…. jejakku, cintaku ….

Hai Bujang! Menikahlah!

Doa Cinta Pengantin

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

“Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (QS. An Nahl (16):72)

“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka.” (Al Hadits)

Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¡”. (HR. Hakim dan Abu Dawud)

****

Membaca ayat-ayat dan hadits di atas, bagaimana pendapat kamu? Apa masih ragu untuk menikah? Apa masih menganggap bahwa pernikahan hanya akan ‘merepotkan’ dan ‘menghabiskan harta?’. Tak ada keraguan bagi seorang muslim yang beriman, bahwa Allah akan membuka pitu rejeki dengan menikah, selama pernikahan yang kita lakukan karenaNya.

Sebelum menikah, suami saya dulu pernah beberapa kali alih profesi. Pernah menjadi penjual roti keliling, pernah menjadi penjual ayam bakar di pinggiran kota, pernah menjual plastik pesanan pabrik tempe, pernah menjadi penjaga warnet, bahkan pernah mengadu nasib di Batam, sebagai pegawai pabrik. Mengapa terus berganti-ganti? Setelah saya tanya alasannya, karena pada satu titik tidak mengalami perubahan, akhirnya pun selalu mencoba pekerjaan baru, dengan harapan akan ada perubahan yang lebih baik. Apakah kurang bekerja keras? Saya pikir tidak, pergi pagi buta dan pulang tengah malam tanpa mengeluh adalah bukti ketekunannya. Namun saya memahami, kadangkala faktor ‘monoton’ atau bahkan ‘menurun’ sering membuat kita selalu ingin ‘berganti suasana’, sekalipun bisa jadi hasilnya sama saja atau bahkan mungkin lebih buruk dari sebelumnya.

Ketika memutuskan hendak menikah, dia pun belum memiliki perkerjaan tetap. Saat itu hanya menjadi pegawai free lance sebuah jasa penerbitan, selain beberapa impian untuk menjadi ‘pengusaha ternak’. Dan yang membuat saya sedikit terkesima adalah, keberaniannya melamar saya. Jika kebanyakan perempuan menginginkan syarat kemapanan bagi calon suaminya, maka tidak bagi saya. Buat saya keshalehan dan ketekunan dalam berusaha adalah modal yang jauh lebih baik dari sekedar kemapanan. Dan saya melihat, dia memiliki itu semua. Barakallahu…

Di tahun awal pernikahan kami, suami masih belum ‘stabil’ dalam pekerjaan. Beberapa bulan setelah menikah, dia memutuskan keluar dari perusahaan jasa penerbitan karena dia merasa ‘tidak ada kecocokan’. Sempat membuka usaha ternak dengan bantuan modal dari beberapa kolega, namun akhirnya berhenti karena mengalami kerugian. Sempat pula beberapa bulan menjadi ‘pengangguran’ hingga akhirnya ada proyek disnakertrans selama beberapa bulan. Menjadi penjual yogurt keliling pun pernah dilakoninya, sekalipun hasilnya tak seberapa.

Dan kesabarannya membuahkan hasil. Allah pun seperti membukakan pintu rizky yang lebih baik baginya, setelah kelahiran putri pertama kami. Seorang rekan menawari beberapa produk untuk diperdagangkan. Pertama adalah kopi instan berbagai merk, yang dia tawarkan ke berbagai toko. Dari omset awal hanya sekitar Rp.500.000 per bulan, sedikit demi sedikit mengalami peningkatan. Dia pun semakin menikmati pekerjaannya, dan selalu bersemangat menawarkan dagangannya. Saya selalu mengingat setiap kali dia membawa kabar gembira sepulang berdagang, dengan ‘sumringah’ dia sering menyampaikan hasil dagangannya,

“Alhamdulillah Dik, tadi ada yang beli dagangan Abi langsung 2 dus, seneng banget”, dan ketika Dia mendapati hasil yang lebih di kemudian hari, diapun akan dengan semangat berkata,

“Alhamdulillah Dik, rekor baru, ada yang beli 5 dus”, begitu seterusnya, hingga tak pernah saya dapati dia mengeluhkan hasil dagangannya. Dan semakin hari, omsetnya sebagai distributor produk pun semakin meningkat. Produknya pun semakin beragam. Dari minyak goreng, kopi instan, detergent, shampoo hingga pembalut wanita. Sekarang omset 3-5 juta per minggu sudah biasa, bahkan meningkat dari bulan ke bulan.

Hingga dia pun menyadari,

“Semua kok rasanya mudah ya, setelah nikah. Dulu sebelum nikah, rasanya usaha kok mentok melulu, seolah jalannya ada saja liku-likunya”, hingga saya pun sering mengingatkan,

“Disyukuri Bi, semua karena Allah, jangan sampai harta melalaikan kita dari mengingat Allah” begitu yang selalu saya ingatkan.

Ya, saya semakin memahami apa itu ‘rejeki setelah menikah’. Bukan semata karena ‘harta’, namun karena pernikahan adalah 2 energi yang menjadi 1. Energi untuk berusaha, dan energi untuk mendukung. Energi untuk berbuat, dan energi untuk menyemangati. Energi untuk beramal, dan energi untuk mengingatkan. Ketika 2 energi ini disatukan, maka yakinlah akan hasilnya.

Dan sebagai istri, jangan pernah memberi energi negatif bagi partner hidup kita, mengeluh, marah, menuntut, abai atau bahkan tidak taat kepadanya. Bersabarlah, karena pertolongan Allah hanya dekat pada orang-orang yang bersabar.

Dan tentu saja,

Hai bujang, menikahlah! Dan lihatlah satu per satu karunia indah dari Allah, sang penggenggam jiwa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s