…. jejakku, cintaku ….

Tentang Dia, Laki-laki itu

“Ri, pendidikannya lebih rendah darimu!” Protesnya, seperti yang sudah kuperkirakan

“Seorang professor gak jamin bakal bahagia kan?” Dia masih punya alasan kurasa

“Gajinya sepuluh kali lipat lebih rendah dari kamu!” Betul kan dugaanku, pasti ini juga diprotesnya

“Ah, dulu Rasulullah juga hanya karyawan Khadijah kan?” Entah apa lagi setelah ini

“Mengapa harus dia? Toh masih ada yang lain kan? Aku cuman pengen kamu gak terlunta lagi seperti dulu!” masa lalu, mengapa selalu saja diungkitnya, membuatku sesak saja

“Sejak dulu aku tak pernah merasa terlunta, bukankah “terlunta” menurutmu itu yang akhirnya membuat kita seperti ini? Aku rasa kita harus bersyukur dengan “keterluntaan” kita. Kau tak usah khawatir, seterlunta apapun aku nantinya, tak akan membuatku hancur berkeping-keping. Kau akan terus melihatku seperti melihat bintang di langit cerah, percayalah” kutatap bulat matanya, mata yang tak jauh berbeda denganku, karena kami lahir dari rahim yang sama.

“Apa yang membuatmu menerimanya?” mmm.. aku merasa lebih teduh sekarang

“Tak seperti kebanyakan yang penasaran dengan rupaku, penasaran dengan gelarku, penasaran dengan sepak terjangku, dan dengan penghidupanku… dia tidak… “ aku diam sejenak… lalu…

“saat itu dia hanya berkata…. cukup bagiku seorang wanita sholeha… “ ada sedikit sesak tertahan, karena aku merasa tak se sholeha yang dia harapkan….

“dia ikhlas menerimaku tanpa tahu fisikku yang sering disyaratkan banyak orang, tanpa tahu pekerjaanku yang sering diharapkan banyak orang, tanpa tahu gelarku yang sering dibanggakan banyak orang dan tanpa tahu penghidupanku yang sering dielukan banyak orang… sesimple itu…”

“dan ketika suatu kali aku bertemu dengannya, aku merasa yakin, kelak dia akan semakin membuatku jatuh cinta kepadaNYA, karena ikhlas dengan kemiskinannya adalah pahala, rela dengan kekurangannya adalah pahala, mencintai karena ketaatannya adalah pahala, mendukung setiap perjuangannya adalah pahala dan menjadi sosok di balik segala keberhasilannya kelak adalah pahala, InsyaAllah….” Beningku, akhirnya menetes juga.

Dan setiap kali kita berdebat, mengapa selalu berakhir dengan pelukan?!!!….

.

*Semoga laki-laki biasa itu kelak mampu membuat hidupku menjadi luar biasa, Amin Ya ALLAH…

Iklan

5 responses

  1. Rengganiz

    ah, indah nian cinta lelaki itu….

    November 9, 2010 pukul 10:56

  2. Laki-laki Biasa

    Semoga langgeng yah.. 🙂

    November 9, 2010 pukul 12:44

  3. amiiiiiiiiiin…

    November 9, 2010 pukul 14:33

  4. yang penting adalah cukup ,dan itu letaknya di dalam hati kita sendiri 🙂

    November 12, 2010 pukul 10:01

  5. berdoa yang terbaik untuk mu,,
    dicintai tanpa pamrih,

    seperti yang selalu kamu bilang,,
    cinta sejati,,,tidak hanya di dunia,,
    tapi di akhirat,,
    mencintai dengan rambu,,rambunya

    November 24, 2010 pukul 15:59

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s