…. jejakku, cintaku ….

Menempatkan Rasa Benci

Allah menganugerahi pada diri manusia rasa cinta dan rasa benci, dimana keduanya seharusnya dimunculkan hanya karena Allah. Seperti halnya rasa cinta, maka kebencian juga harus dimunculkan sesuai dengan perintah Allah. Allah SWT telah melarang kaum Muslim mencintai orang-orang kafir, munafik dan fasik yang terang-terangan melakukan maksiat (QS. Mumtahanah (60) :1), Ali Imran (3) : 118-119). Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :

Apabila Allah membenci seorang hamba, maka Allah akan memanggil Jibril dan berfirman, ”Sesungguhnya aku membenci si Fulan, maka bencilah ia”, Rasulullah SAW bersabda, ”Kemudian Jibril pun membencinya dan menyeru kepada penghuni langit, sesungguhnya Allah telah membenci si Fulan, maka bencilah ia”, Rasul SAW bersabda, ”Kemudian merekapun membencinya dan setelah itu kebencian baginya akan diletakkan di bumi

Sabda Rasulullah tersebut menunjukkan tuntutan (perintah), dengan penunjukan dalalah al-iqtidha. Termasuk di dalamnya adalah membenci orang yang suka dan terang-terangan mendebat perintah Allah, sebagaimana dalam hadits Mutafaq’alaih dari Aisyah dari Nabi SAW, beliau bersabda,

Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang suka menentang (mendebat) perintah Allah”.

Rasa benci justru harus dimunculkan ketika mendapati hal-hal yang layak dibenci berdasarkan perintah Allah. Banyak kisah para sahabat menunjukkan contohnya. Dalam satu cerita, Ali bin Abi Thalib tampil sangat lembut, tapi dalam kasus lain, beliau bersikap sangat tegas dan keras. Dalam kasus hukuman terhadap pelaku homoseksual, Ali bin Abi Thalib berpendapat, ”Pelaku homoseks harus dibakar dengan api”, Khalifah Abu Bakar yang dikenal sangat santun dan lembut juga menyetujui pendapat Ali. Abu Bakar juga bersikap tegas ketika memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat.

Setiap memotong kambing, Rasul selalu berpesan kepada khadamnya, ”berikan dulu kepada tetangga kita yang Yahudi”, Nabi juga menjenguk kaum Yahudi yang sakit, memberi hadiah, berjual beli dengan mereka, dan berbagai bentuk muamalah lainnya. Tapi ketika mereka berkhianat, melanggar perjanjian, memusuhi Islam dan umat Islam hingga mencoba menghancurkan Islam, Nabi tidak segan memerangi mereka.

Berkaitan dengan penghinaan kepada Nabi, ada kisah Ka’ab bin Ashsraf, keturunan Yahudi Bani Nadhir, bersikap melecehkan Nabi dan menghina Nabi SAW. Ketika itu mendengar matinya sejumlah tokoh Quraisy dalam perang Badar, Ka’ab sangat marah dan berkata,

Mereka itu adalah bangsawan-bangsawan Arab dan pemimpin-pemimpin. Sungguh, kalau Muhammad sampai mengalahkan mereka, lebih baik berkalang tanah daripada tinggal di bumi”. Ka’ab juga pergi ke Mekkah untuk menghasud kaum kafir Quraisy agar terus melawan Muhammad, dan dikenal pintar membuat syair yang melecehkan Muhammad. Hingga kaum Muslimin meminta izin kepada Nabi SAW untuk membunuh Ka’ab, hingga Nabi memberikan izin kepada Muhammad bin Maslamah untuk membunuh Ka’ab.

Banyak hadist Nabi SAW yang mengisahkan sejumlah orang yang dibunuh karena melakukan penghinaan kepada Nabi SAW sampai terdengar oleh Nabi SAW, lalu ia dicekik oleh seorang laki-laki hingga mati. Karenanya, Rasulullah SAW (sendiri) membatalkan (perlindungan) darahnya (HR. Abu Daud). Nabi yang dikenal sangat kasih dan lembut pada orang Yahudi sekalipun, akhirnya dengan tegas mengusir Yahudi Bani Qainuqa dari Madinah karena penentangannya, dan hukuman paling keras diterima Yahudi Bani Quraizhah yang melanggar perjanjian dan memerangi kaum muslimin. Sa’ad sebagai hakim saat itu mengambil keputusan : Menghukum mati seluruh laki-laki dewasa, menjadikan wanita dan anak-anak sebagai tawanan dan hartanya dijadikan rampasan perang. Rasulullah memuji Sa’ad, ”Sungguh, kau telah menghukum mereka dengan hukum Allah”.

Ayat-ayat al-Quran juga kadang berbicara kepada manusia dengan gaya yang lembut, namun kadangkala dengan bahasa yang sangat keras. Untuk orang-orang kafir misalnya dalam surah al-Bayyinah (6), Allah berfirman, ”Sesunggunya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk”. Kemudian dalam surah Al-Anfal (55), ”Sesungguhnya, binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka itu tidak beriman

Berdasarkan hal diatas, maka kita bisa memilah dan memilih siapa dan hal apa yang harus dibenci dan siapa atau hal apa yang harus dicinta. Kepada orang-orang kafir dan antek-anteknya maka tak mungkin kita bermanis muka. Apakah kita akan terima dengan lapang dada seorang tamu yang jelas-jelas dengan kebijakannya memerangi saudara kita di Irak dan Afghanistan atas dasar kebohongan fakta? Seorang tamu yang memberangus dan memenjarakan para aktivis dakwah yang tak terbukti bersalah? Seorang tamu pendukung Yahudi laknatullah yang membantai saudara-saudara kita di Palestina? Mereka saudara kita, bagian tubuh kita, yang penderitaannya seharusnya tak bisa membuat kita tidur nyenyak, makan enak dan jasad kita berdiri tegak!!! Tapi sungguh memilukan, orang-orang kafir seperti AS dan sekutunya kita sambut beramai-ramai seolah tangannya sudah bersih dari darah, tapi sesama kaum muslimin bersikap penuh curiga seolah-olah musuh utama!!! Wallahualam.

Pustaka :

  1. Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah. 2004. HTI Press
  2. Adian Husaini. Penyesatan Opini. 2002. GIP
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s