…. jejakku, cintaku ….

Carilah Berkah, Bukan Pesta Meriah!

Terkadang, saya dibikin bingung dengan banyaknya pergeseran nilai-nilai kehidupan di tengah masyarakat kita saat mereka jauh dari penerapan syariah secara kaaffah. Yang pertama, saya dibikin bingung dengan ‘dalil’ selamatan kematian yang secara tradisi (yang entah itu diambil dari mana) telah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat, bahwa mereka menganggap dengan selamatan 3 hari, 7 hari, 40 hari hingga 1000 hari, maka seolah menjadi ‘jaminan’ akan keselamatan si ‘mayat’ di alam kubur dan kematiannya, hingga pernah mertua sedikit marah ketika suami menolak melakukan itu semua,

“Trus nanti kalo Ibu sama bapak gak ada siapa yang ngirim do’a ke alam kubur? Hawong kamu aja gak niat ngedoa’in orang lain, apalagi sama Ibu!” begitu ucapnya dengan nada agak tinggi.

“Bu, gak bikin acara selamatan itu karena Rasul gak pernah ngasi tuntunan, tapi gak berarti saya gak bakal ngasi doa, apa yo saya ngasi doa musti ngundang orang rame-rame, dan bagaimana mungkin to anakmu ini gak ngasi do’a, padahal kata Allah, orang mati itu semua amalnya putus kecuali tiga bu, amal jariyah, ilmu manfaat dan do’a anak sholeh, nah, harusnya 3 hal ini yang diupayakan sama si calon mayit, bukan mengandalkan selamatan berhari-hari yang udah mah mahal, gak ada jaminan sama Allah bakal diterima, enggih to” begitu kira-kira tanggapan suami, Ibu pun diam sambil sedikit gusar, lalu kutambahkan,

“Bu, kami sadar posisi kami sebagai anak-anak Ibu, dan kami akan berupaya menjadi anak-anak Ibu yang sholeh dimata Allah, agar do’a kami mendapat jaminan dikabulkan oleh Allah, tidak perlu nunggu selamatan yang mahal-mahal, insyaAllah setiap hari pun do’a kami juga untuk bapak dan Ibu”

Ya, orang-orang desa seperti Ibu, dan banyak lainnya, kadang cenderung memikirkan apa kata orang, bukan apa kata Allah… pun dengan sebuah perayaan pernikahan…

Kadang saya berpikir, sebuah pesta yang meriah dan sangat mahal, hidangan bertubi-tubi, menghadirkan penyanyi seksi, kadangkala mengabaikan sholat hanya karena make up, harapan begitu menumpuknya amplop sumbangan, tatacara adat yang kadang bahkan menyalahi syariat, dan lalu… ada embel-embel “mohon doa restu”… benar-benar ingin memohon do’a, atau sekedar menunjukkan pesta?

Dan iya, lagi-lagi standarnya adalah, bagaimana dilihat orang, bukan dilihat Allah…

Teringat sebuah pesan sahabat, “Keberkahan ada dalam kesederhanaan, kekhusyukan ada dalam ketenangan, dan keindahan ada dalam ketaatan…”

Dan benar, ketika saya melakoni resepnya dalam pernikahan dua tahun lalu, saya merasakan kebahagiaan yang menentramkan, sebuah keharuan yang dalam ketika kerabat, sahabat, dan tetangga menyalami satu per satu dengan doa yang bertubi-tubi… hingga make up sederhana ini harus luruh dengan butiran bening yang terus mengalir… haru…

Ya,untuk siapapun yang hendak menikah, jadikan mereka datang untuk memberikan do’a… bukan hendak sekedar ‘memberi sumbangan’ dan berpesta…

Iklan

One response

  1. Ping-balik: Motivator Sejati | jejak cinta Qousa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s