…. jejakku, cintaku ….

Bahagiaku untuk Mamak

Membuat Mamak bahagia? Jika saja aku tahu apa yang paling diinginkannya, maka itulah yang akan aku berikan untuk Mamak.

 

Mamak paling suka melihat anak-anaknya ada di dekatnya. Itulah mengapa aku memutuskan untuk meninggalkan segala cita-citaku saat itu, dan kembali ke kampung halamanku. Pekerjaan menjadi seorang guru yang merupakan impianku sejak dulu, bersama usaha jahitku yang kurintis dengan tanganku sendiri, akhirnya kutinggalkan. Saat itu aku tak peduli, apakah akan ada pekerjaan pengganti yang lebih baik sepulang nanti, yang kutahu tak akan ada pengganti yang lebih baik dari seorang Mamak.

 

Mamak juga paling suka melihat anak-anaknya memakan setiap masakannya dan menghabiskan teh buatannya. Maka jangan heran jika aku tak pernah hafal berapa banyak restoran terbaik di kotaku, karena aku hanya tahu di rumah lah hidangan istimewa selalu disajikan, sekalipun hanya sayur daun ubi yang ditanam di pekarangan depan rumah.

 

Dan lagi, Mamak paling suka mencuci dan menyeterika baju anak-anaknya. Hingga Mamak jauh lebih bersemangat ketika aku membelikannya sabun cuci dan pewangi, bukan baju, perhiasan ataupun kosmetik yang tak pernah semangat untuk dikenakannya.

 

Tapi Mamak paling marah jika ada seseorang yang mengambil perhatian anak-anaknya. Jangankan ada kawan kami yang datang, bahkan mendengar ada seseorang yang menelponku pun Mamak akan marah dan memaki siapapun yang ada di sekitarku.

 

Dulu, aku pikir, hal yang paling membahagiakan untuk Mamak adalah melihat anak-anaknya menikah. Tapi tidak! Mamak tidak pernah tahu jika kakak-kakakku sudah menikah, karena Mamak tak pernah dihadirkan di hari pernikahannya. Aku tahu mungkin kalian pikir kami terlalu kejam, tapi kami juga tidak ingin jika kehadiran Mamak akan merusak acara pernikahan mereka, karena Mamak pasti akan marah dan mengamuk sejadi-jadinya.

 

Jika dulu banyak yang bilang, “Mamak gila!”, aku selalu bilang, “Tidak, Mamak hanya lupa!”

Jika kata dunia medis, “Mamak harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa”, kami juga bertahan, “Tidak! Mamak akan sembuh!”

Dan Jika kata ‘orang pintar’, “Mamak kena gangguan!”, kami tetap bertahan, “Mamak akan baik-baik saja!”

 

Tapi kini aku semakin menyadari, bahwa mungkin mereka benar, dan kini kami akan berusaha membuat Mamak seperti dulu. Dan impian terindahku adalah, aku akan membuat Mamak sembuh, seperti saat aku masih SD. Saat dimana Mamak masih bersemangat pergi ke pasar, berjualan nasi dan mengambil rapot kami di setiap kenaikan kelas.

 

Dan tentu saja, melihat Mamak ada disampingku suatu hari nanti, dengan gaun indah yang sengaja kupersiapkan untuknya, berdiri tersenyum menyalami tamu, memberikan restunya untukku dan menyeka air mataku yang kuyakin pasti akan luruh. Menyadari telah ada seseorang yang telah dikirimkan Allah untuk menjagaku, bukan mengambilku darinya seperti yang selalu dikhawatirkannya. Lalu melihat senyum terindahnya di hari itu, karena tahu, aku tak pernah meninggalkannya….

3 responses

  1. Subhanallah…
    Once again, Can I hold you? Give you a huge hug…
    And again… I couldn’thold my tears…

    November 21, 2010 pukul 19:24

  2. ah ternyata dirimu bisa menjahit yaa?

    semoga semua pengorbananmu terbayar olehNYA,..

    dan semoga mamak bisa kembali seperti semula..

    terlebih saat hari bahagiamu sahabatku🙂

    *bertahan untuk tidak menangis disetiap postinganmu*

    November 22, 2010 pukul 13:36

  3. ini nyata ya neng,,, (^_^)

    kasih ibu adalah yang terindah,,,
    berdoa yang terbaik untuk mu,,,

    November 24, 2010 pukul 15:54

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s