…. jejakku, cintaku ….

Kisah Klasik Suami Istri

Sebuah restoran mewah di hotel berbintang empat di Lombok. Makanan kelas satu. Musik jazz swing mengalun syahdu.

Sepasang suami istri menikmati makan malam mereka. Hening tidak ada suara di antara mereka. Hanya denting garpu, sendok, dan pisau yang sesekali memecah keheningan di antara mereka.

“Hambar ya,” kata sang istri mencoba membuka kesunyian di antara mereka.

“Ya,” jawab sang suami pendek.

Hmm, memang hambar suamiku. Hambar seperti pernikahan kita. Sudah seringkali kita seperti ini. Saling diam. Saling membisu. Tanpa pernah bertukar kata-kata lagi. Sunyi. Sepi. Senyap seperti kita tidak saling mengenal.

Hambar? Sudah tahu kok bertanya? Basa-basi? Sudah tahu nggak ada rasanya, eh, masih juga mengajak aku makan di sini. Memang di Lombok nggak ada restoran lain apa? Buanyak banget!

Kayaknya dia nggak peduli hambar atau tidak? Kadang aku bingung dengan suamiku. Entah makanan itu terlalu asin, terlalu manis, terlalu pedas, atau hambar sekalipun tetap saja masih terus dimakannya. Aku tidak pernah bisa mengerti jalan pikirannya meski aku dan dia sudah bertahun-tahun menikah. Masih saja selalu mengira-ngira. Menebak-nebak seperti orang bertaruh.

Payah! Pilihannya tentang restoran payah. Apa sih yang dia bisa? Aku tidak menuntutnya untuk bisa memasak, tapi setidaknya bisa menunjukkan makanan enak. Pilihannya selalu aneh dan ajaib. Kalau tidak terlalu asin, terlalu manis, terlalu pedas, atau malah hambar sekalian! Hmm, she has a bad taste.

Dia diam lagi. Suamiku diam lagi. Apa sih yang dipikirkannya? Pekerjaan? Keluarga? Anak? Malah selingkuhannya?

“Mau tambah mas?”

“Nanti aja.”

Apa sih kok dia tanya-tanya? Tumben perhatian? Seingatku mana pernah dia seperti itu. Bertanya apakah aku mau menambah makan atau tidak? Selain itu, apa dia pernah menanyakan, mengkritik, atau memberikan masukan saat aku berangkat ke kantor? Apakah baju yang kupakai cocok dengan celananya? Bagaimana juga dengan dasinya, apakah penjepitnya ada atau tidak? Lantas apakah sepatunya sudah disemir atau belum? Hmm, bisa dihitung dengan jari selama pernikahan yang seakan lebih dari seabad ini!

Kok tanggapannya seperti itu sih! Nanti aja! Nggak sensitif banget sih. Aku ‘kan istrinya. Jawab ‘nanti aja, sayang”. Pakai embel-embel sayang. Begitu ‘kan lebih enak!

Sepasang suami istri ini melanjutkan makan malam mereka.

Sang istri sibuk dengan ikan bakarnya.

Sang suami lebih direpotkan dengan udang dan kepitingnya.

Dia masih saja diam. Kenapa sih? Apa yang salah dengan diriku? Apa aku kurang merawat diri? Apa aku mulai tidak menarik lagi?

Hmm, enak banget, nih, udang sama kepitingnya kalau bumbunya pas. Sayangnya hambar. Kok hotel bintang nggak bisa kasih bumbu yang pas untuk udang dan kepiting ini. Masak kalah sama seafood cap Muara Karang!

Kenapa sih suamiku tersayang masih diam? Apa aku nggak dianggap ada! Sibuk banget sama udang dan kepitingnya!

Kok, istriku melihat aku seperti itu, sih? Curiga apa, sih? Aku punya selingkuhan? Apa dia masih menyangka aku punya affair dengan Regina? Ah, dia kan hanya teman biasa aja! Sudah punya pacar yang ganteng. Mau menikah lagi. Kalaupun dekat karena sama-sama suka sepakbola saja. Nggak terlalu banyak perempuan yang suka sepakbola terutama Liga Spanyol khususnya lagi FC Barcelona. Aku dan Regina sama-sama penggemar The Catalans alias Barca. Bagi aku dan Regina, FC Barcelona lebih dari sekedar klub sepakbola. FC Barcelona merupakan simbol perlawanan orang-orang Catalan terhadap orang-orang Spanyol. Buktinya klub ini pernah ditutup zaman diktator Jenderal Franco. Selain itu, mereka termasuk klub yang mandiri. Mana ada logo sponsor di baju pemain mereka! Kalau sekarang ada tulisannya itu pun tertera kata Unicef! Lembaga PBB yang mengurusi anak-anak. Hebat ‘kan? Makanya aku dan Regina sangat menyukai FC Barcelona.

Suamiku, kenapa kamu masih diam membisu?

Aduh, ingat Regina, ingat FC Barcelona, ingat klub kebanggaanku yang tahun lalu berhasil menjadi juara Liga Spanyol sekaligus Liga Champions.

Suamiku, apa, sih, yang kamu pikirkan?

Tapi sekarang prestasi FC Barcelona malah biasa-biasa saja. Bagus nggak, jelek juga nggak. Di Liga Champions, posisinya kritis. Begitu juga di La Liga, masa juara bertahan terseok-seok. Nggak jelas begitu. Frank Rijkaard kayaknya nggak pantas lagi jadi manajer FC Barcelona. Harusnya sudah diganti!

Hmm, suamiku, apa sih yang ada dalam benakmu? Bolehkah aku tahu? Maukah kamu membaginya denganku?

Kok, istriku melihatku seperti itu lagi? Ah, masa bodoh! Dia selalu seperti itu, kok. Biarkan saja!

Sepasang suami istri ini melanjutkan makan malam mereka.

Sang istri sibuk dengan ikan bakarnya.

Sang suami lebih direpotkan dengan udang dan kepitingnya.

Suamiku masih diam membisu. Apa, sih, yang dia sembunyikan dariku? Seberapa penting sehingga harus disembuyikan dariku? Dia tidak bekerja sebagai agen rahasia negara. Apa rahasia perusahannya? Proyek baru?

Kok tatapan matanya jadi tambah penuh selidik? Apa istriku jadi Sherlock Holmes? Jadi James Bond saja sekalian!

Suamiku masih diam membisu. Bersuaralah suamiku!

Istriku masih menatapku seperti itu. Ada apa istriku?

Sepasang suami istri ini melanjutkan makan malam mereka.

Sang istri sibuk dengan ikan bakarnya.

Sang suami lebih direpotkan dengan udang dan kepitingnya.

Aduh, FC Barcelona goblok. Masak hanya beli Lilian Thuram, Gianluca Zambrotta sama Eidur Gudjohnsen saja. Thuram memang jago di Juventus sama tim nasional Perancis, tapi ingat dong kalau umurnya tuh hampir 35 tahun. Uzur banget buat pesepakbola. Gudjohnsen juga nggak bagus-bagus amat sewaktu di Chelsea. Ya, best buy-nya hanya Zambrotta! Bek kanan terbaik di Italia, Piala Dunia 2006 Jerman, Juventus, pokoknya terbaik deh.

Suamiku, apa sih yang sedang kamu pikirkan? Apa sih yang bersemayam di lubuk hatimu terdalam? Bolehkah aku mengetahuinya? Maukah kamu berbagi denganku barang sejenak saja?

Istriku kenapa kamu menatapku seperti itu. Apa salahku?

Suamiku katakan sesuatu kepadaku!

Istriku, ada apa lagi?

Sepasang suami istri ini melanjutkan makan malam mereka.

Sang istri sibuk dengan ikan bakarnya.

Sang suami lebih direpotkan dengan udang dan kepitingnya.

Suamiku utarakan apa isi hatimu.

Istriku, kamu tidak akan pernah tahu. Juga tidak akan bisa dan mau tahu. Tidak akan pernah istriku.

Hmm, suamiku masih membeku dalam kesunyian yang diciptakannya.

Istriku masih dengan tatapannya yang semakin menghakimiku. Biarlah. Aku dengan lamunanku. Dia dengan lamunannya sendiri.
Ah, seandainya Rijkaard lebih banyak dapat pemain. Lihat saja Real Madrid yang arogan itu bisa mendatangkan banyak pemain. Ada Ruud van Nistelrooy, Mohammadou Diarra, Emerson, Fabio Cannavaro, dan Jose Antonio Reyes. Pemain kelas dunia dibeli semua. Kalau FC Barcelona paling hanya mengandalkan Ronaldinho lagi. Si gigi tonggos sepertinya sudah bisa ditebak gaya permainannya. Makanya prestasi Barca, ya, rada stagnan juga. Kemarin Regina juga menganalisa hal yang sama dengan diriku.

Suamiku masih saja membisu.

Masih saja istriku menatap seperti itu. Hmm, harusnya Rijkaard beli pemain baru. Apalagi Samuel Eto’o cedera. Mesin gol hebat seperti itu sangat dibutuhkan. Tapi mesti beli siapa, ya? By the way, kan masih ada Javier Saviola? Ah, Saviola tidak terlalu stabil.

Suamiku katakan sesuatu! Katakan sesuatu!

Tapi kata Regina, panggil saja lagi si Henrik Larsson dari Swedia. Tapi mana mau Larsson bergabung lagi di FC Barcelona. Ia memutuskan kontrak karena ingin dekat dengan keluarganya. Lantas siapa, dong? Oh, iya, Albert Luque mungkin saja mau pindah. Yang benar saja? Luque mandul selama di Newcastle United, begitu juga saat di Deportivo La Coruna.

Suamiku masih setia dengan kesunyiannya.

Coba kalau aku jadi Frank Rijkaard. Aku akan jadikan Barca jadi penguasa La Liga. Jadi jawara di Eropa. Langganan juara Liga Champions!

Sepasang suami istri ini masih melanjutkan makan malam mereka.

Kini sang istri sibuk dengan kue-kue dan buah-buahan.

Sang suami tenggelam dalam menyantap salad kesukannya.

Suamiku masih saja begitu. Diam membisu. Belum berubah sedikit pun jua.

Kenapa ia masih diam? Kenapa ia masih menatapku seperti itu? Tidakkah ia memulai berkata?

Darling, say something.

Aduh sampai mana, ya, tentang FC Barcelona. Sekarang prestasi masih oke-oke saja. Masih permulaan musim. Jangan-jangan masuk paruh kedua malah kedodoran? Akhir musim tersingkir dari perebutan juara! Gawat dong!

Suamiku, please, jangan membuatku bingung dalam kesunyian yang kamu ciptakan untuk dirimu sendiri.

Hmm, kira-kira di paruh musim beli siapa ya buat memperkuat lini tengah Barca. Sepertinya keropos, deh. Xavi Hernandez dan Deco sepertinya tidak maksimal lagi. Kreasi mereka menciptakan keindahan tidak lagi muncul. Tapi kalau beli gelandang baru siapa dong? Owen Hargreaves dari Bayern Muenchen? Hmm, harus berebutan dengan Manchester United. Berat banget!

Sepasang suami istri ini masih melanjutkan makan malam mereka.

Kini sang istri sibuk dengan kue-kue dan buah-buahan.

Sang suami tenggelam dalam menyantap salad kesukannya.

Suamiku katakan sesuatu.

Istriku, kenapa kamu masih seperti itu? Tidakkah kamu ingin berubah? Adakah kemauan dalam dirimu untuk mencoba mengerti aku? Paham dengan semua yang ada dalam diriku? Tak mengapa bila kamu lakukan saat ini saat pernikahan kita telah berlangsung bertahun-tahun!

Makanan telah habis. Sajian penutup juga telah lenyap. Hanya minuman yang tersisa. Anggur terbaik yang justru tersia-sia. Tidak dinikmati dengan semestinya. Lewat begitu saja tanpa ada makna.

Musik jazz swing masih mengalun syahdu. Lirih dan perih. Sunyi. Sepi. Senyap. Seperti perkawinan sepasang suami istri ini.

“Sudah selesai? Pulang aja, yuk! Aku mau istirahat!” ucap sang suami memecahkan kebuntuan komunikasi.

“Oke.”

Akhirnya dia bersuara juga.

Hmm, FC Barcelona juara nggak ya tahun ini. Masak harus terjungkal sebagai juara La Liga Espana dan Liga Champions?!

Suamiku diam lagi.

Siapa lagi ya bintang yang mungkin bergabung? Kayaknya nggak ada, deh!

Suamiku ngomong dong! Bulan aja bisa ngomong!

Jangan-jangan FC Barcelona puasa gelar musim kompetisi kali ini?

Suamiku….

Aduh, bagaimana, ya, nasib FC Barcelona?

***

Aku tersenyum membaca kisah yang ditulis oleh Dodiek Adyttya Dwiwanto di atas. Dia seorang Lulusan Ilmu Komunikasi FISIPOL Universitas Gadjah Mada yang menggemari bola kurasa. Aku tersenyum karena teringat bagaimana aku dulu adalah seorang “perempuan” yang mencoba menyelami dunia “lelaki” dalam pandanganku kala itu. Hingga saat SMA, aku mampu menjadi “pendebat” yang hebat di depan “lelaki”. Aku mampu mengimbangi mereka untuk sekedar menganalisa Liga Inggris, Piala Champions, Piala Dunia, GP 500 cc, Formula 1, Kompetisi NBA atau bahkan mengomentari musik  dan film-film Hollywood yang menjadi trend setter saat itu.

Ya, dulu aku sempat berpikir, kelak, aku akan mampu menjadi seorang istri yang mengerti kegemaran suami, karena seleraku yang kupikir “tak begitu” bertolak belakang dengan pikiran mereka. Aku bisa menjadi partnernya yang hebat ketika menonton bola ataupun berdiskusi tentang musik dan film kegemarannya. Hmm.. aku selalu geli jika ingat dulu aku sering membayangkannya…

Tapi semakin aku mengerti tentang esensi sebuah pernikahan, kini aku tahu, bahwa “komunikasi” akan selalu terjalin selama kita memiliki pemahaman yang sama tentang sebuah “pernikahan”, yang kesemuanya sudah seharusnya dikomunikasikan sejak awal dalam proses ta’aruf…

Ya, suami istri adalah sahabat. Sahabat yang selalu “berusaha” untuk saling berbagi dan menghargai, saling melengkapi dan menghormati, saling belajar dan memperbaiki diri, berusaha mengetahui kapan saatnya harus diam, kapan harus bertanya, kapan harus mengingatkan, dan kapan harus memuji. Sahabat yang ada kalanya “berantem” sementara, namun akan selalu berusaha untuk membuat “senang” sahabatnya.

Ya, sahabat. Bukan bawahan dan atasan, bukan majikan dan ajudan, apalagi tuan dan budak…

Wallahualam…

One response

  1. saya suka….

    September 19, 2011 pukul 05:45

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s