…. jejakku, cintaku ….

Posts tagged “sejarah

Jejak Sejarah Keperawatan Pada Masa Rasulullah SAW

Oleh : Reza Indra Wiguna,S.Kep.Ns (HELP-S Jawa Tengah)

Jika kita melihat perkembangan dunia sekarang, arus update informasi merupakan hal yang sangat utama dalam suguhan masyarakat dunia, namun bagaimana dengan informasi yang telah lampau atau sejarah dimasa silam yang tak terkuak hingga saat ini. Hakikatnya sejarah merupakan pengetahuan yang termasuk kategori tsaqafah, dan sangat dipengaruhi oleh ideologi dan pandangan hidup tertentu. Sejarah memberikan kepada seseorang lebih dari sekedar informasi, ia menyusun cara berfikir seseorang saat ini dan menentukan langkah apa yang akan di ambil pada masa yang akan datang. Saat ini terjadi degradasi pengetahuan ummat terhadap sejarah Islam di masa kegemilangan sistem khilafahnya, hal ini tidak terlepas dari peranan media kapitalisme di barat, dengan rekayasa sekulerisme yang sengaja menyembunyikan sejarah ke-emasan Islam. Tidak luput pada sejarah, kita tenggelam dalam membanggakan sejarah mereka, baik dari segi keilmuan atau pun para tokohannya. Yang paling menyedihkan adalah banyak rujukan dari Barat yang memutarbalikkan fakta sejarah. Akibatnya, ilmuan-ilmuan muslim dalam bidang sains tidak jarang kita ketahui.

Kita mungkin pernah mendengar nama para ilmuwan muslim dibidang kesehatan pada era kegemilangan sistem kekhilafan Islam Golden Age Periode, sebut saja Abu Muhammad bin zakaria Ar-Razi (864-930) ilmuwan islam dalam bidang kedokteran, Ibnu Al Haitsami atau Al-Hazen (965 M) ilmuwan dibidang optik cahaya, adalah Abu Qosim Al-Zahrawi atau Abulcasis (930 M) seorang ilmuwan ahli bedah terkemuka di masanya. Dunia mengenal Ibnu Sina atau Avicenna (1037) yang menulis kaidah kedokteran modern The Cannon (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran Barat). Dan ada banyak lagi tokoh-tokoh ilmuwan muslim dalam dunia sains dengan spesifikasi dan sumbangsih yang telah terbukti sehingga dijadikan rujukan negara barat selama berabad-abad, disaat yang bersamaan eropa tenggelam dalam kegelapan Dark Age.

Dari sekian para ilmuwan dan tokoh dibidang kesehatan, yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tokoh perawat pertama dalam Islam, mumarridah al-Islam al- Ula. Yang namanya menjadi penulisan para sejarah keperawatan islam, sosoknya memberi banyak inspirasi dalam dunia keperawatan.

Adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Rufaidah berasal dari Bani Aslam, salah satu marga dari suku Khazraj di Madinah. Ia dilahirkan di Yastrib (Madinah) dan tumbuh disana sebelum hijrah. Dia termasuk kelompok muslim pertama dari Bani Aslam. Dialah salah satu perawat pertama dalam Islam. Dialah orang yang pertama kali melakukan pengobatan dan perawatan kepada para sahabat yang terluka di medan jihad. Dia pula yang perempuan pertama yang meminta kepada rasul untuk ikut serta dalam peperangan untuk sekedar membantu para sabahat yang terluka.

Dalam buku “Rufaidah Awwalu Mumarridah fi al Islam” karya Ahmad Syauqi al- Fanjari. perawat pertama Islam itu adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Dia-lah perempuan pertama yang berkonsentrasi terhadap pekerjaan paramedik. Rufaidah bekerja di samping masjid Nabawi dengan mendirikan pusat kesehatan (sejenis tenda pengobatan). Obsesinya untuk berjihad semakin kuat, tentu berjihad dengan keterampilannya dalam bidang keperawatan dan pembuatan ramuan yang diracik oleh tangannya sendiri. Ketika masa perang datang, dia mampu menghimpun dan mengornisir perempuan untuk menjadi pelayan pengobatan disaat perang. Adapun beberapa perang yang sempat diikutinya seperti: di perang Badar, Khaibar, Khandak dan beberapa perang lainnya (lih–Ahmad Syauqi al-Fanjari, 2010: ii; ket. lanjut, lihat Sirah Ibn Hisyam).

Dia-lah yang pertama mendirikan rumah sakit lapangan di medan peperangan, dimana tenda berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada perang khandaq saat tentara al-ahzab mengepung madinah, Rufaidah mendirikan tenda disekitar medan pertempuran. Rasulullah Saw pernah memerintahkan untuk memindahkan seseorang sahabatnya bernama Sa’ad ibn Mu’adz ke tenda Rufaidah agar diberi pertolongan, karena pada waktu itu Sa’ad terkena panah pada lengannya. Pada peristiwa tersebut Rasulullah saw menemui sahabat yang sedang terluka dikemah Rufaidah beberapa kali dalam sehari. Tak heran pula sebutan itu terkenal luas pada pasukan kaum muslimin, menjadi tenda pertolongan pasa masa perang dengan nama “Khaimah Rufaidah” (Tenda Rufaidah), (lih–Ahmad Syauqi al- Fanjari, 2010: iii).

Menurut Prof. Omar Hasan K, dalam sebuah konfrensi “Paper Presented at the 3rd International Nursing Conference “Empowerment and Health: An Agenda for Nurses in the 21st Century” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 1998, mengungkapkan bahwa Rufaidah adalah perawat profesional pertama di masa sejarah Islam. Ia hidup di masa Nabi Muhammad SAW di abad pertama hijriyah, jauh sebelum masa Florence Nigtingale yang dikenal dengan pelopor keperawatan modern. Omar Hasan menggambarkan Rufaidah sebagai perawat teladan, baik dan bersifat empati. Rufaidah juga dikenal sebagai seorang organisatoris yang mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain.

Pengalaman klinisnya pun dia bagi pada perawat lain yang dilatih dan bekerja dengannya. Dia tidak hanya melaksanakan peran perawat dalam aspek klinikal semata. Namun Rufaidah adalah perawat dan pekerja sosial yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam. Dalam sejarah Islam tercatat beberapa nama yang bekerja bersama Rufaidah seperti Ummu Ammara, Aminah binti Qays Al-Ghifariyat, Ummu Ayman, Safiyah, Ummu Sulaiman, dan Hindun. Di masa sesudah Rufaidah, ada pula beberapa wanita Muslim yang terkenal sebagai perawat. Di antaranya Ku’ayibah, Aminah binti Abi Qays Al-Ghifari, Ummu Atiyah Al-Ansariyah, Nusaibah binti Ka’ab Al-Maziniyah, dan Zainab dari kaum Bani Awad (Omar Hasan, 1998).

Rufaidah adalah sejarah terbaik dan teladan bagi para profesi perawat dan dokter. Sekalipun Rufaidah bisa membuat ramuan obat untuk pengobatan, namun oleh para sejarawan Rufaidah tidak disebut sebagai tabib (dokter–saat ini), tetapi dikenal sebagai perawat. Bahkan para penulis sejarah menyebut Rufaidah sebagai Mumarridah al-Islam al- Ula (perawat pertama wanita dalam sejarah Islam). Selain aktivitasnya sebagai perawat, Rufaidah juga memiliki banyak aktivitas yang luas. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh sejarawan handal Ibn Kasir mengungkapkan tentang aktivitas Rufaidah “Ia (Rufaidah) mencurahkan seluruh jiwanya untuk memberikan pelayanan kepada orang yang kehilangan, yakni setiap orang membutuhkan pertolongan dan bantuan, seperti: fakir miskin, anak yatim, serta orang-orang yang tidak mampu”. Aktivitas sosialnya tampak pada proses pendidikan yang dilakukan untuk anak-anak yatim, memberikan pelajaran agama, dan mengasuh mereka. Tidak heran pada zaman Rasulullah, para sahabat dan sahabiyah melakukan sambutan terhadap anjuran Rasulullah saw tentang tolong menolong dan keutamaan mengasuh anak yatim. “Barang siapa memlihara seseorang atau dua orang-anak yatim, kemudian ia bersabar dengan anak yatimnya, maka diriku dan dia seperti ini (sambil merapatkan dua jari tangannya)” (H.R. Muslim).

Di samping kegiatan tersebut, Rufaidah rutin melakukan semua tugas paramedik seperti: merawat dan melayani pasien, memberikan bantuan pada medan perang, mengangkut para korban yang terluka serta syahid. Nama Rufaidah terus terngiang hingga saat ini. Seperti tertulis di laman web RCSI – Medical University of Bahrain, tiap tahun Universitas Bahrain tersebut selalu memilih seorang murid untuk menerima penghargaan dalam bidang keperawatan bernama Rufaida al-Aslamia Prize in Nursing.

Sumber : http://helpsharia.com

Iklan

Rasulullah dan Intelijen yang Berakhlaq

Pernah menonton film Enemy of the state? film yang bercerita tentang kehebatan agen rahasia NSA (National Security Agency). Film yang bercerita seputar intrik-intrik spionase, serta kecanggihan peralatan penyadapan ini dimainkan Will smith (sebagai Robert Clayton).

Dalam cerita, pengacara kulit hitam Clayton diburu secara membabi-buta oleh intel NSA karena telah menyimpan informasi penting tentang pembunuhan. Dengan alat-alat deteksi canggih, Clayton diburu selama 24 jam penuh oleh agen NSA. Tanpa disadari, sekujur tubuhnya sudah dipasangi alat penyadap canggih. Mulai pulpen, sepatu, jas, arloji dan kancing celana. Bahkan untuk kepentingan intelijen pula, aparat-aparat intel itu harus membunuh siapa saja yang ditemui jika dianggap perlu.

Intelijen merupakan salah satu unsur dari manajemen yang telah digunakan oleh manusia sejak zaman prasejarah. Ilmu intelijen bahkan berkembang menjadi salah satu unsur manajemen perang sejak 400 tahun sebelum masehi.

Salah satu tugas pokok dari intelijen adalah kemampuan menggambarkan perkiraan keadaan yang akan terjadi secara tepat, sehingga selain mendapatkan informasi penting juga diharapkan mampu memenangkan peperangan. Selain itu, fungsi intelijen juga memperkecil resiko yang timbul baik terhadap manusia (pasukan) maupun peralatan (logistik). Kirka secara sederhana mencakup empat hal penting, yakni terhadap pasukan sendiri (intern), terhadap pasukan lawan, terhadap medan atau lokasi di lapangan dan terhadap cuaca.

Dalam perkembangannya, kegiatan mata-mata seperti ini telah melahirkan teknologi dan peralatan informasi yang begitu canggih. Dalam Perang Dunia (PD) II, misalnya, bahkan pernah dikenal tehnik Radio Direct Finding (RDF), teknik yang dipakai untuk melacak sinyal pemancar-pemancar “clandestine”.

Dinas rahasia Jerman dan Swiss pernah juga pernah menggunakan perangkat teknologi RDF, memaksa pemancar-pemancar lain untuk menghilang dari udara dengan jalan memancarkan sinyal super kuat. Taktik yang dipakai armada Jerman adalah menyebarkan kapal-kapal selam kecil yang dikenal dengan u-boatratusan mil menyeberangi samudra untuk mencari konvoi kapal perang musuh. Bila sebuah konvoi berhasil dideteksi u-boat, maka pesawat radio u-boat mengabarkannya dan tentu saja juga kepada u-boat lain yang berdekatan. Intelejen Naval sekutu mampu melakukan RDF terhadap pancaran dari u-boat yang memberi probabilita 50% bahwa u-boat tersebut berada dalam radius diameter 100 mil laut. Perangkat RDF yang dipasang pada kapal-kapal konvoi memastikan lebih baik hasil-hasil DF bahkan intelejen Naval dapat menginformasikan saat-saat u-boat tersebut muncul ke permukaan laut dan di sana sebuah pesawat tempur yang dilengkapi radar telah siap menantika kehadiran ‘sang musuh’.

Inti dari pekerjaan intelijen adalah memenangkan informasi. Dalam doktrin militer, informasi merupakan bagia integral dari komando dan kendali yang merupakan kunci setiap operasi. Dulu, konsep intelijen hanya sebatas tentang penginderaan di batas-batas wilayah, kegiatan lalulintas manusia, kapal laut dan udara, sistem deteksi dan peringatan dini atau radar surveilance untuk di darat, laut dan udara. Termasuk remote sensing dan sistem navigasi udara.

Di era 90-an, dengan kemajuan teknologi komputer melahirkan konsep Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer dan Intelijen (K4I). Tetapi, belakangan ini, konsep baru yang diterapkan adalah; Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, dan Manajemen Pertempuran (command, control, communications, computers, intelligence and battle management) atau sering disebut (K4I/MP). Ini menunjukan, teknologi baru dalam penerapan teknik berperang juga menggunakan prinsip manajemen. Yakni manajemen pertempuran. Karenanya, di era modern, infrastructure telecommunication and computer network begitu amat berharga.

Semenjak perkembangan teknologi informasi menjadi sangat pesat, maka barang siapa menguasai informasi, menguasai dunia. Inilah yang mendorong negara adi daya untuk berlomba-lomba memasuki medan peperangan yang baru yaitu perang informasi terutama dengan memanfaatkan media masa dan jaringan informasi global. Karena itulah, wajar bila mantan presiden AS, Ronald Reagan pernah mengeluarkan gagasan ‘Perang Bintang’.

Kemajuan teknologi informasi menyebabkan terjadinya pergeseran konsep memenangkan perang. Janganlah heran bila kemudian Amerika Serikat (AS) tiba-tiba memiliki data foto satelit tiga dimensi tentang kondisi Propinsi Aceh Darussalam (NAD). Foto satelit, adalah diantara teknologi informasi modern yang dipakai dalam dunia intelijen.

.

Intelligence tapi tak pintar

Intelijen adalah ilmu penting yang dibutuhkan masyarakat semenjak dahulu. Sebagai kebutuhan masyarakat atau atas nama negara, pelaku intelijen tak hanya diharapkan mampu berbahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Tagalog, Thai, dan Vietnam sebagai layaknya materi wajib yang diajarkan di Institut Intelijen Negara. Atau sekedar teknik-teknik pengintaian, fotografi rahasia, keamanan teknologi informatika, penggunaan senjata-senjata kecil dalam ‘Sarana Latihan Khusus’ seperti yang dikelola BIN, yang ada di Pejaten dan Cipayung Jakarta atau International School of Intelligence yang ada di Batam. Intelijen yang sejati –tak sekedar teknik-teknik dan berbagai keahlian—tetapi berangkat dari akhlaq yang baik.

Intelijen sebenarnya diambil dari kata intelligence yang berarti kecerdasan. Tapi dalam prakteknya mereka benar-benar tak mencerminkan pengertian itu. Intelijen mengalami cidera dan stigma yang benar-benar negatif karena fungsinya tidak benar-benar diterapkan sesuai namanya.

Sudah lazim, jika dalam perkembangannya, intelijen diterapkan dan dikembangkan melalui tipu muslihat dan strategi politik. Cara-cara seperti; penggalangan, rekrutmen, pembinaan, penugasan dan pembinasaan terus diterapkan layaknya sebuah mesin kekejaman para penguasa. Cara-cara seperti itu pernah dipakai BAKIN untuk merekayasa terhadap kader-kader Masyumi dengan merekayasa adanya kebangkitan “Neo NII”.

Dengan kebijakan politik kooptasi, konspirasi dan kolaborasi rekayasa intelejen –galang, rekrut, bina, tugaskan dan binasakan—diterapkan pada gerakan NII sejak tahun 70-an bahkan berlanjut hingga kini.

Melalui cara kooptasi, Ali Murtopo kemudian merekrut Danu Moh. Hasan (mantan panglima divisi gerakan DI-TII). Danu kemudian dikaryakan di lembaga formal Bakin di Jalan Raden Saleh 24 Jakarta Pusat.

Para infiltran dan kader intelejen militer juga menyusup ke dalam gerakan ummat Islam Indonesia yang berlangsung sejak Orde Baru di bawah Soeharto. Melalui Ali Moertopo, intelijen melakukan gerakan pembusukan dalam tubuh gerakan-gerakan Islam. Maka muncullah kasus “Komando Jihad” (Komji) di Jawa Timur pada tahun 1977. Tahun 1981 BAKIN juga sukses menyusupkan salah satu anggota kehormatan intelnya (berbasis Yon Armed) bernama Najamuddin, ke dalam gerakan Jama’ah Imran yang kemudian lahir kasus “Imran”. Juga kasus-kasus rekayasa kejam intel seperti kasus “Woyla”.

Dalam konsep pertahanan keamanan (nasional maupun internasional), tugas badan intelijen secara umum adalah memberikan dukungan penuh kepada negara atau pemerintah untuk mengumpulkan informasi mengenai strategi musuh. Lembaga ini kemudian bertugas memberikan laporan mengenai keamanan nasional dan internasional, masalah sosial, politik, ekonomi, dan militer domestik maupun pihak asing. Baik dengan menggunakan berbagai teknik atau strategi informasi yang canggih dan kreatif.

Namun sayangnya, pekerjaan-pekerjaan intelijen sering paralel dengan nafsu penguasa hanya sekedar mempertahankan kekuasaannya. Karenanya, yang berkembang kemudian justru para petugas intelijen sibuk mengawasi musuh politik penguasa bahkan sibuk memata-matai rakyatnya sendiri. Meski mereka dibayar negara dari hasil pajak yang dikumpulkan dari rakyat. Untuk kekuasaan dan politik, mereka bisa menciduk, bahkan harus rela mengilangkan nyawa orang.

Di zaman Nazi Jerman, pencidukan dilakukan oleh Gestapo tidak tedeng aling-aling. Pintu digedor, manusianya diangkut ke tempat tahanan diinterograsi, digebuk, disetrom dan dipaksa mengaku meski tidak pernah melakukan. Di zaman Stalin, NKVD/KGB melakukan teror pada malam hari. Jika malam hari pintu rumah diketok orang, dan jika sang tamu sudah memperlihatkan kartu merah (tanda pengenal KBG) tanpa debat, orang tersebut diapit aparat menuju mobil hitam dan membawanya ke tempat tahanan. Biasanya, mereka yang dibawa KGB dan tidak akan pernah pulang kembali. Di Chili, perempuan yang diciduk tidak hanya disiksa tapi malah dalam keadaan tangan-tangan dan kaki-kaki diikat dibiarkan disetubuhi oleh anjing herder yang khusus terlatih.

Di kamp eksukusi Siberia, agen intelijen bisa menjadikan orang dan tahanan didomisilikan di rumah sakit gila, untuk dijadikan orang gila.

Kasus “Jama’ah Islamiyah” (JI) yang mampu menyeret nama Ustad Abubakar Ba’asyir menggoreskan nama penting anggota BAKIN, Abdul Haris, Lc, yang menyusup ke dalam anggota Mejelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Meski belum jelas bersalah apa tidak, cara kerja intelijen telah menyudutkan dan merugikan banyak kelompok orang dan berbagai organisasi. Cara-cara memperlakukan ‘tersangka’ tak pernah dipikirkan akibatnya. Apakah kelak nasib anak dan keluarganya atau sahabat-sahabatnya. Bahkan terkadang, hanya karena kenal dekat, orang bisa diciduk, dipenjarakan beberapa minggu, kalau perlu digebuki. Jika kemudian tak terbukti, terangksa dikembalikan dengan alasan, “tersangka hanya dikenakan beberapa pertanyaan”. Polisi tak pernah menjelaskan pada pers mereka tak bersalah. Sedangkan, anak dan keluarganya di rumah telah ‘dihukum’ masyarakat dengan cap buruk ‘teroris’ sepanjang hidupnya.

Intel-intel masa kini, tak pernah banyak mengerti agama. Memburu orang-orang yang dianggap merugikan banyak orang akibat tindakan ‘terorisme’ adalah perbuatan baik. Tetapi melukai perasaan orang dan keluarganya karena salah sasaran ‘terorisme’ justru dosa besar.

Rekayasa, adu domba, dan pembusukan, adalah kenangan buruk –khususnya terhadap umat Islam– terhadap cara kerja intelijen masa kini. Bahkan umumnya, dunia intelejen di zaman modern, dianggap sangat kejam, sadis, dan tak bermoral. Lebih kejam dari pelaku teror itu sendiri.

Ingat kasus Abu Jihad, seseorang yang telah mengabdikan diri kepada kepentingan intelejen Indonesia (BIN dan BAIS) justru bernasib tragis. Ia dieliminasi akhir Februari tahun 2003 di Ambon melalui sebuah eksekusi –yang kabarnya– oleh sebuah operasi intelejen, oleh lembaga yang telah merekrutnya. Kejam bukan?

.

Intelijen yang Berakhlaq

Islam telah mengenal fungsi intelijen 1400 tahun, setelah Muhammad menjadi Rasul. Meski secara teknologi kalah dibanding zaman modern, dasar-dasar intelijen yang telah dikenalkan oleh Rasulullah Muhammad SAW jauh lebih berakhlaq.

Bulan Jumadil Akhir 1424, seorang sahabat bernama Abdullah bin Jahsy Asady, beserta dua belas sahabat dari kalangan muhajirin diperintahkan Rasulullah berangkat untuk menjalankan sebuah operasi intelejen rahasia. Ikut dalam rombongan itu Sa’ad bin Abi Waqqash dan ‘Utbah bin Ghazwan. Rasulullah SAW memberinya sebuah surat yang boleh dibaca jika perjalanan mereka sudah mencapai dua hari.

Setelah dua hari dalam perjalanan, sang komandan, Abdullah bin Jahsy kemudian membuka isi surat tersebut. Isinya, tak lain adalah sebuah perintah untuk memata-matai musuh: “Berangkatlah menuju Nikhlah, antara Mekkah dan Tha’if. Intailah keadaan orang orang Quraisy di sana dan laporkan kepada kami keadaan mereka.” Selepas membaca surat itu, Abdullah bin Jahsy dan para rombongan kemudian berujar, “Kutaati perintah ini!”

Kemudian diceritakanlah isi surat Rasulullah tersebut kepada para sahabatnya yang lain seraya berkata, “Rasul Allah telah melarang aku memaksa seorang pun dari kalian. Siapa yang ingin mati sebagai pahlawan syahid, marilah berjalan terus bersama aku, dan siapa yang tidak menyukai hal tersebut hendaklah dia pulang…!”

Muhammad adalah panglima perang sejati. Saat melalukan pembebasan negeri Mekah dari suku Quraisy, Nabi Muhammad –ketika itu berencana—akan mengerahkan 10.000 pasukan tentara Muslim. Untuk mempertahankan ‘serangan mendadak’ ini, Rasulullah kemudian melepaskan petugas intelijennya menuju Mekah yang ditugaskan mengacaukan informasi pada musuh agar mereka tidak mengerti bila pasukan Islam yang berencana melakukan serangan mendadak itu jumlahnya banyak.

Untuk kepentingan intelijen dan kerahasiaan militer, Nabi Muhammad bahkan menyimpa rapat-rapat informasi jumlah pasukan ini bahkan kepada istri tercinta Siti Aisyah atau pada sahabat kepercayaannya sendiri, Abu Bakar Ash Shidiq.

Esoknya, dalam penyerangan mendadak itu kau kafir Quraisy benar-benar kelabakan dan kedodoran. Mereka tak menyangka di pagi hari buta itu, telah datang puluhan ribu orang dari pasukan Islam di kota Mekah. Tanpa persiapan, mereka kemudian menyerah. Muhammad paham, orang Quraisy tak akan melakukan perlawanan. Sebab, di tangannya, Rasulullah telah menguasai informasi kekuatan musuh, situasi yang bakal terjadi, hingga informasi logistik, menyangkut keadaan jalan-jalan yang akan dilalui pasukan Islam dan kondisi mata air. Detil, rapi dan rahasia. Itulah strategi Muhammad dalam menjalankan perang dan intelijen.

Bedanya, Nabi Muhammad tak pernah mengajarkan kerja-kerja intelijen yang keluar dalam akhlaq Islam sebagaimana halnya gaya intelejen modern sekarang ini. Muhammad tak pernah memerintahkan pasukan pengintainya untuk melakukan fitnah terhadap musuh, menculik atau menghilangkan nyawa orang tanpa alasan syar’I. Jauh berbeda dengan intelijen Indonesia atau CIA seperti ratusan kasus-kasus rekayasa jahatnya terhadap umat Islam selama ini.

.

Misi Rahasia 

Rasulullah juga pernah melakukan operasi intelijen dan misi rahasia ke pasukan musuh. Seorang sahabat Abdullah bin Unis dikirim Rasulullah menyusup masuk ke dalam pusat kekuatan musuh. Sasaran utama misi itu adalah Bani Lihyaan dari Kabilah Huzail yang dipimpin oleh panglima mereka, Khalid bin Sofyan El Hazaly.

Misi ini dilakukan karena umat Islam mendapatkan kabar bahwa Khalid bin Sofyan El Hazaly tengah berupaya mengadakan pemusatan kekuatan pasukan gabungan kaum kafir yang cukup besar di daerah Uranah untuk menyerang Islam. Karena itu, Rasulullah mengirim Abdullah bin Unis untuk melakukan misi pengintaian sekaligus penyelidikan untuk membenarkan kabar berita tersebut.

Abdullah kemudian berangkat dan melakukan menyamaran. Tak terduga, di tengah jalan, Abdullah bertemu Khalid yang ditemani beberapa wanita dan pasukannya. Khalid kemudian menyapa Abdullah, “Hai laki-laki, siapa gerangan Engkau?”

Jawab Abdullah, “Saya adalah laki-laki Arab juga. Saya mendengar bahwa engkau telah memusatkan kekuatan pasukan untuk menyerang Muhammad. Apakah benar demikian?” tanya Abdullah. Dan tanpa curiga, Khalid membenarkan rencananya itu. Abdullah meminta diperbolehkan bergabung dan meminta dizinkan menemani Khalid. Tanpa curiga, Khalid mengizinkannya. Suatu kali, Abdullah mendapatkan Khalid sendirian dan terpisah dari pasukan utamanya. Abdullah tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, secepat kilat, Abdullah kemudian menyergap Khalid dan membunuh pemimpin kaum kafir itu dengan pedangnya. Peristiwa itu membuat kaum kafir gempar. Pasukan musyrikin geger dan urung menyerang umat Islam karena diketahui pemimpinnya telah tiada. Abdullah kemudian pulang ke Madinah setelah melakukan misi rahasianya.

.

Propaganda dan Tipuan 

Dalam misi intelijen Rasulullah juga pernah melakukan propaganda untuk memperlemah kekuatan musuhnya. Dalam kisah, pernah suatu ketika kekuatan musuh gabungan porak-poranda dan bercerai-berai akibat tidak adanya kekompakan diantara mereka akibat propaganda yang dilancarkan Nu’aim bin Mas’ud Al-Ghathafany, mantan musuh yang kemudian bergabung ke pasukan Islam. Nu’aim melakukan psyco war (perang urat syarat) dan propaganda yang membuat kekuatan musuh goyah dan bercerai-berai.

Rasulullah juga pernah melakukan tipuan yang kratif untuk mengecoh lawan dalam peperangan. Suatu kali, ketika Rasulullah berencana akan berperang dengan kaum Quraisy. Di sebuah tempat, di Marru Dzahraan, tempat Rasulullah dan pasukannya bermarkas, beliau memerintahkan seluruh pasukannya menyalakan obor.

Nyala obor 10.000 orang pasukan Islam itu kemudian bercahaya ke seluruh penjuru kota hingga kaum Quraisy melihatnya dari kejauhan. Melihat cahaya api pasukan Islam, Abu Sofyan berkata, “Belum pernah saya melihat malam seperti terbakar ini dan belum pernah pula saya melihat ada pasukan seperti ini!” Cerita itu kemudian cepat tersebar dari mulut ke mulut hingga sampai ke para pemimpin kaum Quraisy dan pasukan kafir.

Akibat taktik itu, Rasulullah berhasil mengecoh lawan dengan mengesankan pasukan muslimin luar biasa banyaknya hingga membuat nyali pasukan musuh menjadi ciut. Sebagaian kaum kafir bahkan berlarian memeluk Islam agar aman, sebagian lainnya tetap melawan meski sudah tak lagi memiliki keberanian akibat sudah kalah secara psikologis. Dan Rasulullah akhirnya mampu menguasai Mekah tanpa ada perlawanan yang berarti.

Nabi tak pernah melibatkan orang-orang yang tidak berasalah untuk dilibatkan dalam perang. Apalagi orang tua, wanita atau anak-anak. Ini berbeda dengan gaya kerja intel kita yang meniru intel CIA atau BIN yang bisa menjerat keluarga atau istri korban dengan UU Anti-Terorisme. Bahkan karena bernafsu memburu korban, intel-intel kita bisa melibatkan apa saja yang pernah dekat dengan si korban. Termasuk melibatkan teman dekat, kenalan hanya karena nama-nama kerabatnya ada di nomor HP “si korban”.

Staf intelijen Rasulullah umumnya adalah perwira-perwira yang amanah dan berakhlaq tinggi. Mereka adalah orang yang memiliki integritas tinggi, kuat dalam ibadah, amanah memegang kejujuran, taat kepada perintah Rasul dan tidak keluar dari Al-Qur’an dan Sunnah. Intel gaya Rasulullah jauh antara langit dan bumi dibanding intel gaya CIA bahkan BIN sekalipun.

Ketika Abdullah bin Jahsy mendapat perintah pengintaian langsung dari Rasulullah di kota Nikhlah, dekat Mekah dan Tha’if, komandan intel ini bahkan tak melakukan pemaksaan kepada anggota intel yang lain. “Rasul Allah telah melarang aku memaksa seorang pun dari kalian. Siapa yang ingin mati sebagai pahlawan syahid, marilah berjalan terus bersama aku, dan siapa yang tidak menyukai hal tersebut hendaklah dia pulang…!”

Santun itulah akhlaq sfat intel Rasulullah. Dan akhlaq dalam strategi perang dan intelijen Rasulullah itu sudah diajarkan hampir 14 abad lalu.

Berbeda dengan intel-intel kita meski kejadiannya sudah dikatakan abad modern. Intel-intel modern justru berusaha memojokkan orang, kelompok atau organisasi tertentu. Intel Rasulullah juga tidak akan melakukan rekayasa-rekayasa licik yang merugikan masa depan orang lain atau kelompok tertentu. Kecuali melalukan strategi dan taktik di medan perang. Bedanya, intel kita bisa memata-matai rakyatnya sendiri dan melalukan rekayasa-rekayasa tak terpuji –bahkan perintahnya justru dari negara lain– seperti negara semacam Amerika Serikat (AS)

.

Intel Nabi dan Intel zaman Komji

Juni tahun 2002, sebuah peristiwa penting terjadi di Masjid Raya Bogor. Seorang pria keturunan Timur Tengah, ditangkap karena pelanggaran dokumen imigrasi. Pria bernama Umar al Faruq,  yang pernah tercatat sebagai penduduk Desa Cijambu, Kecamatan Cijeruk, Jawa Barat, disebut-sebut TIME , punya hubungan dengan petinggi Al-Qaidah untuk kawasan Asia Tenggara.

Ia bahkan ikut dikait-kaitkan dengan  rencana pembunuhan Megawati, dianggap terlibat dalam peledakan bom di sejumlah kota di Indonesia pada malam Natal tahun 2000, serta merencanakan peledakan sejumlah sarana milik AS di Singapura dan Indonesia.  Siapa sesungguhnya Umar al Faruq? Tidak jelas hingga sekarang.

Selain Umar al Faruq, dalam kasus penangkapan tujuh tahun silam itu, tersangkut pula nama Abdul Haris, yang kemudian ikut dibebaskan oleh pihak intelijen. Kepada Majalah TEMPO, Haris mengaku bahkan sempat ikut mengurus paspor.  “Saya mengenal Faruq karena membantu menguruskan paspor isterinya, Mbak Mira,” ujarnya. Namun, penelusuran TEMPO menemukan indikasi kuat bahwa dia bukan sekadar “calo paspor”: dia orang BIN yang ditanam dalam Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Siapa Abdul Haris? Haris tak lain adalah pengurus di Departemen Hubungan Antar-Mujahid, sebuah posisi strategis yang mengatur hubungan antar-organisasi Islam di dalam dan di luar negeri.

Sebagaimana dikutip TEMPO dalam Edisi 25 November-1 Desember 2002, menyebutkan, Muchyar Yara, Asisten Kepala BIN Bidang Hubungan Masyarakat, mengaku Haris tak lain adalah seorang agen BIN yang telah “ditanamkan” untuk mengawasi gerak-gerik berbagai jaringan Islam, termasuk MMI.

“Haris adalah teman lama Hendropriyono sejak masih menjadi Panglima Daerah Militer Jaya, bahkan mungkin sejak masih kolonel. Hubungan antara Haris dan Pak Hendro (Jenderal TNI (Purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono, red) sebatas teman. Tapi, tidak benar Haris ikut ditangkap bersama Al-Faruq,” ujar Muchyar Yara kepada TEMPO.

Pria bernama lengkap Muhammad Abdul Haris adalah lulusan IAIN, pernah menempuh pendidikan di Madinah untuk meraih gelar Lc. Ia adalah perwira sebuah angkatan di lingkungan TNI dan melanjutkan studi ke Madinah, sebagai salah salah satu tugas yang harus ia jalankan.

Selama di MMI, Haris mengurusi pusat informasi. Ia kerap menyerahkan catatan yang disebutnya sebagai ‘info intelijen’ mengenai kasus Maluku dan Poso. Ia juga mengetahui aktivis Islam Indonesia yang pernah ikut berperang di Afghanistan. Meski aktif, anehnya, Haris selalu menghindar jika difoto. Karena itu, dalam dokumentasi MMI, gambar Haris tak pernah ada.

Soal Abdul Haris ini diakui pernah diakui Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Irfan S Awwas, suatu kali. Menurut Irfan, keberadaan Haris tiba-tiba hilang seiring ditangkapnya Umar al-Faruq dan dijebloskannya Ustad Abubakar Ba’asyir ke penjara.

“Sudah sekitar enam bulan Haris tidak aktif. Kami memang mendapat kabar bahwa dia seorang agen yang disusupkan, tapi kami tidak gegabah mempercayainya sebelum diklarifikasi,” ujarnya.

.

Rekayasa

Sejarah hubungan intelijen Indonesia dengan kelompok-kelompok rekaan dalam Islam bukan sesuatu yang baru. Dan bukan hal baru kalangan intelijen menanam agennya ke organisasi Islam dengan tujuan melumpuhkannya. Pernyataan ini pernah disampaikan Profesor Emiritus dari Universitas Washington, AS,  Prof. Dr. Daniel S Lev.

“Sejak masa Orde Baru, kelompok Islam selalu dipermainkan,” kata Daniel Lev. “Dari sudut pandang intelijen seperti BIN –dulu Bakin– orang-orang radikal Islam berguna sekali karena gampang digerakkan dan dipakai,” ujarnya dikutip TEMPO suatu ketika.

Dalam buku “Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Dan Peristiwa 15 Januari 1974”, oleh Heru Cahyono, (Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998),  secara rinci menjelaskan bagaimana peran-peran intelijen memainkan peran terhadap kaum Muslim.

Permainan intelijen terhadap kalangan Islam cukup terkemuka, ketika Opsus (Operasi Khusus) melalui Ali Moertopo melakukan rekayasa terhadap Parmusi (Partai Muslimin Indonesia), wadah aspirasi politik golongan Islam modernis yang berbasis masa  bekas partai Masjumi. Sementara terhadap Islam tradisional dilakukan penggalangan melalui organisasi massa GUPPI (Gabungan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam), yang mana selanjutnya secara efektif menggarap massa Islam tradisional untuk ditarik masuk Golkar.

Terhadap Islam, pemerintah Orde Baru dan Angkatan Darat khususnya, sejak awal menyadari mengenai kemungkinan naiknya pamor politik kekuatan Islam. Jatuhnya kekuatan ekstrim kiri PKI –yang kemudian secara formal diperkuat dengan keputusan pembubaran PKI—secara politis mengakibatkan naiknya pamor politik Islam sehingga terjadilah ketidakseimbangan (imbalance). Sayap Islam yang sedang mendapat angin, kemudian cenderung hendak memperkuat posisinya. Padahal disadari oleh Angtakan Darat ketika itu bahwa di dalam sayap Islam dinilai ada bibit-bibit “ekstrimisme” yang potensial.

Intelijen ketika itu berusaha ‘menghancurkan’ PKI, menekan sayap Soekarno, dan ‘mencegah’ naiknya pamor Islam. Tugas Opsus kala itu adalah menyelesaikan segala sesuatu dengan cara mendobrak dan “merekayasa”.

Dalam buku “Konspirasi Intelijen dan Gerakan Islam Radikal”,  (penyunting Umar Abduh 2003), kebijakan intelijen yang berpijak pada prinsip “kooptasi, konspirasi dan kolaborasi (galang, rektrut, bina, tugaskan, dan binasakan)” telah mampu ‘menjebak’ anggota NII. Intelijen juga berhasil melakukan ‘pembusukan’  Islam tahun 1977 dengan merekrut Danu Moh. Hasan dan Ateng Djaelani sebagai agen, yang akhirnya memunculkan kasus Komando Jihad (Komji). Danu yang semula divonis 10 tahun, dinyatakan bebas tahun 1979. Namun dikabarkan tewas diracun arsenikum. Intel juga dianggap menyusupkan Hasan Baw ke gerakan Warman tahun 1978-1979.

“Komando Jihad adalah hasil penggalangan Ali Moertopo melalui jaringan Hispran di Jatim. Tapi begitu keluar, langsung ditumpas oleh tentara, sehingga menjelang akhir 1970-an ditangkaplah sejumlah mantan DI/TII binaan Ali Moertopo seperti Hispran, Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad Hasan, serta dua putra Kartosoewiryo, Dodo Muhammad Darda dan Tahmid Rahmat Basuki.

Kelak ketika pengadilan para mantan tokoh DI/TII itu digelar pada tahun 1980, terungkap beberapa keanehan. Pengadilan itu sendiri dicurigai sebagai upaya untuk memojokkan umat Islam. Dalam kasus persidangan Danu Mohammad Hassan [tds] umpamanya, dalam persidangan ia mengaku sebagai orang Bakin. “Saya bukan pedagang atau petani, saya pembantu Bakin.” [Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Dan Peristiwa 15 Januari 1974, Tahun 1998].

Tahun 1981 Bakin (Sekarang BIN) sukses menyusupkan salah satu anggota kehormatan intelnya (berbasis Yon Armed) bernama Najammudien ke dalam gerakan Jama’ah Imran yang dikenal kasus pembacajakan pesawat Woyla.

“Pancingan” intel juga dianggap melahirkan kasus pembunuhan massal umat Islam yang dikenal “Peristiwa Tanjung Priok”, 12 September 1984. Tahun 1986, intel kembali dinilai melakukan rekayasa dengan memasukkan agennya bernama Syhahroni dan Syafki, mantan preman Blok M, dalam gerakan Usrah NII pimpinan Ibnu Thayyib. Alhasil, gerakan-gerakan “rekayasa” yang dimunculkan itulah yang akhirnya melahirkan stigma kekerasan dan gerakan ekstrim di kalangan Islam.

 .

Penyusupan

Intel di zaman Nabi juga mirip intel-intel zaman sekarang. Al kisah, setelah Kabilah Hauzan mendengar bahwa Mekah sudah dikuasai oleh kaum Muslimin, Malik bin Auf An Nashri, salah satu pemuka kabilah mengumpulkan para pemuka lainnya. Mereka sepakat melakukan penyerangan terhadap Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Seperti biasanya, sebelum berangkat mereka mengirim beberapa mata-mata. Akan tetapi, mata-mata itu gagal dan tercerai berai, karena berhadapan dengan seorang penunggang kuda yang tidak mereka kenal.

Sebaliknya, Rasulullah SAW telah mengirim Abdullah bin Abi Hadrad Al Aslami, untuk menyusup, dan bermukim di Hauzan. Selama tinggal di sana, beliau berhasil mendapatkan informasi yang berasal dari pembesar Hauzan, Malik bin Aufah An Nashri. Informasi itu menyangkut semua hal yang terjadi di sana, termasuk kesepakatan mereka untuk melakukan serangan kepada Rasulullah SAW.

Akhirnya, Rasulullah SAW memutuskan membawa 12 ribu pasukan menuju Hauzan. Sesampai di lembah Hunain, ternyata pasukan Musyrikin sudah menunggu terlebih dahulu, hingga berkecamuklah Perang Hunain pada tahun ke-8 setelah hijrah, pasca Fathu Mekah. Yang membedakan, intelijen di zaman Nabi tak pernah merekayasa untuk menjatuhkan reputasi seseorang –apalagi terhadap kelompok kaum Muslim— dibanding intelijen masa kini. Mungkin, itu adalah cerminan intel berakhlak dan tidak berakhlak.

 

Sumber : hidayatullah.com


Saat Sejarah ditangan Orang yang Salah

Manusia memang bisa salah, tapi manusia juga mampu berpikir apakah kesalahannya merugikan diri sendiri saja, merugikan segelintir orang atau merugikan begitu banyak orang. Berpikirlah, saat kau menuduh orang lain adalah pencuri tanpa terbukti, hingga membuat kalap siapapun yang mendengar, bahkan membakar sang tertuduh tanpa ampun, maka saat kau mengakui seluruh kesalahanmu, tak akan membuat jasadnya bangkit kembali.

Berpikirlah, saat kau menyebarkan kebohongan, hingga semua orang mengikuti semua kebohongan itu, maka kesalahanmu tak sekedar kebohongan dari mulutmu, tapi juga seberapa banyak yang terjerumuskan karena ucapanmu.

Sejarah, sungguh menakutkan jika berada di tangan orang yang salah. Penyelamat bisa disematkan pemberontak, lawan bisa dianggap kawan dan pahlawan, korban pun bisa dianggap tersangka, dan sebaliknya, tersangka pun bisa dianggap korban!

Pejuang Syariah dan Khilafah dengan dakwah pemikirannnya bisa dianggap teroris, penjual aset bangsa tanpa sisa bisa dianggap nasionalis, pembuat makar bisa dianggap penyelamat bangsa dan aktivitas jihad melawan kedzaliman kaum kuffar bisa dianggap pembunuh berdarah dingin!

Musuh-musuh Allah tak henti-hentinya membuat makar, tapi yakinlah, Allah akan membalas makar mereka, dan Allahlah sebaik-baik pembuat makar. Kebenaran laksana air mengalir, semakin ia dihambat, semakin cepat ia menemukan celah untuk mengalirkannya ke segala arah, hingga kebohongan akan kembali kepada mulut-mulut mereka.

Pejuang yang benar, belum tentu yang dielu-elukan media dan pemerintah, belum tentu yang mendapatkan penghargaan dari orang-orang asing. Dan bertahanlah, kau tidak serta merta salah ketika setiap orang menghujat setiap pemikiranmu, ketika pemerintah menghambat gerak langkahmu, dan ketika sejarah menutup rapat-rapat kebenaran yang ada padamu.

Bertahanlah, tak ada perjuangan yang tanpa pengorbanan, tapi juga tak ada perjuangan yang sia-sia. Kelak, Allah akan memperlihatkan sekat antara yang haq dan yang batil, ketika Allah merasa penderitaan para pejuangNya sudah maksimal dan upaya mencari pertolongan untuk melepaskan diri dari kedzaliman sudah pada kadar yang seharusnya. Bukankah pertolongan Allah jauh lebih dekat dari urat leher kita?

Wahai musuh Allah dan RasulNya, ketahuilah, kami mengenalmu lebih dari yang kau tahu, dan makar-makarmu membuat benih-benih perjuangan ini akan terus bersemi… tak terhenti…hingga maut menepi….

Allahuakbar!


Khilafah: Negara Global Utama

Sejak bom atom meletus di akhir Perang Dunia (PD) II, kejayaan imperium inggris resmi berakhir, dan babak dominasi Amerika pun dimulai. Sejak PD II, Amerika telah mendominasi dunia dengan kekuatan militer dan ekonominya. Namun, 50 tahun setelah itu Amerika tidak lagi menikmati kejayaannya sejak invasinya ke Irak dan Afganistan yang telah menghabiskan banyak sumberdaya. Krisis ekonomi global semakin membuat Amerika semakin terpuruk dan mulai bergantung pada intervensi Sosialisme untuk menggulirkan roda ekonominya kembali. Upaya ini pun ternyata gagal ketika Amerika mulai memasuki resesi kedua di bulan Juli 2010. Dengan demikian, keberadaan Amerika di dunia pun menjadi sulit untuk dipertahankan.

Perang Irak dan Afganistan telah membunuh banyak serdadu Amerika, dan 1 dari 9 serdadu mengalami gangguan mental. Paul Martin dari lembaga Peace Action mengatakan, “Saat ini ada 100,000 tentara. Sepertiga dari mereka menderita penyakit jiwa, separuhnya lagi menderita banyak penyakit.”

Militer Amerika melihat ada kenaikan jumlah serdadu yang dikeluarkan dari tugas sebesar 64% antara 2005 dan 2009. Angka ini sama dengan 1 dari 9 yang dibebastugaskan karena masalah kesehatan. Serdadu yang dipensiunkan karena mengalami masalah mental dan cacat fisik melonjak sekitar 174% dalam 5 tahun terakhir hingga 2009 menurut angka statistik resmi militer Amerika. Ini merupakan bukti jatuhnya moral pasukan Amerika dalam “Perang Melawan Islam”.

Amerika bukan merupakan adidaya yang dihormati, namun ia adalah adidaya yang mendominasi. Meski dibangun dengan teknologi yang terbaik dan rumit, Amerika secara etika, ekonomi, strategi dan politik adalah bangsa yang bisa dikatakan bangkrut. Penduduk Amerika sendiri tidak lagi yakin dengan pemerintahnya dan sistemnya sendiri. Bahkan fondasi ideologinya pun mulai dipertanyakan oleh rakyatnya sendiri. Dua puluh tahun setelah jatuhnya Tembok Berlin, survei oleh BBC menemukan ketidakpuasan mereka dengan sistem Kapitalisme Pasar Bebas (James Robbins, BBC, 9/11/2009).

Dalam survei global oleh BBC, hanya 11% responden dari 27 negara yang mengatakan bahwa Kapitalisme berjalan dengan baik. Demikian pula slogan ‘Perubahan’ yang digemakan Barack Obama di Amerika kini dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk. Dalam Pemilu 2009, Barack Obama menyambar rekor 76% dalam tingkat kepuasan warga Amerika dalam sejarah Amerika. Namun, ini tidak bertahan lama, karena kini hanya mendapatkan 42% saja. Kantor berita Fox justru memberitakan persentase yang lebih kecil, yaitu sekitar 30% saja, dan kaum kulit hitam muda bahkan mengutuknya sebagai ‘munafik’.

David S Mason (2009) dalam bukunya, Berakhirnya Abad Amerika, mengatakan, “Amerika kini berada di akhir periode kepemimpinan global dan dominasi yang kita nikmati selama 50 tahun. Negeri ini sudah bangkrut secara ekonomi. Kita kehilangan dominasi politik, ekonomi dan sosial. Kita tidak lagi bisa dibandingkan dengan negeri lain dan tidak lagi dikagumi sebagaimana dulu. Kita pun tidak lagi dianggap sebagai model ekonomi dan politik seperti dulu. Sungguh ini merupakan pergeseran global dalam sejarah dunia, baik bagi Amerika dan seluruh dunia.

Sebagai akibat dari kelemahan Amerika, tantangan pun datang dari negara pesaingnya sesama penganut Kapitalisme yang kini mulai bertambah besar dan kuat. Namun, negara-negara tersebut tidak akan mengancam supremasi Amerika karena mereka tidak memiliki visi ideologi yang berbeda dari Amerika. Meskipun Jerman dan Jepang memiliki kekuatan ekonomi, kedua negara tersebut tidak akan menguasai dunia karena ambisi mereka sudah hancur sejak PD II. Di lain pihak, negara seperti India lebih berkonsentrasi sebagai pemain regional untuk berperan sebagai pelayan kepentingan Amerika. Rusia, meskipun sering mengucapkan retorika anti Amerika, juga lebih berposisi defensif dalam menjaga wilayahnya.

Terakhir, Cina yang selama 5000 tahun merupakan penguasa regional dengan pertumbuhan ekonomi dan kemampuan militer yang luar biasa, juga tidak mampu mengubah dunia karena ia pun tidak memiliki ambisi global. Itulah sebabnya Amerika masih mampu menjadi satu-satunya negara global karena belum ada negara ideologis lain dengan jumlah populasi besar, ekonomi dan militer yang kuat, memiliki lokasi geografis strategis yang bangkit saat ini, yang berpotensi menjadi tandingan Amerika. Karena itu, tidaklah mungkin Amerika akan pecah seperti Uni Soviet atau berhenti begitu saja sebagai kekuatan global, sebagaimana terjadi pada Inggris selama tidak ada negara tandingan yang sebenarnya.

Cina, meskipun kekuatan ekonomi dan politiknya lebih maju ketimbang Rusia, pertumbuhan ekonominya sangat bergantung pada sumberdaya alam yang dimiliki Timur Tengah dan Afrika, serta pasar Amerika. Namun, asimilasi wilayah Cina akan sangat mudah dieksploitasi oleh Amerika ataupun negara lain yang memiliki ambisi global. Kegagalan Cina dalam menghadapi proyek Amerika, yaitu Taiwan, menunjukkan bahwa Cina memang tidak berambisi global. Lebih jauh lagi, Hongkong juga menikmati otonomi penuh. Hal ini mendukung absennya keinginan Cina untuk berambisi global. Propinsi Tibet seperti halnya Taiwan sedang dalam proses aneksasi. Lebih jauh lagi, pembantaian Muslim secara sistematik di Xinjiang mempersulit pembahasan integritas teritorial.

Faktanya, Cina selama 5000 tahun tidak lebih sekadar penguasa regional dan hingga saat ini pun tidak memiliki ambisi untuk menjadi negara yang paling berpengaruh di dunia. Cina pun dalam perjalanannya akan mengikuti pola Jepang dalam mencapai status kekuatan ekonomi. Namun perlu diingat, bahwa ekonomi tanpa tujuan politik dan ambisi global akan menjadikan negara itu menjadi pemimpin perdagangan global, namun bukan sebagai kekuatan global yang sebenarnya (Adnan Khan, 2009).

Adapun Rusia, Steven Rosefielde dari University of North Carolina, Chapel Hill, dalam bukunya, Rusia Abad 21: Adidaya Jenius, mengatakan bahwa “Rusia ingin kembali muncul sebagai kekuatan adidaya total sebelum 2010 dengan menantang Cina dan Amerika dan berpotensi untuk memulai kembali perlombaan senjata”, dengan menunjukkan perang di Ossetia dan perdebatan tentang sistem pertahanan misil Eropa Timur milik NATO. Rosefielde pun berargumentasi kalau Russia “masih memiliki industri militer yang utuh .. dan juga sumber mineral yang mampu membangkitkan potensi militerisme yang selama ini masih terlelap.”

Kenyataan yang membatasi bangkitnya Rusia untuk kembali menjadi adidaya adalah tidak adanya sekutu, kuatnya Uni Eropa dan Cina di perbatasannya, ekonomi yang relatif kecil dan lemah, serta mengecilnya populasi penduduknya. Rusia memang bisa memanfaatkan kelemahan Amerika dan mengambil kesempatan untuk memperkuat pengaruhnya di negeri-negeri bekas Uni Soviet, tetapi sekali lagi tidak melebihi batas regionalnya.

Rusia masih jauh dari memiliki kemampuan ekonomi dan kontrol geopolitik yang diperlukan dalam menghadapi Amerika secara langsung. Lebih jauh lagi, kenyataan yang membatasi bangkitnya Rusia untuk kembali menjadi adidaya adalah tidak adanya sekutu, kuatnya Uni Eropa dan Cina di perbatasannya, ekonomi yang relatif kecil dan lemah, serta mengecilnya populasi penduduknya, dimana itu semua adalah faktor penting ekopolitik di masa sekarang.

Kekuatan lain seperti Jerman dan India tidak perlu dibahas secara rinci, karena mereka sudah tidak memiliki ambisi global dan tidak memiliki sumberdaya apapun untuk menggantikan posisi Amerika dari posisi sekarang. Faktanya, semua negara tersebut justru memperkuat dominasi Amerika di wilayah mereka masing-masing. Lebih jauh lagi, perlu dicamkan bahwa negara global yang mampu memimpin dunia hanya bisa bangkit ketika negara global tersebut mengemban ‘ideologi alternatif’ yang sama sekali berbeda dari ideologi yang saat ini berkuasa.

Semua negara yang saling bersaing saat ini tidak ada yang memiliki ideologi yang unik dan berbeda yang bisa ditawarkan ke dunia. Kompetisi yang terlihat saat ini tidak lebih dari manifestasi unjuk kekuatan regional masing-masing untuk mendapatkan ‘bagian dari sumber alam global’ guna mendukung ekonomi masing-masing sehingga mampu menjadi pemain global yang disegani ketimbang menjadi negara global sejati.

Meski demikian, sudah banyak sekali jurnal akademis, artikel ilmiah, pernyataan kebijakan pemerintah Barat, opini publik global, lembaga ilmiah dan laporan intelijen dalam 10 tahun terakhir yang berakhir pada kesimpulan, bahwa di dunia saat ini terjadi perubahan diam-diam, serius dan mendalam. Tidak lain dan tidak bukan adalah terjadinya kebangkitan intelektual dan politik di Dunia Islam. Alec Rasizade (2003), MR Woodward (2004), Thomas R. McCabe (2007), J. O’Loughlin (2009), Mustafa Aydin, Çýnar Özen (2010), Rachel Rinaldo (2010) dan Sanjida O’Connell (2010) dalam penelitiannya berkesimpulan bahwa bangkitnya Islam dan Khilafah adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi.

Menurut J.O’Loughlin (2009), dalam 50 tahun terakhir terjadi siklus naik-turunnya kekuatan adidaya, yang pada puncaknya adalah timbulnya kekuatan armada laut sebagai mekanisme kendali global. Sejak kejatuhan Khilafah Uthmani dan menurunnya pamor Inggris pada awal abad 20 serta kegagalan usaha Jepang dan Jerman pada PD II untuk menjadi adidaya, kompetisi Amerika melawan Uni Soviet tampak sebagai konfrontasi sesama adidaya. Setelah kejatuhan Soviet, Amerika mencapai puncak kepemimpinan dengan mengendalikan negara besar lainnya dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, setelah 15 tahun mendominasi, kepemimpinan Amerika pun mulai dipertanyakan, dan persaingan adidaya bisa menjadi kenyataan kembali.

Munculnya Khilafah: Ancaman Negara Imperialis

Dengan menunjukkan realita yang ada sekarang, intelijen Amerika menganggap bahwa tuntutan umat Islam untuk menginginkan Islam kembali adalah bentuk ancaman terhadap keamanan dan kepentingan Amerika. Perjuangan politik dan ideologi (bukan kekerasan) yang dilakukan oleh aktifis umat Muslim telah mencapai titik bahwa tuntutan terhadap Khilafah dan syariah adalah ancaman ideologis terserius yang Amerika pernah hadapi. Bekas Wakil Presiden Amerika Dick Cheney pada tanggal 23 Februari 2007 secara jelas menyatakan, “Mereka memiliki tujuan untuk menegakkan Khilafah yang berkuasa dari Spanyol, Afrika Utara, melewati Timur Tengah, Asia Selatan hingga mencapai Indonesia—dan tidak berhenti di sana.”

Lebih jauh lagi, bekas Menteri Dalam Negeri Inggris Charles Clarke, dalam pidatonya di hadapan lembaga pemikiran Amerika Heritage Foundation berkata, “Tidak ada lagi kompromi dalam menegakkan kembali Khilafah; tidak ada lagi kompromi untuk menerapkan hukum syariah.”

Ancaman tentang adanya Khilafah sering diulang-ulang oleh pemerintahan Bush dan merupakan alasan di balik invasi Irak dan Afghanistan. Pensiunan Jenderal Richard Dannatt, penasihat Perdana Menteri David Cameron, mengatakan dalam wawancaranya dengan BBC Radio 4 mengakui tujuan perang di Afganistan, “Di sini ada agenda kaum Islamis. Apabila tidak segera kita tumpas di Afganistan, atau Asia Selatan, maka konsep ini akan menyebar dan pengaruhnya pun akan sulit dikendalikan.”

Pada akhirnya, dengan kenyataan yang ada dan berbagai pernyataan dari Barat, maka situasinya adalah menjajaki kondisi Dunia Islam seperti populasi, umat beragama, kekuatan dan keragaman budaya, besaran dan kendali terhadap benua, ekonomi dan militer, kemauan politik, dan kekuatan ideologi guna mengevaluasi apakah penyatuan umat Islam di bawah satu Khilafah merupakan kemungkinan realistik. Dengan demikian, Khilafah State bisa bangkit sebagai negara utama, unik dan global pada abad 21. (Al-Waie, No 125, Januari 2011)

Wallahu a’lam bi ash-shawab. []