…. jejakku, cintaku ….

Sepenggal Kisah Lalu

Somewhere, 2004

 

Disini aku mengenalnya. Rese, konyol, dan muka tembok. Sosok yang sudah membuatku jengah dengan keberadaannya. Tapi aku harus terbiasa, bayangkan! 2 bulan aku harus bersamanya, satu rumah! Walaupun kami bertujuh, tapi kedapatan sosok seperti dia membuatku harus ekstra waspada, karena sepertinya kurang bisa menghargai ‘muslimah’ sepertiku.

 

Hari-hari kami lewati, dan benar saja, aku sering dibikin uring-uringan olehnya. Keseringan nggombal, sok perhatian, dan ulah konyolnya yang tak pernah berhenti membuatku dongkol. Aku juga tak tahu, mengapa senyuman ini terlalu sulit kukeluarkan untuknya. Aku hanya takut, takut melanggar rambu-rambuNya. Astaghfirullah….

 

Hingga mungkin kesabarannya habis saat itu, saat aku menolaknya mentah-mentah ketika dia akan mengantarku. Mungkin salahku juga saat itu, baru mengatakan penolakanku setelah dia mengorbankan waktu dengan teman-temanya lalu bersiap-siap dengan penampilan necisnya hanya untuk mengantarku, yah… mengantarku. Mengantarku ke seberang yang tak lebih dari 2 km, hanya karena mengkhawatirkanku, dan lalu aku mengacuhkannya. Aku sempat melihatnya berlalu dengan muka ditekuk, tak seperti biasanya yang selalu tak ambil pusing dengan kemarahanku. Tapi kali ini, mungkin dia sudah merasa jengah dengan segala polahku, yang dia pikir mungkin tak pernah menghargainya, sedikitpun. Kugenggam hatiku untuk tidak menyesali keputusanku…

 

Andai saja dia tahu….

 

Jika dia telah membuatku memikirkan seseorang yang seharusnya tak layak kupikirkan, mengharapkan seseorang yang tak bisa kuharapkan, dan membelokkan hati ini yang seharusnya tak perlu kulakukan… aku rapuh… aku mengkhianatimu ya Rabbi…

 

Berhari-hari dia tak menyapaku seperti biasanya, apalagi melakukan banyak hal konyol seperti sebelumnya. Mungkin di satu sisi aku lega… tapi entah mengapa di sisi lain… aku rindu. Ah, betapa menyedihkan diriku ini. Tapi aku harus bertahan, bertahan untuk tetap berada di jalanNya, seperti yang selalu mereka ingatkan…

 

Aku ingat kata-katanya saat kita harus mengambil jalan pulang, tak lagi melewati hari-hari bersama seperti yang lalu…

“Bagaimana jika aku kangen?” Aku tersentak. Hanya bisa diam, dan berlalu… hingga waktu terus berlalu, dan akhirnya kaupun bisa melupakanku.

 

Aku tahu, kau mungkin tak pernah mendengar penjelasanku, kau mungkin tak pernah mengerti mengapa ada makhluk sepertiku, yang tidak mudah kau taklukkan seperti yang lainnya, kau mungkin melihat ada banyak keanehan yang kutunjukkan, tapi sekarang kau tahu kan? Begitulah seharusnya muslimah… mampu dengan tegas menjaga izzahnya… sesulit apapun, walaupun harus melawan kata hati, melawan segala keinginan (yang semu) dan melawan segala gejolak rasa yang sering membuat banyak wanita terpedaya… syaithan…

 

Allah, terimakasih KAU telah menjagaku saat itu… saat dimana aku selalu tergoda untuk meninggalkanMU, dan memilih perhatian lelaki itu… terimakasih ya Rabbi…

 

…..

 

One day, 2010

 

Lagi dan lagi, aku harus menata hati…. Mengikhlaskanmu, pergi….

Iklan

One response

  1. Gusti allah..

    ampuni aku Ya Rabb…

    ** hey.. samapun denganku,bagaimana jika aku rindu? akh.. sunguh tulisanmu ini benar benar membuatku tertunduk malu,karna aku telah menghiatiNYA,ampuni Ya Rabb.. ampuni,aku masih belum bisa menjadi muslimah seperti yang kau minta.. 😦 **

    mari kita sama sama menata hati& mengikhlaskan kepergiannya 😀

    Desember 6, 2010 pukul 09:42

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s