…. jejakku, cintaku ….

Allahlah yang Menghadirkan Cinta itu

Saat taaruf aku selalu mencari-cari hal apa yang bisa membuatku tertarik padanya, selain agamanya. Karena Rasulpun menganjurkan untuk melihat calon kita sebelum menerimanya, untuk mencari apa yang menarik pada dirinya sehingga bersegera untuk menikahinya. Dan, ya.. saat proses itu berjalan, terkadang aku sering membandingkan dengan mereka yang sebelumnya pernah melamar dan mendekatiku.

Dia tidak pintar, bahkan aku merasa aku lebih pintar dari dirinya. Dia hanya lulusan sebuah sekolah yang namanya entah terdaftar di mana. Sedangkan aku, aku salah satu lulusan dari perguruan tinggi terkenal di Negeri ini dengan predikat yang membanggakan.

Dia tidak kaya, karena pekerjaannya pun masih serabutan. Seorang yang sedang berusaha menjadi wirausahawan. Dan kau tahu, saat taaruf dia hanya menyampaikan rencananya untuk berwiraswasta di bidang peternakan, yang tentu saja rencana itu bisa jalan dan bisa juga tidak. Dan lagi-lagi aku merasa lebih kaya darinya, karena penghasilanku yang bahkan sekian kali lipat lebih banyak darinya.

Dia tidak seterkenal diantara kawan-kawan pengajianku. Aku ingat setiap kali mendapat undangan pernikahan dari kawan-kawan, dan selalu melihat siapa calon pasangannya. Ah, ternyata Mas A yang suka ngisi dimana-mana itu, ternyata Mas B yang seorang trainer itu, ternyata Mas C yang ketua majelis itu dan yang lainnya. Dan lagi-lagi aku merasa lebih terkenal darinya, aku pernah jadi pengurus ini, pernah jadi trainer itu, belum lagi nama dan fotoku yang beberapa kali termuat di media cetak karena tulisanku yang terpublikasi.

Dan saat bertemupun, aku tak mendapati wajah dan penampilan ala Keanu Reeves, Matt Damon, Tom Cruise ataupun George Clooney, bintang-bintang film Hollywood yang dulu pernah menjadi idolaku. Sekalipun aku tak secantik Winona Ryder, Anne Hathaway, Katie Holmes ataupun Kajol, tapi berharap dari fisik yang menarik tidaklah salah selama bukan tujuan utama.

Dan entah mengapa, aku menerimanya. Aku merasa Allah lah yang menggerakkan semuanya, termasuk saat lidahku mengucapkan, “Ya, aku menerimanya, insyaAllah”, hingga aku masih tak percaya, dua minggu sudah aku resmi menjadi istrinya.

Dulu aku berpikir, entah berapa lama aku membutuhkan waktu untuk bisa jatuh cinta padanya, seperti rasa yang pernah kuhadirkan pada sekian laki-laki sebelum dia. Mampukah aku dengan sepenuh hati menjadi permaisuri yang begitu mencintai sang raja? Ah, sebuah rentetan keraguan yang panjang….

Hingga…

Hanya butuh seminggu saja… ya… seminggu saja… aku telah dibuatnya jatuh cinta…, karena dia mampu membuatku menjadi anak-anak, perempuan dewasa, seorang ibu, seorang pekerja, sekaligus seorang pengemban dakwah.

Dia sungguh bisa membuatku merajuk dan manja layaknya anak-anak, diapun bisa membuatku menjadi pengambil keputusan layaknya perempuan dewasa, dia mampu membuatku terampil mengatur banyak hal layaknya seorang ibu, diapun tahu untuk selalu membantuku menjadi seorang pekerja yang berhasil, sekaligus seorang pendukung luar biasa untuk aktivitas dakwahku…

Kini aku tak berpikir lagi, tentang dia yang pintar itu, tentang dia yang kaya itu, tentang dia yang namanya banyak disebut itu, atau tentang dia yang setampan arjuna itu… karena ternyata kini, aku mendapatkan yang lebih baik…

Ya, dia pintar merebut hatiku, dia kaya akan sikap dan tutur kata yang membuatku terpesona, dia memang tak dikenal manusia, tapi aku yakin semangatnya untuk berjuang di jalan Allah, semoga membuat Allah semakin mengenalnya, dan tak ada yang lebih tampan dari seorang lelaki yang membuat para bidadari surga cemburu padanya…

Suamiku, Allah telah membuatku jatuh cinta padamu… subhanallah wal hamdulillah wallahuakbar…

5 responses

  1. nakjaDimande

    salam cinta buat mantu eMak

    Februari 16, 2011 pukul 07:47

  2. Dulu aku berpikir, entah berapa lama aku membutuhkan waktu untuk bisa jatuh cinta padanya, seperti rasa yang pernah kuhadirkan pada sekian laki-laki sebelum dia…

    Emang ada berapa sebelum ini mbak?😛

    Selamat menempuh hidup baru yah, dan semoga cinta ini tidak menjadi berhala.

    Maret 1, 2011 pukul 18:55

  3. bagus sekali kata-katanya

    April 28, 2011 pukul 14:14

  4. sungguh sangat menyentuh. . .

    Mei 1, 2012 pukul 10:03

  5. terima kasih atas tulisan yg indah..

    Mei 15, 2012 pukul 01:23

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s