…. jejakku, cintaku ….

Jejak Kisah

Jejak Sejarah Keperawatan Pada Masa Rasulullah SAW

Oleh : Reza Indra Wiguna,S.Kep.Ns (HELP-S Jawa Tengah)

Jika kita melihat perkembangan dunia sekarang, arus update informasi merupakan hal yang sangat utama dalam suguhan masyarakat dunia, namun bagaimana dengan informasi yang telah lampau atau sejarah dimasa silam yang tak terkuak hingga saat ini. Hakikatnya sejarah merupakan pengetahuan yang termasuk kategori tsaqafah, dan sangat dipengaruhi oleh ideologi dan pandangan hidup tertentu. Sejarah memberikan kepada seseorang lebih dari sekedar informasi, ia menyusun cara berfikir seseorang saat ini dan menentukan langkah apa yang akan di ambil pada masa yang akan datang. Saat ini terjadi degradasi pengetahuan ummat terhadap sejarah Islam di masa kegemilangan sistem khilafahnya, hal ini tidak terlepas dari peranan media kapitalisme di barat, dengan rekayasa sekulerisme yang sengaja menyembunyikan sejarah ke-emasan Islam. Tidak luput pada sejarah, kita tenggelam dalam membanggakan sejarah mereka, baik dari segi keilmuan atau pun para tokohannya. Yang paling menyedihkan adalah banyak rujukan dari Barat yang memutarbalikkan fakta sejarah. Akibatnya, ilmuan-ilmuan muslim dalam bidang sains tidak jarang kita ketahui.

Kita mungkin pernah mendengar nama para ilmuwan muslim dibidang kesehatan pada era kegemilangan sistem kekhilafan Islam Golden Age Periode, sebut saja Abu Muhammad bin zakaria Ar-Razi (864-930) ilmuwan islam dalam bidang kedokteran, Ibnu Al Haitsami atau Al-Hazen (965 M) ilmuwan dibidang optik cahaya, adalah Abu Qosim Al-Zahrawi atau Abulcasis (930 M) seorang ilmuwan ahli bedah terkemuka di masanya. Dunia mengenal Ibnu Sina atau Avicenna (1037) yang menulis kaidah kedokteran modern The Cannon (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran Barat). Dan ada banyak lagi tokoh-tokoh ilmuwan muslim dalam dunia sains dengan spesifikasi dan sumbangsih yang telah terbukti sehingga dijadikan rujukan negara barat selama berabad-abad, disaat yang bersamaan eropa tenggelam dalam kegelapan Dark Age.

Dari sekian para ilmuwan dan tokoh dibidang kesehatan, yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tokoh perawat pertama dalam Islam, mumarridah al-Islam al- Ula. Yang namanya menjadi penulisan para sejarah keperawatan islam, sosoknya memberi banyak inspirasi dalam dunia keperawatan.

Adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Rufaidah berasal dari Bani Aslam, salah satu marga dari suku Khazraj di Madinah. Ia dilahirkan di Yastrib (Madinah) dan tumbuh disana sebelum hijrah. Dia termasuk kelompok muslim pertama dari Bani Aslam. Dialah salah satu perawat pertama dalam Islam. Dialah orang yang pertama kali melakukan pengobatan dan perawatan kepada para sahabat yang terluka di medan jihad. Dia pula yang perempuan pertama yang meminta kepada rasul untuk ikut serta dalam peperangan untuk sekedar membantu para sabahat yang terluka.

Dalam buku “Rufaidah Awwalu Mumarridah fi al Islam” karya Ahmad Syauqi al- Fanjari. perawat pertama Islam itu adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Dia-lah perempuan pertama yang berkonsentrasi terhadap pekerjaan paramedik. Rufaidah bekerja di samping masjid Nabawi dengan mendirikan pusat kesehatan (sejenis tenda pengobatan). Obsesinya untuk berjihad semakin kuat, tentu berjihad dengan keterampilannya dalam bidang keperawatan dan pembuatan ramuan yang diracik oleh tangannya sendiri. Ketika masa perang datang, dia mampu menghimpun dan mengornisir perempuan untuk menjadi pelayan pengobatan disaat perang. Adapun beberapa perang yang sempat diikutinya seperti: di perang Badar, Khaibar, Khandak dan beberapa perang lainnya (lih–Ahmad Syauqi al-Fanjari, 2010: ii; ket. lanjut, lihat Sirah Ibn Hisyam).

Dia-lah yang pertama mendirikan rumah sakit lapangan di medan peperangan, dimana tenda berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada perang khandaq saat tentara al-ahzab mengepung madinah, Rufaidah mendirikan tenda disekitar medan pertempuran. Rasulullah Saw pernah memerintahkan untuk memindahkan seseorang sahabatnya bernama Sa’ad ibn Mu’adz ke tenda Rufaidah agar diberi pertolongan, karena pada waktu itu Sa’ad terkena panah pada lengannya. Pada peristiwa tersebut Rasulullah saw menemui sahabat yang sedang terluka dikemah Rufaidah beberapa kali dalam sehari. Tak heran pula sebutan itu terkenal luas pada pasukan kaum muslimin, menjadi tenda pertolongan pasa masa perang dengan nama “Khaimah Rufaidah” (Tenda Rufaidah), (lih–Ahmad Syauqi al- Fanjari, 2010: iii).

Menurut Prof. Omar Hasan K, dalam sebuah konfrensi “Paper Presented at the 3rd International Nursing Conference “Empowerment and Health: An Agenda for Nurses in the 21st Century” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 1998, mengungkapkan bahwa Rufaidah adalah perawat profesional pertama di masa sejarah Islam. Ia hidup di masa Nabi Muhammad SAW di abad pertama hijriyah, jauh sebelum masa Florence Nigtingale yang dikenal dengan pelopor keperawatan modern. Omar Hasan menggambarkan Rufaidah sebagai perawat teladan, baik dan bersifat empati. Rufaidah juga dikenal sebagai seorang organisatoris yang mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain.

Pengalaman klinisnya pun dia bagi pada perawat lain yang dilatih dan bekerja dengannya. Dia tidak hanya melaksanakan peran perawat dalam aspek klinikal semata. Namun Rufaidah adalah perawat dan pekerja sosial yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam. Dalam sejarah Islam tercatat beberapa nama yang bekerja bersama Rufaidah seperti Ummu Ammara, Aminah binti Qays Al-Ghifariyat, Ummu Ayman, Safiyah, Ummu Sulaiman, dan Hindun. Di masa sesudah Rufaidah, ada pula beberapa wanita Muslim yang terkenal sebagai perawat. Di antaranya Ku’ayibah, Aminah binti Abi Qays Al-Ghifari, Ummu Atiyah Al-Ansariyah, Nusaibah binti Ka’ab Al-Maziniyah, dan Zainab dari kaum Bani Awad (Omar Hasan, 1998).

Rufaidah adalah sejarah terbaik dan teladan bagi para profesi perawat dan dokter. Sekalipun Rufaidah bisa membuat ramuan obat untuk pengobatan, namun oleh para sejarawan Rufaidah tidak disebut sebagai tabib (dokter–saat ini), tetapi dikenal sebagai perawat. Bahkan para penulis sejarah menyebut Rufaidah sebagai Mumarridah al-Islam al- Ula (perawat pertama wanita dalam sejarah Islam). Selain aktivitasnya sebagai perawat, Rufaidah juga memiliki banyak aktivitas yang luas. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh sejarawan handal Ibn Kasir mengungkapkan tentang aktivitas Rufaidah “Ia (Rufaidah) mencurahkan seluruh jiwanya untuk memberikan pelayanan kepada orang yang kehilangan, yakni setiap orang membutuhkan pertolongan dan bantuan, seperti: fakir miskin, anak yatim, serta orang-orang yang tidak mampu”. Aktivitas sosialnya tampak pada proses pendidikan yang dilakukan untuk anak-anak yatim, memberikan pelajaran agama, dan mengasuh mereka. Tidak heran pada zaman Rasulullah, para sahabat dan sahabiyah melakukan sambutan terhadap anjuran Rasulullah saw tentang tolong menolong dan keutamaan mengasuh anak yatim. “Barang siapa memlihara seseorang atau dua orang-anak yatim, kemudian ia bersabar dengan anak yatimnya, maka diriku dan dia seperti ini (sambil merapatkan dua jari tangannya)” (H.R. Muslim).

Di samping kegiatan tersebut, Rufaidah rutin melakukan semua tugas paramedik seperti: merawat dan melayani pasien, memberikan bantuan pada medan perang, mengangkut para korban yang terluka serta syahid. Nama Rufaidah terus terngiang hingga saat ini. Seperti tertulis di laman web RCSI – Medical University of Bahrain, tiap tahun Universitas Bahrain tersebut selalu memilih seorang murid untuk menerima penghargaan dalam bidang keperawatan bernama Rufaida al-Aslamia Prize in Nursing.

Sumber : http://helpsharia.com

Iklan

Menemani Selama 40 Hari

kata-mutiara-islam-tentang-kematian-2

Alkisah seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat: “Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku.”

Lalu ditanyakanlah hal itu kepada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti.
Tapi anak-anaknya menjawab, “Mana mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat.”

Keesokan harinya, dipanggillah semua adik-adiknya. Dan beliau kembali bertanya, “Adik-adikku, sanggupkah diantara kalian menemaniku di dalam kubur selama 40 hari setelah aku mati nanti? Aku akan memberi setengah dari hartaku!”

Adik-adiknya pun menjawab, “Apakah engkau sudah gila? Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.”

Lalu dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya, untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke se antero negeri.

Akhirnya, sampai jugalah pada hari di mana Konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah. Kuburnya dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang Tukang Kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman wasiat tersebut. Lalu Tukang Kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah Konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris akan kesanggupannya.

Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat. Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat sambil membawa Kapaknya. Yang paling berharga dimiliki si Tukang Kayu hanya Kapak, untuk bekerja mencari nafkah.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.

Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat. Di benaknya, sudah tiba saatnya lah si Konglomerat akan diinterogasi oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Malaikat Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah dari harta warisannya”, jawab si Tukang kayu.

Apa saja harta yang kau miliki?”, tanya Mungkar-Nakir.
“Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki”, jawab si Tukang Kayu.

Kemudian Mungkar-Nakir bertanya lagi, “Dari mana kau dapatkan Kapakmu ini?”
“Aku membelinya”, balas si Tukang Kayu.
Lalu pergilah Mungkar dan Nakir dari dalam kubur tersebut.

Besok di hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya, “Apa saja yang kau lakukan dengan Kapakmu?”
“Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar”, jawab tukang kayu.

Di hari ketiga ditanya lagi, “Pohon siapa yang kau tebang dengan Kapakmu ini?”
“Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi ngak ada yang punya”, jawab si Tukang Kayu.
“Apa kau yakin?”, lanjut Malaikat.
Kemudian mereka menghilang.

Datang lagi di hari ke empat, bertanya lagi “Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual?”
“Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata”, tegas tukang kayu.

Begitu terus yang dilakukan Malaikat Mungkar Nakir, datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar dengan Kapak tersebut.

Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu tersebut. Berkata Mungkar dan Nakir, “Hari ini kami akan kembali bertanya soal Kapakmu ini”.

Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut. Ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.

Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dan lari meninggalkan mereka sambil berteriak, “Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi.”

Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya, “Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu. Di dunia ini harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak ini, tapi Malaikat Mungkar-Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan dan persoalkan masih saja di seputar Kapak ini. Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak? Entah berapa lama dan bagaimana aku menjawabnya.”

Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, “Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, ilmunya sejauh mana diamalkan?” (HR. Turmudzi)

Sumber : ONE DAY ONE JUZ Community


WANITA PENGHUNI SURGA

imagesperempuansholeh

Oleh : KH Hafidz Abdurrahman

Dari Atha’ bin Abi Rabah berkata, Ibn ‘Abbas berkata padaku, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya”

Ibn ‘Abbas berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku, ya Rasulullah, agar Allah Menyembuhkannya.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Jika kamu mau, kamu bisa bersabar, dan kamu mendapatkan surga. Tetapi, kalau kamu mau, aku pun akan mendoakanmu, agar Allah menyembuhkanmu.”

Wanita itu tanpa ragu menjawab, pilihan yang diberikan Nabi, “Aku memilih bersabar, ya Rasul.” Dia pun melanjutkan penuturannya, “Tetapi, saat penyakit ayanku kambuh, auratku tersingkap. Mohon doakanlah aku, agar auratku tidak tersingkap.” Nabi pun mendoakannya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]

Subhanallah, alangkah rindunya hati ini pada surga-Nya yang begitu indah. Yang luasnya seluas langit dan bumi. Betapa besarnya harapan ini untuk menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Ketika Nabi menyebut wanita hitam legam, yang mungkin di mata manusia bahkan tidak dilirik sedikit pun, lebih-lebih dia menderita penyakit kambuhan, ternyata dia bisa meraih kemuliaan yang luar biasa. Dialah penghuni surga. Dia mendapatkan kesaksian dari Nabi saw. sebagai salah seorang penghuninya, di kala nafasnya masih dihembuskan. Jantungnya masih berdetak. Kakinya pun masih menapak di permukaan bumi.

Oh, alangkah indahnya. Mata, pikiran dan perasaan kita pun berdecak ingin mengetahuinya, apa gerangan yang mengantarkannya meraih kemuliaan luar biasa itu? Karena dia wanita biasa, berkulit hitam legam, bahkan menderita penyakit kambuhan. Dia bukan wanita yang cantik jelita, berparas elok, berkulit putih bak batu pualam, bukan pula pesohor. Sekali-kali tidak. Dia, kata Ibn ‘Abbas, hanya wanita bisa yang berkulit hitam.

Wanita hitam itu mungkin tidak mempunyai kedudukan di mata manusia. Tetapi, kedudukannya mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya. Ini bukti, bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Ini juga bukti, bahwa kekayaan dan kedudukan di mata manusia juga bukan tolok ukur kemuliaannya di sisi Allah. Namun, kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita pada kedudukan yang mulia di sisi-Nya. Dengan ketakwaan, keimanan, keindahan akhlak, amal shalihnya, wanita yang rupanya biasa saja di mata manusia itu pun menjelma menjadi secantik bidadari surga. Subhanallah..

Ketika wanita yang hitam legam itu lebih memilih menerima keputusan (qadha’) Allah, yaitu penyakit ayan yang terus-menerus kambuh. Ketika wanita biasa dan penderita ayan itu sanggup menerima keputusan Allah, dia rela, dia lebih memilih bersabar dengan kondisinya, sementara di depannya terbentang pilihan kesembuhan, maka kerelaan dan kesabarannya dalam menerima keputusan Tuhannya itulah yang mengantarkannya menjadi wanita penghuni surga. Dipersaksikan Nabi di saat masih hidup di dunia.

Iya, wanita mulia ini, meski secara lahirnya biasa-biasa saja, telah berhasil melewati fitnah dalam kehidupannya di dunia. Betapa tidak, kondisi fisiknya yang hitam legam, penyakit ayan, auratnya yang tersingkap semuanya itu adalah fitnah yang menghampiri hidupnya. Namun, dia hadapi fitnah itu. Fitnah itu tidak membuatnya jatuh, bahkan terperosok dalam kemaksiatan, mempertanyakan dan bahkan memberontak keputusan Allah SWT. Sebaliknya, semua fitnah itu dihadapi dengan perasaan qana’ah, ridha, ikhlas dan sabar. Sembari meminta kepada Nabi, agar didoakan, saat dia mendapati fitnah auratnya tersingkap, itu saja yang ditutup oleh Allah SWT. Karena itu aurat. Sungguh luar biasa. Allah akbar.

Iya, hidup ini adalah fitnah (ujian). Fitnah bukan hanya berupa keburukan, sebagaimana kondisi yang menimpa wanita tadi, tetapi fitnah juga bisa berupa kebaikan. Kecantikan fisik, harta melimpah, kepopuleran dan seluruh kebaikan yang kita miliki sesungguhnya merupakan fitnah kehidupan kita di dunia. Seluruh kebaikan ini bisa jadi akan memerosokkan, menjatuhkan dan bahkan menyesatkan kita. Maka, Allah pun secara khusus mengingatkan:

أَلاَ إِنَّ فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوْا

“Ingatlah, sesungguhnya mereka benar-benar telah terjatuh dalam kubangan fitnah itu.” [Q.s. at-Taubah [9]: 49]

Ketika kecantikan fisik, kekayaan yang berlimpah, kepopuleran dan seluruh kebaikan dunia tidak digunakan untuk melakukan ketaatan, bahkan digunakan dan dieksploitasi untuk melakukan kemaksiatan, maka semua kebaikan ini merupakan fitnah yang memerosokan, menjatuhkan dan bahkan menyesatkan si empunya. Tetapi, jika semuanya tadi digunakan untuk melakukan ketaatan kepada pemilik sejati kebaikan itu, yaitu Allah SWT, maka fitnah tadi tentu tidak membuatnya terperosok, terjatuh apalagi tersesat. Karena semuanya itu bisa dikelola sesuai dengan amanat Pemilik-Nya.

Kesadaran itulah yang dimiliki oleh Khadijah binti Khuwailid, dan putri tercintanya, Fatimah binti Muhammad saw. tuan para wanita penghuni surga. Kecantikan, kekayaan, kemuliaan dan seluruh kebaikan yang dimilikinya diberikan untuk Allah dan Rasul-Nya. Khadijah pun mendapatkan salam dari Allah dan Jibril, dibangunkan rumah untuknya di surga, semasa masih hidup di dunia. Fatimah pun sama, mendapatkan persaksian dari ayahandanya, Nabi Muhammad saw., sebagai penghuni surga, bahkan dinobatkan sebagai tuan para wanita penghuninya. Subhanallah.

Iya, ketika kecantikan wanita, kekayaan, kemuliaan dan seluruh kebaikan yang dimilikinya membuatnya sibuk berdandan, demi mendapatkan kulit yang putih, tetapi enggan memutihkan hatinya, maka semuanya itu menjadi fitnah kehidupan yang memerosokkannya. Mereka begitu khawatir dengan segala hal yang bisa merusak kecantikkannya, tetapi sama sekali tidak khawatir, jika keimanan dan hatinya yang bersih ternoda oleh noda-noda hitam kemaksiatan kepada-Nya, Na’udzu billah.

Kecantikan fisik bukanlah segalanya. Betapa banyak kecantikan fisik yang justru mengantarkan pemiliknya pada kemudahan dalam bermaksiat. Maka seperti apapun rupa kita, seperti apapun fisik kita, janganlah pernah merasa rendah diri. Syukurilah nikmat Allah yang sangat berharga. Kecantikan iman, kecantikan hati dan akhlak mulia kita.

Bagi wanita berkulit hitam, yang menderita penyakit ayan, maka penyakit ayan ini sebenarnya bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan, karena banyak anggota menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan.

Tapi, lihatlah perkataannya. Lihatlah, adakah satu kata saja yang menunjukkan dia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah dia mengeluhkan betapa menderitanya dia? Betapa malunya dia karena menderita penyakit ayan? Namun, ternyata bukan itu yang dia keluhkan. Justru yang dia keluhkan adalah auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.

Subhanallah. Dia lebih khawatir bila auratnya yang tersingkap, bukan mengkhawatirkan penyakitnya kambuh. Dia tahu betul akan kewajiban seorang wanita menutup auratnya. Auratnya juga merupakan kehormatan dan harga dirinya. Maka, dia pun berusaha menjaganya, meski dalam kondisi ketidaksadarannya akibat sakit ayat itu. Inilah salah satu ciri wanita shalihah, penghuni surga. Mempunyai ‘iffah, sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya.

Selain itu, keralaan dan kesabaran wanita itu yang disebutkan Nabi saw., “Jika kamu mau, kamu bisa bersabar, dan kamu mendapatkan surga. Tetapi, kalau kamu mau, aku pun akan mendoakanmu, agar Allah menyembuhkanmu.” Tanpa ragu dia menjawab, “Aku memilih bersabar, ya Rasul.” [Hr. Bukhari dan Muslim]. Dia lebih memilih bersabar dalam deritanya. Salah satu ciri wanita shalihah yang ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi musibah dengan kesabaran yang luar biasa.

Iya, manusia memang tidak akan mampu mencapai kedudukan mulia di sisi-Nya, dengan seluruh amalan perbuatannya. Namun, Allah akan memberinya jalan untuk meraihnya, dengan cara memberikan cobaan kepada hamba-Nya, cobaan yang tidak disukainya. Setelah itu, Allah memberinya kesabaran untuk menghadapi cobaan itu. Dengan kesabarannya dalam menghadapi cobaan, dia pun meraih kedudukan mulia yang sebelumnya tidak bisa diraihnya dengan amalannya.

Nabi saw. bersabda, “Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan menyabarkannya hingga mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.” [Hr. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Haadits Shahih 2599].

Maka, saat cobaan menimpa, kesabaran kita akan mengantarkan kesempurnaan iman kita. Kita berharap, dengan kesabaran kita dalam menghadapi cobaan Allah akan Mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat kita pada kedudukan yang mulia di sisi-Nya.

Semoga seluruh fitnah (ujian) yang menimpa kita, baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan, tidak akan memerosokkan, menjatuhkan bahkan menyesatkan kita. Amalkanlah doa yang diajarkan oleh menantu Nabi saw. ‘Ali bin Abi Thalib:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُضِلاَّتِ الْفِتَنِ

“Ya Allah, hamba berlindung kepada-Mu dari fitnah yang menyesatkan.”

Amin.. amin.. amin ya Mujiba as-Sailin.


Saat Satu Pintu Tertutup, Pintu Lain pun Terbuka

Tak pernah terbayang di benak keluarga saya, salah satu dari enam anak bapak terlibat permainan uang dari lempar gadai mobil hingga terlilit hutang yang luar biasa besarnya. Hingga total hutangnya melebihi seluruh aset yang kami miliki, 2 rumah dan sebidang tanah. Mungkin ini ibarat mendapat durian runtuh, tiba-tiba kami harus merelakan seluruh aset untuk pergi tak bersisa. Dan sungguh, tak pernah sekalipun terbayang di benak saya, seluruh aset keluarga benar-benar habis dengan begitu mudahnya!
.

Tapi sekali lagi, Allah memang Maha Berkehendak. Dan pilihan kami hanya satu, IKHLAS! Bukankah menghilangkan seluruh bumi seisinya adalah juga mudah bagi Allah? Lalu mengapa kita musti ngeyel untuk mempertahankan sesuatu yang memang diambil oleh Pemilik Sejatinya?
.

Tapi juga bukan Allah, jika Ia tidak Maha Penyayang. Allah tak akan pernah membiarkan hambaNya telantar. Saat Ia menutup satu pintu, yakinlah ada banyak pintu siap dibukakannya, kita hanya perlu satu kata, SABAR!
.

Satu per satu pintu itupun akhirnya terbuka. Adik akhirnya diangkat menjadi pegawai tetap di tempatnya bekerja setelah menunggu hampir dua tahun lamanya. Kakak pertama akhirnya mendapat kesempatan untuk memiliki kantin sendiri, dan tak lagi menjadi juru masak untuk orang lain. Dan saya, Alhamdulillah mendapat rejeki untuk menempati rumah kontrakan yang cukup besar dengan sewa yang luar biasa murahnya, dan Alhamdulillah lagi, suami sudah mendapatkan pekerjaan yang benar-benar dinikmatinya dengan pendapatan yang membuatnya bisa menyisihkan sedikit demi sedikit untuk kelak kami membeli rumah sendiri… insyaAllah….
.

Dan kami akan terus bersabar, hingga Allah membuka sudut-sudut pintu yang lain, dan tentu saja tanpa melewatkan kata yang lain, SYUKUR!
.

Subhanallah… Walhamdulillah… Allahuakbar !


Renungan untuk Para Guru

anak-sedih1

Oleh Abu Abdirrahman

Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama kami memiliki seorang teman yang jenius. Terlihat sekali dia tidak butuh untuk belajar sungguh-sungguh untuk menguasai pelajaran Matematika dengan baik. Sepertinya kami belum pernah bertemu dengan siswa secerdas anak ini.

Barangkali dia termasuk sosok-sosok langka yang pernah ada. Karena bakat luar biasa itu pula agaknya tidak ada yang memperhatikan dan memaksimalkan potensinya, mungkin semua berpikir, “Oh dia sudah bisa, tidak perlu dibantu!” Lalu dia pun sering menggunakan kemampuannya untuk meledek guru-guru dan memperlihatkan kelemahan-kelemahan mereka. Ini menyebabkan guru-guru tersebut mengabaikan bahkan membencinya.

Pada suatu hari seorang guru memintanya untuk menyelesaikan satu soal di depan kelas. Dia tampaknya sengaja menyelesaikan soal dengan cara yang tidak diajarkan, dan keluar dari buku teks yang kami gunakan. Na’asnya bukannya memberikan dukungan dan apresiasi terhadap talentanya, sang guru justru menolak penyelesaian teman kami itu, meskipun hasilnya benar, dan menganggapnya menyimpang dari kurikulum.

Parahnya lagi dia memarahi teman kami tersebut dan mengecamnya di hadapan kami semua. Sang guru rupanya tetap menyimpan marahnya, dan membalasnya dengan cara yang spesial, nilai merah. Murid jenius itu pun gagal dalam bidang studi Matematika, sementara saya –yang sampai sekarang tetap tidak menyukai pelajaran ini –dan teman-teman yang lemah lainnya lulus. Demikian satu talenta hebat yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh umat ini suatu saat kelak dibunuh dengan sengaja.

Saya teringat dengan teman tersebut ketika membaca kasus serupa di sebuah Universitas di Kopenhagen Denmark. Sebuah pertanyaan fisika berbunyi: Jelaskan cara mengukur ketinggian gedung dengan barometer (alat pengukur tekanan udara)! Pada umumnya mahasiswa menjawab: Dengan mengukur perbedaan antara tekanan udara di permukaan tanah dan tekanan udara di puncak gedung.

Tetapi salah satu jawaban membuat marah dosen penguji dan langsung memberi nilai nol tanpa menuntaskan membaca jawaban. Jawaban yang membuat marah itu ialah: Ikatkan barometer tersebut dengan tali yang panjang kemudian jatuhkan ke tanah dari puncak gedung, jika sudah sampai ke tanah, ukurlah berapa panjang tali tersebut.

Meskipun jawaban tersebut benar adanya, tetapi dapat dimengerti Dosen tersebut marah; si mahasiswa memberikan jawaban dengan cara pikir yang terlalu dangkal tidak ada hubungan sebenarnya dengan barometer maupun Fisika.
Mahasiswa tersebut melakukan banding kepada pihak kampus dan dikabulkan. Rektorat memberinya kesempatan lain dengan dosen yang lain pula. Sang dosen mengajukan pertanyaan yang sama secara lisan.

Dengan penuh percaya diri sang mahasiswa memberikan jawaban, ”Ada banyak cara yang dapat kita lakukan,

Pertama: dengan melemparkan barometer dari puncak bangunan, perhatikan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh barometer untuk sampai ke tanah, dengan memakai persamaan gravitasi kita dapat mengetahui tinggi gedung.

Kedua: jika waktunya siang hari bisa dilakukan dengan mengukur panjang bayangan barometer dan bayangan gedung, dengan rumus persamaan (tinggi termoter/tinggi bayangannya = tinggi gedung/tinggi bayangannya) dapat diketahui tinggi gedung tersebut.

Ketiga: Jika Anda tidak ingin repot-repot memikirkan urusan ini, maka cara yang terbaik ialah katakan kepada petugas keamanan, ‘Barometer ini saya hadiahkan kepada Anda, jika Anda memberitahu saya dengan benar berapa tinggi gedung ini.’ Tapi jika kita ingin memperumit masalah ini, maka kita gunakan barometer ini terlebih dahulu untuk mengukur tekanan udara di atas permukaan tanah, kemudian tekanan udara di puncak gedung, lalu hitunglah selisih antara keduanya!”

Sang Dosen pun bertanya, “Mengapa Anda tidak menulis jawaban ini? Anda tentunya paham Dosen Anda menunggu jawaban ini.”
Mahasiswa ini menjawab, ”Para Dosen sendiri yang mempersempit cara berpikir mereka, memaksa kami berpikir dengan cara mereka!”

Para pembaca yang mulia, sungguh disesalkan tidak jarang kita temukan para pendidik seperti ini, merasa terusik ketika ada seorang siswa yang lebih unggul daripada mereka: kecerdasan, bakat, atau keterampilannya. Bukannya diberi motivasi dan memberikan perhatian khusus, justru ada saja yang mematikan bakat-bakat luar biasa tersebut.

Bagian yang menyentakkan dari kedua kasus di atas ialah: bahwa si jenius Denmark, Niels Bohr, kemudian tidak hanya sekedar lulus dari matakuliah tersebut, tetapi menjadi satu-satunya orang Denmark yang meraih penghargaan nobel di bidang Fisika. Sementara teman kami yang jenius tersebut, dia tidak melanjutkan pendidikannya, saya tidak tahu entah di mana dia sekarang. Saya adalah saksi hidup atas ketidakadilan yang diterimanya, atas pemaksaan pola pikir dengan cara yang picik.

Andaikata dia telah meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya, namun saya berharap dia masih dalam keadaan sehat wal afiat.

Kesimpulan yang ingin saya sampaikan ialah bahwa untuk membangun dan membina satu bakat kita membutuhkan banyak dana, waktu dan tenaga. Sementara untuk mematikan seribu bakat kita hanya membutuhkan sebuah lingkungan belajar yang membuat suntuk, atau pendidik yang tidak berkompeten, atau tidak sportif yang mampu membunuh bakat siswa-siswanya hanya dalam waktu satu minggu saja.

Betapa banyak bakat-bakat unggul yang berguguran di sekolah-sekolah kita, atau di perguran-perguruan tinggi kita, hanya karena pemiliknya berani berpikir dengan cara yang berbeda dari para pendidik mereka.!?

(qiblati)


Seperti Mereka…

belahan-jiwa

“Mi, kok kayaknya usaha Abi gak cepat melonjak kayak banyak orang ya. Ada yang sebentar bisa punya banyak toko, banyak cabang bisnis, punyak aset macem-macem…” kata suamiku suatu ketika. Ah, bukankah suami juga manusia, yang kadang mungkin terancam kejenuhan, atau bahkan keputus asaan…

“Iya, Abi emang gak punyak macam-macam seperti mereka…” Aku diam sebentar, lalu…

“Abi gak punyak utang yang harus dipikirkan cicilannya, Abi gak punyak banyak waktu yang hanya dihabiskan untuk mengejar keuntungan, Abi juga gak bingung jika nanti ditanya Gusti  Allah apakah ada riba barang sedikitpun dalam harta kita?” Kulihat suamiku melihat kearahku, seolah mengerti bahwa ada banyak hal yang membuat nya jauh lebih istimewa sekalipun mungkin ‘belum seberhasil’ layaknya seorang bisnisman sejati.

“Iya, kalo dipikir-pikir, selalu saja ada jalan ya Mi kalo kita butuh sesuatu” Lalu senyumnya mengembang, sesuatu yang selalu kuusahakan hadir di bibirnya.

Walaupun kadangkala, sesekali ‘wajah cemberut’ kuhadirkan di hadapannya, hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang mungkin tak disadarinya. Ah, bukankah itu hanya ‘sedikit bumbu’ yang menghiasi perjalananku dalam memahami setiap sisi dirinya?…


Dia Kini…

AQ&KAU

“Aku bertemu dengannya, benar-benar tak kusangka!”

“Lalu? Biar kutebak, mmm… kau pura-pura tak melihat, atau malah pasang aksi?” sudah kuduga dia akan bilang seperti itu.

“Tunggu..tunggu…  apa dia tahu kalau itu kau?!” belum kujawab sudah bertanya lagi, dasar!

“Hhh…” Aku mendesah pelan… lalu sekelebat kejadian kemarin sore terlintas lagi di kepalaku, pertemuan yang sama sekali tak kuduga!

“Dia berbeda Van, jauh berbeda saat SMA dulu” sahutku

“Apanya yang beda?” tanyanya lagi

Aku diam. Kubiarkan Ivan berkali-kali bertanya penasaran akan perbedaan yang kumaksud. Jika saja dia tahu, dulu saat belum berubah saja aku begitu mati-matian mendekatinya, apalagi sekarang! Ya, kemarin sore, di sebuah kios makanan kecil, aku bertemu dengannya. Walaupun dengan penampilan yang asing dimataku, tapi aku cukup mampu mengenalinya. Wajah polos dan nada bicaranya, tak pernah bisa aku lupakan. Dulu, sesekali aku masih bisa sedikit menggoda dengan tersenyum dan menyapanya.

Tapi kemarin… entahlah. Seolah ada tembok tebal yang begitu kokoh, sehingga meliriknya pun aku tak mampu! Aku menjauh, dan hanya bisa sesekali memperhatikannya dari balik kaca. Ya, hijabnya, seperti penghalang tangguh yang tak bisa kutembus, sekalipun keberanian ini coba kukumpulkan sekuat tenaga!

***

Kini aku begitu mengerti, mengapa Allah begitu menjaga muslimah dengan aturan hijabnya! Benteng kokoh yang tak mudah bagi siapapun untuk meruntuhkannya!