…. jejakku, cintaku ….

Jejak Sejarah Keperawatan Pada Masa Rasulullah SAW

Oleh : Reza Indra Wiguna,S.Kep.Ns (HELP-S Jawa Tengah)

Jika kita melihat perkembangan dunia sekarang, arus update informasi merupakan hal yang sangat utama dalam suguhan masyarakat dunia, namun bagaimana dengan informasi yang telah lampau atau sejarah dimasa silam yang tak terkuak hingga saat ini. Hakikatnya sejarah merupakan pengetahuan yang termasuk kategori tsaqafah, dan sangat dipengaruhi oleh ideologi dan pandangan hidup tertentu. Sejarah memberikan kepada seseorang lebih dari sekedar informasi, ia menyusun cara berfikir seseorang saat ini dan menentukan langkah apa yang akan di ambil pada masa yang akan datang. Saat ini terjadi degradasi pengetahuan ummat terhadap sejarah Islam di masa kegemilangan sistem khilafahnya, hal ini tidak terlepas dari peranan media kapitalisme di barat, dengan rekayasa sekulerisme yang sengaja menyembunyikan sejarah ke-emasan Islam. Tidak luput pada sejarah, kita tenggelam dalam membanggakan sejarah mereka, baik dari segi keilmuan atau pun para tokohannya. Yang paling menyedihkan adalah banyak rujukan dari Barat yang memutarbalikkan fakta sejarah. Akibatnya, ilmuan-ilmuan muslim dalam bidang sains tidak jarang kita ketahui.

Kita mungkin pernah mendengar nama para ilmuwan muslim dibidang kesehatan pada era kegemilangan sistem kekhilafan Islam Golden Age Periode, sebut saja Abu Muhammad bin zakaria Ar-Razi (864-930) ilmuwan islam dalam bidang kedokteran, Ibnu Al Haitsami atau Al-Hazen (965 M) ilmuwan dibidang optik cahaya, adalah Abu Qosim Al-Zahrawi atau Abulcasis (930 M) seorang ilmuwan ahli bedah terkemuka di masanya. Dunia mengenal Ibnu Sina atau Avicenna (1037) yang menulis kaidah kedokteran modern The Cannon (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran Barat). Dan ada banyak lagi tokoh-tokoh ilmuwan muslim dalam dunia sains dengan spesifikasi dan sumbangsih yang telah terbukti sehingga dijadikan rujukan negara barat selama berabad-abad, disaat yang bersamaan eropa tenggelam dalam kegelapan Dark Age.

Dari sekian para ilmuwan dan tokoh dibidang kesehatan, yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tokoh perawat pertama dalam Islam, mumarridah al-Islam al- Ula. Yang namanya menjadi penulisan para sejarah keperawatan islam, sosoknya memberi banyak inspirasi dalam dunia keperawatan.

Adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Rufaidah berasal dari Bani Aslam, salah satu marga dari suku Khazraj di Madinah. Ia dilahirkan di Yastrib (Madinah) dan tumbuh disana sebelum hijrah. Dia termasuk kelompok muslim pertama dari Bani Aslam. Dialah salah satu perawat pertama dalam Islam. Dialah orang yang pertama kali melakukan pengobatan dan perawatan kepada para sahabat yang terluka di medan jihad. Dia pula yang perempuan pertama yang meminta kepada rasul untuk ikut serta dalam peperangan untuk sekedar membantu para sabahat yang terluka.

Dalam buku “Rufaidah Awwalu Mumarridah fi al Islam” karya Ahmad Syauqi al- Fanjari. perawat pertama Islam itu adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Dia-lah perempuan pertama yang berkonsentrasi terhadap pekerjaan paramedik. Rufaidah bekerja di samping masjid Nabawi dengan mendirikan pusat kesehatan (sejenis tenda pengobatan). Obsesinya untuk berjihad semakin kuat, tentu berjihad dengan keterampilannya dalam bidang keperawatan dan pembuatan ramuan yang diracik oleh tangannya sendiri. Ketika masa perang datang, dia mampu menghimpun dan mengornisir perempuan untuk menjadi pelayan pengobatan disaat perang. Adapun beberapa perang yang sempat diikutinya seperti: di perang Badar, Khaibar, Khandak dan beberapa perang lainnya (lih–Ahmad Syauqi al-Fanjari, 2010: ii; ket. lanjut, lihat Sirah Ibn Hisyam).

Dia-lah yang pertama mendirikan rumah sakit lapangan di medan peperangan, dimana tenda berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada perang khandaq saat tentara al-ahzab mengepung madinah, Rufaidah mendirikan tenda disekitar medan pertempuran. Rasulullah Saw pernah memerintahkan untuk memindahkan seseorang sahabatnya bernama Sa’ad ibn Mu’adz ke tenda Rufaidah agar diberi pertolongan, karena pada waktu itu Sa’ad terkena panah pada lengannya. Pada peristiwa tersebut Rasulullah saw menemui sahabat yang sedang terluka dikemah Rufaidah beberapa kali dalam sehari. Tak heran pula sebutan itu terkenal luas pada pasukan kaum muslimin, menjadi tenda pertolongan pasa masa perang dengan nama “Khaimah Rufaidah” (Tenda Rufaidah), (lih–Ahmad Syauqi al- Fanjari, 2010: iii).

Menurut Prof. Omar Hasan K, dalam sebuah konfrensi “Paper Presented at the 3rd International Nursing Conference “Empowerment and Health: An Agenda for Nurses in the 21st Century” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 1998, mengungkapkan bahwa Rufaidah adalah perawat profesional pertama di masa sejarah Islam. Ia hidup di masa Nabi Muhammad SAW di abad pertama hijriyah, jauh sebelum masa Florence Nigtingale yang dikenal dengan pelopor keperawatan modern. Omar Hasan menggambarkan Rufaidah sebagai perawat teladan, baik dan bersifat empati. Rufaidah juga dikenal sebagai seorang organisatoris yang mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain.

Pengalaman klinisnya pun dia bagi pada perawat lain yang dilatih dan bekerja dengannya. Dia tidak hanya melaksanakan peran perawat dalam aspek klinikal semata. Namun Rufaidah adalah perawat dan pekerja sosial yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam. Dalam sejarah Islam tercatat beberapa nama yang bekerja bersama Rufaidah seperti Ummu Ammara, Aminah binti Qays Al-Ghifariyat, Ummu Ayman, Safiyah, Ummu Sulaiman, dan Hindun. Di masa sesudah Rufaidah, ada pula beberapa wanita Muslim yang terkenal sebagai perawat. Di antaranya Ku’ayibah, Aminah binti Abi Qays Al-Ghifari, Ummu Atiyah Al-Ansariyah, Nusaibah binti Ka’ab Al-Maziniyah, dan Zainab dari kaum Bani Awad (Omar Hasan, 1998).

Rufaidah adalah sejarah terbaik dan teladan bagi para profesi perawat dan dokter. Sekalipun Rufaidah bisa membuat ramuan obat untuk pengobatan, namun oleh para sejarawan Rufaidah tidak disebut sebagai tabib (dokter–saat ini), tetapi dikenal sebagai perawat. Bahkan para penulis sejarah menyebut Rufaidah sebagai Mumarridah al-Islam al- Ula (perawat pertama wanita dalam sejarah Islam). Selain aktivitasnya sebagai perawat, Rufaidah juga memiliki banyak aktivitas yang luas. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh sejarawan handal Ibn Kasir mengungkapkan tentang aktivitas Rufaidah “Ia (Rufaidah) mencurahkan seluruh jiwanya untuk memberikan pelayanan kepada orang yang kehilangan, yakni setiap orang membutuhkan pertolongan dan bantuan, seperti: fakir miskin, anak yatim, serta orang-orang yang tidak mampu”. Aktivitas sosialnya tampak pada proses pendidikan yang dilakukan untuk anak-anak yatim, memberikan pelajaran agama, dan mengasuh mereka. Tidak heran pada zaman Rasulullah, para sahabat dan sahabiyah melakukan sambutan terhadap anjuran Rasulullah saw tentang tolong menolong dan keutamaan mengasuh anak yatim. “Barang siapa memlihara seseorang atau dua orang-anak yatim, kemudian ia bersabar dengan anak yatimnya, maka diriku dan dia seperti ini (sambil merapatkan dua jari tangannya)” (H.R. Muslim).

Di samping kegiatan tersebut, Rufaidah rutin melakukan semua tugas paramedik seperti: merawat dan melayani pasien, memberikan bantuan pada medan perang, mengangkut para korban yang terluka serta syahid. Nama Rufaidah terus terngiang hingga saat ini. Seperti tertulis di laman web RCSI – Medical University of Bahrain, tiap tahun Universitas Bahrain tersebut selalu memilih seorang murid untuk menerima penghargaan dalam bidang keperawatan bernama Rufaida al-Aslamia Prize in Nursing.

Sumber : http://helpsharia.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s