…. jejakku, cintaku ….

Cantikmu….

19958_101275836570536_100000643598927_35305_4314283_n

Buat saya, cantik bukanlah statemen ala kapitalis. Langsing, wajah menarik, berkulit putih, memikat, seksi, atau penampilan ala seleb dan peragawati yang menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas wanita ala kapitalis. Wanita hanya akan menjadi makhluk ‘terkekang’ karena hidupnya hanya akan habis untuk mengurusi ‘tubuhnya’. Apakah saya iri? Karena mungkin saya tidak secantik seleb?

Tentu saja tidak. Saya hanya ingin berbagi betapa bahagianya saya ketika saya begitu dihormati karena ‘apa yang ada di kepala’, bukan ‘apa yang tampak oleh mata’ semata.

Dulu, masa-masa remaja, saya pernah mengalami syndrom yang mungkin saat ini banyak menjangkiti banyak remaja yang kehilangan jati diri. Suka dengan seseorang yang bagaikan pangeran, dan merasa tidak pede, karena diri ini tidak secantik mereka yang telah terlahir dengan begitu sempurna. Apa yang terjadi? Ya, saya hampir terseret pada arus generasi ‘galau’, waktu habis hanya untuk hal sepele dan tidak pernah tahu prioritas hidup sebagai seorang manusia, terlebih seorang muslimah.

Tapi saat itu, mungkin saya begitu beruntung, karena tidak sampai terseret pada aktivitas pacaran yang tidak ada manfaat kebaikannya sedikitpun. Saya juga termasuk perempuan yang beruntung, karena begitu mampu menjaga perasaan, begitu mampu menghindar dari bebasnya pergaulan dan begitu perkasa ketika mengatakan ‘TIDAK’ pada lelaki yang coba mendekati. Entah apa yang terjadi, saya sendiri pun begitu ngeri membayangkan, jika tubuh yang masih suci ini harus ternoda oleh sentuhan laki-laki yang belum halal, walau hanya genggaman jemari ataupun rangkulan tangan. Ya, saya begitu menyadari, betapa saya ‘benar-benar berharga’, bahkan hingga detik ini.

Semakin hari, saya semakin memahami, begitu banyak perempuan yang terperdaya oleh kata ’cantik’, hingga terseret pada aktivitas yang hanya ‘mengeksploitasi tubuh’ yang berujung pada terkikisnya sematan ‘mulia’ pada diri mereka.

Saya merasa ‘cantik’, ketika kehadiran saya lebih dihargai sebagai seorang yang ‘mulia’ dibandingkan sekedar simbol ‘cantik’ semata. Di keluarga, saya merasa cantik ketika kehadiran saya bisa membawa mereka menuju kebaikan. Di antara sahabat dan teman-teman, saya merasa cantik ketika kehadiran saya membuka mata mereka akan kebenaran. Di tengah masyarakat, saya merasa cantik ketika kehadiran saya mampu membuka tabir kehidupan yang hakiki.

Karena pasti, mereka membutuhkan melihat kehadiranku, bukan sekedar karena wajah dan tubuhku, tapi karena ilmu dan jiwaku….

Kau tahu apa yang berbeda? Ketika kau meninggalkan mereka, kehadiranmu bagaikan jejak yang tak terhapus… membekas hingga diujung senja…

Karena cantikmu, adalah ilmu mu… kemuliaanmu… sadari itu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s