…. jejakku, cintaku ….

Sepatu Sayang

Beberapa bulan yang lalu…

Kulihat wajah suamiku sepulang dari mengantar pesanan barang yang penuh peluh, dan seperti biasa, selalu ada cerita di setiap kepergiannya.

“Tadi di jalan Abi kepeleset sama motornya, trus sandalnya putus, akhirnya Abi beli sandal ini di jalan” Kata suamiku sambil memperlihatkan sandal barunya. Sandal yang menurutku tak ada bagusnya dari sandalnya yang putus di jalan. Hanya sandal jepit yang terbuat dari ban bekas yang sepertinya tidak nyaman dipakai.

“Jelek amat Bi, berapa harganya?” Tanyaku

“Murah, cuman 10 ribu. Sekedar buat ganti, sayang beli yang mahal-mahal” Jawabnya seperti yang kuduga, suamiku selalu beralasan ‘sayang’ jika harus membeli barang yang ‘agak bagus’ sekalipun itu diperlukannya.

Pernah suatu kali Aku mengingatkan untuk membeli jas hujan, karena jas hujannya sudah tak layak pakai, dan lagi-lagi jawabannya,

“Di rumah Ibu ada, nanti kalo pulang kampung Abi ambil, sayang beli lagi”, Dan akhirnya saat dia harus keluar kota untuk mengantar barang pesanan, tetap saja dia singgah di toko untuk membeli jas hujan karena kebasahan di jalan.

Beberapa hari setelah itu, suamiku mengeluh karena sandal dari ban yang dibelinya sangat tidak nyaman dipakai dan menyebabkan kakinya ruam-ruam karena gesekan kulit ban di sela jari kakinya. Aku tak lagi menyarankan untuk membeli sandal baru, karena Aku tahu satu rupiah saja akan membuatnya berpikir ulang untuk membeli keperluan yang menurutnya bisa dikesampingkan. Tapi melihat kakinya yang penuh ruam merah dan seperti menahan perih, aku tak tega juga melihatnya.

“Bi, anter Ummi ke kota yuk, sebentar” bujukku

“Mau cari apa?” tanyanya

“Mmm… mau lihat-lihat sepatu buat ponakan” Alasanku. Akhirnya suamiku mau juga mengantarku seperti biasa. Lalu kuajak Dia ke kios sepatu dan sandal langgananku yang terkenal murah dibandingkan lainnya, walaupun hanya sesekali kesana karena Aku juga bukan tipe wanita yang gemar mengoleksi banyak sepatu. Cukup bagiku satu pasang dan hanya akan kuganti jika memang benar-benar tak bisa kupakai lagi.

Sambil menggandeng tangan suamiku, mataku tertuju pada sepasang sandal kulit yang kupikir bagus dan cocok untuknya.

“Bi, dicoba deh yang ini, pas gak?” tanpa banyak tanya suamikupun mencobanya.

“Pas Dek” dilihatnya banderol harganya lalu diletakkannya di rak lagi.

“Abi suka?” tanyaku

“Suka, nyaman dipakainya” Aku tersenyum mendengarnya. Tanpa pikir panjang kupanggil penjaga toko bermaksud agar mengemasnya.

“Dek, beli buat siapa?” tanya suamiku dengan kerut tanyanya yang khas

“Ya buat Abi lah, buat siapa lagi” sahutku sambil kucubit mesra pipinya.

“Mahal Dek, gak usah. Beli yang biasa saja” Sudah kuduga dia akan mengatakan itu.

“Alhamdulillah Adek ada rejeki, gak begitu mahal kok dibandingkan sandal-sandal yang bermerk, daripada Adek kepikiran terus liatin kaki Abi yang bengkak-bengkak merah karena sandal ban aneh itu” sahutku. Kulihat senyumnya mengembang, lalu membisikkan di telingaku,

“Makasih ya Dek” Lalu seketika itu pula dilepasnya sandal ban anehnya dan digantinya dengan sandal yang masih bau baru itu. Ah Abi, mengapa hati ini selalu damai setiap melihat senyum Abi, senyum penerimaan yang begitu tulus.

Beberapa hari yang lalu…

Sebuah bungkusan plastik diberikan suamiku padaku sekembalinya dari promo barang dagangannya ke banyak mitra yang kebanyakan dari luar daerah.

“Apa ini Bi?” tanyaku penasaran, sambil membuka bungkusan darinya.

“Tadi pas lewat kios obral pinggir jalan, Abi lihat sepatu itu. Lalu Abi ingat kalo kaki Adek nambah gede karena hamil dan sepatu yang biasanya dipake sudah gak nyaman lagi, ya sudah Abi beli buat Adek. Harganya memang tidak mahal, tapi semoga Adek suka”

Aku terpaku mendengar uraiannya. Karena Aku tahu, penghasilan suamiku belum seberapa, itu mengapa Aku selalu maklum setiap kali Dia selalu menghemat pengeluaran dan menahan untuk membeli barang-barang yang tidak perlu. Dia pun tahu persis Aku sangat mampu untuk sekedar membeli sepatu.

“Bagus kok Bi, Adek suka, pas lagi, makasih ya Bi” lalu kucium lembut keningnya. Kulihat senyum indahnya mengembang sambil mengacak-acak rambutku…

Kulihat lagi sepatu itu, dan baru kali ini aku merasa itu adalah sepatu yang paling indah di dunia, yang bagiku jauh lebih mahal dari barang apapun yang pernah kubeli…

Terimakasih Bi, dan baru kali ini Adek merasa Abi tak merasa sayang untuk membelinya…

***

3 responses

  1. Duddy

    mesranya..🙂

    Agustus 23, 2011 pukul 14:12

  2. ita suhaida

    begitu indahnya.

    Oktober 20, 2011 pukul 06:18

  3. sumartini

    semua tulisan2 yg ada disini membuatku menangis…smg membantuku dalam upaya terus berbenah diri..jazakillah khoir katsir

    Januari 27, 2012 pukul 23:35

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s