokoh agama, tokoh lintas agama, tokoh pembela HAM, tokoh nasional, tokoh pecinta damai, dan aneka tokoh-tokoh lainnya. Dan seperti biasa, suara paling nyaring jika terjadi peristiwa-peristiwa ‘kekerasan’ seperti ‘itu’, banyak tokoh tiba-tiba lantang berbicara dan berkoar-koar. Anehnya, para tokoh-tokoh itu berbicara tanpa tahu atau mungkin pura-pura tidak tahu akan akar persoalan maupun kronologis kejadiannya.

Berikut beberapa pernyataan tokoh-tokoh yang asal ‘njeplak’:

  1. Mereka yang menamakan diri Jaringan Masyarakat Sipil untuk Perlindungan Warga Negara yang beranggotakan LBH Jakarta, YLBHI, Elsam, Kontras, Human Right Working Group, Imparsial, ICRP, Praxis, ILRC, Madia, Wahid Institute, Maarif Institute, dan LBH Masyarakat.  Mereka mengeluarkan tujuh poin pernyataan bersama yang intinya menuntut tindakan hukum yang tegas kepada perencana serangan dan para pelakunya. Beberapa tokoh HAM yang hadir dalam pernyataan bersama ini adalah Dewan Pembina YLBHI Todung Mulya Lubis dan Koordinator Kontras Usman Hamid;
  2. Komnas Ham mengutuk serangan itu dan menyebutnya sebagai pelanggaran Ham berat;
  3. Jimly Asshiddique, menegaskan bahwa tindakan brutal terhadap jamaah Ahmadiyah itu harus diusut tuntas. Pemerintah harus bersikap tegas.
  4. Komisi HAM Antar-Pemerintah ASEAN (AICHR) mengecam keras dan mendesak Presiden SBY bertindak konkret. “Saya mengecam keras penyerangan dan mengharapkan kebijakan serta tindakan konkret pemerintah,” kata Rafendi Djamin, wakil Republik Indonesia untuk AICHR;
  5. Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menilai ada unsur terencana pada kasus penyerangan itu. “Ada kelompok anarkis yang tidak suka terhadap aliran Ahmadiyah,” kata aktivis Kontras, Syafiq Alielha.
  6. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengecam tindakan kekerasan atas nama agama itu. “Kalau soal aqidah, saya tidak setuju Ahmadiyah. Tapi ini soal perlindungan warga negara,” kata Anas.
  7. Forum Persaudaraan Umat Beragama (FPUB) Yogyakarta menuntut Kapolres Pandeglang, AKBP Alex Fauzi Rasyad mundur. “Karena aparat keamanan membiarkan penyerangan terhadap warga Ahmadiyah,” kata Kyai Haji Abdul Muhaimin, Ketua FPUB.
  8. Ketua Fraksi PKB DPR Marwan Jafar menegaskan, kekerasan terhadap warga Ahmadiyah tidak bisa dibenarkan untuk menyelesaikan masalah. Ia meminta Polri mengusut pelaku dan penyebab kekerasan. Polri juga diminta mengungkapkan kronologi kejadian.

Seluruh ‘opini’ pemberitaan nasional pun serentak dan seragam memojokkan warga (baca: ‘umat Islam garis keras’) serta sepakat menempatkan posisi Ahmadiyah dalam posisi terzolimi. Apakah benar dalam peristiwa bentrok tersebut warga Ahmadiyah diserang?

Ternyata berita-berita yang dikabarkan oleh media-media nasional tak sepenuhnya benar. Media cenderung menutupi kronologis kejadian sebenarnya dan tak melihat akar persoalannya.

Berdasarkan hasil penelusuran pemberitaan insiden bentrok tersebut dan mendengarkan wawancara langsung sebuah stasiun televisi dengan Kapolres Pandeglang terungkaplah kronologis insiden berdarah itu, kronologis awal bentrokan bermula pada Sabtu malam (5/02/11), puluhan anggota Jamaah Ahmadiyah dari Kota Bogor tiba di Cikeusik dengan menumpang dua kendaraan roda empat, dan menginap di rumah Parman (baca: Ahmadiyah Yang Pertama Kali Lakukan Serangan & Menyiapkan Serangan).

Selanjutnya, pada Ahad pagi, sekitar seribuan warga dari berbagai daerah, diantaranya berasal dari Kecamatan Cibaliung, Cikeusik Kabupaten Pandeglang dan Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak mendatangi rumah Parman (pimpinan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik) [baca: Warga Datangi Rumah Parman].

Saat massa (warga) tiba, puluhan Jamaah Ahmadiyah yang berada di rumah Parman sudah siap dan mereka membawa berbagai jenis senjata tajam, seperti samurai, parang dan tombak. (Baca: Jamaah Ahmadiyah Telah Siapkan Senjata Tajam Sebelumnya)

Sesaat kemudian, salah seorang anggota Jamaah Amhadiyah membacok lengan kanan warga setempat yang bernama Sarta hingga nyaris putus.

“Pembacokan inilah yang memicu bentrokan. Warga marah karena melihat lengan kanan Sarta nyaris putus,” kata Lukman, tokoh masyarakat Cikeusik.

Pernyataan Lukman selaras dengan pernyataan Kapolres Pandeglang, AKBP Alex Fauzy Rasyaad yang menyebut bahwa Jamaah Ahmadiyah-lah yang pertama kali melakukan serangan dengan menggunakan senjata-senjata tajam melawan warga yang sebenarnya sudah tenang.

Jamaah Ahmadiyah pun sengaja memprovokasi warga dengan pernyataan-pernyataan ‘SIAP MATI’. Atas provokasi dan serangan oknum-oknum Jamaah Ahmadiyah, warga pun bertahan sambil melawan. Secara otomatis, Jamaah Ahmadiyah yang sedikit tak mampu mengalahkan warga yang jumlahnya lebih banyak. Barulah kemudian pembakaran terjadi. Yang perlu dicatat adalah Jamaah Ahmadiyah-lah yang pertama kali menyerang dengan senjata tajam. Apakah kalian tahu FAKTA ini wahai para ‘kyai’ dan pembela HAM ???

Upaya Pencegahan Bentrok

Apa para tokoh itu tahu jika upaya-upaya pencegahan bentrokan sudah dilakukan jauh-jauh hari? Dan lagi-lagi jamaah Ahmadiyah tetap membandel. Sebagai misal, langkah yang sebelumnya ditempuh oleh aparat musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) dengan beberapakali memanggil Suparman sebagai pimpinan Ahmadiyah agar menghentikan kegiatan keagamaan yang dinilai tidak lazim dengan umat muslim lainya.  Selain itu juga Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan (Bakor Pakem) yang diketuai Kejaksaan Negeri sudah melarang kegaitan Ahmadiyah yang dilakukan Suparman. “Saya kira jika pimpinan Ahmadiyah menaati aturan itu dipastikan tidak akan terjadi bentrokan yang menimbulkan korban jiwa,” katanya.

Meski sudah diajak bicara baik-baik, Jamaah Ahmadiyah justru mengadakan kegiatan. Semua bermula dari informasi yang diterima tanggal 3 Februari 2011, yakni akan ada kegiatan Ahmadiyah di Desa Cipeda, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang Banten. Jamaah itu dipimpin oleh Ismail Suparman.
Masyarakat menyatakan tidak terima dan akan melakukan penertiban. Kepolisian setempat kemudian memutuskan untuk melakukan evakuasi terhadap Ismail agar tidak diserang warga. Jam 15 di evakuasi ke Polres. Kemudian pada tanggal 6 Februari, sebelum penyerangan dari warga terjadi, sekitar pukul 07.00 WIB Deden, yang berasal dari Ahmadiyah Pusat mendatangi rumah Ismail yang kosong.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Perlindungan Masyarakat dan Politik Kabupaten Pandeglang Futoni Sy menambahkan, bentrokan itu dipicu kedatangan sejumlah jamaah Ahmadiyah dari luar daerah yang justru menjadi biang provokator. Dan selanjutnya, terjadilah bentrokan.

Solusi

Perlu juga menjadi catatan, Ahmadiyah adalah sebuah aliran yang sudah dinyatakan sesat baik oleh MUI, Ulama Dunia, bahkan di Pakistan (tempat lahir Ahmadiyah) dan di Inggris (Markas Ahmadiyah) Ahmadiyah dinyatakan bukan bagian dari Islam. Tetapi mereka masih saja membandel seolah menantang keputusan-keputusan pemerintah itu. Pemerintah juga tidak tegas terhadap para pengikut Ahmadiyah. Tak hanya pemerintah, tokoh-tokoh agama dan pengusung faham liberalism agama pun justru tanpa tedeng aling-aling mensupport mereka guna melawan keputusan pemerintah.

Kalau memang semua mau menyelesaikan masalah ini, tugas pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah menetapkan ajaran itu sebagai ajaran yang boleh atau tidak boleh ada di Indonesia. Kalau dianggap sebagai ajaran yang tidak boleh, maka tugas pemerintah untuk melarang ajaran itu ada. Pemerintah harus bisa menjelaskan kepada jemaahnya bahwa ajaran itu adalah ajaran yang salah dan tidak boleh diikuti. Perangkat hukum itu sebenarnya sudah ada yaitu  SKB 3 Menteri yang intinya memerintahkan menghentikan seluruh kegiatan JAI (Jamaah Ahmadiyah Indonesia).  Hanya saja, SKB tersebut kurang tegas dan perlu peran pemerintah untuk mempertegas kembali pelarangan dan pembubarannya.

Ketika kemudian masih ada kelompok yang mengikuti ajaran itu, maka tugas dari masyarakat untuk melaporkan kepada pihak yang berwenang. Kalau ada yang memaksa untuk ikut ajaran itu, padahal ajaran itu dilarang oleh negara, maka mereka harus legowo dihadapkan kepada hukum. Namun sebaliknya, ketika negara menganggap ajaran itu boleh ada, maka semua warganegara yang lain harus menghormatinya.

Sekarang ini banyak persoalan yang muncul karena pemerintah sendiri tidak pernah jelas terhadap sikapnya. Akibatnya, penegak hukum selalu berada di wilayah abu-abu. Masyarakat pun kemudian menginterpretasikan secara sendiri-sendiri.

Semua tindakan kekerasan dan main hakim sendiri tidak akan pernah terjadi kalau pemimpinnya tegas. Kemudian pemimpin juga tampil untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan mentransformasikan bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki peradaban. Intinya, meskipun fakta berbicara bahwa beberapa Jamaah Ahmadiyah tewas dalam bentrokan, tak bisa menjadikan bahwa ajaran Ahmadiyah tidak sesat. Wallahu a’lam.

Tulisan ini ditulis setelah membaca puluhan judul berita tentang Bentrok Ahmadiyah-Warga di Cikeusik dan dengan diiringi pikiran janggal tentang kasus ini. Terlintas pikiran kenapa berita ini muncul secara seragam di media nasional mengalahkan berita besar lainnya? Wahai umat, berfikirlah cemerlang! dan kritislah dengan media yang selalu bermain di belakang layar!

Ahmed Fikreatif @ muslimdaily.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s