…. jejakku, cintaku ….

Kemana Hati Berlabuh

Aku lupa sejak kapan aku memulai pencarianku, bahkan ketika begitu banyak kawan seangkatan dan adik-adik angkatku menemukan pendamping hidupnya, aku sama sekali tak berpikir untuk menyusulnya. Aku ingat, sejak tingkat dua kuliah sudah ada beberapa kakak kostan yang menawarkanku untuk ta’aruf dengan beberapa ikhwan, dan tanggapanku selalu sama, aku belum siap.Yah, sampai aku tak bisa menghitung lagi, sudah berapa banyak adik-adik angkatku yang silih berganti mengirimkan undangannya. Dan entahlah, keinginan itu belum juga ada.

Pernah suatu kali ada yang mengingatkanku, jika telah datang seseorang yang sholeh, maka tak ada alasan untuk menolaknya. Tapi aku selalu berkeras, aku benar-benar belum ingin, dan bukankah itu artinya belum siap? Apakah ada alasan yang bisa memaksakan, jika memang kesiapan belum ada dalam diriku, terlebih dalam niatku? Tidak, aku ingin memulainya jika aku benar-benar siap, dengan segala konsekuensinya.

Dan ketika usiaku menginjak 24, aku mulai membuka diri dengan niat dan kesiapan. Hingga tanpa terasa, sekian proses kulewati, dan sekian proses pula harus berakhir dini, belum ada yang benar-benar bisa menerimaku dan keluargaku apa adanya. Aku pernah membaca, jika seseorang belum menemukan jodohnya, bisa jadi itu karena perbuatannya sendiri, seperti menolak seseorang yang jelas-jelas keshalihannya, dan tidak menerima jalan yang sudah di bukakan oleh Allah, maka wajar jika Allah pun akhirnya menutup jalan itu untuknya. Ya, aku yakin bahwa apapun perbuatan kita selalu ada balasannya, sekecil apapun, entah di dunia entah di akhirat. Tapi aku yakin, selama alasan yang kita pegang bukanlah hawa nafsu semata, maka Allah selalu tahu apa balasan terbaik untuk kita, bukankah Allah maha tahu apa yang ada di hati kita? Pun alasan-alasan mengapa kita menolak ‘jalan’ itu. Tapi selalulah beristighfar kepadaNya, karena kita memang tak pernah luput dari salah.

Memutuskan menikah, bagiku tak cukup bermodal semangat dan keinginan, apalagi hanya sekedar mengejar status. Lalu ketika dulu aku menolak karena memang benar-benar belum siap, dan InsyaAllah masih bisa menjaga diri dari perbuatan maksiat, bukankah menikah belum ‘wajib’ untukku? Sekalipun aku tahu, selalu ada kebaikan disana. Aku hanya tidak ingin, kita seolah harus dibawa ke masa lalu, dan membuat kita seolah memiliki kesalahan besar di masa lalu yang sekarang harus menanggung akibatnya, bukan justru melihat bahwa masa lalu adalah pelajaran berharga yang tidak untuk membayangi tapi melandasi masa depan. Maka fokuslah pada masa depan, dan yakinlah, Allah selalu punya rencana hebat untuk kita. Pun dengan menikah… kita tidak perlu menangisi masa lalu dan mengabaikan masa depan, yang berarti tak ada hari ini untuk disyukuri.

Yakinlah selalu pada ketetapanNya, dan selalu menyandarkan diri kepadaNya. Memohonlah hanya kepadaNya, karena DIA selalu Maha Tahu apa yang benar-benar kita butuhkan, pun dengan niat dan kesiapan kita. DIA pun tahu apakah menikah tahun ini, tahun depan, atau mungkin lima tahun lagi adalah saat terbaik untuk kita ataukah tidak. Yang terpenting, jadikan diri ini layak untuk mendapatkan jodoh dariNya, kapanpun DIA memberikannya untuk kita. Entah di dunia, entah di akhirat.

Hingga akhirnya kita tahu… kemana hati berlabuh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s