…. jejakku, cintaku ….

Posts tagged “islam

Menemani Selama 40 Hari

kata-mutiara-islam-tentang-kematian-2

Alkisah seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat: “Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku.”

Lalu ditanyakanlah hal itu kepada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti.
Tapi anak-anaknya menjawab, “Mana mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat.”

Keesokan harinya, dipanggillah semua adik-adiknya. Dan beliau kembali bertanya, “Adik-adikku, sanggupkah diantara kalian menemaniku di dalam kubur selama 40 hari setelah aku mati nanti? Aku akan memberi setengah dari hartaku!”

Adik-adiknya pun menjawab, “Apakah engkau sudah gila? Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.”

Lalu dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya, untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke se antero negeri.

Akhirnya, sampai jugalah pada hari di mana Konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah. Kuburnya dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang Tukang Kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman wasiat tersebut. Lalu Tukang Kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah Konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris akan kesanggupannya.

Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat. Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat sambil membawa Kapaknya. Yang paling berharga dimiliki si Tukang Kayu hanya Kapak, untuk bekerja mencari nafkah.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.

Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat. Di benaknya, sudah tiba saatnya lah si Konglomerat akan diinterogasi oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Malaikat Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah dari harta warisannya”, jawab si Tukang kayu.

Apa saja harta yang kau miliki?”, tanya Mungkar-Nakir.
“Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki”, jawab si Tukang Kayu.

Kemudian Mungkar-Nakir bertanya lagi, “Dari mana kau dapatkan Kapakmu ini?”
“Aku membelinya”, balas si Tukang Kayu.
Lalu pergilah Mungkar dan Nakir dari dalam kubur tersebut.

Besok di hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya, “Apa saja yang kau lakukan dengan Kapakmu?”
“Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar”, jawab tukang kayu.

Di hari ketiga ditanya lagi, “Pohon siapa yang kau tebang dengan Kapakmu ini?”
“Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi ngak ada yang punya”, jawab si Tukang Kayu.
“Apa kau yakin?”, lanjut Malaikat.
Kemudian mereka menghilang.

Datang lagi di hari ke empat, bertanya lagi “Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual?”
“Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata”, tegas tukang kayu.

Begitu terus yang dilakukan Malaikat Mungkar Nakir, datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar dengan Kapak tersebut.

Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu tersebut. Berkata Mungkar dan Nakir, “Hari ini kami akan kembali bertanya soal Kapakmu ini”.

Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut. Ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.

Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dan lari meninggalkan mereka sambil berteriak, “Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi.”

Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya, “Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu. Di dunia ini harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak ini, tapi Malaikat Mungkar-Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan dan persoalkan masih saja di seputar Kapak ini. Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak? Entah berapa lama dan bagaimana aku menjawabnya.”

Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, “Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, ilmunya sejauh mana diamalkan?” (HR. Turmudzi)

Sumber : ONE DAY ONE JUZ Community


Islam, menjadikan hidup lebih hidup!

Sejak lahir aku muslim, sekalipun dulu ayahku masih penganut kepercayaan Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal). Tapi jujur, Islam bagiku hanya sekedar simbolik. Dalam benakku saat itu, banyak aturan Islam yang tidak sesuai dengan kenyataan. Katanya sholat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, faktanya banyak orang sholat tetap melakukan kemungkaran, bahkan Imam masjid dikampungku  pernah kesandung kasus penggelapan uang hingga akhirnya dipenjara. Katanya Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, tapi semua kegiatan simpan pinjam sejak tataran RT, RW sampai nasional selalu ada ribanya, kredit juga ada ribanya, semua bank juga ada ribanya. Katanya juga haji itu bagian dari rukun Islam, faktanya banyak kaum muslim yang tidak bisa berhaji karena terlalu, terlalu dan terlalu mahal. Apalagi waktu SMA aku pernah dengar, pacaran haram dalam Islam! Gubrak! Makin aneh aja Islam itu, hawong para kiyai di kampungku saja konon dapetin istri dari pacaran, dan semua anak-anak mereka juga pacaran. Doh! Banyak aturan yang gak real deh, dan membuatku hanya menjadikan Islam identitas di KTP saja. Gak lebih, gak kurang.

Maka wajar jika dalam benakku yang tak pernah mengenal Islam yang utuh, yang males ikutan Rohis, yang tidak pernah nimbrung majelis ilmu keislaman sedikitpun, maka yang terbersit adalah masa muda itu masa hura-hura, seneng-seneng, dan masa menikmati hidup. Dan aku ingat betul aktivitasku saat itu, hang out sama teman-teman, jadi penggemar bola, tiap hari mantau MTV, ngapalin lagu-lagunya backstreet boys, westlife, spice girls, tiap hari ngelongok majalah remaja yang gaul, cari berita kawan-kawan siapa yang putus siapa yang nyambung, mantengin infotainment, kalo kepepet PR selalu nyontek, dan be te sama yang namanya pelajaran. Gak ngerti apa yang harus diraih dan tentu saja, hidup itu harus bagaimana sih?

Beruntung, sungguh beruntungnya aku, masih diberi kesempatan mengenyam bangku kuliah. Dan disinilah, sedikit demi sedikit ada yang mengenalkanku tentang Islam yang sesungguhnya. Sesuatu yang mampu mengubah hidupku, drastis, tujuh ratus derajat, dan lima ratus persen, totally. Islam mengajarkan tentang tingginya derajat orang-orang yang berilmu, tentang Ilmu yang bisa menjadikan kita lebih dari sekedar ahli ibadah, ilmu yang bisa mengantarkan kita memiliki amal jariyah, tabungan sesungguhnya saat nanti kita mati. Maka kuliah bagiku tak sekedar mengejar gelar, tak sekedar untuk dapet kerja  atau tak sekedar membuatku tak malu karena semua teman-teman SMA ku kuliah. Tapi karena tingginya balasan Allah bagi orang-orang yang berilmu, hingga mata kuliah yang sepertinya berat kupelajari (seperti halnya Fisika, matematika, akuntansi yang sempat membuatku stress saat SMA) bagiku adalah tantangan untuk bisa kukuasai. Kuliah bagiku dan bagi teman-teman yang telah ‘ngaji’ saat itu bukanlah kesia-siaan sekalipun mungkin kelak hanya jadi seorang ibu rumah tangga, karena seorang Ibu yang berilmu, tentu berbeda dengan mereka yang tanpa Ilmu. Ya, aku baru merasakan energi ibadah dalam seluruh aktivitas, aktivitas kuliah, aktivitas sosial, bahkan seluruh aktivitas keseharian, tidur sekalipun. Saat itu, akupun semakin paham, bahwa Islam tak sekedar simbolik, bahwa apapun perintah Allah pasti sesuai dengan kenyataan, kalaupun saat ini tak bisa dilaksanakan, bukan hukumnya yang salah, tapi faktanya yang harus dirubah. Oleh siapa? Tentu saja oleh kita, manusia, kaum muslimin.

Islam lah yang mengajarkanku tentang bagaimana memaknai hidup, bagaimana menghadapi masalah yang silih berganti, bagaimana memaknai rejeki, serta memaknai sukses hakiki. Banyak hal yang membuatku tidak pernah merasa sendiri, sekalipun berada jauh dari keluarga. Hidup yang tak sekedar lahir, sekolah, kerja, menikah lalu mati. Tapi hidup yang lebih hidup. Mampu menjawab, Untuk apa aku sekolah, untuk apa aku menikah, untuk apa berdakwah, dan tentu saja, untuk apa aku hidup?

Hingga aku berjuang keras untuk bisa menjadi seperti sekarang ini, menjadi seorang muslimah yang kebetulan peneliti yang insyaAllah sebentar lagi diberi kesempatan melanjutkan studi, menjadi seorang istri yang kebetulan diberi kemudahan rejeki untuk memperbesar usaha suami, menjadi seorang Ibu dari seorang putri yang tak pernah ingin meninggalkannya demi karir, dan seorang anak yang Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk memberikan bakti terbaiknya untuk mamak tercinta… dan tentu saja menjadi seorang pengemban dakwah yang bergabung dalam sebuah jamaah dakwah yang konsisten dalam penegakan syariah dan khilafah.

Semua itu,

Tak akan masuk dalam benak pemikiran dan arah perjuanganku, jika aku tak kenal ROHIS saat di kampus, karena tanpa paham Islam, mungkin aku hanya akan jadi sarjana kebanyakan, sarjana yang mengandalkan tawaran pekerjaan, sarjana yang hanya rentetan gelar di ujung nama, atau jangan-jangan sarjana yang hanya jadi sampah peradaban! Naudzubillah…

Buat kamu generasi muda, atau para orang tua, jangan takut dengan ROHIS atau kajian keislaman di sekolah atau di kampus, karena mereka tak pernah mengajarkan kita untuk menjadi TERORIS, tapi menjadi muslim seutuhnya, yang bangga dengan Islamnya, dan mengerti arah hidupnya… jika tak percaya, silakan cari buktinya, karena sudah nyata hasilnya!


“Mereka memperkosaku seperti ini !”

Muslimahzone.com – Artikel ini ditujukan untuk setiap muslim yang masih memiliki darah mengalir di nadinya….

Nadia adalah salah satu korban tentara Amerika di penjara Abu Ghraib. Dia ditangkap tanpa alasan. Ketika dia dibebaskan dari penjara, tidak langsung kembali ke pangkuan keluarganya sebagaimana kebanyakan tahanan lainnya yang telah mengalami hal buruk, meskipun ketika dia telah terbakar oleh api penindasan dan kerinduan pada keluarganya.

Nadia kabur dengan segera setelah dia meninggalkan penjara, bukan karena perasaan malu yang akan diterimanya karena sejumlah kejahatan yang dilakukannya, akan tetapi karena apa yang telah dialami olehnya dan wanita Iraq lain yang tertangkap, yaitu pemerkosaan dan penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Amerika di penjara Abu Ghraib. Dinding penjara mengungkapkan banyak cerita tragis, namun apa yang dikisahkan Nadia merupakan kebenaran hidup dan sekaligus neraka hidup.

Nadia memulai ceritanya:

“Aku sedang mengunjungi salah seorang kerabatku, kemudian tiba-tiba tentara Amerika memasuki rumahnya dan mulai menggeledah rumah itu. Mereka menemukan beberapa senjata ringan. Maka merekapun menangkap semua orang yang berada di rumah itu termasuk aku. Aku mencoba menjelaskan pada penerjemah yang menyertai patroli Amerika bahwa aku hanyalah seorang pengunjung. Akan tetapi pembelaanku gagal. Aku kemudian menangis, memohon pada mereka, sampai hilang kesadaran karena takut ketika mereka membawaku ke penjara Abu Ghraib.

Nadia melanjutkan: “mereka menempatkanku sendirian di sebuah sel penjara yang gelap dan kotor. Aku berharap aku akan segera dibebaskan, utamanya setelah penyelidikan terbukti aku tidak melakukan kejahatan”.

Nadia menjelaskan sambil air matanya mengalir ke pipinya, sebuah pertanda betapa banyak dia telah mengalami penderitaan.

“Hari pertama sangat menyusahkan. Selnya berbau tidak sedap, lembab dan gelap, kondisi ini membuatku semakin lama semakin takut. Suara tertawa prajurit di luar sel semakin membuatku ketakutan. Aku khawatir akan apa yang menimpaku nanti. Untuk pertama kalinya aku merasa berada dalam cengkraman situasi yang sulit dan aku telah memasuki sebuah dunia yang tidak dikenal yang aku tidak akan pernah keluar darinya.

Ditengah beraneka ragamnya perasaanku saat itu, aku mendengar suara seorang tentara wanita Amerika berbicara dalam bahasa Arab. Dia berkata kepadaku: “Aku tidak mengira penjual senjata di Iraq adalah wanita.” Ketika aku mulai mencoba menjelaskan kepadanya kondisi yang sebenarnya, dia memukulku dengan kejam. Aku menangis dan berteriak “Demi Allah ! aku dianiaya, demi Allah ! aku dianiya”

Tentara wanita itu menghujaniku dengan cacian dengan cara yang belum pernah aku bayangkan bisa terjadi atau aku akan diperlakukan seperti itu dalam keadaan apapun selamanya. Kemudian dia mulai menertawakanku sambil mengatakan bahwa dia telah memonitorku sepanjang hari dengan satelit, dan bahwa mereka mampu melacak musuh-musuh mereka meskipun sedang berada di dalam kamar tidur mereka sendiri dengan teknologi Amerika.

Kemudian dia tertawa dan berkata,”Aku mengawasimu ketika kamu bercinta dengan suamimu.” Aku menjawab dengan suara kebingungan “Tapi aku belum menikah”.

Dia memukuliku selama lebih dari 1 jam dan dia memaksaku minum segelas air, yang kemudian kuketahui mereka memberi obat di air itu. Aku mendapatkan kembali kesadaranku setelah 2 hari dalam keadaan telanjang. Segera aku tahu jika aku telah kehilangan sesuatu yang hukum apapun di dunia tidak akan mampu mengembalikannya kepadaku lagi. Aku telah diperkosa. Aku kemudian histeris tak terkontrol, dan aku mulai memukulkan kepalaku dengan keras ke tembok sampai lebih dari lima tentara Amerika yang dikepalai tentara wanita itu memasuki sel dan mulai memukuliku, kemudian mereka memperkosaku bergantian sambil tertawa-tawa dan menperdengarkan musik dengan keras.

Hari demi hari skenario pemerkosaan terhadapku diulangi. Dan setiap hari mereka menemukan cara baru yang lebih kejam dibanding dengan yang sebelum-sebelumnya.”

Nadia mulai menjelaskan perbuatan mengerikan dari Amerika bajingan:

“Setelah sekitar satu bulan, seorang tentara negro memasuki selku dan melemparkan 2 potong pakaian militer Amerika kepadaku. Dalam bahasa Arab yang lemah dia mengatakan agar aku memakainya. Setelah dia menutup kepalaku dengan kantong hitam, dia menuntunku ke toilet umum yang ada pipa untuk air dingin dan panas, dan dia memintaku untuk mandi. Kemudian dia menutup pintu dan pergi.

Aku menjadi sangat lelah dan merasakan kesakitan, tanpa mempedulikan banyaknya memar di tubuhku aku menuangkang sejumlah air ke badanku. Sebelum aku selesai mandi, tentara negro tadi masuk ke dalam. Aku ketakutan dan memukul wajahnya dengan mangkok air. Namun dia sangat kuat, dia memperkosaku dengan kejam dan meludahi mukaku, kemudian dia pergi dan kembali lagi dengan 2 tentara yang membawaku kembali ke sel.

Perlakuan seperti itu terus berlanjut, yang paling parah kadang aku diperkosa sampai 10 kali dalam sehari, membuat kesehatanku sangat buruk.”

Nadia berlanjut mengungkapkan perbuatan Amerika yang mengerikan terhadap wanita-wanita Iraq, dia berkata:

“Setelah lebih dari 4 bulan, seorang tentara wanita datang, dan aku menyimpulkan dari percakapannya dengan tentara lainnya jika namanya adalah Mary. Dia berkata kepadaku “sekarang kamu memiliki kesempatan emas, karena seorang petugas yang memiliki posisi tinggi akan mengunjungi kita hari ini. Jika kamu menghadapinya dengan sikap yang positif kamu akan dibebaskan, terutama karena kami sekarang yakin kamu tidak bersalah.”

Aku menjawab,”Jika kalian yakin aku tidak bersalah, mengapa kalian tidak membebaskan aku?”

Dia menjerit dengan gelisah,”Satu-satunya yang menjamin terbebasnya kamu adalah sikap positifmu terhadap mereka.”

Dia membawaku ke toilet umum, dan dia mengawasiku mandi sambil membawa tongkat tebal untuk memukulku jika aku tidak melakukan perintahnya. Kemudian, dia memberiku make up, dan memperigatkanku untuk tidak menangis dan merusak make up ku. Lalu dia membawaku ke sebuah ruangan kosong yang di situ tidak ada apapun kecuali sebuah penutup lantai. Setelah satu jam dia datang dengan ditemani 4 tentara dengan memegang kamera. Dia melepas bajunya dan mulai menggangguku seoalah-olah dia adalah seorang lelaki. Tentara lainnya tertawa dan memperdengarkan musik yang ribut, mengambil photoku dalam berbagai pose, dan mereka menunjuk-nunjuk wajahku. Yang wanita menyuruhku tersenyum, jika tidak dia akan membunuhku. Dia mengambil pistol dari salah satu temannya dan menembakkan empat peluru di dekat kepalaku seraya bersumpah bahwa peluru yang kelima akan ditembakkan tepat di kepalaku.

Setelah itu, keempat tentara lainnya memperkosaku secara bergantian sampai aku kehilangan kesadaranku. Ketika kesadaranku pulih aku menemukan diriku di sel dengan bekas-bekas gigitan, kuku dan rokok ada di sekujur tubuhku.”

Nadia berhenti bercerita tentang tragedi yang menimpanya untuk menyeka air matanya, kemudian dia melanjutkan lagi: “Kemudian suatu hari Mary datang dan mengatakan kepadaku bahwa aku kooperatif dan akan dibebaskan setelah aku menonton film yang mereka rekam. Aku merasa sakit setelah menonton filmnya, dan Mary mengatakan,”Kamu telah diciptakan hanya untuk membuat kami bersenang-senang”. Saat itu aku menjadi sangat marah dan aku menyerangnya meskipun aku takut akan reaksinya, aku akan membunuhnya kalau saja tentara lain tidak turut campur. Ketika para tentara melepaskanku, Mary menghujaniku dengan pukulan, kemudian mereka meninggalkanku.

Setelah kejadian itu, tidak ada seorangpun yang menggangguku selama lebih dari satu bulan. Aku menghabiskan masa itu dengan beribadah dan berdoa pada Allah Ta’ala yang memiliki seluruh kekuatan untuk menolongku.

Mary datang dengan beberapa tentara yang memberiku pakaian yang kukenakan ketika mereka menangkapku dan membawaku ke sebuah mobil Amerika. Kemudian mereka melemparkanku di sebuah jalan raya setelah memberiku 10.000 dinar Iraq.

Aku pergi ke sebuah rumah yang berdekatan dengan tempat aku dibuang, dan untuk mengetahui reaksi keluargaku, aku memilih mengunjungi salah seorang kerabatku supaya mereka mengetahui apa yang telah menimpaku ketika menghilang. Aku mengetahui bahwa saudaraku telah memasang papan tanda duka untukku selama lebih dari 4 bulan, mereka menganggapku sebagai orang yang sudah mati.

Aku memahami jika tikaman malu sudah menungguku. Maka, aku pergi ke Baghdad dan menemukan sebuah keluarga yang baik yang menampungku, dan aku bekerja pada keluarga ini sebagai pembantu dan guru privat bagi anak-anaknya.

Nadia terheran dalam kesakitan, penyesalan dan kemarahan:

“Siapa yang akan memuaskan dahagaku? Siapa yang akan mengembalikan keperawananku? Apa salah keluarga dan familiku? Aku mengandung seorang bayi, bahkan akupun tidak tahu siapa ayahnya.”

Dan Nadia mengakhiri ceritanya sampai di sini.

Apakah Amerika hanya memperkosa Nadia ataukah mereka memperkosa seluruh pria dan wanita di Ummat Islam ? Nadia adalah saya dan anda, istrimu dan juga istriku, saudarimu dan juga saudariku, ibumu serta ibuku. Dimanakah para pembela kesucian Islam! Dimanakah para pembela Islam!

“Mungkin masih banyak kisah menyesakan dada, bagi kita ummat Islam. Mungkin masih ada Nadia-Nadia lain di dalam penjara penuh penjaga babi dan kera berbangsa Amerika. Dimanakah kalian, jikalau kalian tidak tersentuh dengan cerita saudari kita, marahkah kalian dengan perlakuan manusia-manusia yang lebih kotor dari binatang ternajis sekalipun, bahkan mungkin mereka menjadi yang paling hina di Dunia dan Akhirat. Bangunlah wahai ummat!! Tidur kalian sudah terlalu lelap!!”

(lahaonline/arrahmah.com/muslimahzone)


Integrasi Sains dan ISLAM

Ada sejumlah pertanyaan menarik tentang kedudukan sains dan Islam. Pertanyaan ini berakar dari fenomena-fenomena berikut:

Munculnya kegairahan baru atas sebagian cendekiawan Islam atas sains dan keyakinan bahwa kemunduran Islam itu akibat melalaikan sains dan terlalu menonjolnya fiqih.

Munculnya sebagian cendekiawan yang meyakini kembali bahwa Qur’an adalah sumber inspirasi sains, setelah ditemukannya bukti-bukti sains modern yang sesuai dengan ayat-ayat Qur’an. Ilmu yang terinspirasi Quran ini bahkan sering diklaim sebagai sains Islami.

Di sisi lain: tingkat religiositas yang tetap belum membaik di kalangan ilmuwan sains Barat – sekalipun dapat teramati bahwa tingkat religiositas di kalangan ilmuwan sains ini masih lebih baik daripada ilmuwan sosial.

Tiga fenomena ini membuat di satu sisi umat Islam semakin bersemangat dalam beragama, namun di sisi lain mereka masih mencari bentuk, bagaimana sesungguhnya integrasi sains dan Islam.

Pada berbagai jenis pendidikan Islam di Indonesia, integrasi ini dicoba baru dalam taraf penggabungan kurikulum (Depdiknas+Depag), sehingga total jam belajar siswa menjadi relatih jauh besar dibanding sekolah biasa. Karena itu kajian bagaimana integrasi sains dan Islam itu perlu ditelaah lebih jauh.

Sejarah Kedudukan Ilmu di dalam Islam

Kalau melihat sejarah, sering ada dugaan bahwa kemunduran dunia riset Islam dimulai ketika iklim kebebasan berpikir – yang sering dianggap direpresentasikan kaum mu’tazilah – berakhir, dan digantikan oleh iklim fiqh yang skripturalis dan kaku. Teori ini terbukti bertentangan dengan fakta bahwa munculnya ilmu-ilmu fiqh dan ilmu-ilmu sains dan teknologi berjalan beriringan. Bahkan ketika ilmu dasar ummat musim mulai kendur, teknologi mereka masih cukup tinggi untuk bertahan lebih lama.

Hunke dengan cukup baik melukiskan latar belakang masyarakat Islam di masa khilafah Islam sehingga keberhasilan pengembangan teknologi terjadi, dan ini bisa diklasifikasikan menjadi dua hal.

Pertama adalah paradigma yang berkembang di masyarakat Islam, yang akibat faktor teologis menjadikan ilmu “saudara kembar” dari iman, menuntut ilmu sebagai ibadah, salah satu jalan mengenal Allah (ma’rifatullah), dan ahli ilmu sebagai pewaris para nabi, sementara percaya tahayul adalah sebagian dari sirik. Paradigma ini menggantikan paradigma jahiliyah, atau juga paradigma di Romawi, Persia atau India kuno yang menjadikan ilmu sesuatu privilese kasta tertentu dan rahasia bagi awam. Sebaliknya, Hunke menyebut “satu bangsa pergi sekolah”, untuk menggambarkan bahwa paradigma ini begitu revolusioner sehingga terjadilah kebangkitan ilmu dan teknologi. Para konglomeratpun sangat antusias dan bangga bila berbuat sesuatu untuk peningkatan taraf ilmu atau pendidikan masyarakat, seperti misalnya membangun perpustakaan umum, observatorium ataupun laboratorium, lengkap dengan menggaji pakarnya.

Kedua adalah peran negara yang sangat positif dalam menyediakan stimulus-stimulus positif bagi perkembangan ilmu. Walaupun kondisi politik bisa berubah-ubah, namun sikap para penguasa muslim di masa lalu terhadap ilmu pengetahuan jauh lebih positif dibanding penguasa muslim sekarang ini. Sekolah yang disediakan negara ada di mana-mana dan bisa diakses masyarakat dengan gratis. Sekolah ini mengajarkan ilmu tanpa dikotomi ilmu agama dan sains yang bebas nilai.

Rasulullah pernah mengatakan “Antum a’lamu umuri dunyaakum” (Kalian lebih tahu urusan dunia kalian) – dan hadits ini secara jelas berkaitan dengan masalah teknologi – waktu itu teknologi penyerbukan kurma. Ini adalah dasar bahwa teknologi bersifat bebas nilai. Bahkan Rasulullah telah menyuruh umat Islam untuk berburu ilmu sampai ke Cina, yang saat itu pasti bukan negeri Islam.

Namun demikian, dalam pencarian ilmu, Islam memberikan sejumlah motivasi dan guideline.

Motivasi pencarian ilmu dimulai dari hadits-hadits seperti “Mencari ilmu itu hukumnya fardhu atas muslim laki-laki dan muslim perempuan”, “Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahad”, “Carilah ilmu, walaupun sampai ke negeri Cina”, “Orang yang belajar dan mendapatkan ilmu sama pahalanya dengan sholat sunat semalam suntuk”, dsb

Sedang guideline bisa dibagi dalam tiga kelompok sesuai pembagian dalam filsafat ilmu, yaitu dalam kelompok ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Ontologi

menyangkut masalah mengapa suatu hal perlu dipelajari atau diteliti. Qur’an memuat cukup banyak ayat-ayat yang merangsang pembacanya untuk menyelidiki alam, seperti “Apakah tidak kalian perhatikan, bagaimana unta diciptakan, atau langit ditinggikan, …” (al-Ghasiyah 17-18). Maka tidak heran bahwa di masa al-Makmun, para pelajar tafsir menyandingkan buku Almagest karya Ptolomeus (astronom Mesir kuno) sebagai “syarah” surat al-Ghasiyah tersebut.

Kaidah “Ma laa yatiimul waajib illaa bihi, fahuwa wajib” (Apa yang mutlak diperlukan untuk menyempurnakan sesuatu kewajiban, hukumnya wajib pula) juga memiliki peran yang besar. Maka ketika kaum muslimin melihat bahwa untuk menyempurnakan jihad melawan adikuasa Romawi memerlukan angkatan laut yang kuat, maka mereka – berpacu dengan waktu – mempelajari teknik perkapalan, navigasi dengan astronomi maupun kompas, mesiu dsb. Dan bila untuk mempelajari ini mereka harus ke Cina yang waktu itu lebih dulu mengenal kompas atau mesiu, merekapun pergi ke sana, sekalipun menempuh perjalanan yang berat, dan harus mempelajari sejumlah bahasa asing.

Dengan ontologi syariah ini, kaum muslim di masa lalu berhasil mendudukkan skala prioritas pembelajaran dan penelitian secara tepat, sesuai dengan ahkamul khomsah (hukum yang lima: wajib-sunnah-mubah-makruh-haram) dari perbuatannya.

Epistemologi

menyangkut metode suatu ilmu dipelajari. Epistemologi Islam mengajarkan bahwa suatu ilmu harus dipelajari tanpa melanggar satu hukum syara’pun. Maka beberapa eksperimen dilarang, karena bertentangan dengan syara’, misalnya cloning manusia.

Di sisi lain, ilmu dipelajari dengan mempraktekkannya. Karena itu, ilmu seperti sihir menjadi haram dipelajari, karena konteks epistemologinya adalah dipelajari sambil dipraktekkan. Namun di sisi lain, ilmu-ilmu seperti kedokteran, fisika, namun juga ilmu sosiologi atau hukum (fiqh) menjadi tumbuh pesat karena setiap yang mempelajarinya punya gambaran yang jelas bagaimana nanti ilmu itu digunakan. Berbeda dengan sekarang ketika banyak mahasiswa di “menara gading”, dan ketika turun ke masyarakat ternyata tidak mampu harus mulai dari mana dalam menggunakan ilmunya.

Sedang aksiologi

menyangkut bagaimana suatu ilmu diterapkan. Ilmu atau teknologi adalah netral, sedang akibat penggunaannya tergantung pada peradaban (hadharah) manusia / masyarakat yang menggunakannya. Banyak hasil riset yang walaupun dibungkus dengan suatu metode statistik, namun dipakai hanya untuk membenarkan suatu model yang bias ideologis ataupun kepentingan tertentu.

Pada masyarakat muslim penggunaan teknologi dibatasi hukum syara’. Teknologi hanya akan digunakan untuk memanusiakan manusia, bukan memperbudaknya. Teknologi digunakan untuk menjadikan Islam rahmat seluruh alam, bukan menjajah negeri-negeri lain. Karena itu kebuntuan untuk mencapai kemajuan pada negeri-negeri miskin – seperti yang terjadi dewasa ini di Afrika – akan bisa didobrak dengan aksiologi syariah.

Qur’an sebagai Sumber Inspirasi Ilmu

Obsesi menjadikan Qur’an sebagai sumber inspirasi segala ilmu tentu suatu hal yang positif, karena ini bukti keyakinan seseorang bahwa Qur’an memang datang dari Zat Yang Maha Tahu. Namun, obsesi ini bisa jadi kontra produktif jika seseorang mencampuradukkan hal-hal yang inspiratif dengan sesuatu yang empiris, atau memaksakan agar kaidah hukum empiris sesuai penafsiran inspiratifnya.

Contoh yang pertama misalnya ketika ada seseorang yang menafsirkan ayat:

“ … Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia …” (QS 57-al Hadid: 25)

Kami pernah mendapatkan seseorang yang ingin menggugat Hukum Kekekalan Energi dengan landasan ayat ini, seraya mengajukan proposal untuk membuat energy multiplier.

Energy Multiplier adalah pengganda energi. Alat semacam ini – kalau ada – akan memiliki konsekuensi yang sangat jauh, karena dengan rangkaian beberapa multiplier, teoretis energi 1 watt saja akan mampu memberi energi untuk seluruh dunia. Tentu saja alat semacam ini secara fisika maupun teknis mustahil. Namun perancangnya yakin 100% bahwa dia benar, karena rancangan mesinnya diyakininya di-backup oleh ayat al-Hadid tadi. Tentu saja ini penafsiran yang sembrono.

Sedang contoh yang kedua adalah ketika pada suatu saat, teori sains yang berlaku dianggap cocok dengan suatu ayat, lalu beberapa abad kemudian eksperimen membuktikan bahwa teori tadi keliru atau tidak lengkap, lalu orang cenderung menolak penemuan baru itu dengan alasan tidak sesuai dengan Qur’an. Hal seperti ini terjadi di abad pertengahan di kalangan gereja di Eropa, yang menolak teori heliosentris dari Copernicus dan Galileo, karena dianggap bertentangan dengan dogma al-Kitab bahwa bumi adalah pusat perhatian Tuhan. Hal serupa – walaupun dalam skala yang lebih kecil – juga terjadi di beberapa kalangan umat Islam. Sebagai contoh: ketika di Qur’an disebutkan adanya 7 buah langit,

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Qs. 41-Fussilat:12)

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. (Qs. 67-al Mulk:5)

ada sejumlah orang yang kemudian menafikan perjalanan ke bulan atau ke planet-planet, apalagi bila itu dilakukan orang-orang kafir yang dianggap temannya syaitan. Kita tentu ingat bahwa “planet” seperti Venus atau Mars dalam bahasa Arab akan disebut “bintang”. Mungkin di sini tafsir kita yang perlu direvisi.

Religiousitas di kalangan Ilmuwan

Bagi orang yang menekuni sains dan al-Quran, akan didapatkan banyak ayat yang menyentuh suatu cabang sains – yang baru bisa dikenali sebagai sains setelah zaman modern. Karena saya mempelajari geodinamika, saya amat tersentuh dengan ayat seperti berikut:

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan…(QS 27 – an-Naml:88).

Tersentuhnya adalah bahwa fakta pergerakan benua beserta gunung-gunung di atasnya beberapa decimeter pertahun baru diketemukan abad-20. Darimana Rasulullah, yang hidup 14 abad yang lalu, bisa mengetahui fenomena ini, kalau bukan Yang Maha Berilmu yang memberitahunya?

Hal serupa akan ditemui oleh orang astronomi, biologi, oceanologi dan sebagainya. Pertanyaannya, mengapa tidak semua saintis kemudian menjadi religious?

Jawabannya: tidak cukup hanya mengenal keberadaan Tuhan. Seperti tidak cukupnya kita ketika sadar punya boss, namun tidak tahu apa visi-missi boss, dan juga tidak tahu apa yang membuat boss senang atau marah.

Mereka menganggap persoalan Tuhan ini persoalan pribadi, bahkan bisa-bisa justru “menyalahkan” Tuhan ketika dilihatnya Tuhan “tak berbuat apa-apa” ketika ada ummat-Nya yang menderita, tertindas, lapar atau sakit.

Mereka mungkin akan menyembah Tuhan dengan suatu cara yang menurutnya paling rasional. Mereka gagal memahami kemauan boss – karena mereka berhenti dengan tahu bahwa ada boss, namun tidak mencari tahu, siapa orang kepercayaan boss yang pantas mereka jadikan rujukan dan juga teladan.

Wajarlah, bahwa dalam Islam dituntut dua jenis pengakuan: dikenal dengan syahadat Tauhid dan syahadat Rasul. Tanpa mengikuti Rasul, pengenalan keberadaan tuhan tidak akan banyak berbuah, karena kita tetap belum tahu hidup kita mau dikemanakan. Jadinya kita tidak tahu bahwa Tuhan akan menolong orang-orang yang tertindas atau lapar atau sakit itu melalui tangan-tangan kita. Kita akan terinspirasi untuk melakukan upaya itu setelah mengkaji manual yang diberikan Tuhan via para Rasul. Di situlah kita tahu, bahwa kita hidup sebagai agen, untuk sebuah missi pada sautu lahan yaitu planet bumi ini.

Integrasi Sains & Islam pada Pendidikan

Dengan mengetahui seluruh “duduk perkara” sains dan Islam di atas, tampak bahwa hakekat persoalannya adalah memadukan agar pada setiap aktivitas kita, setelah ada kerja keras dari kekuatan tubuh kita, ada kerja cerdas berdasarkan sains dan kerja ikhlas berdasarkan Islam.

Dalam dunia pendidikan, yang biasanya akan dikembangkan pada seorang anak didik adalah olah fikirnya (kognitif), sikapnya (afektif) dan life-skill-nya (psikomotorik). Di sinilah perlu penelaahan yang mendalam agar di setiap aspek ada muatan sains dan Islam secara sinergi. Bahkan lebih jauh lagi, beberapa mata pelajaran bisa dipadukan sehingga tercipta suatu fokus yang berguna secara praktis.

Sebagai contoh: Mengajarkan masalah air.

Kita bisa membahas mulai dari soal siklus air (IPA/fisika). Agar terkesan, bahasan bisa dilakukan di tepi kolam atau sungai. Di situ sekaligus ada pengetahuan tentang IPS/geografi. Kemudian bagaimana manusia berbagi air (matematika). Lalu bagaimana hukum-hukum Islam yang berkait dengan air (thaharah, hadits “manusia berserikat dalam air, api dan padang gembalaan”). Dan terakhir siswa diminta membuat karangan tentang bagaimana menjaga sumberdaya air (bahasa Indonesia / bahasa Inggris).

Contoh lain: mengajarkan masalah tuas.

Tuas atau pengungkit umumnya diberikan dalam pelajaran fisika (IPA). Kenapa tidak melakukannya di tukang beras yang punya timbangan, sekaligus mengenalkan pasar (IPS). Lalu anak-anak diminta menghitung berapa Rupiah yang dibayarkan bila yang dijual sepuluh kilo beras dan dua kilo gula pasir (matematika). Lalu diberikan hukum-hukum Islam tentang larangan mengurangi timbangan (agama). Dan terakhir: buat karangan tentang bagaimana agar pasar tampak rapi dan nyaman (bahasa).

Dalam cakupan yang lebih mikro, kita bisa pula memasukkan motivasi Islam ke dalam semua kajian sains. Konon Imam al-Khawarizmi ingin mengembangkan persamaan-persamaan aljabar karena ingin menyelesaikan persoalan pembagian waris dalam Islam yang akurat.

Seorang pendidik muslim dapat membuat contoh-contoh yang amat relevan dengan sisi peran murid sebagai siswa/siswi muslim.

Misalnya: untuk matematika geometri, bisa dibuatkan contoh untuk menghitung tinggi masjid atau luas areal yang diperlukan untuk membangun masjid.

Untuk pelajaran fisika mekanika bisa dibuat soal berapa sudut lontaran meriam untuk dapat mencapai benteng kafir penjajah.

Untuk pelajaran kimia titrasi bisa dibuat soal berapa cc larutan yang harus disediakan – sampai warnanya berubah – untuk mendeteksi adanya lemak babi.

Demikianlah, masih banyak hal yang bisa dilakukan oleh para pendidik muslim. Islam menjadi ontologi, epistemologi dan aksiologi dari semua aspek sains, dan pada gilirannya, sains yang dipelajari semua terasa terkait dengan kehidupannya praktis sehari-hari.

Yuph, Islam membumi. Sekolahpun jadi menyenangkan.

 

Dr. Ing Fahmi Amhar
Dosen Pascasarjana Universitas Paramadina

(Profesor Riset di BAKOSURTANAL)


Kekuatan Dahsyat Ekonomi Negara Khilafah


Salah satu alasan terpenting yang sering dikemukakan atas kemiskinan di Dunia Islam pada saat ini adalah karena tidak diterapkannya demokrasi. Teori saling ketergantungan antara demokrasi, pembangunan dan HAM dikemukakan pertama kali pada Deklarasi Wina tahun 1933 oleh UNESCO. Mancur Olsen (Universitas Maryland), seorang ahli ekonomi kapitalis yang terkenal, dalam bukunya yang berjudul, Kekuasaan dan Kemakmuran (Power and Prosperity) (2000), menunjukkan bahwa negara-negara demokrasi pada umumnya menunjukkan pembangunan dan kemajuan jika dibandingkan dengan sistem pemerintahan yang lain.

Campos (1994) juga telah menunjukkan suatu hubungan positif antara demokrasi dan pembangunan. Michael T. Rock (2009), dengan memakai data di Asia, menolak bahwa demokrasi memperlambat pertumbuhan dan menunjukkan bahwa demokrasi menyebabkan pertumbuhan dan investasi.

Namun, ada tulisan ilmiah yang mengkritik validitas dari kesimpulan seperti itu. Contohnya, Christian Bjørnskov (2010), yang mengungkapkan data mengenai perbedaan pendapatan yang diperoleh dari Database Ketidakmerataan Pendapatan Dunia pada 88 negara berkembang. Karena itu, dia menyimpulkan bahwa teori ini sengaja dijajakan dan diterapkan oleh para elit politik dan akademisi dari negara-negara itu. Sebagai tambahan, penemuan Sirowy dan Inkeles (1991) mendukung suatu hubungan negatif antara demokrasi dan pembangunan.

Sebagai contoh, Pakistan. Di bawah kepemimpinan diktator Jendral Pervez Musharaf, Pakistan berada di ambang kebangkrutan. Lalu di bawah pemerintahan demokratis Asif Ali Zardari Pakistan secara teknis menjadi sebuah negara yang telah bangkrut. Negara itu telah gagal selama 60 tahun terakhir di bawah sistem demokrasi-sekular. Contoh lain, Bangladesh. Selama 20 tahun terakhir, Bangladesh mempraktikkan demokrasi. Sebenarnya, Bangladesh mulai dengan tingkat kemiskinan 48% pada tahun 1990, namun sekarang sekitar 51% hidup di bawah kemiskinan! Padahal negara itu dianggap sebagai salah satu model demokrasi terbaik di Dunia Islam. Kebalikannya, Kuwait, Saudi Arabia, Emirat Arab, Qatar, Brunei dll diperintah oleh kerajaan. Negara mana yang lebih berkembang secara ekonomi? Tentu saja bukan Bangladesh!

Dengan melihat perkembangan pada tahun 2010, ekonomi di negara-negara Barat sendiri—seperti Amerika, Jerman, Perancis, Yunani, Italia, Spanyol, Portugal, Irlandia, dll—runtuh. Ini menunjukkan bahwa negara-negara demokrasi sekular itu gagal membuat rakyatnya stabil secara ekonomi selama beberapa masa. Karena Kapitalisme dan penerapan pasar bebas pulalah mayoritas penduduk dunia (3 miliar orang) hidup dengan kurang dari 2 dolar sehari; dua pertiga dunia berhutang sebesar $1,2 triliun, 1,3 miliar orang lainnya hidup dengan kurang dari 1 dolar sehari; 1,3 miliar orang tidak punya akses terhadap air bersih; 3 miliar orang tidak punya akses sanitasi; dan 2 miliar orang tidak punya akses listrik.

Di sisi lain, Islam selama lebih dari 1300 tahun menerapkan sistem ekonomi Islam tanpa mengalami resesi sepanjang sejarahnya. Karena itu, keterbelakangan ekonomi di Dunia Islam bukan karena mereka tidak mengadopsi sistem demokrasi sekular dan pasar bebas. Yang terjadi adalah kebalikannya, yakni karena sistem itu diterapkan di Dunia Islam.

Kekuatan Ekonomi Dunia Islam

1. Swasembada Pangan.

Salah satu faktor utama untuk mencapai swasembada bagi negara manapun adalah dengan mendapatkan produksi makanan yang cukup dari dalam negeri. Jika sebuah negara dapat memberi makanan bagi rakyatnya, tentu hal ini akan menambah daya tawar secara internasional sebagai sebuah negara yang independen. Berbagai sumber statistik menunjukkan bahwa Dunia Islam mendapat tempat yang baik ketika kembalinya Negara Khilafah Islam pada masa datang. Sesungguhnya Negara Khilafah Islam tidak membutuhkan bantuan dari negara manapun karena negara itu mampu menghasilkan cukup makanan biji-bijian seperti beras, gandum, kentang dan sereal untuk memberi makan penduduknya.

Dalam hal beras, menurut Institute Penelitian Beras Internasional (International Rice Research Institute), negara-negara Islam saat ini memproduksi sekitar 21,06% dari produksi beras global tahun 2008. Indonesia dan Bangladesh adalah produser beras ke-3 dan ke-4 terbesar di dunia. Apalagi menurut FAO Indonesia dan Bangladesh mengalami pertumbuhan produksi beras yang cepat pada tahun 2005 dan 2006, masing-masing lebih dari 8,6% dan 6,9%; sementara Pakistan diharapkan mampu memimpin pada ekspor beras pada tahun 2010. Sebuah laporan yang berjudul, “Monitor Pasar Beras” yang diterbitkan oleh FAO, sebuah badan PBB, memperkirakan bahwa ekspor beras dari Pakistan akan naik sebesar 3,8 juta ton pada tahun ini (2009), dibandingkan dengan hanya 2,8 juta ton pada tahun 2008.

Dalam hal gandum, negara Khilafah Islam yang diwakili oleh negeri-negeri Islam saat ini juga memproduksi gandum yang cukup besar. Menurut ‘Laporan Pasar Besar’ pada tahun 2010 negeri-negeri Islam telah memproduksi sekitar 102,3 juta metrik ton gandum yang mewakili sekitar 16,85% produksi gandum. Pakistan menempati posisi ke-7, Turki posisi ke-8, Kazakhstan posisi ke-10 dan Iran pada posisi ke-11 sebagai produser gandum terbesar di dunia. Apalagi Kazakhstan merupakan eksportir gandum terbesar dunia ke-5 dan Turki ke-8.

Dalam hal sereal, yang merupakan salah satu makanan Barat, Negara Khilafah Islam yang diwakili oleh negeri-negeri Islam memproduksi sekitar 30% keseluruhan produksi sereal dunia. UAE merupakan produsen sereal no. 1 di dunia, sementara Yordania dan Kuwait masing-masing menempati posisi ke-4 dan ke-5.

Apalagi Indonesia adalah produsen kacang hijau ke-2 terbesar dunia, sementara Turki menempati posisi ke-3. Menurut statistik FAO tahun 2009, produksi gabungan dari kacang hijau Indonesia, Turki, Mesir dan Maroko adalah sebesar 25,82% produksi dunia.

2. Sumberdaya Migas.

Sumber daya energi minyak, gas dan mineral lain menunjukkan bahwa, masa depan Negara Khilafah melebihi apa yang dimiliki negara-negara lain di dunia. Dunia Islam memegang monopoli cadangan minyak dunia, yakni sekitar 72% dari cadangan minyak dunia. Fakta menunjukkan bahwa minyak adalah sumber energi yang paling penting untuk mencapai bukan hanya pertumbuhan ekonomi namun juga untuk menjadi ekonomi terbesar dunia. Dunia Islam menghasilkan hampir 50% dari produksi minyak harian dunia. Saudi Arabia adalah produsen terbesar dengan 13,39%, sementara Rusia memproduksi 11,75%, Amerika memproduksi 9,16%, dan Iran memproduksi 5,16%.

Dunia telah membuktikan bahwa cadangan gas adalah sebesar 175,36 triliun cum. Dari jumlah itu Dunia Islam memiliki 107,75 triliun cum yakni 61,45%. Meskipun Rusia saat ini ada di posisi pertama dalam hal cadangan gas dengan 47,57 trilliun cum atau 27,13%, hal ini karena Dunia Islam masih terpecah berdasarkan nasionalisme di bawah kendali kolonialis karena tidak adanya Negara Khilafah Islam. Negara Adidaya Amerika Serikat saat ini hanya memiliki 5,978 triliun cum atau 3,4%, sedangkan Cina hanya sedikit di atas 1% dan Inggris hanya 0,2%.

Saat ini negeri-negeri Muslim, yakni Iran merupakan ke-2 terbesar (15,31%), Qatar adalah ke-3 terbesar (14,61%), Arab Saudi ke-4 terbesar (4,8%), dan Uni Emirat Arab ke-5 yakni 3,46% dengan cadangan yang telah terbukti. Dari 15 negara teratas dengan cadangan gas yang terbukti, 12 negara merupakan bagian alami dari Negara Khilafah Islam masa depan. Apalagi saat sekarang, sejumlah besar cadangan gas telah ditemukan di Afganistan. Sejalan dengan sumber-sumber daya alam lainnya, gas diperkirakan memiliki nilai pasar lebih tinggi daripada GDP dari 300 tahun negara Adidaya Inggris!

3. Cadangan Batubara.

Sumber energi alam lain yang penting di dunia adalah batubara. Pada hari ini batubara menyediakan 26,5% dari kebutuhan energi primer global dan menghasilkan 41,5% listrik dunia. Menurut World Coal Institute pada tingkat saat ini produksi cadangan batubara yang terbukti dapat dipakai untuk lebih dari 119 tahun penggunaan.

Meskipun tidak ada konfirmasi resmi mengenai cadangan batubara yang terbukti di masing-masing negara, dengan melakukan pengecekan silang dari berbagai sumber, jelas bahwa Dunia Islam memiliki jumlah cadangan batubara besar. Pada kenyataannya memang benar Dunia Islam tidak menjadi posisi pertama dalam hal cadangan batu bara yang terbukti. Namun faktanya, Dunia Islam tidak memiliki kekurangan batubara.

Indonesia merupakan salah satu produsen batubara top 10 di dunia. Dari tahun 2003 sampai hari ini Indonesia adalah pengekspor batubara ke-2 terbesar dunia setelah Australia. Indonesia mengekspor sekitar 21% perdagangan batubara global. Kazakhstan memiliki cadangan batubara ke-8 terbesar di dunia. Selain itu, Indonesia, Turki, Pakistan dan Bangladesh adalah di antara 20 negara dengan cadangan batubara terbukti menurut statistik dari BP Statistik Review Energi Dunia pada bulan Juni 2009. Pakistan memiliki lapangan batubara Thar di Provinsi Sind. Ini adalah lapangan batubara terbesar di dunia.

4. Cadangan Uranium.

Di dunia sekarang ini, sumber energi yang paling penting adalah uranium. Uranium digunakan sebagai bahan bakar dalam reaktor nuklir untuk menghasilkan listrik serta memproduksi senjata nuklir sebagai penggetar setiap ancaman asing. Bahkan energi nuklir akan menjadi salah satu pasokan energi yang tumbuh pada tahun-tahun yang akan dating (Alistair J Stephens, 2005). Pembangkit listrik nuklir adalah bentuk yang paling efisien dari pembangkit listrik. Sekitar 15% dari pembangkit listrik di dunia berasal dari 440 pembangkit tenaga nuklir yang memproduksi listrik 365.560 MWe. Sebanyak 25 pembangkit nuklir lain sedang dibangun dan akan menghasilkan tambahan tenaga listrik sebesar 20.776 MWe.

Pembangkit itu menyediakan 10.000 kali lebih energi perkilogram bahan bakar yang dihasilkan dari bahan bakar fosil tradisional. Ini merupakan penggunaan yang super efesien sumberdaya alam. Oleh karena itu, jika kita melihat sumber bahan bakar energi utama, kita melihat masa depan Negara Khilafah Islam akan memegang posisi kedua atau pertama. Tidak ada negara, konfederasi, dll yang bahkan mendekati tingkat energi sumber daya yang dimiliki Dunia Islam. Memang, itu adalah aset strategis yang telah membentuk keseimbangan kekuasaan, geopolitik dan ketertiban global dan internasional selama berabad-abad dan akan terus memainkan peran penting juga dalam berabad-abad mendatang.

5. Bijih Besi.

Bijih besi, yang merupakan komponen penting lain dari produksi industri skala besar, juga tersedia di beberapa bagian Dunia Islam. Survei menunjukkan bahwa Iran adalah produsen bijih besi ke-9 terbesar di dunia dengan perkiraan produksi 35 juta metrik ton. Kazakhstan dan Mauritania adalah produsen bijih besi ke-13 dan ke-14 di dunia di tahun 2008. Terlepas dari sumberdaya alam itu, Dunia Islam memiliki cadangan emas yang besar. Indonesia merupakan produsen emas ke-7 terbesar, Uzbekistan ke-9 terbesar, dan Tanzania ke-16 terbesar dunia. Kazakhstan, Kyrgyzstan, Arab Saudi dan Pakistan juga memiliki jumlah produksi emas yang cukup besar.

6. Angkatan Kerja dan Pasar Domestik.

Dua faktor penting lain bagi ekonomi untuk tumbuh adalah sumberdaya manusia dan pasar domestik yang cukup besar. Melihat kondisi ini, Dunia Islam memiliki angkatan kerja terbesar pada kategori usia 15-50 tahun. Untuk mendorong ekspansi ekonomi, mendapatkan produksi berbiaya rendah dan mendapatkan keunggulan kompetitif di pasar, salah satu faktor paling penting adalah adanya tenaga kerja produksi yang melimpah di Dunia Islam. Pada hari ini, masyarakat Eropa cemas karena sebagian besar negara anggota Uni Eropa akan melihat penurunan populasi mereka akibat laju pertumbuhan populasi yang negatif. Mereka juga akan memiliki masalah penuaan penduduk seperti di Jepang. Ide kompetensi biaya produksi telah menyoroti pentingnya outsourcing buruh yang murah oleh negara dengan ekonomi terbesar dunia. Ini jelas menyoroti peran tenaga kerja dalam pembangunan ekonomi.

Selain itu, masuknya imigrasi di Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Eropa juga menyoroti bagaimana putus-asanya negara-negara tersebut untuk menjaga agar tenaga kerja cukup besar bagi kebutuhan produksi industri.

Saat kembalinya Khilafah, negara akan memiliki 17,23% angkatan kerja global dunia, sementara Cina dan India masing-masing hanya 2,57% dan 1,667%. Pada tahap ini Indonesia, Bangladesh dan Pakistan yang merupakan tempat yang mungkin bagi kembalinya Negara Khilafah Islam akan memiliki tenaga kerja masing-masing dalam urutan ke-4, ke-8 dan ke-11 pada statistik tenaga kerja global.

Selain itu, Negara Khilafah Islam akan terdiri dari 23% populasi global yang menjadi konsumen global, yang merupakan faktor utama untuk mendorong pertumbuhan bisnis dalam mencapai industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi secara internal. (Al-Waie No. 125, Januari 2011)


Kekuatan Geostrategis Negara Khilafah

Perjuangan suatu negara untuk mencapai posisinya tidak mengenal henti. Kompetisi antarnegara dalam kancah politik internasional pun sudah berlangsung sejak dulu. Dalam setiap lembaran sejarah, akan selalu ada satu negara yang dianggap sebagai negara yang memimpin dan mengendalikan dunia. Kompetisi ini, selain dipengaruhi oleh keyakinan yang diemban negara, penduduknya dan sistem yang dianutnya, juga dipengaruhi oleh kekuatan geostrategis negara tersebut.

Barat telah menggunakan istilah geopolitik dan menurut Oyvind Osterud (1988) ia telah menjadi penting pasca masa kolonial. Menurut Osterud tradisi geopolitik mengindikasikan adanya kaitan sebab-akibat antara kekuatan politik dan wilayah geografis. Menurut dia, istilah geopolitik dalam istilah yang baku berarti kumpulan pemikiran yang mendalami strategi yang spesifik, yang diformulasikan berdasarkan kepentingan relatif kekuatan darat dan laut dalam sejarah dunia. Karena itu, dalam membangun negara terkemuka di dunia, pentingnya kontrol atas geopolitik internasional tidak bisa diremehkan. Studi komprehensif terhadap sejarah Inggris dan Amerika—sebagai contoh negara adidaya global masa lalu dan sekarang—akan menampilkan beberapa kesimpulan penting mengenai karakter geopolitik sebuah negara adidaya.

Geostrategis Imperium Inggris Masa Lalu

Supremasi Inggris di dunia adalah karena kemampuannya menjajah Afrika, Amerika, Semenanjung India dan Timur Tengah di penghujung era kolonial.

Koloni Inggris di Amerika merupakan sumber hasil pertanian yang mendatangkan uang bagi Inggris dan, lebih penting lagi, menjadi sumber penghasilan penting dari bisnis jual-beli budak. Sedikitnya 3,5 juta budak, terutama berasal dari Afrika, telah dijual ke koloni Inggris di Amerika.

Afrika, selain merupakan sumber suplay budak, juga merupakan sumber bahan mentah yang penting. Inggris memerangi Prancis habis-habisan agar tetap memilki hubungan baik dengan beberapa kawasan di Afrika yang saat itu berada di bawah Khilafah Utsmani dan untuk tetap mengontrol bagian Afrika yang menjadi koloninya.

Meskipun penemuan mineral di Afrika baru banyak dilakukan pada Abad 20, pada masa lalu potensi kekayaan Afrika yang melimpah seperti sumber hutan, budak, tanah untuk pertanian, dan batubara untuk menjalankan roda industri secara pesat meningkatkan perhatian Inggris terhadap Afrika. Jika kita memperhatikan bagaimana Inggris menjaga dominasinya itu, Selat Gibraltar memberikan jawaban yang sempurna.

Semenanjung India menjadi lokasi penting lainnya bagi geopolitik Inggris. Kontrol penuh atas Semenanjung baru terealisai pada penghujung tahun 1857. Pada Abad 19, Inggris terus memproteksi koloni di India dan memperluasnya, sebagai batu loncatan untuk menguasai seluruh Asia.

Tentara bayaran perusahaan East India Company (EIC) memiliki peran penting bagi militer Inggris, sejak perang 7 tahun, dalam memukul mundur Napoleon dari Mesir (1799), merebut Jawa dari Belanda (1811), menguasai Singapura (1819) dan Malaka (1824) serta mengalahkan Burma (1826). Dari India pula Inggris bisa mengusik Cina dan menguasai Hongkong melalui manuver opium. Dengan demikian, India merupakan lokasi geostrategis bagi imperium Inggris di Asia Pasifik.

Bagi kekuatan adidaya, Mesir merupakan jalur kunci perdagangan rempah-rempah antara Eropa dan Asia. Inggris pun merebut Mesir dari Prancis pada abad ke-18. Mesir memberikan jalur tercepat untuk menjalin komunikasi dengan koloninya di India. Karena itu, jalur Terusan Suez menjadi penting sebagai urat nadi Imperium Inggris.

Apa yang dikenal sebagai ‘Rute Merah’ adalah rute perdagangan dari Inggris bagian selatan à Gibraltar àMalta àAlexandria àPort Said (setelah dibangunnya kanal) àTerusan Suez àAden àMuscat (akses menuju Teluk Persia) àIndia àSri Lanka àBurma àMalaysia àSingapura; lalu menyebar ke Pasifik, menuju Hong Kong, Australia, Selandia Baru, dan koloni Inggris lainnya. Ini mengingatkan kita bahwa rute ini merupakan rute strategis paling penting bagi Imperium Inggris.

Terakhir, Laut Mediterania merupakan lokasi geopolitik terpenting bagi Inggris. Dari tahun 1600-an hingga sekarang, Laut Mediterania membantu Inggris untuk mengontrol koloninya di Afrika sebagai sumber bahan baku dunia, memelihara komunikasi dengan Semenanjung India melalui Terusan Suez dan Teluk Persia, serta menjaga kekuatan Eropa lainnya tetap di luar Timur Tengah, Asia dan Afrika. Bahkan hingga hari ini pun, jalur ini masih merupakan jalur perdagangan tersibuk untuk perekonomian dunia; menghubungkan Amerika dan Eropa, dengan Asia dan Timur Tengah.

Dengan demikian, fakta sejarah menunjukkan bahwa Benua Afrika, Timur Tengah, Laut Mediterania, Teluk Persia dan Semenanjung India menjadi lokasi terpenting dalam kepentingan geopolitik Imperium Inggris. Dengan menguasai rute dan lokasi penting ini, Inggris menikmati pertumbuhan ekonomi yang digerakkan oleh visi politiknya. Lebih jauh lagi, sejarah mencatat bahwa Selat Gibraltar, Terusan Suez, Selat Hormuz di Teluk Persia dan Selat Malaka memegang peran penting dalam mempertahankan Inggris sebagai kekuatan adidaya selama 200 tahun.

Kolonialisme Amerika: Geostrategis Modern

Sejarah Amerika sebagai satu negara adidaya penting pada masa 1945-1990, dan adidaya dunia tunggal sejak 1991- hingga sekarang, memberikan beberapa kesimpulan penting.

Amerika menguasai minyak dari Timur Tengah untuk mendukung ekspansi ekonomi dan kebutuhan militernya. Krisis minyak 1973 menunjukkan rawannya ekonomi Amerika dan negara-negara Barat lainnya ketika suplai minyak diputus. Karenanya, Amerika membangun pangkalan militer di Teluk Persia, Arab Saudi dan Kuwait pada tahun 1990-an dan di Irak baru-baru ini. Sumber minyak dari Tim-Teng dikirim ke AS melalui Terusan Suez ke Mediterania. Untuk mengamankan suplai minyak itu, AS memerangi keberadaan Inggris dan Rusia di kawasan itu sejak PD II hingga akhirnya menang pada 1990-an selama Perang Teluk I dan jatuhnya Komunisme 1990. Betapa strategisnya kawasan ini diungkapkan dalam pidato Presiden Jimmy Carter tahun 1980 yang dikenal sebagai Doktrin Carter, “Sikap kami sudah jelas, kekuatan asing manapun yang berusaha mengontrol Teluk Persia akan dianggap sebagai serangan terhadap kepentingan vital Amerika dan akan dihadapi dengan berbagai tindakan, termasuk tindakan militer.”

Faktanya, 23% impor minyak AS berasal dari Timur Tengah. Kini Amerika menghadapi persaingan dari Cina dan Rusia terhadap akses minyak Timur Tengah. Demikian juga menghadapi kompetisi dari India, Jepang dan Uni Eropa. Karena itu, kawasan Mediterania dan Teluk Persia menjadi satu lokasi paling strategis bagi Amerika yang sudah mengalami perubahan dari peta kekuatan unipolar menjadi multipolar.

Sejak era Perang Dingin kawasan Laut Hitam dan Laut Kaspia menjadi tempat penting bagi Amerika untuk mengendalikan Rusia yang semakin berpengaruh di wilayah itu dan juga mempertahankan sekutu ideologisnya di Eropa. Meskipun dari dulu bersaing, AS dan Rusia memiliki kepentingan yang sama di kawasan Kaspia. Ini karena dalam dua dekade terakhir terjadi peningkatan pesat aktivitas gerakan Islam dan seruan untuk tegaknya kembali Khilafah Islamiyah oleh partai politik Islam non-kekerasan, yang populer dan aktif, yang telah menginspirasi Muslim di kawasan ini. Hizbut Tahrir menjadi aktor utamanya. Hingga tahun 2010, lebih dari 10 ribu aktivis dan pendukung Hizbut Tahrir dipenjara di Uzbekistan, termasuk wanita tua (73 th) dan anak-anak (13 th), dengan hukuman antara 7 hingga 20 tahun, hanya karena aktivitas dakwah mereka, bukan karena aksi kekerasan ataupun kejahatan apapun. Seorang pengamat independen dari Inggris yang memiliki hubungan dengan Kedutaan Inggris di Uzbekistan mengatakan, “Barat hanya punya satu opsi, yaitu Diktator brutal Islam Karimov, karena di luar itu hanya ada Hizbut Tahrir dengan Khilafah Islamiyahnya.”

Hal sama juga terjadi di negeri Asia Tengah lainnya.

Terakhir, di wilayah Asia, Amerika memiliki kepentingan untuk mengisolasi Cina. Lebih jauh lagi, bangkitnya India dalam skala regional dan pasarnya yang besar, gencarnya seruan Khilafah dari Pakistan, Bangladesh dan Indonesia membuat Asia Selatan merupakan target kebijakan luar negeri Amerika yang penting menurut Menlu AS Hillary Clinton. Pesatnya perekonomian Cina sudah mulai mengakar di negeri ASEAN dan meluaskan penetrasi ke Semenanjung Asia Selatan melalui Myanmar, Pakistan, dan Bangladesh.

Ancaman Islam Politik di kawasan Samudera India yang meliputi Pakistan, Bangladesh, India dan Indonesia yang didiami tidak kurang dari 60% populasi Muslim dunia telah mengkhawatirkan pembuat kebijakan Amerika.

Maka dari itu, dari studi yang mendalam tentang dua kekuatan adidaya penjajah dunia, Inggris dan Amerika, beberapa kawasan diketahui menjadi pusat pengaruh yang sangat penting bagi bangkitnya negara adidaya baru. Kontrol atas pusat pengaruh tersebut sangat penting dalam persaingan peradaban. Menilik sisi ekopolitik dan kepentingan strategis, ada beberapa pusat kawasan yang menjadi kunci pengendalian dunia, yaitu:

1. Kawasan Mediteranea, Timur Tengah dan Teluk Persia.

2. Benua Afrika yang kaya sumberdaya alam.

3. Asia Selatan dan Asia Tenggara yang terhubung dengan Selat Malaka.

4. Kawasan Laut Kaspia dan Laut Hitam.

Bangkitnya Negara Khilafah Islamiyah: Implikasi Geostrategis

Dari studi geostrategis ini, siapapun yang ingin melukiskan masa depan dunia, akan mendapatkan kesimpulan yang sangat penting dan mendalam. Umat Islam yang memiliki kesamaan keyakinan, tradisi dan aspirasi masa depan dan kelak akan disatukan dalam negara Khilafah Islamiyah dengan izin Allah SWT menempati posisi strategis. Keempat kawasan kunci serta rute perdagangan dan perekonomian paling vital yang disebutkan sebelumnya berada di wilayah kaum Muslim. Begitu Khilafah Islamiyah bangkit, dengan kontrol atas kawasan kunci dan rute vital itu, yang dikombinasikan dengan potensi demografi, ekonomi, militer dan ideologi, maka dalam sekejap Khilafah Islamiyah akan menjelma menjadi adidaya baru di dunia. Hal itu hanyalah masalah waktu. [Al-Waie No. 125, Januari 2011]


Potensi Demografi Muslim Bagi Kebangkitan Kembali Khilafah


Over Populasi: Bencana?

Sejak 1960 secara global dibangun mitos di seputar masalah ledakan jumlah penduduk. Dimitoskan bahwa angka pertumbuhan penduduk yang tinggi dan besarnya jumlah penduduk telah menjadi bencana yang mengancam peradaban umat manusia. United Nations Population Fund (UNFPA) pada tanggal 8/7/2010 menginformasikan bahwa jumlah penduduk dunia sudah mencapai 6,8 miliar orang dan akan naik dua kali lipat dalam 4 dekade kedepan, yaitu tahun 2050, apabila tingkat pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan.

Para ahli Barat berperan besar dalam membangun mitos masalah over populasi. Menurut John A. Lorraine (1967) over populasi pada abad ke-20 adalah salah satu bencana yang menimpa planet kita ini. Cicely D. Williams (1966) mengatakan bahwa negara-negara di dunia yang kini menderita akibat over populasi diharuskan untuk menghabiskan dana yang banyak untuk mengendalikan kesuburan penduduknya. Menurut dia, cara terbaik adalah dengan membuat program keluarga berencana (KB). Menurut W. Parker Mauldin (1977) untuk mengatasi masalah over populasi diperlukan program kependudukan yang diterapkan dalam rencana pembangunan.

George B. Simmons (1977) dalam penelitiannya menemukan bahwa pertumbuhan populasi adalah masalah dan terkait dengan perubahan ekonomi. Menurut dia, pertumbuhan penduduk yang pesat di negeri miskin di Afrika, Asia dan Amerika Latin membuat penyelesaian masalah ekonomi jadi sulit dan lebih sulit lagi untuk memastikan pertumbuhan pendapatan perkapita. Menurut dia pula, kemiskinan tidak akan bisa diatasi jika populasi tidak dikendalikan. Karena itu, harapan terbaik adalah menggabungkan reformasi sosial dan ekonomi dengan program pengendalian populasi.

Lebih jauh lagi, Roy O. Greep (1998) menyatakan bahwa over populasi merupakan akar masalah sosial dan lingkungan seperti kemiskinan, kepadatan penduduk, kejahatan, terorisme, polusi air dan udara serta hilangya ozon. Menurut dia, dengan berbagai alasan maka pertumbuhan jumlah penduduk harus dikendalikan baik secara alami atau dengan campur tangan manusia.

Namun, benarkah jumlah penduduk yang besar merupakan masalah atau bahkan bencana? Memang, tidak banyak artikel akademik yang mendukung pertumbuhan jumlah penduduk, apalagi mengatakan bahwa pertumbuhan populasi yang tinggi justru mendukung ekonomi dan pamor negara! Namun, cerita Cina, India dan Brazil menunjukkan bahwa populasi yang besar, jika dokimbinasikan dengan kemampuan teknologi dan pengaturan logistik yang tepat, akan membangun ekonomi yang besar dengan pasar lokal yang mendukung bisnis untuk tumbuh, meningkatkan skala produksi ekonomi, serta menaikkan potensi dan status negara.

Faktanya, Inggris sebagai negara adidaya pada abad ke-19, pertumbuhan ekonominya didukung oleh teknologi, tenaga kerja murah, dan bahan mentah dari daerah jajahannya serta perluasan pasar di dunia dengan mengontrol lalu-lintas perdagangan dunia. Namun, sekarang Inggris menduduki peringkat yang lebih rendah dibandingkan dengan adidaya lain dalam berbagai aspek; bukan karena tidak menguasai teknologi, tetapi justru karena pasar globalnya telah mengecil dan kapasitas memperoleh bahan baku dan tenaga kerja murah telah berkurang—di satu sisi akibat naiknya pengaruh Amerika dan di sisi lain karena berkurangnya populasi Inggris dibandingkan dengan era kolonial dulu.

Lebih jauh lagi, kasus Amerika yang mengundang imigran asing dengan menyelenggarakan undian memperoleh visa menunjukkan, bahwa pertumbuhan populasi penduduk justru membantu dominasi ekonomi Amerika. Kalau pertumbuhan populasi merupakan masalah, mengapa Eropa, Kanada, Australia, dll justru mengkompensasi penurunan populasinya dengan mengundang imigran?

Faktanya, besarnya populasi justru dan selalu menjadi faktor penting bagi suatu negara untuk mempengaruhi kebijakan dunia, ekonomi dan geopolitik. Tentu penurunan jumlah penduduk akan kontraproduktif bagi bangsa manapun yang bermimpi akan menjelma menjadi kekuatan adidaya dunia. Itulah sebabnya Jerman, Italia, Jepang dan Rusia sangat khawatir dengan menurunnya populasi mereka. Bagi suatu negara ideologis, adalah penting memiliki populasi besar yang menganutnya; lalu berikutnya mengikuti, mempraktikkan, mengimplementasikan, mempropagandakan dan menyebarluaskan sistem ideologi tersebut.

Tren Populasi di Dunia Islam

Dari sekian banyak berkah Allah SWT adalah besarnya populasi Muslim dunia yang bisa menjadi potensi besar bagi bangkitnya negara adidaya baru ke depan. Studi demografi komprehensif dari 200 negara menunjukkan populasi Muslim dunia sebesar 1,57 miliar yang mewakili sekitar 23% dari 6,8 miliar penduduk dunia menurut estimasi di tahun 2009.1

Studi lanjutan menunjukkan bahwa dua pertiga dari Muslim dunia tinggal di 10 negara, yaitu enam negara di Asia (Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Iran and Turki), tiga negara di Afrika Utara (Mesir, Aljazair dan Maroko) dan satu negara di sub-sahara Afrika (Nigeria).

Secara umum populasi Muslim ada di lima benua, dimana 60% berada di Asia dan 20% di Timur Tengah dan Afrika Utara. Negara di Timur Tengah dan Afrika Utara banyak yang mayoritas penduduknya adalah Muslim.

Lebih dari 300 juta Muslim (seperlima dari total penduduk Muslim dunia) tinggal di negara dimana Muslim bukan mayoritas. Populasi minoritas Muslim ini cukup besar. India yang dulu adalah bagian dari dari Khilafah Islamiyah memiliki populasi Muslim ketiga terbesar di dunia. Cina memiliki penduduk Muslim lebih banyak daripada Syria. Rusia adalah rumah bagi populasi Muslim yang lebih banyak daripada gabungan Yordania dan Libya. Dari sekitar 317 juta Muslim yang tinggal sebagai minoritas, sekitar 240 juta (75 %) tinggal di lima negara: India (161 juta atau 13,4% dari populasi), Ethiopia (28 juta atau 34% dari populasi), Cina (22 juta), Rusia (16 juta atau 11,7% dari populasi) dan Tanzania (13 juta atau 30,2% dari populasi). Dari 10 negara terbesar dengan jumlah Muslim minoritas adalah Eropa yaitu Rusia (16 juta) dan Jerman (4 juta atau 5% dari populasi).

Sebaran Demografis Umat Islam

Sebaran demografi umat Islam menunjuk-kan, empat wilayah memiliki populasi Muslim tertinggi. Ini bisa menjadi satu faktor yang menentukan untuk mendorong lahirnya negara global jika wilayah itu punya aset strategis lainnya seperti energi, industri, keuntungan strategis dan yang terpenting adalah asimilasi ideologis. Dari sisi ‘kekuatan populasi’, di antara empat wilayah itu, tiga pertama memiliki kualifikasi menjadi titik awal kembalinya Khilafah Islamiyah:

1. Wilayah Asia Pasifik mewakili 62% penduduk Muslim dunia. Empat negara (Indonesia, Bangladesh, Pakistan dan India) didiami sekitar 43,5% dari Muslim dunia (690 juta). Dua negeri Muslim, yaitu Pakistan dan Indonesia, memiliki kekuatan yang potensial. Pakistan adalah satu-satunya negeri Muslim yang memiliki senjata nuklir. Berdirinya Khilafah Islamiyah di Pakistan akan dengan cepat menyatukan wilayah tetangga seperti Afganistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Kirgistan dan negeri-negeri Asia Tengah lainnya. Lebih jauh lagi, wilayah Khilafah akan dengan cepat meluas ke Selatan dan Asia Tenggara melalui Bangladesh, Indonesia dan Malaysia. Dengan demikian, wilayah yang kaya sumberdaya, dengan posisi yang strategis, dan populasi yang besar ini bisa menjadi awal mula kebangkitan umat di bawah satu negara Khilafah Islamiyah.

2. Dunia Arab, yakni Timur Tengah dan Afrika Utara, didiami oleh sekitar 315 juta Muslim atau 20% dari populasi Muslim dunia. Lebih dari separuh negeri-negeri di Timur Tengah-Afrika Utara mayoritas penduduknya adalah Muslim, sekitar 95% atau lebih, yaitu: Aljazair (34 juta); Mesir (79 juta); Irak (30 juta); Yordania, Kuwait, Libya, Maroko (32 juta); Palestina, Arab Saudi (25 juta); Tunisia (10 juta); Sahara Barat dan Yaman (23 juta). Negeri lainnya, prosentase Muslimnya lebih kecil, yaitu Suriah (92%, 20 juta), Oman (88%), Bahrain (81%), Qatar (78%), Uni Emirat Arab (76%) dan Sudan (71%, 30 juta). Tentu saja dengan potensi SDA yang besar, posisi strategis, asimilasi ideologis, dan besarnya populasi Muslim yang menguasai bahasa Arab, wilayah ini ideal bagi bangkitnya kembali negara Khilafah Islamiyah. Jadi, tidak aneh jika laporan the Project for the New American Century (2000)” berkesimpulan bahwa, “Amerika tidak boleh kehilangan kontrol terhadap wilayah Timur Tengah dan Teluk Persia.”

3. Asia Tengah dan Barat, meliputi Afganistan, Armenia, Azerbaijan, Siprus, Iran, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, Turki, Turkmenistan dan Uzbekistan; mayoritas penduduknya beragama Islam kecuali Siprus. Total populasi Muslim wilayah ini 380 juta atau 24% dari populasi Muslim dunia. Wilayah yang sangat volatil ini menurut Ariel Cohen (2003) menyimpan ancaman keamanan terbesar bagi Amerika. Ariel Cohen secara spesifik menyebut Hizbut Tahrir, sebuah partai politik Islam global non-kekerasan, telah membentuk opini publik tentang Khilafah Islamiyah di wilayah ini. Elizabeth Wishnick (2004) dengan jelas menyatakan, militer AS harus bisa menghadapi ancaman apapun dari kebangkitan Khilafah Islamiyah di Asia Tengah. Ia menyarankan agar AS memiliki pangkalan militer yang besar terutama di wilayah Uzbekistan, Kirgistan dan Tajikistan. Harian People’s Daily (24/9/2010), telah membongkar rencana Amerika untuk memperluas pangkalan militernya di Baghram, Kandahar dan pangkalan udara di Mazar-E-Sharif di Afganistan dengan biaya 300 juta dolar untuk menyiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik global pada masa depan.

4. Sub-Sahara Afrika, didiami oleh sekitar 241 juta Muslim atau sekitar 15% dari Muslim dunia. Nigeria merupakan negeri dengan penduduk Muslim terbesar (78 juta jiwa atau 50% dari total penduduk Nigeria) di wilayah ini.

Saat ini Dunia Islam memang terpecah menjadi lebih dari 57 negara kecil. Itu karena kolusi para penguasa negeri Islam dengan imperialis Barat. Namun, agresi budaya oleh Barat telah gagal menjauhkan Islam dari umat Muslim. Penguasa di negeri Muslim pun tidak bisa melakukannya. Betapapun represi politik mereka lancarkan terhadap para pengemban dakwah, seruan persatuan umat dan penghapusan batas-batas kolonial makin nyaring terdengar. Upaya Barat agar umat Islam tetap terpecah-belah akan diterjang oleh gelombang pergerakan umat saat ini. Ketika Islam kembali dipraktikan dalam kehidupan, maka hanya dalam sekejap mata saja penyatuan 1,56 miliar umat Islam akan terwujud dalam satu wilayah besar. Dengan sumberdaya manusia yang demikian besar yang memiliki keyakinan yang homogen, Dunia Islam menunjukkan realita yang tak bisa dipungkiri untuk menjadi negara global yang terkemuka di dunia. [Al-Waie No 125 Januari 2011]