…. jejakku, cintaku ….

Untukmu, Ayah

Ayahku memang bukan seorang ningrat, bukan pejabat, bukan konglomerat, dan bukan malaikat yang tidak pernah berlaku salah. Ayahku dulu hanya seorang mandor bangunan, kemudian buruh pabrik tekstil hingga meningkat menjadi kepala bagian di sebuah pabrik tekstil di Pekalongan. Aku ingat betul bagaimana jerih payahnya memenuhi kebutuhan kami yang sangat banyak, kesabarannya menghadapi rasa sakit yang diderita mamak, kasih sayangnya yang sangat besar pada anak-anaknya terutama aku yang menjadi anak kesayangannya. Dulu, setiap pulang kerja dia selalu menyempatkan menggendongku, mengajakku duduk-duduk di tepi jalan hanya untuk menikmati lalu lalangnya mobil atau sekedar mengajakku jalan ke kota untuk menyenangkanku.

Setiap mendengar lagu Koes Plus, ingatanku selalu tertuju pada ayahku. Yah, ayah sangat menggemari Koes Plus, beliau mengoleksi albumnya dari jaman pop jawa kuno hingga album keluaran terbarunya. Senandungnya sering aku ingat walaupun mungkin suaranya tak semerdu Yon, Murry, Yok ataupun Tony Koeswoyo.

Saat bekerja di Pekalongan, ayah hanya pulang seminggu sekali, bahkan kadang hanya dua minggu atau sebulan sekali. Setiap malam minggu, aku selalu menunggu ketukan pintu rumah dan berharap ada Ayahku di balik pintu, atau setiap kali mendengar deru motornya, aku selalu bersiap untuk menyambutnya. Dan ayah sudah menyiapkan gorengan atau jagung rebus untuk kita santap bersama. Lalu mamak membuatkan indomie rebus plus telur untuk santap malamnya, lalu kita sekeluarga bercengkerama sambil menikmati Dragon Ball di layar TV.

Tapi pernah suatu kali saat aku menyambut kepulangannya, kulihat darah mengucur di wajahnya. Dia pulang subuh, dan kondisi gelap di jalan sempat membuatnya celaka. Perasaan gelisah campur sedih terhujam di dadaku, hingga tanganku gemetar saat membuatkan beliau minum. Ayah, aku tak pernah ingin sekalipun melihatmu terluka seperti itu.

Tapi ayahku juga pernah membuat hatiku terluka, dalam sekali. Saat beliau berniat menceraikan mamakku tercinta, karena sakit yang dideritanya. Aku ingat betul saat itu masih SMP kelas 2, tapi aku sudah berani menyampaikan pendapatku, menentang keinginannya, dan baru kali itu juga aku menangis di hadapannya. Bukan tangis kekanakan yang dia bisa begitu mudahnya menenangkanku, tapi tangis kekecewaan, tangis seorang anak yang mungkin beliau tidak menyadari bahwa gadis mungilnya sudah beranjak dewasa. Mungkin saat itu aku tidak mengerti betul alasan ayahku yang katanya itu masalah orang dewasa, yang aku tahu tidak pernah ada seorang anakpun menginginkan orangtuanya berpisah. Sampai akhirnya beliau tidak jadi menceraikan mamakku, tapi tak ada seorangpun yang mampu mencegah saat beliau memutuskan untuk menikahi wanita lain. Yah, akhirnya aku punya ibu tiri dan saudara tiri.

Butuh waktu cukup lama bagiku untuk memahami apa yang sudah dilakukan ayahku. Hingga, aku tahu bahwa mungkin itulah yang terbaik untuknya. Mungkin itulah kebahagiaannya, sesuatu yang mungkin akan lebih bisa kumengerti jika aku berada dalam posisinya.

Sebelum aku pergi ke Bogor, aku sempat berpamitan dengannya dan bertemu dengan ibu dan saudara tiriku. Aku tunjukkan sikap bahwa bagiku mereka bukan musuhku, tapi bagian dari keluargaku. Aku minta doa dan dukungannya, karena inilah pertama kali ayahku melepasku jauh dari jangkauannya. Tapi aku yakin, saat itulah dia benar-benar sadar bahwa gadis kecilnya memang benar-benar sudah dewasa.

Sebulan setelah kuliah, kukirimkan surat untuknya. Kukatakan padanya aku akan baik-baik saja dan aku bahagia menjadi anaknya. Sekalipun begitu banyak omongan miring tentang ayahku, kukatakan padanya “ Ayah, aku tak peduli orang bicara bagaimana orang tuanya, aku hanya peduli orang melihat seperti apa anaknya” dan aku, akan membuatmu bangga.

Itulah surat pertama dan terakhirku, karena seminggu setelahnya, Ayah dipanggil olehNya. Begitu cepatnya Allah mengambil salah satu orang yang paling kusayangi. Tapi aku yakin, Allah menyayanginya lebih dari aku menyayanginya. Ampuni dia ya Allah, terimalah semua kebaikannya, sayangi dia lebih dari dia menyayangiku sewaktu kecil, dan berikanlah tempat yang terbaik di sisiMu. Semoga aku menjadi anak yang layak untuk kau kabulkan doaku, doa untuk kedua orang tuaku.

Selamat jalan ayah. Kami selalu menyayangimu.

Iklan

3 responses

  1. Walau bagaimanapun orang tua kita… mereka tetap orang tua kita, Salam…

    November 3, 2010 pukul 09:29

  2. Alfatiha untuk Ayah..

    November 3, 2010 pukul 15:40

  3. Ping-balik: Motivator Sejati | jejak cinta Qousa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s