…. jejakku, cintaku ….

Ilmu, Ilmu dan Ilmu

 

Inilah kisah para Ibu yang berperan besar dalam menganjurkan dan mengarahkan anaknya dalam menuntut ilmu. Diantara para Ibu agung tersebut adalah Ummu Rabiah Ar-Ray’i. Suatu kali suaminya keluar dan pergi sebagai utusan ke Khurasan pada masa Bani Umaiyah, dan meninggalkan Rabiah dalam keadaan hamil. Untuk menjaga pertumbuhan, pendidikan, pengajaran, sang suami meninggalkan harta sebanyak 30.000 dinar. Ketika kembali setelah 17 tahun, sang suami masuk ke masjid Madinah, lalu memandang kea rah kerumunan halaqoh (majelis ilmu). Lalu dia mendatanginya sambil berdiri, dimana ketika itu terdapat juga para pembesar Madinah. Ketika Ia bertanya tentang orang yang dikerumuni tersebut, dia mendapat jawaban bahwa orang itu adalah Rabi’ah bin Abi Abdurrahman (anaknya sendiri).

Ibunda Sufyan Ats-Tsauri, bekerja sebagai tukang tenun. Lalu hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan anaknya dalam menuntut ilmu, dan selalu meminta nasehat tentang indahnya ilmu. Diantara yang dikatakannya suatu hari adalah, “Hai anakku, jika kamu menulis sepuluh huruf, lihatlah apakah pada hatimu bisa menambah khusyu’ dan kelembutan. Jika kamu tidak melihat yang demikian, ketahuilah bahwa itu membahayakanmu dan tidak akan membawa manfaat untukmu”.

Ibunda Imam Syafii membawanya pergi saat baru berusia dua tahun dari Gaza menuju Makkah, demi ilmu dan kemuliaan, sehingga dia bisa berinteraksi dan memfasihkan bahasanya, serta berguru ilmu tentunya.

Banyak para Ulama yang begitu antusias mengadakan perjalanan menuntut ilmu karena didikan luar biasa tentang peranan ilmu. Disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim Ar-Razi dalam Al-Jarh wa Ta’dl, bahwasanya dia berkata, “Pada awal tahun aku keluar untuk menuntut ilmu dan menetap selama tujuh tahun. Aku menghitung secara statistik perjalanan yang kulakukan dengan kedua kakiku lebih dari seribu farsakh ( 1 farsakh = 8,4 km). Sedangkan yang telah aku tempuh dari Kufah menuju Baghdad, aku tidak bisa menghitungnya berapa kali aku berjalan hilir mudik kesana kemari. Begitu pula dari Makkah ke Madinah. Lalu aku keluar dari kota Bahrain menuju ke Mesir, dari Mesir ke Ramlah, menuju Baitul Maqdis, kemudian ke Asqalan, ke Thabariyah, ke Damaskus, ke Himsh, ke Anthaqiyah, ke Thurtus, lalu kembali ke Himsh. Kemudian aku keluar dari Hims menuju Baisan, dari Baisan ke Raqqah, dari Raqqah menyeberangi sungai Eufrat, lalu keluar menuju Syam, dan dari Wasith menuju sungai Nil, lalu menuju Kufah. Semua itu kulakukan dengan berjalan kaki saat aku berusia 20 tahun. Aku berkeliling selama tujuh tahun…”

Sumber : Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia oleh Dr. Raghib As-Sirjani

……..

“Ya Allah, semoga kelak aku mampu, menjadikan anak-anakku sebagai amal jariyah bagiku, karena keshalehannya dan karena manfaat ilmunya… aamiin…”

Iklan

One response

  1. Lemu, lemu dan lemu…

    Mei 27, 2012 pukul 10:50

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s