…. jejakku, cintaku ….

Cinta akan tumbuh, Jika kita memberi kesempatan

Aku selalu ingat, bagaimana kawan-kawan seperjuanganku berproses ketika akan menikah. Tentu saja sesuai dengan syariahNya, ta’aruf, khitbah dan nikah. Mereka hidup bersama tanpa sebelumnya pernah saling mengenal, hanya informasi biodata, saling bertukar pikiran tentang diri, keluarga dan masa depan, bertemu yang kadang hanya sekali, dan setelah merasa mantap dengan memohon petunjukNya, maka tentu saja menikah.

Ya, tidak ada pacaran dalam Islam. Apa kau pikir itu akan menyulitkan? Iya, jika kita tak memahami hakikat pernikahan dalam Islam. Pernikahan dalam Islam adalah ikatan yang agung, ikatan yang dibangun karena ingin menggenapkan separuh dien, ikatan yang ditujukan untuk meningkatkan ketaatan kepadaNya, dan semangat yang dibangun adalah semangat melaksanakan syariahNya. Lalu bagaimana mungkin akan tumbuh cinta jika tak pernah mengenal seperti halnya pacaran sebelum menikah? Ingat, Allah maha pembolak-balik hati manusia, selama suami istri saling memupuk kecintaan kepadaNya, maka mudah bagi Allah untuk menumbuhkan rasa cinta di hati keduanya.

Aku memang belum menikah, tapi Allah pernah membukakan mataku pada sebuah peristiwa yang pernah aku alami. Enam tahun yang lalu, aku mengenal seseorang. Seseorang yang di mataku sepertinya tak ada lebihnya sedikitpun. Tampan? Tidak. Pintar? Biasa aja. Kaya? Tidak juga. Terkenal? Apalagi. Justru dia tampak menjengkelkan di mataku, apalagi gaya pedekate nya yang membuatku muak. Setiap kali melihatnya, entah mengapa hanya ada rasa tak suka yang menyeruak di dada. Tapi ternyata, Allah saat itu memberiku kesempatan mengenalnya lebih jauh.

Ya, aku ditakdirkan satu kelompok dengannya dalam sebuah tugas akhir perkuliahan. Dan itu mengharuskanku tinggal bersamanya selama dua bulan dalam satu rumah, bersama ke enam anggota kelompok yang lain. Semakin lama, aku semakin melihat begitu banyak kelebihannya. Dia benar-benar bisa diandalkan, dia selalu tahu bagaimana mengatasi situasi dan masalah yang kami hadapi, dan selalu bisa membuat kami tenang dengan kata-katanya. Sebuah kelebihan, yang mungkin tak banyak dimiliki orang kebanyakan. Dan ya, dia benar-benar mengaduk-aduk perasaanku. Sepenggal kisah lalu, yang membuka mataku, bahwa rasa cinta akan tumbuh, jika kita memberinya kesempatan. Terlebih jika itu adalah belahan jiwa kita, suami ataupun istri kita.

Itulah mengapa Allah dan Rasul mengingatkan, menikahlah karena agamanya. Bukan karena kecantikan, harta dan kedudukan, karena semua itu hanya fatamorgana. Cinta semu yang tidak akan membuat kita menjadi pribadi yang layak dicinta, yang justru kadang semakin lama semakin pudar dan sirna ditelan waktu. Menikahlah karena Allah, karena ingin membangun bahtera untuk semakin memupuk kecintaan kepadaNya, karena ingin mencetak generasi pejuang syariahNya, dan karena ingin membangun kekuatan sebuah keluarga yang berperan di jalan dakwah. Sebuah bangunan cinta sejati, yang tak usang ditelan waktu, bahkan hingga kematian menjemput. Karena Allah telah menyiapkan tempat pertemuan terindah, kelak di surgaNya. Luar biasa bukan? Cinta yang abadi… tak berujung… tak berakhir…

Ya Allah, semoga kelak aku dan kau pun mendapatkannya… Amin…

3 responses

  1. Laki-laki Biasa

    Aamiin yaa Rabb..

    Desember 31, 2010 pukul 09:35

  2. rinJaNi

    amiiiiiiin,Ya Allah Amiin..

    Januari 10, 2011 pukul 09:48

  3. Allahumma Aminn…

    Januari 20, 2011 pukul 18:10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s