…. jejakku, cintaku ….

Posts tagged “khilafah

Jejak Sejarah Keperawatan Pada Masa Rasulullah SAW

Oleh : Reza Indra Wiguna,S.Kep.Ns (HELP-S Jawa Tengah)

Jika kita melihat perkembangan dunia sekarang, arus update informasi merupakan hal yang sangat utama dalam suguhan masyarakat dunia, namun bagaimana dengan informasi yang telah lampau atau sejarah dimasa silam yang tak terkuak hingga saat ini. Hakikatnya sejarah merupakan pengetahuan yang termasuk kategori tsaqafah, dan sangat dipengaruhi oleh ideologi dan pandangan hidup tertentu. Sejarah memberikan kepada seseorang lebih dari sekedar informasi, ia menyusun cara berfikir seseorang saat ini dan menentukan langkah apa yang akan di ambil pada masa yang akan datang. Saat ini terjadi degradasi pengetahuan ummat terhadap sejarah Islam di masa kegemilangan sistem khilafahnya, hal ini tidak terlepas dari peranan media kapitalisme di barat, dengan rekayasa sekulerisme yang sengaja menyembunyikan sejarah ke-emasan Islam. Tidak luput pada sejarah, kita tenggelam dalam membanggakan sejarah mereka, baik dari segi keilmuan atau pun para tokohannya. Yang paling menyedihkan adalah banyak rujukan dari Barat yang memutarbalikkan fakta sejarah. Akibatnya, ilmuan-ilmuan muslim dalam bidang sains tidak jarang kita ketahui.

Kita mungkin pernah mendengar nama para ilmuwan muslim dibidang kesehatan pada era kegemilangan sistem kekhilafan Islam Golden Age Periode, sebut saja Abu Muhammad bin zakaria Ar-Razi (864-930) ilmuwan islam dalam bidang kedokteran, Ibnu Al Haitsami atau Al-Hazen (965 M) ilmuwan dibidang optik cahaya, adalah Abu Qosim Al-Zahrawi atau Abulcasis (930 M) seorang ilmuwan ahli bedah terkemuka di masanya. Dunia mengenal Ibnu Sina atau Avicenna (1037) yang menulis kaidah kedokteran modern The Cannon (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran Barat). Dan ada banyak lagi tokoh-tokoh ilmuwan muslim dalam dunia sains dengan spesifikasi dan sumbangsih yang telah terbukti sehingga dijadikan rujukan negara barat selama berabad-abad, disaat yang bersamaan eropa tenggelam dalam kegelapan Dark Age.

Dari sekian para ilmuwan dan tokoh dibidang kesehatan, yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tokoh perawat pertama dalam Islam, mumarridah al-Islam al- Ula. Yang namanya menjadi penulisan para sejarah keperawatan islam, sosoknya memberi banyak inspirasi dalam dunia keperawatan.

Adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Rufaidah berasal dari Bani Aslam, salah satu marga dari suku Khazraj di Madinah. Ia dilahirkan di Yastrib (Madinah) dan tumbuh disana sebelum hijrah. Dia termasuk kelompok muslim pertama dari Bani Aslam. Dialah salah satu perawat pertama dalam Islam. Dialah orang yang pertama kali melakukan pengobatan dan perawatan kepada para sahabat yang terluka di medan jihad. Dia pula yang perempuan pertama yang meminta kepada rasul untuk ikut serta dalam peperangan untuk sekedar membantu para sabahat yang terluka.

Dalam buku “Rufaidah Awwalu Mumarridah fi al Islam” karya Ahmad Syauqi al- Fanjari. perawat pertama Islam itu adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Dia-lah perempuan pertama yang berkonsentrasi terhadap pekerjaan paramedik. Rufaidah bekerja di samping masjid Nabawi dengan mendirikan pusat kesehatan (sejenis tenda pengobatan). Obsesinya untuk berjihad semakin kuat, tentu berjihad dengan keterampilannya dalam bidang keperawatan dan pembuatan ramuan yang diracik oleh tangannya sendiri. Ketika masa perang datang, dia mampu menghimpun dan mengornisir perempuan untuk menjadi pelayan pengobatan disaat perang. Adapun beberapa perang yang sempat diikutinya seperti: di perang Badar, Khaibar, Khandak dan beberapa perang lainnya (lih–Ahmad Syauqi al-Fanjari, 2010: ii; ket. lanjut, lihat Sirah Ibn Hisyam).

Dia-lah yang pertama mendirikan rumah sakit lapangan di medan peperangan, dimana tenda berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada perang khandaq saat tentara al-ahzab mengepung madinah, Rufaidah mendirikan tenda disekitar medan pertempuran. Rasulullah Saw pernah memerintahkan untuk memindahkan seseorang sahabatnya bernama Sa’ad ibn Mu’adz ke tenda Rufaidah agar diberi pertolongan, karena pada waktu itu Sa’ad terkena panah pada lengannya. Pada peristiwa tersebut Rasulullah saw menemui sahabat yang sedang terluka dikemah Rufaidah beberapa kali dalam sehari. Tak heran pula sebutan itu terkenal luas pada pasukan kaum muslimin, menjadi tenda pertolongan pasa masa perang dengan nama “Khaimah Rufaidah” (Tenda Rufaidah), (lih–Ahmad Syauqi al- Fanjari, 2010: iii).

Menurut Prof. Omar Hasan K, dalam sebuah konfrensi “Paper Presented at the 3rd International Nursing Conference “Empowerment and Health: An Agenda for Nurses in the 21st Century” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 1998, mengungkapkan bahwa Rufaidah adalah perawat profesional pertama di masa sejarah Islam. Ia hidup di masa Nabi Muhammad SAW di abad pertama hijriyah, jauh sebelum masa Florence Nigtingale yang dikenal dengan pelopor keperawatan modern. Omar Hasan menggambarkan Rufaidah sebagai perawat teladan, baik dan bersifat empati. Rufaidah juga dikenal sebagai seorang organisatoris yang mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain.

Pengalaman klinisnya pun dia bagi pada perawat lain yang dilatih dan bekerja dengannya. Dia tidak hanya melaksanakan peran perawat dalam aspek klinikal semata. Namun Rufaidah adalah perawat dan pekerja sosial yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam. Dalam sejarah Islam tercatat beberapa nama yang bekerja bersama Rufaidah seperti Ummu Ammara, Aminah binti Qays Al-Ghifariyat, Ummu Ayman, Safiyah, Ummu Sulaiman, dan Hindun. Di masa sesudah Rufaidah, ada pula beberapa wanita Muslim yang terkenal sebagai perawat. Di antaranya Ku’ayibah, Aminah binti Abi Qays Al-Ghifari, Ummu Atiyah Al-Ansariyah, Nusaibah binti Ka’ab Al-Maziniyah, dan Zainab dari kaum Bani Awad (Omar Hasan, 1998).

Rufaidah adalah sejarah terbaik dan teladan bagi para profesi perawat dan dokter. Sekalipun Rufaidah bisa membuat ramuan obat untuk pengobatan, namun oleh para sejarawan Rufaidah tidak disebut sebagai tabib (dokter–saat ini), tetapi dikenal sebagai perawat. Bahkan para penulis sejarah menyebut Rufaidah sebagai Mumarridah al-Islam al- Ula (perawat pertama wanita dalam sejarah Islam). Selain aktivitasnya sebagai perawat, Rufaidah juga memiliki banyak aktivitas yang luas. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh sejarawan handal Ibn Kasir mengungkapkan tentang aktivitas Rufaidah “Ia (Rufaidah) mencurahkan seluruh jiwanya untuk memberikan pelayanan kepada orang yang kehilangan, yakni setiap orang membutuhkan pertolongan dan bantuan, seperti: fakir miskin, anak yatim, serta orang-orang yang tidak mampu”. Aktivitas sosialnya tampak pada proses pendidikan yang dilakukan untuk anak-anak yatim, memberikan pelajaran agama, dan mengasuh mereka. Tidak heran pada zaman Rasulullah, para sahabat dan sahabiyah melakukan sambutan terhadap anjuran Rasulullah saw tentang tolong menolong dan keutamaan mengasuh anak yatim. “Barang siapa memlihara seseorang atau dua orang-anak yatim, kemudian ia bersabar dengan anak yatimnya, maka diriku dan dia seperti ini (sambil merapatkan dua jari tangannya)” (H.R. Muslim).

Di samping kegiatan tersebut, Rufaidah rutin melakukan semua tugas paramedik seperti: merawat dan melayani pasien, memberikan bantuan pada medan perang, mengangkut para korban yang terluka serta syahid. Nama Rufaidah terus terngiang hingga saat ini. Seperti tertulis di laman web RCSI – Medical University of Bahrain, tiap tahun Universitas Bahrain tersebut selalu memilih seorang murid untuk menerima penghargaan dalam bidang keperawatan bernama Rufaida al-Aslamia Prize in Nursing.

Sumber : http://helpsharia.com


Motivator Sejati

17556fe0194611e282e122000a1f9aae_7

Saat ini, mungkin terlalu sering kita mendengar training-training motivasi dengan trainer-trainer yang begitu hebat menyampaikan kata-kata bijaknya. Ketika kuliahpun, banyak kawan kampus yang menceritakan begitu gembiranya telah mengikuti training seorang trainer terhebat se Asia, walaupun harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, bahkan menurut saya tergolong mahal untuk ukuran kantong saya saat itu. Pernah juga beberapa kawan kuliah seolah ikut ‘mempromosikan’ sebuah training terkenal saat itu, sambil membawa beberapa buku motivasi karya sang trainer yang sangat dikenal. Apakah saya tidak tertarik?

Bagi saya, sah-sah saja mengikuti training seperti itu, tak ada alasan untuk melarang siapapun mengikutinya, kalo memang mereka suka dan mampu membayar, kenapa tidak? Tapi buat saya, motivasi ada dimana-mana. Tak perlu dengan tokoh yang berhasil mengumpulkan uang sekian miliar dengan berbagai usahanya, ataupun dengan tokoh terkenal yang sering muncul di layar kaca. Motivasi itu ada disekitar kita, ada dalam anak-anak tetangga, ada dalam ayah bunda kita, ada pada sahabat kita, ada pada guru-guru kita, dan pada siapapun yang sangat nyata berbuat untuk kehidupannya, bukan pada siapapun yang sangat nyata pandai berbicara dengan kata-kata bijaknya.

Saya pernah terinpirasi oleh Mbak Nur, keponakan Mamak yang dulu sering ikut mengasuh saya ketika Mamak sakit. Perempuan hebat yang mampu menunjukkan pada dunia, bahwa kesabaran itu tak ada batasnya. Bahwa ujian itu untuk dihadapi, bukan diratapi. Pernah menjadi penjual bakso yang sukses, hingga usaha surut imbas persoalan rumah tangganya. Pernah cerai dari suami, sekalipun akhirnya rujuk lagi. Setelah rujuk, musibah datang silih berganti. Sang suami meninggal akibat kecelakaan, disusul salah satu anaknya yang sempat mengalami kelumpuhan beberapa tahun. Menjalani kehidupan yang lebih sederhana dibanding sebelumnya, dia tak pernah lelah menghidupi keluarganya, dengan jalan yang halal. Menjadi penjual kue, penjual jamu, penjual nasi, penjual krupuk, penjual sayur, semua pernah dilakoninya. Hidup memang tak mudah, apalagi tanpa Khilafah, namun tak membutakan mata akan nikmat yang dikaruniakanNya.

Saya juga pernah terinspirasi oleh kawan-kawan kuliah, yang pernah saya tuliskan disini. Saya pun pernah terinspirasi dengan senandung cinta Mamak, ataupun tentang Bapak , bahkan dari anak-anak yang sama sekali belum saya kenal. Dan akhir-akhir ini yang sering saya tulis adalah inspirasi dari pendamping istimewa, Abi.

Namun, dari semua itu, rasanya sudah banyak orang lupa, bahwa sumber inspirasi sejati telah diberikanNya secara cuma-cuma. Tanpa perlu membayar tiket mahal, dan tanpa perlu membeli buku-buku motivasi fenomenal yang terlalu mengorek kantong. Ya, dialah Al-Qur’an.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7). Itulah salah satu ayatNya yang pernah mengubah jalan hidup saya 100%, kisahnya pernah saya tulis disini.

Pun dengan “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186). Ayat inilah yang membuka mata saya selanjutnya, bahwa memenuhi perintahNya, dan beriman kepadaNya adalah mutlak sebelum memohon kepadaNya.

Pun dengan ayat-ayat tentang hujan yang luar biasa, memberi peringatan indah bahwa tak seharusnya ada keluhan, bencana dan kesedihan saat hujan turun, karena hujan selalu turun sebagai rahmat dariNya…

Mau tahu lebih banyak motivasi indah yang bahkan akan terasa sejak kita membaca dan mendengarkannya? Buka, baca dan resapilah Al-Quran… yang diturunkan Allah di bulan yang mulia ini… yang diajarkan oleh orang paling mulia, Rasulullah SAW… dan tak lama lagi, untuk kemuliaan ummat…. saat aturanNya di setiap ayatNya… ditegakkan oleh seorang Khalifah dalam bingkai Khilafah

Allahuakbar !!!


CANDLE IN THE STORM?

candle

Oleh : Iwan Januar

‘Lebih baik nyalakan sebatang lilin ketimbang hanya merutuki kegelapan’. Daripada terus menerus melaknati kebobrokan kapitalisme dan demokrasi, lebih baik melakukan perbaikan-perbaikan kecil demi kemaslahatan. Tapi bisakah lilin terus menyala di tengah badai?

Tulisan saya soal Eliyas dan Ibas mengundang sedikit kegaduhan di jejaring sosial. Ada yang keberatan dengan beberapa konten tulisan tersebut. Sebagian teman-teman pembaca merasa tulisan itu terlalu ‘kejam’ terhadap demokrasi dan dianggap terlalu ‘membabi buta’ menghantam demokrasi.

Bagaimanapun juga ada yang masih ada yang menaruh harapan bahwa dalam demokrasi ada seberkas cahaya. Sebagian lagi berpikir bahwa ada yang masih bisa dilakukan dalam keadaan sekarang ketimbang sekedar merutuki demokrasi. Better light a candle than curse the dark!

Ya, ungkapan lilin dan kegelapan memang sering dilagukan untuk mengingatkan kita semua bahwa jangan berpikir all or nothing. Semua atau tidak sama sekali. Ada perbaikan parsial yang bisa dilakukan dalam sebuah sistem yang buruk.

Kita masih bisa menolong pasien yang miskin dengan membantu biaya mereka, misalnya. Atau membantu memberikan beasiswa bagi siswa yang tak mampu, menggerakkan remaja untuk melakukan berbagai kegiatan positif. Tidak melulu menyalahkan sistem lalu mengandai-andai bahwa bila sistem ini dihancurkan dan diganti dengan yang lebih baik, maka semua persoalan itu tidak akan ada. Sehingga kita tidak melakukan apapun dengan hal yang semestinya bisa dilakukan.

Dalam beberapa hal pemikiran ‘lilin dan kegelapan’ mengandung kebenaran. Sebagai muslim tidak pantas kita berdiam diri melihat tetangga yang kelaparan, atau hanya memberikan taushiyah kepada agar sabar dan menjelaskan keindahan hidup seandainya Islam dan khilafah ditegakkan. Tentu saja itu sikap yang tidak benar, karena Rasulullah saw. bersabda:

ما آمن بي من بات شبعان وجاره جائع إلى جنبه وهو يعلم به

“Tidak beriman kepadaku siapa saja yang tidur kekenyangan sedangkan tetangganya kelaparan di sebelahnya sedangkan dia mengetahuinya.”(HR. Thabraniy dan al-Bazzar).

Membantu hajat hidup sesama umat manusia – tidak hanya muslim – tidak perlu menunggu khilafah berdiri. Dalam keadaan apapun kita diperintahkan untuk melakukannya.

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim adalah saudara sesama muslim, tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya, dan siapa saja yang melepaskan beban dari seorang muslim maka Allah akan melepaskannya dari beban di Hari Kiamat, dan siapa yang menutupi aib saudaranya niscaya Allah akan menutupi aibnya di Hari Kiamat.”(HR. Muslim).

Dalam sejarah perjuangan dakwah Nabi saw. kita pun membaca kedermawanan Abu Bakar ash-Shiddiq membebaskan para budak yang beriman – termasuk Bilal – dari para majikan mereka yang musyrik. Sehingga beliau digelari ‘Atiq – sang pembebas – dan dipuji Allah dalam surat al-Layl ayat 17-21. Beliau melakukan itu ketika dakwah masih berada di fase Mekkah di mana Daulah Islamiyyah pertama belum berdiri.

Tidak perlu menunggu khilafah untuk berbuat kebajikan. Karena memang banyak perintah Allah yang bisa dan wajib kita kerjakan secara individual. Menolong orang sakit, bersedekah kepada kaum fakir, memberikan pekerjaan kepada yang menganggur, dsb. itu adalah gambaran bahwa Islam merupakan agama yang sempurna dan menyeluruh. Ada bagian dari ajarannya yang menyangkut hubungan antarindividu yang tidak terikat dengan institusi pemerintahan atau lembaga apapun. Bila itu yang dimaksud sebagai ‘candle in the dark’, maka saya setuju. Seorang muslim yang memperjuangkan khilafah dan syariat bukanlah seorang pelaku escaping. Melarikan diri semua persoalan kepada khilafah. Dia akan turun mengerjakan kewajibannya sebagai individu muslim di manapun dan kapanpun.

Tapi bila kemudian ‘candle in the dark’ menjadi solusi bagi banyak – tidak usah seluruhnya – persoalan umat, maka kita sudah jatuh pada simplikasi masalah. Terlalu menyederhanakan persoalan umat. Ambillah contoh persoalan umat seperti pelayanan kesehatan yang buruk bagi warga miskin tidak begitu saja tuntas dengan bantuan infak sedekah. Karena persoalannya bukan sekedar kemiskinan, tapi karena kebijakan makro kesehatan yang memang buruk. Misalnya mengapa pemerintah mengalokasikan dana kesehatan dalam APBN dalam jumlah minim? Rata-rata hanya 2 % setiap tahun? Akibatnya banyak rumah sakit pemerintah yang terbatas ruang perawatannya, jumlah tenaga medisnya dan peralatan medisnya. Ini juga mengakibatkan sejumlah dokter berpraktek di banyak tempat, dan terkadang mendahulukan tempat prakteknya ketimbang sebagai dokter pemerintah.

Kita mungkin bisa berpatungan mengongkosi tetangga kita yang miskin untuk berobat, tapi bisakah kita berpatungan agar rumah sakit menambah jumlah ruang rawat inap, jumlah dokter dan peralatan medis? Bisakah kita berpatungan agar obat-obatan dapat dibeli semua warga miskin.

Kita bisa berpatungan menolong warga yang kesulitan mendapatkan akses PAM ke rumahnya, tapi bisakah kita membangun sendiri saluran air bersih bagi dia, juga bagi orang miskin lainnya?

Kita bisa memberi beasiswa bagi satu atau mungkin sepuluh siswa miskin agar mereka bisa bersekolah. Tapi bisakah kita berpatungan membangun berpuluh-puluh sekolah yang berkualitas lengkap dengan gurunya yang berkualitas, dan semuanya free, tanpa perlu membayar ini dan itu?

Lilin adalah lilin. Ia bisa menyala dan menerangi tapi dalam ruang lingkup yang amat kecil. Durasi nyalanya juga terbatas. Begitupula kekuatan kita sebagai individu dalam masyarakat juga amat terbatas untuk menghadapi persoalan makro masyarakat. kalaupun ada yang bisa diselesaikan itu hanyalah persoalan sub-sub-sub-mikro-nya.

Barangkali ada yang bercanda; kalau semua orang menyalakan lilin nanti kan jadi terang benderang semua. Hehehehe. Kenyataannya tidak semua orang memiliki lilin. Banyak orang terbelit dengan persoalannya masing-masing. Lagipula yang tengah dihadapi oleh umat bukan kegelapan biasa, tapi kegelapan yang diisi dengan badai. Maka lilin-lilin yang akan dinyalakan akan cepat padam sebelum terangnya dan hangatnya dirasakan oleh banyak orang.

Kita menghadapi persoalan yang tidak muncul dari internal umat, tapi juga menghadap ghazwul fikri, imperialisme di bidang politik , ekonomi, militer, pertanian, kesehatan, dll. Barat dengan skenario perdagangan bebasnya bisa menguasai pasar-pasar negara dunia ketiga, menghancurkan industri dan pertanian lokal tanpa pembelaan dari pemerintah yang bersangkutan. Lihat saja petani tebu, peternak sapi, petani buah yang menjerit karena pasar sudah dibanjiri oleh barang-barang impor yang lebih murah dan mutu lebih bagus. Sedangkan industri lokal dan petani lokal minim mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Inilah badai. Bukan sekedar kegelapan. Maka sudah saatnya semua komponen umat berpikir syar’iy dan logis-politis. Persoalan yang kita hadapi adalah persoalan makro yang membutuhkan solusi menyeluruh bukan parsial semata. Sangat disayangkan bila ada kalangan yang sudah yakin dengan jawaban makro ini lalu malah menggeserkan orientasi geraknya dan pikirannya pada sekedar menyalakan lilin di tengah kegelapan. Padahal ia tahu yang dihadapi adalah badai yang bergemuruh. Solusi yang harusnya dilakukan adalah membangun benteng pertahanan yang kuat sehingga dapat menahan serbuan badai, melindungi umat secara total sehingga barulah kita dapat memberikan cahaya dan kehangatan di dalamnya. Cahaya yang diberikan juga bukan sekedar lilin, tapi cahaya yang berasal dari pembangkit listrik yang terbesar dan tercanggih yang pernah ada di muka bumi.

***

catatan : amal jama’iy (kelompok) berbeda dengan amal individu. Jika ada tetangga yang kelaparan, dan kita mampu, maka itu adalah kewajiban kita, sebagai individu, tanpa perlu dipublikasikan. Jika ada kawan yang butuh bantuan berobat dan kita mampu, maka kita wajib membantu, tanpa perlu digembar-gemborkan. Namun merubah ‘badai kemaksiatan struktural ala sistem kapitalisme’, ini adalah kewajiban kita semua sebagai kaum muslimin. Entah miskin, entah kaya, entah laki-laki, entah perempuan, entah direktur, entah pemulung, entah guru entah murid, entah kepala negara entah rakyat jelata. Maka kita perlu ‘berjamaah’ memperjuangkannya, dengan terus-menerus menyampaikan kebenaran, melalui perang pemikiran (as shiro’ul fikr) dan perjuangan politik (kifahus siyasi), dan inilah yang akan terus digembar-gemborkan oleh jamaah yang memperjuangkannya, tanpa mengabaikan aktivitas masing-masing ‘individunya’. Karena tentu saja, ada banyak kemaksiatan struktural yang tak akan pernah selesai hanya dengan ‘aktivitas individu’ yang parsial. Wallahualam


2013: The Year of Victory?

30594_401994260657_175817530657_4817349_1409506_n

Tahun 2012 telah berlalu. Banyak peristiwa telah terjadi di sepanjang tahun itu. Beberapa di antara yang cukup menonjol adalah soal korupsi yang makin menjadi, kontroversi pengelolaan blok migas, demo buruh menuntut kenaikan upah, kenakalan kriminal remaja, konflik sosial yang terjadi dimana-mana, penghinaan Nabi saw. yang terus terjadi, juga tentang dinamika umat di dalam dan luar negeri, khususnya di kawasan Timur Tengah, lebih khusus lagi di Suriah.

++++

Dari sejumlah negara Timur Tengah yang disulut gelombang revolusi Arab Spring, Suriah boleh disebut yang paling istimewa. Inilah revolusi yang paling alot. Berlangsung sejak Maret 2011, dengan korban tewas lebih dari 40.000, tetapi hingga kini revolusi di negeri para nabi itu belum ada tanda-tanda akan segera berhenti. Yang membuat revolusi Suriah ini istimewa adalah, kali inilah revolusi digerakkan secara nyata oleh kelompok Islam yang secara tegas ingin menegakkan Daulah  Khilafah. Maka dari itu, selain karena dukungan Cina, Rusia dan Iran, tidak segera tumbangnya rezim Bashar Assad juga disebabkan bimbangnya Barat terhadap masa depan Suriah pasca Assad mengingat di sana ada kelompok oposisi yang punya arah sendiri.

AS sendiri hingga kini belum mendapatkan pengganti yang mantap untuk rezim Assad. Menguatnya pasukan perlawanan dari kelompok opisisi independen dan terus melemahnya Bashar Assad jelas sangat mengkhawatirkan AS. AS tahu, pasukan perlawanan rakyat Suriah di lapangan didominasi kelompok Mujahidin yang menyerukan penegakan syariah dan Khilafah serta menolak sistem demokrasi yang ditawarkan AS.

Bukan hanya AS, sekutu terdekat AS di kawasan Timur Tengah, Israel, juga takut bukan main setelah melihat gabungan kelompok Mujahidin Suriah yang berperang langsung melawan rezim bengis Assad menolak Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi, aliansi baru pro Barat yang dibentuk pada pertemuan di Qatar pada 11 November 2012 lalu. Serangan brutal Israel ke Jalur Gaza pada awal November lalu tidak bisa dilepaskan dari ketakutan negara Zionis itu terhadap perkembangan terkini di Suriah. Menguatnya Mujahidin Suriah dengan tuntutan penegakan  Khilafah jelas mengancam eksistensi Zionis ke depan.

Pada awalnya, AS sebenarnya enggan mendukung perlawanan rakyat Suriah. Negara ini  memilih mendorong Bashar Assad untuk melakukan reformasi demokratis di Suriah. Namun, upaya ini gagal. Bashar Assad justru semakin beringas. Hal ini memicu perlawanan lebih sengit dari rakyatnya sendiri. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi AS selain mendukung revolusi Suriah guna menumbangkan rezim Assad. Namun, AS juga tidak ingin kehilangan kontrol atas Suriah pasca Assad. Berbagai upaya lalu dicoba oleh AS untuk membajak perlawanan rakyat Suriah agar tetap dalam kerangka kepentingan AS.

Melalui PBB, misalnya, AS mencoba mengendalikan perubahan di Suriah dengan menunjuk Koffi Anan, mantan Sekjen PBB, sebagai utusan PBB dan Liga Arab. Lagi-lagi upaya ini pun gagal. Semakin menguatnya perlawanan rakyat Suriah yang tidak lagi ingin berkompromi dengan rezim bengis Suriah membuat Anan terpaksa mengundurkan diri.

Gagal dengan Koffi Anan, AS berupaya menggunakan agen-agen regionalnya untuk mendukung exit strategy melalui model Yaman. Di Yaman, Barat mempersiapkan orang dari lingkaran dalam Presiden Yaman, yakni Wapres Abd ar-Rab Mansur Hadi, untuk menjadi pejabat presiden baru. Transisi ini dibantu oleh negara-negara sekitarnya seperti Saudi Arabia. Setelah itu diadakan Pemilu yang dikesankan demokratis pada Februari 2012 yang dimenangkan secara telak oleh Hadi.

Melalui Menteri luar negeri Turki Ahmed Davutoglu, AS  datang dengan membawa usulan model Yaman, agar Wakil Presiden Suriah Farouk as-Sharaa menggantikan Presiden Bashar sebagai kepala pemerintahan transisi untuk menghentikan revolusi yang terjadi di Suriah. AS lalu membentuk Dewan Nasional Suriah (NSC) dengan mendudukkan orang-orangnya di sana dari berbagai kalangan. Namun, NSC bekerja tidak sesuai harapan AS. NSC gagal menjadi wakil rakyat Suriah.

Setelah itu, AS  berupaya mengefektifkan kubu oposisi agar tetap di bawah kontrolnya. AS mendorong pertemuan kubu oposisi Suriah dalam sebuah konferensi besar di Ibukota Qatar, Doha, pada 11 November lalu guna membicarakan upaya menyatukan front oposisi yang selama ini terpecah-belah. Dalam pertemuan ini AS berupaya mengarahkan Riad Seif yang di-blow up sebagai tokoh oposisi terkemuka agar menjadi kepala dari pemerintahan di pengasingan yang nantinya akan dinamai Inisiatif Nasional Suriah. Cara ini pun gagal.

Jalan lainnya adalah mengisolasi para Mujahidin. Caranya dengan menuduh para Mujahidin sebagai kelompok teroris dan mengaitkannya  dengan al-Qaidah. AS juga berupaya melakukan kriminalisasi perjuangan para Mujahidin dengan bukti video yang diklaim merupakan  kejahatan para Mujahidin. Cara ini juga tidak efektif, bahkan memicu antipati terhadap AS di dalam negeri Suriah.

Selain itu, AS menggunakan tokoh-tokoh Muslim yang dikenal moderat sebagai alat politik. Barat senang ketika Ahmad Muadz al-Khatib dengan latar belakang Ikhwanul Muslimun terpilih menjadi presiden Koalisi Nasional untuk Pasukan Oposisi dan Revolusi Suriah. Hal ini sesuai dengan keinginan Presiden AS Barack Obama yang ingin memastikan komitmen kelompok oposisi itu dalam menjalankan demokratisasi di Suriah, dan membawa Suriah yang inklusif dan moderat menurut versi AS.

++++

Akhirnya, memasuki tahun baru ini kita harus tetap memiliki keyakinan kokoh, bahwa setiap penerapan sistem sekular—yakni sistem yang tidak bersumber dari Allah SWT, Sang Pencipta manusia, kehidupan dan alam semesta Yang Mahatahu—di berbagai bidang kehidupan pasti akan menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi umat manusia. Penguasaan sumberdaya kekayaan alam negeri ini oleh kekuatan asing, kelamnya persoalan perburuhan, maraknya korupsi di seluruh sendi di seantero negeri, konflik sosial yang tiada henti, kenakalan dan kriminalitas di kalangan remaja yang tumbuh di mana-mana adalah bukti nyata dari kerusakan dan kerugian itu. Ditambah dengan kezaliman yang diderita umat di berbagai negara, penghinaan terhadap Nabi saw.  yang terus terjadi serta sulitnya perubahan ke arah Islam dilakukan oleh karena dihambat oleh negara Barat yang tidak ingin kehilangan kendali kontrol atas wilayah-wilayah di Dunia Islam, semestinya menyadarkan kita semua untuk bersegera kembali ke jalan yang benar, yakni jalan yang diridhai oleh Allah SWT, dan meninggalkan semua bentuk sistem dan ideologi kufur, terutama Kapitalisme yang nyata-nyata sangat merusak dan merugikan umat manusia.

Kita juga harus membuka mata lebar-lebar, bahwa demokrasi yang dalam teorinya merupakan sistem yang memberikan ruang kepada kehendak rakyat, dalam kenyataannya negara-negara Barat sendiri tidak pernah benar-benar membiarkan rakyat di negeri-negeri Muslim leluasa membawa negaranya ke arah Islam. Mereka selalu berusaha agar sistem yang diterapkan tetaplah sistem sekular meski dibolehkan dengan selubung Islam, serta penguasanya tetaplah mereka yang mau berkompromi dengan kepentingan Barat. Itulah yang Barat lakukan di negeri-negeri Muslim yang saat ini tengah bergolak seperti Suriah, begitu juga Mesir dan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah. Kenyataan ini juga  semestinya memberikan peringatan kepada umat Islam untuk terus waspada dan tidak mudah terkooptasi oleh kepentingan negara penjajah.

Nyatalah Kapitalisme kian rapuh. Demokrasi pun kian terbukti kepalsuannya. Pertanyaan pentingnya, kemana umat akan menuju bila tidak pada Islam? Maka dari itu, perjuangan bagi tegaknya syariah dan Khilafah harus makin digencarkan. Dari sekian gelombang perjuangan umat mutakhir, kiranya dinamika yang kini tengah berlangsung di Suriah memberikan warna tersendiri. Di sana ada kekuatan signifikan, yang tidak bisa dipandang remeh, yang dengan tegas, tanpa tedeng aling-aling menyatakan kemana arah perjuangan tertuju, serta menyatakan penolakan terhadap campur tangan Barat atas masa depan Suriah.

Akankah Revolusi Suriah bakal menjadi jalan awal bagi kemenangan Islam? Insya Allah. Lihatlah, tak kurang Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Bogdanov, juga Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen pun  menegaskan bahwa akhir rezim Assad hanyalah soal waktu. AS juga tampaknya melihat hal serupa. Tentu mereka tidak ingin terlambat. Karena itu, mereka bersiap. Guna menjaga hal yang tidak mereka inginkan, lebih 8000 pasukan AS telah disiagakan di perbatasan Suriah – Turki. Kapal induk AS juga telah merapat ke kawasan yang telah kini telah menjadi area pertempuran ideologi, bukan sekadar pertempuran militer. Mujahidin Suriah diberitakan semakin dekat merangsek masuk Damaskus, Ibukota Suriah.

Jadi, akankah 2013 ini menjadi The Year of Victory, saat Khilafah nanti tegak di Suriah? Semoga, ya Allah… [H.M. Ismail Yusanto]


Islam, menjadikan hidup lebih hidup!

Sejak lahir aku muslim, sekalipun dulu ayahku masih penganut kepercayaan Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal). Tapi jujur, Islam bagiku hanya sekedar simbolik. Dalam benakku saat itu, banyak aturan Islam yang tidak sesuai dengan kenyataan. Katanya sholat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, faktanya banyak orang sholat tetap melakukan kemungkaran, bahkan Imam masjid dikampungku  pernah kesandung kasus penggelapan uang hingga akhirnya dipenjara. Katanya Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, tapi semua kegiatan simpan pinjam sejak tataran RT, RW sampai nasional selalu ada ribanya, kredit juga ada ribanya, semua bank juga ada ribanya. Katanya juga haji itu bagian dari rukun Islam, faktanya banyak kaum muslim yang tidak bisa berhaji karena terlalu, terlalu dan terlalu mahal. Apalagi waktu SMA aku pernah dengar, pacaran haram dalam Islam! Gubrak! Makin aneh aja Islam itu, hawong para kiyai di kampungku saja konon dapetin istri dari pacaran, dan semua anak-anak mereka juga pacaran. Doh! Banyak aturan yang gak real deh, dan membuatku hanya menjadikan Islam identitas di KTP saja. Gak lebih, gak kurang.

Maka wajar jika dalam benakku yang tak pernah mengenal Islam yang utuh, yang males ikutan Rohis, yang tidak pernah nimbrung majelis ilmu keislaman sedikitpun, maka yang terbersit adalah masa muda itu masa hura-hura, seneng-seneng, dan masa menikmati hidup. Dan aku ingat betul aktivitasku saat itu, hang out sama teman-teman, jadi penggemar bola, tiap hari mantau MTV, ngapalin lagu-lagunya backstreet boys, westlife, spice girls, tiap hari ngelongok majalah remaja yang gaul, cari berita kawan-kawan siapa yang putus siapa yang nyambung, mantengin infotainment, kalo kepepet PR selalu nyontek, dan be te sama yang namanya pelajaran. Gak ngerti apa yang harus diraih dan tentu saja, hidup itu harus bagaimana sih?

Beruntung, sungguh beruntungnya aku, masih diberi kesempatan mengenyam bangku kuliah. Dan disinilah, sedikit demi sedikit ada yang mengenalkanku tentang Islam yang sesungguhnya. Sesuatu yang mampu mengubah hidupku, drastis, tujuh ratus derajat, dan lima ratus persen, totally. Islam mengajarkan tentang tingginya derajat orang-orang yang berilmu, tentang Ilmu yang bisa menjadikan kita lebih dari sekedar ahli ibadah, ilmu yang bisa mengantarkan kita memiliki amal jariyah, tabungan sesungguhnya saat nanti kita mati. Maka kuliah bagiku tak sekedar mengejar gelar, tak sekedar untuk dapet kerja  atau tak sekedar membuatku tak malu karena semua teman-teman SMA ku kuliah. Tapi karena tingginya balasan Allah bagi orang-orang yang berilmu, hingga mata kuliah yang sepertinya berat kupelajari (seperti halnya Fisika, matematika, akuntansi yang sempat membuatku stress saat SMA) bagiku adalah tantangan untuk bisa kukuasai. Kuliah bagiku dan bagi teman-teman yang telah ‘ngaji’ saat itu bukanlah kesia-siaan sekalipun mungkin kelak hanya jadi seorang ibu rumah tangga, karena seorang Ibu yang berilmu, tentu berbeda dengan mereka yang tanpa Ilmu. Ya, aku baru merasakan energi ibadah dalam seluruh aktivitas, aktivitas kuliah, aktivitas sosial, bahkan seluruh aktivitas keseharian, tidur sekalipun. Saat itu, akupun semakin paham, bahwa Islam tak sekedar simbolik, bahwa apapun perintah Allah pasti sesuai dengan kenyataan, kalaupun saat ini tak bisa dilaksanakan, bukan hukumnya yang salah, tapi faktanya yang harus dirubah. Oleh siapa? Tentu saja oleh kita, manusia, kaum muslimin.

Islam lah yang mengajarkanku tentang bagaimana memaknai hidup, bagaimana menghadapi masalah yang silih berganti, bagaimana memaknai rejeki, serta memaknai sukses hakiki. Banyak hal yang membuatku tidak pernah merasa sendiri, sekalipun berada jauh dari keluarga. Hidup yang tak sekedar lahir, sekolah, kerja, menikah lalu mati. Tapi hidup yang lebih hidup. Mampu menjawab, Untuk apa aku sekolah, untuk apa aku menikah, untuk apa berdakwah, dan tentu saja, untuk apa aku hidup?

Hingga aku berjuang keras untuk bisa menjadi seperti sekarang ini, menjadi seorang muslimah yang kebetulan peneliti yang insyaAllah sebentar lagi diberi kesempatan melanjutkan studi, menjadi seorang istri yang kebetulan diberi kemudahan rejeki untuk memperbesar usaha suami, menjadi seorang Ibu dari seorang putri yang tak pernah ingin meninggalkannya demi karir, dan seorang anak yang Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk memberikan bakti terbaiknya untuk mamak tercinta… dan tentu saja menjadi seorang pengemban dakwah yang bergabung dalam sebuah jamaah dakwah yang konsisten dalam penegakan syariah dan khilafah.

Semua itu,

Tak akan masuk dalam benak pemikiran dan arah perjuanganku, jika aku tak kenal ROHIS saat di kampus, karena tanpa paham Islam, mungkin aku hanya akan jadi sarjana kebanyakan, sarjana yang mengandalkan tawaran pekerjaan, sarjana yang hanya rentetan gelar di ujung nama, atau jangan-jangan sarjana yang hanya jadi sampah peradaban! Naudzubillah…

Buat kamu generasi muda, atau para orang tua, jangan takut dengan ROHIS atau kajian keislaman di sekolah atau di kampus, karena mereka tak pernah mengajarkan kita untuk menjadi TERORIS, tapi menjadi muslim seutuhnya, yang bangga dengan Islamnya, dan mengerti arah hidupnya… jika tak percaya, silakan cari buktinya, karena sudah nyata hasilnya!


Dakwah vs Retorika Kosong

 

Hari itu saya berkesempatan mendampingi dua orang politisi, satu Misbakhun dari Pansus Century dan satu lagi Ruhut Sitompul selaku Humas Partai Demokrat. Dalam pertemuan bertajuk Skandal Century dan Skandal Wisma Atlet, Pak Misbakhun memaparkan bukti-bukti keterlibatan mantan Menkeu Sri Mulyani dalam kasus bailout Bank Century.

Merasa diserang Ruhut Sitompul mengeluarkan pernyataan membela Sri Mulyani . Meski tidak persis sama redaksinya, tapi kira-kira begini komentarnya, “Sri Mulyani itu orang Indonesia yang dipakai oleh Bank Dunia. Yang punya Bank Dunia itu AS, Jerman, dsb. Kalau ia terlibat kasus korupsi mana mungkin ia dipakai di sana?”

Anda tahu, dalam teori komunikasi, Ruhut ‘si Poltak’ Sitompul itu menggunakan teknik yang disebut oleh para pakar komunikasi sebagai teknik retorika. Orang awam menyebutnya bersilat lidah. Ketika seseorang tertuding sebagai pelaku, maka si tertuduh lalu berkelit dengan memainkan logika status orang tersebut. Ini yang disebut sebagai retorika.

Menurut sejarah teori ilmu komunikasi, teknik retorika pertama kali dikembangkan oleh Corax, seorang pakar retorika bangsa Sycaruse, koloni Yunani di Pulau Sicilia. Saat itu, banyak terjadi perampasan tanah lalu warga kebingungan bagaimana cara membuktikan kepemilikan tanah mereka di pengadilan. Corax, sebagai pihak yang membantu orang untuk memenangkan haknya lalu menyusun teori retorika yang dinamakan Techno Logon (Seni Kata-Kata).

Saya tidak akan menjelaskan seperti apa teori tersebut, tetapi praktisnya begini; ketika misalnya ada seorang pejabat kaya yang dituduh melakukan korupsi, maka untuk membela dirinya ia akan berkata, “Bagaimana mungkin seorang yang kaya raya melakukan tindak kejahatan korupsi? Padahal hartanya sudah berlimpah ruah. Untuk apa ia melakukan pencurian uang seperti itu?”

Atau seandainya ada seorang tokoh agama yang dituduh melakukan pencabulan, misalnya, untuk membela diri akan dikatakan, “Saya ini orang yang paham agama, saya tahu halal dan haram, saya tahu berzina itu haram, manalah mungkin saya melakukan tindakan keji yang telah diharamkan oleh agama. Lagipula saya sudah berumah tangga dan istri saya lebih cantik daripada perempuan yang menuduh saya menzinahinya.”

Menakjubkan bukan? Publik bisa tercengang dan sejenak bisa membenarkan pernyataan dua contoh di atas. Dalam kehidupan berbangsa saat ini, banyak politisi yang secara alami atau juga mengikuti pelatihan retorika. Ketika rakyat menuduh anggota dewan sering plesiran ke luar negeri dan menghabiskan banyak anggaran, mereka lalu beralibi bahwa ‘perjalanan dinas’ itu dilakukan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk tamasya, bahwa mereka juga keletihan dan merasa berat selama perjalanan tersebut, dan lain sebagainya.

Di pentas dakwah dan panasnya perang pemikiran antara haq dan batil, juga antara satu kelompok dengan kelompok lain, teknik retorika juga sering digunakan, baik secara sadar ataupun tidak. Misalnya, kalangan yang menentang perjuangan penegakkan syariat dan khilafah sering menggunakan retorika di antaranya seperti ini;
•    “Khilafah itu utopia, mana mungkin bisa mempersatukan umat Islam yang telah hidup dalam beragam suku bangsa dan bahasa?”
•    “Mustahil bisa menerapkan syariat Islam di tanah air, bukankah rakyat kita ini majemuk; beragam agama, pasti akan muncul konflik di antara elemen bangsa!”
•    “Syariat Islam dan khilafah itu kan bukan budaya asli nusantara, tidak layak dijadikan sebagai aturan dalam kehidupan berbangsa!”
•    “Mau menerapkan syariat Islam? Syariat yang mana? Islam itu kan beragam! Ada mazhab Syafi’i, Hambali, Hanafi, Maliki, lalu mau pakai yang mana? Tidak mungkin itu semua disatukan!”
•    “Kita ini tinggal di Indonesia, maka harus mengikuti aturannya orang Indonesia, jangan pakai aturan dari luar kebudayaan bangsa kita!”
•    “Kalau kita menjadi negara Islam, apa yang non muslim bakal dipaksa masuk Islam, atau harus dibunuhi? Mustahil itu yang namanya khilafah”
•    (dan masih banyak lagi yang mungkin Anda bisa menambahinya sendiri)

Pernyataan dan pertanyaan di atas seolah logis dan ilmiah. Akan tetapi bila ditelusuri secara dalil aqliy maupun naqliy, sebenarnya itu hanya retorika kosong. Misalnya, apakah yang non muslim bakal dipaksa masuk Islam dalam kehidupan di bawah syariat Islam dan khilafah Islamiyah? Pastinya tidak, karena ada nash yang melarang pemaksaan beragama dan secara fakta hal itu tidak pernah dilakukan oleh para penguasa muslim.

Begitupula bila dinyatakan bahwa syariat Islam itu bukan produk asli budaya nusantara, kita tinggal balik bertanya; bukankah demokrasi dan HAM juga bukan produk asli tanah air? KUHP yang dipakai di tanah air juga buatan Belanda? Dan siapa bilang Nusantara tidak lekat dengan syariat Islam? Banyak bukti-bukti peninggalan sejarah yang menunjukkan Nusantara sudah punya hubungan kuat secara sosial, politik dan militer dengan khilafah Islamiyah.
Dakwah memang aktifitas bicara. Tapi bukan asal bicara, ia harus berlandaskan dalil aqliy maupun naqliy. Bukan hawa nafsu. Semua utusan Allah telah dibekali beragam bukti kekuasan Allah berupa mukjizat untuk melumpuhkan argumen dan bantahan kaum-kaumnya.

Adapun ‘senjata’ yang digunakan orang-orang fasik, kafir atau zindik untuk menentang para nabi dan rasul adalah retorika yang berlandaskan hawa nafsu, bukan thariqah aqliyah (metode berpikir yang menggunakan akal untuk mencari pembuktian) sebagai landasan penentangan mereka terhadap petunjuk Allah.

Tanda bahwa mereka menentang dengan hawa nafsu, bukan dengan dalil, adalah seperti terjadi pertanyaan seorang nabi tentang kebiasaan kaumnya menuhankan berhala padahal berhala itu buatan mereka sendiri. Karena kepepet dan tidak punya dalil bantahan, kaumnya hanya menjawab pendek:

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.”(QS. al-Maidah: 104).

Jadi, bila Anda sudah paham kewajiban berdakwah, maka siapkanlah retorika yang bernas. Mengandung dalil yang kuat; aqliy maupun naqliy. Serta jangan takut dengan retorika-retorika kosong yang sering dilontarkan para penentang dakwah.

.

Penulis : Ust.Iwan Januar, http://www.iwanjanuar.com


Menyoal Subsidi dan Kenaikan BBM

Pendahuluan

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Armida S. Alisjahbana menyatakan bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan pelaksanaan program pembatasan konsumsi BBM bersubsidi. Untuk kawasan jabodetabek direncanakan akan dimulai bulan April 2011 dan dilanjutkan untuk berbagai wilayah di Indonesia secara bertahap (Antaranews.com, 2/2/2011). Hal ini merupakan tindak lanjut dari hasil kesepakatan antara Komisi VII DPR RI dan Pemerintah pada 14 Desember 2010 lalu di seputar kebijakan pembatasan BBM bersubsidi yang akan dimulai akhir kuartal pertama 2011 secara bertahap. Pembatasan BBM bersubsidi ini disandarkan pada UU No. 10 tahun 2010 tentang APBN 2011.

Melalui kebijakan ini, Pemerintah akan mengurangi subsidi BBM dengan melarang mobil pribadi menggunakan BBM bersubsidi. Sebagaimana biasa, untuk meredam gejolak di masayarakat, pemerintah selalu menyertakan argument ‘manis’ dalam setiap kebijakannya yang tidak pro rakyat. Beberapa argumen yang diungkap antara lain untuk mengurangi beban APBN, menghemat keuangan Negara, tidak tepat sasaran, harga minyak dunia naik atupun lifting turun.

Bagi masyarakat yang tidak mengerti persoalan hitung-hitungan angka APBN, alas an-alasan tersebut bisa jadi bisa diterima karena secara logika seolah-olah masuk akal. Namun bila disimak dan dikaji lebih dalam, alas an-alasan tersebut banyak mengandung pembohongan publik.

Membebani APBN

Pemerintah selalu mengatakan konsumsi BBM dalam negeri melebihi kuota sehingga anggaran subsidi BBM  juga membengkak dari  Rp. 129,7 triliun menjadi Rp. 160 triliun. Kalau subsidi tidak dicabut, yang berarti harga disesuaikan dengan harga internasional, maka akan terbebani dengan pembengkakan itu. Memang angka itu naik, namun jika dibandingkan dengan belanja lainnya, subsidi ini tidak terlalu besar. Sekjen Gerindra kepada pers (5 Maret 2012) mengatakan, APBN terbebani dengan subsidi BBM adalah kebohongan public. Menurutnya yang sebenarnya membebani APBN adalah belanja birokrasi, bukan subsidi BBM. Ia menjelaskan, antara rentang 2005-2012, belanja birokrasi naik lebih dari 400%, yaitu dari Rp. 187 triliun menjadi Rp. 733 triliun. Dalam rentang yang sama, subsidi BBM hanya naik 29%, dari Rp. 95 triliun menjadi  Rp. 123,6 trliun. Jadi mana yang lebih memberatkan, subsidi BBM atau belanja birokrasi?.

Selain itu, anggaran untuk gaji pegawai tahun 2012 mencapai Rp. 215,7 triliun naik Rp. 32,9 triliun (18%) dibandingkan tahun 2011. Padahal rata-rata gaji PNS sudah jauh lebih baik dari UMR. Tapi pemerintah tetap menaikkan gaji PNS sementara peningkatan gaji itu tidak diikuti peningkatan kinerja PNS, terbukti pelayanan public masih saja jauh dari memuaskan. Diluar itu, pemborosan terjadi dimana-mana. Dalam APBN ada pos kunjungan dan studi yang nilainya mencapai Rp. 21 triliun. Dalam catatan KPK, tahun 2008 saja ada kebocoran APBN sebesar 30-40% yang nilainya ratusan triliun.

Selain itu, jika dicermati dalam APBN 2005-2012 justru yang menjadi beban utamanya adalah pembayaran cicilan bunga utang dan pokoknya, bukan subsidi BBM. Anggaran pembayaran utang untuk tahun 2012 sebesar Rp. 170 triliun (bunga Rp. 123 triliun dan cicilan pokok utang luar negeri Rp. 43 triliun). Berdasarkan data-data ini terlihat dengan jelas bahwa beban utama APBN sebenarnya bukan subsidi energi sehingga perlu dikeluarkan kebijakan pembatasan subsidi BBM. Yang menjadi beban utamanya adalah cicilan bunga utang dan pokoknya, yakni hampir 80 persen lebih tinggi dibandingkan dengan subsidi energi pada RAPBN 2011. Anehnya, Pemerintah tidak pernah menuding utang ini sebagai biang kerok yang menggerogoti keuangan negara dari tahun ke tahun. Mungkin saja karena hal itu merupakan bagian ’tatakrama’ Pemerintah kepada para rentenir asing seperti IMF, World Bank, ADB, dan sebagainya.

Menghemat Keuangan Negara

Menurut Pemerintah, kebijakan pembatasan subsidi BBM merupakan langkah untuk menghemat keuangan negara. Dengan begitu, pada tahun 2011 saja akan diperoleh penghematan anggaran sebanyak Rp 3,8 triliun. Argumen ini juga tidak sesuai dengan fakta, karena banyak pos-pos anggaran pada APBN tidak menunjukkan adanya indikasi keseriusan Pemerintah untuk melakukan penghematan keuangan negara. Misalnya, pos pengeluaran untuk belanja perjalanan terus membengkak setiap tahunnya. Pada APBN 2009, alokasi belanja perjalanan sebesar Rp 2,9 triliun, kemudian melonjak tajam menjadi Rp 12,7 triliun pada APBN-P 2009. Bahkan dalam realisasinya membengkak lagi menjadi Rp 15,2 triliun. Lalu pada APBN 2010, Pemerintah menetapkan anggaran perjalanan Rp 16,2 triliun yang realisasinya membengkak menjadi Rp 19.5 triliun pada APBN-P 2010 (Republika, 17/1/2011). Bahkan dalam APBN Perubahan (APBN-P) 2011 anggaran pelesiran/kunjungan pejabat ke luar negeri kembali membengkak mencapai Rp 24,5 triliun (Tribunnews.com, 16/1/2011).

Selain itu, dana yang dianggarkan pada APBN-P 2010 ternyata banyak yang tidak terserap. Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Askolani mengungkapkan bahwa sisa lebih penggunaan anggaran (silpa) dari APBN-P 2010 mencapai Rp 47,1 triliun (Kompas.com, 04/01/2011). Hal itu tentu diakibatkan karena perencanaan anggaran di beberapa departemen dan lembaga Pemerintah cenderung di mark-up sehingga melebihi kebutuhan yang sebenarnya. Dana silpa tersebut jauh lebih besar ketimbang penghematan melalui pembatasan subsidi BBM yang hanya sebesar Rp 3,8 triliun.

Logika sehat akan mengatakan bahwa untuk penghematan keuangan negara semestinya yang dipangkas adalah berbagai anggaran yang digunakan untuk memenuhi berbagai fasilitas pejabat Pemerintah dan politisi tersebut serta efisiensi anggaran di tiap departemen dan lembaga Pemerintah. Bayangkan, untuk biaya perjalanan saja, anggarannya hampir mencapai Rp 20 triliun pada tahun 2011. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan kebijakan pembatasan subsidi BBM yang diperkirakan hanya mampu menghemat anggaran sebesar Rp 3,8 triliun. Padahal subsidi tersebut sangat dibutuhkan oleh sekitar 230 juta rakyat di negeri ini. Sebaliknya, anggaran untuk biaya perjalanan hanya akan menjadi ’santapan’ segelintir elit saja. Jelas, dari fakta-fakta ini Pemerintah tidak memiliki empati dan kepedulian terhadap rakyatnya yang saat ini sedang terhimpit secara ekonomi.

Tidak Tepat Sasaran

Pemerintah juga memberikan argumen bahwa pembatasan subsidi BBM sangat tepat dilaksanakan karena selama ini BBM bersubsidi dinikmati orang kaya. BBM bersubsidi disinyalir dikonsumsi oleh para konsumen kendaraan pribadi roda dua dan roda empat yang nota-bene dianggap sebagai masyarakat yang mampu membeli BBM non-subsidi. Padahal kendaraan bermotor terdiri dari kendaraan khusus, mobil bus, mobil beban/penumpang dan motor yang jumlahnya cukup banyak. Lebih dari 80 persen dari kendaraan tersebut ternyata merupakan sarana produksi yang dimiliki oleh masyarakat. Artinya, kendaraan tersebut digunakan masyarakat untuk bekerja dan berproduksi. Dengan demikian, dengan peralihan dari premium seharga Rp 4.500 ke Pertamax yang harganya Rp 6.900 perliter, akan ada kenaikan Rp 2.400 perliter yang harus ditanggung masyarakat.

Kenaikan biaya transportasi ini secara langsung akan mendorong kenaikan biaya produksi. Karena Pertamax mengikuti harga minyak di pasar internasional, maka kenaikan biaya produksi ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia. Sejumlah perusahaan besar dunia, seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, JPMorgan Chase & Co, dan Bank of America Merrill Lynch, memprediksi minyak mentah akan menembus US$100 perbarel pada tahun 2011.

Dampak kenaikan biaya produksi ini akan meningkatkan inflasi yang akhirnya mengakibatkan daya beli masyarakat turun secara signifikan. Danareksa Research Institute (19/01/2011) mengatakan, bahwa pembatasan BBM subsidi akan berdampak pada kenaikan inflasi sebesar 1.5 persen pada tahun 2011. Karena itu, angka inflasi bisa menembus 7.5 hingga 8.0 persen jika pembatasan BBM subsidi dilakukan. Argumentasi Pemerintah bahwa pembatasan subsidi BBM yang katanya hanya berpengaruh pada masyarakat mampu, yakni mereka yang memiliki kendaraan pribadi berplat hitam, adalah sangat naif. Faktanya, kebijakan tersebut akan mendongkrak inflasi yang akan menghantam perekonomian masyarakat menengah ke bawah akibat harga-harga yang ikut merangkak naik.

Lifting Turun

Di tengan rencana menaikkan harga BBM, pemerintah mengumumkan revisi terhadap target produksi minyak nasional (lifting) dalam pengajuan APBN-P 2012. Menurut menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, pemerintah mengubah target lifting dalam APBN-P 2012 menjadi 930 ribu barrel per hari (bph), dari sebelumnya 950 ribu bph. Alasannya, tiap tahun terjadi penurunan alamiah produksi sekitar 12%. Benarkah?

Hingga saat ini sebenarnya data riil produksi minyak nasional tidak ada. Semuanya hanya berdasarkan asumsi. Bahkan, ketua umum serikat pekerja Pertamina, Abdullah Sodiq dalam acara “Diskusi Blak-blakan : kenaikan harga, lifting produksi dan mimpi kedaulatan energy” di Galeri Resto dan Café, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (12/5/2011), tidak percaya jika produksi BBM di Indonesia terus menurun. Ia menyebutkan masih banyak kilang-kilang minyak yang hingga saat ini tidak terpantau. Selama ini produksi minyak hanya berdasarkan dokumen yang diserahkan oleh perusahaan-perusahaan minyak baik lokal maupun asing.

Sebenarnya argumentasi paling logis dari kebijakan pembatasan subsidi BBM ini adalah karena Pemerintah memang ingin ’menyempurnakan’ target kebijakan ekonomi kapitalismenya, yaitu mencabut berbagai subsidi bagi rakyat. Lembaga kapitalis (baca: rentenir) dunia seperti IMF, ADB dan World Bank memang secara terus-menerus mendorong Pemerintah untuk melakukan kebijakan ini. Pembatasan BBM bersubsidi juga sebagai jalan untuk membuka pasar bagi perusahaan minyak asing yang memiliki stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) seperti Total, Shell dan Petronas. Selama ini konsumen lebih memilih untuk menggunakan premium yang dijual Pertamina yang harganya lebih murah. Dengan adanya pembatasan subsidi BBM maka seluruh pengguna mobil pribadi terpaksa menggunakan bahan bakar seperti Pertamax atau bensin yang diproduksi oleh SPBU asing tersebut yang harganya mengikuti harga minyak dunia.

Menyoal Subsidi

Subsidi (juga disebut subvensi) adalah bentuk bantuan keuangan yang dibayarkan kepada suatu bisnis atau sektor ekonomi. Sebagian subsidi diberikan oleh pemerintah kepada produsen atau distributor dalam suatu industri untuk mencegah kejatuhan industri tersebut (misalnya karena operasi merugikan yang terus dijalankan) atau peningkatan harga produknya atau hanya untuk mendorongnya mempekerjakan lebih banyak buruh (seperti dalam subsidi upah). Contohnya adalah subsidi untuk mendorong penjualan ekspor; subsidi di beberapa bahan pangan untuk mempertahankan biaya hidup, khususnya di wilayah perkotaan; dan subsidi untuk mendorong perluasan produksi pertanian dan mencapai swasembada produksi pangan.

Subsidi dapat dianggap sebagai suatu bentuk proteksionisme atau penghalang perdagangan dengan memproduksi barang dan jasa domestik yang kompetitif terhadap barang dan jasa impor. Subsidi dapat mengganggu pasar dan memakan biaya ekonomi yang besar. Bantuan keuangan dalam bentuk subsidi bisa datang dari suatu pemerintahan, namun istilah subsidi juga bisa mengarah pada bantuan yang diberikan oleh pihak lain, seperti perorangan atau lembaga non-pemerintah.

PT Pertamina (Persero) memperketat penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi ke stasium pengisian bahan bakar umum (SPBU) menjelang kebijakan penaikan harga BBM. Pengetatan dilakukan seiring adanya peningkatan konsumsi BBM pada dua bulan pertama yang telah mencapai 12 persen di atas realisasi konsumsi pada periode yang sama tahun lalu.

Sbagaimana tertulis di dalam Pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi  :

(1)     Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

(2)     Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

(3)     Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

BBM seharusnya merujuk pada ayat 3 pasal 33  UUD 1945 diatas, yaitu untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Lebih luasnya harga BBM harus dibuat serendah-rendahnya, karena banyak transportasi yang mengandakan BBM untuk mengirim barang produksi dan pangan. Sehingga jika harga BBM dinaikkan, maka semua biaya transportasi  akan menjadi naik. Biaya transportasi tentu memiliki multiplier effect terhadap harga segala jenis produk produksi dan produk pangan.  Intinya semua barang di pasar akan naik, dan rakyat menjadi sengsara karenanya. Bila ini terjadi maka kalimat bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat tidak terpenuhi, artinya Negara telah gagal dalam memenuhi amanat Undang-undang Dasar 1945

Untuk penjualan BBM bagi rakyat seyogyanya tidak menggunakan standard Internasional secara keseluruhan, namun gunakan  harga impor untuk volume impor saja dan harga/biaya produsi untuk  minyak dalam negeri.  Sehingga rakyat tidak dibebani harga impor untuk produksi dalam negeri tetapi masih membantu biaya impor nasional. Dengan demikian tidak ada kata-kata subsidi lagi, namun yang ada adalah biaya bersama yang ditanggung bersama.

Perhitungan harga BBM

Windu Hernowo melakukan perhitungan yang cukup jelas terhadap harga BBM yang seharusnya ditetapkan. Seharusnya pemerintah memberlakukan BBM sesuai perhitungan mixing price. Harga Internasional minyak mentah saat ini memang sangat tinggi. Berdasarkan data  harga minyak dunia untuk brent crude oil 124.12 USD. Sedangkan biaya produksi di Indonesia rata-rata antara 3 USD- 14.0 USD. Seharusnya harga BBM volume impor saja yang ditanggung rakyat dan  untuk BBM produksi nasional cukuplah production cost plus refinery cost plus biaya distribusi nasional.

Contoh biaya produksi termahal USD 14.0. Dengan total Produksi 908 ribu bpd. Bila 1 barrel =159 liter (tepatnya 158,987 liter), maka total produksi per hari adalah144,372,000 liter per hari. Adapun total kebutuhan nasional saat ini mencapai 56 juta kl per tahun atau  157,303.37  kl per hari yang setara dengan 989.330 barrel/hari. Sehingga kekurangannya adalah (908.000-989,330) barrel = (81,330) barrel. Sehingga untuk harga mix price menjadi = {(908,000 x USD 14.0)+(81,330xUSD 124)}/(908,000+81,330) = USD 23.05

Seharusnya yang digunakan sebagai patokan perhitungan Cost Recovery atau harga adalah harga dasar USD  23.05/bbl, BUKAN harga Internasional yang USD. 124/bbl. (bbl=barrel). Dengan demikian harga BBM untuk rakyat menjadi murah dan terjangkau. Hal ini akan menyebabkan semua kebutuhan asyarakat mulai dari cabe dan bahan pangan lainnya, material bangunan  hingga harga energi listrik menjadi murah

Hanya Layak Berharap pada Islam

Pembatasan (baca: pencabutan) subsidi BBM turut melengkapi problem ekonomi di Indonesia. Problem lainnya adalah tingginya biaya pendidikan dan kesehatan, harga kebutuhan bahan pokok yang makin melonjak, utang Pemerintah yang terus membengkak, tingginya kejahatan ekonomi seperti korupsi, kolusi, suap, dan lain sebagainya.

Kondisi ini terjadi karena Indonesia menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Prinsip dasar sistem ekonomi kapitalis adalah bahwa apapun bisa dimiliki oleh individu atau swasta/asing, sementara negara tidak boleh campur tangan dalam perekonomian. Akibatnya, kekayaan alam dikuasai oleh swasta/asing, sementara untuk pembiayaan pendanaan, negara memungut pajak dari rakyat. Karena negara tidak boleh campur tangan dalam perekonomian, maka konsekuensinya subsidi harus dikurangi atau bahkan dihapus sama sekali.

Faktanya, pada RAPBN 2011, penerimaan dari pajak ditargetkan sebesar Rp 839,5 triliun atau 77 persen dari RAPBN, sementara pengeluaran untuk subsidi (energi, pendidikan, kesehatan, dll.) hanya dianggarkan sebesar Rp 184,8 triliun atau 22 persen dari RAPBN. Besarnya pajak dan kecilnya subsidi sama-sama menghimpit rakyat. Kebijakan keuangan negara yang tercermin pada RAPBN 2011 tersebut benar-benar menzalimi rakyat!

Hal ini berbeda secara diametral dengan sistem ekonomi Islam. Dalam politik ekonomi Islam, negara wajib memberikan jaminan atas pemenuhan seluruh kebutuhan pokok bagi tiap individu dan masyarakat serta menjamin kemungkinan pemenuhan berbagai kebutuhan sekunder dan tersier sesuai kadar kemampuan individu bersangkutan.

Untuk menjamin terlaksananya kewajiban negara tersebut, dalam sistem ekonomi Islam kepemilikan umum seperti tambang, migas, laut dan hutan wajib dikelola oleh negara dan tidak boleh diserahkan kepada swasta apalagi asing. Hal ini untuk mengoptimalkan pendapatan negara. Rasulullah saw. telah menjelaskan prinsip ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas: Manusia berserikat (punya andil) dalam tiga hal: air, padang rumput dan api (HR Abu Dawud).

Jika semua kepemilikan umum dikuasai dan dikelola oleh negara, tentu akan tersedia dana yang mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan rakyat. Sebagai gambaran sederhana, di sektor pertambangan dan energi diprediksi akan didapat penerimaan sekitar Rp 691 triliun pertahun. Di sektor kelautan dengan potensi sekitar US$ 82 miliar atau Rp 738 triliun pertahun akan diperoleh minimal sekitar Rp 73 triliun. Di sektor kehutanan dengan luas hutan sekitar 90 juta hektar dengan pengelolaan secara lestari diperkirakan akan diperoleh penerimaan sekitar Rp 1800 triliun pertahun. Pendapatan negara sebesar ini, dengan pengelolaan yang amanah, sudah cukup memadai untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Dengan begitu, BBM, biaya pendidikan dan biaya kesehatan dapat dinikmati rakyat dengan harga murah atau bahkan gratis.

Dari paparan ringkas ini, jelas bahwa syariah Islam merupakan kunci terpenting untuk menyelesaikan problem pengaturan ekonomi dan keuangan negara. Namun, mana mungkin syariah Islam yang mulia itu dapat diimplementasikan tanpa adanya institusi penegaknya, yakni Khilafah Islamiyah. Karena itu, seruan kaum Muslim di negeri ini untuk kembali pada syariah dalam naungan Khilafah Islamiyah harus dapat dibaca sebagai wujud kepedulian untuk membebaskan negeri ini dari keterpurukan akibat penerapan Kapitalisme. Hanya dengan ketakwaan dalam wujud penerapan syariah-Nya, kaum Muslim akan menuai keberkahan-Nya dari langit dan bumi, sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (QS al-A’raf [7]: 96).

.

Sumber :

Dr. Kusman Sadik, Menyoal Pembatasan Subsidi BBM, Al-Waie No 127 Maret 2011

Windu Hernowo, http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2012/03/12/menyoal-subsidi-bbm-ijinkan-saya-menghitung/

Argumentasi Bohong! tentang subsidi, Media Umat edisi 78 Maret 2012