…. jejakku, cintaku ….

Jilbab Merah

Sekali lagi kupandangi jilbab merah itu, jilbab pertama yang kumiliki. Gaun yang dulu selalu kupikir tak pernah ingin kukenakan. Membuat kulit putih mulusku tak terlihat, rambut indahku tak tampak, dan tentu saja kalung manik-manik pemberian ayah juga tak berguna jika aku harus menutupinya.

“Besok dipake ya?” Kata Mbak Fida dengan senyumnya yang tak henti, setelah aku mengutarakan niat ingin mengenakan jilbab itu. Yah, jilbab merah itu milik Mbak Fida, kakak tingkat yang satu kamar denganku. Mbak Fida sendiri mendapatkannya dari orang lain, dan tidak pernah tahu siapa sesungguhnya pemilik pertama, karena sudah berpindah tangan beberapa kali. Karena pesannya setiap ada yang berniat mengembalikannya selalu sama, “Pakai saja, nanti jika ada yang membutuhkannya, pinjamkan saja. Saya minta kau juga pesankan ini kepada siapapun yang akan mengembalikannya”, katanya.

“Kalo kebesaran, dikecilin dulu saja. Sini mbak bantuin kecilin” Mbak Anna juga ikut semangat untuk membuatku nyaman mengenakannya. Yah, ukuran tubuh Mbak Fida yang lebih tinggi dan lebih besar dariku membuat jilbab merah itu agak kedodoran di tubuhku. Padahal jilbab merah itu yang paling kecil dari sekian jilbab yang coba dipaskan di badanku.

“Udah pas kok Mbak, paling agak kelebaran saja. Tapi gak apa-apa, biar saya kelihatan lebih gemuk” ujarku sekenanya, membuat Mbak Anna ikut senyum mendengarnya.

**

Jilbab merah itu, jilbab pertama yang kukenakan. Jilbab yang membuat beberapa pasang mata terbelalak dengan penampilanku, termasuk abang tercintaku. Jelang tahun kedua kuliah, akhirnya aku mengenakannya. Dan inilah sapa abangku saat itu, saat Ia menyempatkan untuk mengunjungiku…

“Ri, pake itu kayak ibu-ibu, gak sesuai umurmu. Pake kerudung sama celana biasa aja lah, sama saja toh” Ah, sudah kuduga. Aku rasa dia juga tak siap dengan perubahanku yang demikian.

“Gak sesuai umur gak apa-apa, yang penting sesuai dengan kelakuan. Kayak ibu-ibu juga gak apa-apa, daripada kayak bapak-bapak?” jawabku dengan bumbu ngeyel seperti biasanya. Untung saja kalo soal ngeyel, aku selalu paling bisa mengimbangi abangku yang satu ini.

Saat itu, inilah satu-satunya jilbab yang kumiliki, pemberian Mbak Fida. Sedangkan 3 jilbab lainnya, aku meminjamnya. Toh akhirnya setelah aku berhasil memiliki beberapa, jilbab-jilbab pinjaman itu tak diterima saat kukembalikan, katanya…

“Pakai saja Ri, nanti kalau ada yang butuh lagi, kau bisa meminjamkannya…” Ah iya, tentu saja.

**

Jilbab merah itu kini tak ada lagi, sudah terganti dengan puluhan jilbab dengan berbagai warna dan model yang kubeli dan kujahit sendiri. Lengkap dengan kerudung, kaos kaki dan bros pasangannya. Yang jika aku mengenakannya, para karyawati kantor akan menatapku dengan takjubnya…

“Mbak gamisnya bagus, cantik, suka ih liatnya. Matching sama kudungnya” dan selalu kujawab dengan jawaban yang sama…

“Wanita manapun akan selalu cantik dengan jilbab dan kerudungnya. Percaya deh” dan aku selalu yakin jawabanku pasti benar. Iya kan?

**

Ya, jilbab merah itu sudah berganti pemilik. Aku rasa sudah berpindah berkali-kali, hingga aku sudah tak tahu lagi dimana ia berada. Ah, beruntung sekali yang pertama memilikinya, karena memberi kesempatan kepada beberapa orang perempuan cantik dan soleha untuk mengenakannya. Siapapun pemiliknya, terimakasih Ukhti, telah membuatku merasa menjadi makhluk terindah saat itu. Dan aku mencintaimu karena Allah, siapapun dirimu, InsyaAllah.

Cantikmu, adalah saat kau merasa paling dekat dengan Tuhanmu…

**PS : jilbab adalah gamis menurut pemahaman saya dalam Al-Ahzab : 59 sebagai penutup aurat bagian bawah (tubuh) dan khimar adalah kerudung dalam An-Nur : 31 sebagai penutup aurat bagian atas (kepala). Wallahualam..

Iklan

2 responses

  1. cerita yang menarik…keep update yaa artikelnya…ikut memantau dari sini…salam

    April 12, 2011 pukul 08:19

  2. hera

    wah jadi ingat jilbab pertamaku. warna merah juga. pemberian juga 🙂

    April 7, 2012 pukul 18:02

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s