…. jejakku, cintaku ….

Merekah di Alam Nyata

Sebut saja namanya Khansa. Dia yang mengajariku untuk menjadi diri sendiri. Dulu, Aku sering mengomentari tentang penampilannya yang tidak seperti akhwat kebanyakan. Kerudung polos gelap tanpa motif, dan gamis polos gelap dengan model yang selalu sama, ditambah lagi dengan wajah polos tanpa polesan bedak, dan tas ransel bututnya yang digendong kesana kemari. Cuek dan apa adanya. Dia tak perlu merasa harus tampak anggun dan modis. Hingga dari kejauhan aku selalu hafal dari cara berjalannya dan gamis yang dikenakannya.

Tapi akhirnya aku tahu, isi hati dan kepalanya, jauh lebih anggun dari penampilannya. Seandainya banyak lelaki yang mengenalnya, tak hanya melihat dari tampilan luarnya, aku yakin mereka akan berlomba mendapatkannya. Khansa, kelak, betapa beruntungnya seseorang yang mendampingimu… karena menikmati anggunmu, yang tak pernah terlihat oleh laki-laki manapun di dunia ini.

Mariam, sebut saja seperti itu. Dia yang mengajariku tentang arti berbagi dan peduli. Anak orang berada yang bisa saja mengontrak satu kamar untuk dirinya sendiri. Tapi dia rela berbagi kamar bertiga, karena tahu aku salah satu penghuni yang tak mampu jika harus membayar sendiri. Tiap kali membuka bungkusan nasi, selalu aku yang dicarinya. Jika dia tak mendapatiku, maka nasi itu akan tetap disimpannya dan menungguku, untuk bersama menikmatinya. Hampir setiap hari, tak pernah lelah menanyakan keadaanku, dan akan selalu menawarkan buku-buku barunya untuk kubaca terlebih dulu. Gamis-gamis kesayangannya akan sedikit dikecilkan untuk kukenakan, karena selalu tahu hanya gamis itu-itu saja yang kukenakan ke kampus.

Dan namamu, Mariam, selalu ada dalam lirih harapku. Karena aku tahu, tak sanggup membalas semua senyum dan uluran tulusmu dengan yang lebih baik, kecuali DIA.

Panggil saja Aulia. Sosok yang mengajariku tentang arti sebuah kehadiran, yang selalu menebarkan kebahagiaan untuk orang lain. Orang mengenalnya sebagai perempuan yang tak pernah menolak amanah, dan membuat orang disekitarnya selalu bisa mengandalkannya, sesulit apapun. Kadang aku berpikir, mana sempat dia menyelesaikan urusannya, jika orang lain terus yang dia penuhi keinginannya. Tapi dia selalu tersenyum, dan merasa kebahagiannya adalah disaat membuat orang lain bahagia, dengan keberadaannya.

Aulia, kau secantik namamu dan seindah senyummu. Aku yakin, akan ada banyak sahabat yang tak berhenti mengingat dan mendoakanmu, selalu.

Mereka, salah satu diantara sekian banyak… yang membuat hidup ini merekah…

Nyata indahnya…..

*Untuk kalian semua…  terimakasih telah mengajariku, menjadi manusia…  seutuhnya

Iklan

3 responses

  1. Laki-laki Biasa

    The Power of Friendship! 🙂

    Desember 8, 2010 pukul 13:20

  2. Subhanallah…
    Banyak banget pelajaran yang bisa kita petik dari persahabatan ya…

    Desember 11, 2010 pukul 13:34

  3. Ping-balik: Motivator Sejati | jejak cinta Qousa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s