…. jejakku, cintaku ….

Ibu Sebenarnya

gal585681763

“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir: buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat …pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri? Anak saya akan tidak memiliki ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun- tahun kami bertiga hidup begitu,” [Ainun Habibie].

…..

Ketika menjadi Ibu, saya semakin terbayang mengapa Allah benar-benar mewajibkan seorang Ibu hanya fokus pada pendidikan anak dan tugas kerumahtanggaan. Karena benar, sebuah kekecewaan besar ketika seorang Ibu melewatkan sedetik saja perkembangan anaknya. Apalagi ketika ketrampilan si buah hati terbentuk bukan oleh penanganannya, tapi mungkin perhatian dari baby sitter atau siapapun yang lebih berperan mengasuhnya. Lalu, layakkah kita dipanggil Ibu olehnya?

Begitu terbayangnya kenyataan itu di benak saya, hingga sebelum menikah saya pernah menyampaikan keinginan untuk resign kepada atasan, tentu saja dengan alasan ingin lebih fokus pada keluarga, walaupun saat itu banyak yang menentang karena pekerjaan suami pun belum mapan betul. Waktu itu saya sampai dipanggil ke ruangan kepala balai beberapa kali, untuk mempertimbangkan keputusan saya, karena Balai dirasa masih membutuhkan peran saya, kalaupun mencari pengganti prosesnya akan lebih lama, padahal ada beberapa amanah penelitian saya yang sudah menunjukkan progress yang lebih baik, dan diminta untuk menyelesaikan dulu, disamping masih diserahi tugas sebagai penanggungjawab laboratorium kultur jaringan. Jika keluar secara tiba-tiba, terbayang begitu banyak amanah yang terbengkelai sepeninggal saya, dan beliau berharap saya menunda dulu setelah semua kondisi lebih stabil. Sebagai catatan, Balai saat itu berada pada kondisi pemulihan stabilitas, dan saya tahu ketika saya memutuskan untuk hengkang, maka akan banyak hal yang akan berimbas pada program-program yang sudah dijalankan, dan sebenarnya, saya juga tidak menginginkan hal itu terjadi. Waktu itu, saya hanya menjawab untuk mempertimbangkannya lebih dahulu.

Akhirnya, setelah berdiskusi dengan suami dan beberapa kawan, saya memutuskan untuk tetap bekerja sementara, ya, sementara sampai amanah yang ada ditangan saya tuntaskan. Namun, dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi, yang saat itu saya sampaikan kepada atasan. Pertama, saya minta diijinkan membawa serta anak saya ke kantor, dengan catatan tentu tanpa melalaikan amanah pekerjaan saya. Kedua, saya minta untuk tidak ditugaskan keluar kota lagi (terlebih dalam rentang waktu lama), kalaupun terpaksanya iya, maka saya minta diijinkan membawa serta anak saya. Dan akhirnya, atasan menyanggupi syarat yang saya berikan. Ketika akhirnyapun saya pernah ditugaskan ke beberapa kota, suami dan anak pun ikut serta, dan buat saya tak perlu menyayangkan ongkos lebih yang harus dikeluarkan, walapun kadangkala harus ‘nombok’, karena bagi saya kebersamaan dengan keluarga adalah kebahagiaan yang tak terbeli oleh apapun juga, apalagi dengan anak-anak.

Sebenarnya bisa saja saya melakukan seperti yang kawan-kawan kantor lainnya lakukan, menggaji pengasuh dan tinggalkan anak dirumah. Pekerjaan rumah beres, anakpun ada yang nangani, pulang juga tidak capek, tinggal bayar saja, toh gajinya masih cukup, beres kan. Mungkin bagi beberapa Ibu iya, tapi bagi saya tidak dan tidak akan pernah. Ya, saya memang akhirnya menggaji penjaga di kantor, tapi itu hanya sebatas menjaga anak saya ketika saya terpaksa harus mengajar pelatihan, ataupun pengamatan di kebun, selebihnya maka dia tetap harus berada dalam penjagaan dan pengawasan saya, karena saya tidak ingin merepotkan kawan kantor sekalipun banyak yang menawarkan untuk menjaga anak saya ketika saya harus meninggalkannya sejenak. Ada juga yang pernah menyampaikan, ditinggal saja dirumah daripada repot, toh ASI bisa diperah dan disimpan kan? Buat saya, kebutuhan bayi tidak hanya cukup ASI saja, ASI hanya salah satu dari sekian hak bayi yang wajib diuapayakan oleh sang Ibu. Memberi ASI pun buat saya tak cukup dengan menggunakan botol, gelas atau apapun itu, karena fungsi kedekatan hanya akan berjalan ketika bayi menyusu langsung melalui puting Ibu dan mendekapnya.

Apakah repot? Saya yakin, siapapun Ibu di dunia ini yang hanya berpikir yang terbaik untuk anaknya, tak akan pernah ada kata repot, sekalipun harus bersusah payah siang dan malam bahkan hingga pagi lagi. Karena anak adalah anugerah dan amanah, maka mempertahankan dan menjaganya adalah kewajiban dan amanah terbesar bagi orang tuanya.

Ibu dimanapun berada, keberhasilan kita bukanlah sebanyak apa uang yang mampu kita kumpulkan, setinggi apa jabatan yang akhirnya kita dapatkan, sebanyak apa gelar yang akhirnya kita sematkan di belakang nama, tapi setaat apa anak kita pada Tuhannya, sebermanfaat apa mereka kelak pada umatNya, dan segigih apa daya juang mereka dalam hidupnya…

Dan kelak, semoga kita, mampu melihat keberhasilan mereka, dunia dan akhirat… aamin ya Rabb…

Iklan

One response

  1. Ping-balik: Berkarir, haruskah? « jejak cinta Qousa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s