…. jejakku, cintaku ….

Thoriqul Iman

Thoriqul Iman atau jalan menuju keimanan harus di lalui melalui dua jembatan, yaitu dalil aqli (akal) dan dalil naqli (nash). Mengapa harus melalui keduanya? Agar kita bisa mencapai derajat keimanan yang 100% (tazdiqul jazm), tanpa setitik keraguanpun. Tak ada celah yang kelak bakal mengusik ruang keimanan kita, keimanan itu akan mampu bertahan melewati apapun serangan pemikiran, tak tergoyahkan hingga di penghujung hidup kita.

Tulisan ini mencoba mengurai betapa pentingnya dua jembatan yang harus kita lewati tadi. Kita akan merasakan betapa jalan akal benar-benar harus kita kuasai, ketika kita berhadapan dengan orang-orang ateis yang mengedepankan akal dalam mencari hakikat keberadaan Tuhan. Kekuatan nash dalam Al-Qur’an dan hadist tak akan mudah diterima oleh kalangan mereka, karena belum mempercayai kebenaran Al-Qur’an. Itulah mengapa jalan akal untuk menjawab apakah Tuhan itu ada? Apakah Muhammad seorang Rasul dan Apakah Al-Qur’an itu buatan Allah atau karangan manusia? Harus bisa kita uraikan. Setelah simpul pertanyaan itu kita uraikan dan mampu memberi jawaban yang memuaskan, maka hal-hal yang ghaib, yang diluar inderawi kita, pasti akan kita percayai 100%, karena semua diberitakan dalam Al-Qur’an. Bagaimana mungkin kita percaya surga, neraka, hari kiamat, adanya Allah, jika Al-Qur’an tidak kita percayai kebenarannya, sedangkan kita mengetahui semua hal ghaib tersebut melalui berita dalam Al-Qur’an. Dan bagaimana mungkin kita bisa percaya Al-Qur’an itu perkataan Allah, jika keberadaan Allah saja belum kita yakini.

Menghadapi pertanyaan dari orang-orang ateis, maka ada hal-hal yang harus kita perhatikan :

  1. Gunakan dengan logika akal, karena nash belum akan mampu memalingkan keyakinan mereka
  2. Yakinkan bahwa ketika dia mengajak berdiskusi adalah dalam rangka mencari kebenaran, bukan karena ego yang berujung pada debat kusir
  3. Kita hanya bisa berupaya, Allah lah yang memiliki hak membolak-balik hati manusia. Maka berdo’alah kepadaNya agar Dia memudahkan lisan kita dan memberikan petunjukNya.

Berpikir apakah Pencipta itu ada atau tidak, kita harus jeli mengamati sekeliling kita. Bahwa di dunia ini yang bisa kita indera ada tiga, alam semesta, manusia dan kehidupan. Sekarang kita lihat hakikat ketiganya.

1. Alam semesta.

Adalah sebuah kesatuan, terbatas dan tidak bisa berdiri sendiri. Udara tak akan ada tanpa adanya ikatan molekul di dalamnya, ikatan tidak akan terjadi tanpa adanya ruang dan hukum interaksi, interaksi tak akan ada tanpa faktor-faktor pengaruhnya seperti suhu, kelembaban dsb. Tumbuhan tak bisa hidup tanpa media, sebutlah tanah. Tanah tak ada tanpa zat penyusunnya, zat penyusun tak akan terbentuk tanpa dukungan makhluk lain seperti fosil, binatang, air, dsb. Bumi juga tak akan ada pada tempatnya tanpa atmosfir, atmosfir tak akan ada tanpa udara penyusunnya, udara tak akan ada tanpa komponen penyusunnya, begitu seterusnya.

Ternyata semua penyusun alam semesta terbatas sifatnya dan saling bergantung dengan yang lain. Jika alam semesta dianggap ada dengan sendirinya, lalu apa yang pertama kali ada? Apakah mungkin ada jika komponen pendukungnya tak ada? Tak ada yang mampu membuktikannya karena memang tak akan pernah bisa.

2. Manusia.

Manusia sebagai makhluk yang berakal, terbentuk karena bertemunya sel telur dan sperma. Ilmu genetika pun akhirnya membuktikan ternyata ada sistem DNA yang begitu canggihnya, penyimpan data paling mutakhir yang berisi kode-kode yang mengendalikan reaksi jutaan pasang basa pada diri manusia. Tak ada DNA, fungsi manusia tak akan terbentuk. Jika manusia ada dengan sendirinya, maka DNA harus ada pertama kali. Lalu bentuknya seperti apa? Sedangkan DNA tak akan bereaksi tanpa peran simpul-simpul mekanisme tubuh manusia, seperti syaraf, asupan makanan, lingkungan, dsb. Dan belum ada yang mampu membuktikan seutas DNA akan mampu berkembang menjadi manusia yang utuh dengan begitu banyak kemampuannya.

Ternyata manusia pun terbatas dan memiliki ketergantungan. Jika ada dengan sendirinya, seperti apa wujudnya? Hal ini juga belum ada yang sanggup membuktikannya karena memang tak akan bisa dibuktikan.

3. Kehidupan

Kehidupan juga terbatas, karena kita tak pernah bisa merasakan kehidupan orang lain. Kehidupan kita selalu bergantung pada kehidupan makhluk lain. Lalu bagaimana caranya kehidupan itu ada dengan sendirinya? Jika ada makhluk hidup yang pertama kali ada dengan sendirinya, apa bentuknya? Padahal makhluk hidup juga terbatas seperti yang diuraikan sebelumnya. Jika yang pertama kali adalah benda mati, bagaimana bisa memunculkan kehidupan?

Ternyata kehidupanpun terbatas, karena yang berjiwa pasti mati. Jika kehidupan ada dengan sendirinya, lantas siapa yang menghidupkannya?

Banyak pelengkap fakta yang mendukung pemikiran di atas (silakan buka karya harun yahya yang sebagian besar mengungkap runtuhnya teori evolusi dengan pemaparan fakta yang jeli dan tak terbantahkan). Sebagai contoh, kumbang yang tak berakal mampu membuat sarang heksagonal yang begitu akuratnya. Apakah kumbang yang pertama kali ada tak mampu membuatnya? Ingat! Kumbang tak berakal! Lalu bagaimana dengan keterbatasannya (tak berakal) dia mampu membuat sarang dengan begitu akuratnya tanpa alat ukur sedikitpun? Dan masih banyak contoh lainnya (silakan kunjungi harunyahya.com).

Dari sini jelas, bahwa apapun yang kita indera semua TERBATAS. Sesuatu yang terbatas, TAK MUNGKIN ADA DENGAN SENDIRINYA karena selalu butuh yang lain untuk ada, maka otomatis ketika dia ada memerlukan YANG TAK TERBATAS, yang tentu saja bukan makhluk dan berbeda dengan makhluk, dan dialah PENCIPTA.

Dengan penjelasan dan paparan fakta yang begitu gamblang, bagaimana jika mereka tak juga mengimani keberadaan Sang PENCIPTA? Maka urusan ini kita serahkan pada ALLAH, sang pembolak-balik hati manusia. DIA akan memberi petunjuk pada siapa yang Dikehendaki dan menyesatkan siapapun yang dikehendaki. Wallahulam

Lalu bagaimana akal memahami hakikat keberadaan seorang Rasul dan Al-Qur’an itu wahyu?

Ketika memahami bahwa kita diciptakan di dunia adalah terbatas, dan semua yang tercipta ternyata selalu berhubungan satu sama lain, maka kita bisa menarik benang merah bahwa ternyata semua tercipta punya tujuan dan punya maksud. Tujuan adanya penciptaan juga tak lepas dari kehendak Sang Pencipta. Ketika kita berpikir bahwa Sang Pencipta “hanya sekedar” menciptakan makhluknya (alam semesta, manusia dan kehidupan), maka tak akan mungkin ada keteraturan interaksi yang luar biasa, tak perlu adanya akal untuk manusia karena toh Sang Pencipta punya kuasa untuk menetapkan apapun. Maka kita bisa semakin memahami, ternyata “akal” ini diciptakan “hanya untuk manusia” itupun sudah pasti ada maksudnya.

Pencipta Maha Tahu tentang apapun yang diciptakannya, maka DIA lah yang sesungguhnya paling BERHAK mengatur apa yang diciptakannya. Lalu bagaimana makhluknya bisa mengetahui KEMAUAN SANG PENCIPTA tadi? Bagaimana makhluknya, dalam hal ini manusia mengerti “rambu-rambu” yang digariskan Sang Pencipta, agar manusia tahu betul, apa hakikat penciptaannya di dunia ini?

Inilah urgensi keberadaan seorang Rasul. Dia harus berada di tengah-tengah manusia, dan dari jenis manusia, untuk menunjukkan “apa yang harus dilakukan” manusia dalam penghambaan kepadaNya. Maka tak mungkin dia “Pencipta” itu sendiri karena DIA memiliki kuasa untuk menunjukkannya dari kalangan manusia, terlalu naïf rasanya jika seolah-olah “Pencipta” harus turun tangan dan terjun ke alam dunia untuk sekedar menjelma manjadi seorang makhluk. Tak mungkin juga dari kalangan selain manusia, apakah itu jin atau malaikat, karena hakikatnya contoh itu harus menunjukkan secara nyata aktivitas yang pasti bisa diikuti, dan tentulah pasti dari kalangan manusia. Dan kemudian sejarahlah yang berbicara siapakah para Rasul sesungguhnya, dan siapakah Rasul terakhir, yang tentu saja ajarannya yang harus diikuti, karena sempurna dan paripurna. Dialah Rasulullah Muhammad SAW (silakan baca shirohnya…untuk mengetahui kisah indahnya yang berasal langsung dari skenario ALLAH SWT). Seorang sosok yang menggambarkan contoh yang utuh, sebagai individu maupun bagian dari masyarakat, sebagai pemimpin maupun seorang hamba, sebagai ayah maupun suami, sebagai pendidik maupun pengemban dakwah, sebagai panglima sekaligus pasukan, sebagai sahabat sekaligus pembawa risalah… tak ada celah kisah yang menunjukkan kelemahannya sebagai seorang Rasul.

Sedangkan keimanan kepada Al-Qur’an, kita harus mengamati secara jeli hakikat Al-Qur’an itu sendiri. Bahwa Al-Qur’an adalah kitab berbahasa Arab, maka realitas tersebut memungkinkan kita melihat,

  1. Apakah Al-Qur’an itu karangan orang Arab?
  2. Apakah Al-Qur’an itu karangan Muhammad?
  3. Apakah Al-Qur’an itu kalam ALLAH?

Bahasa Arab memiliki ketinggian sastra yang luar biasa, pun masa ketika diturunkannya Al-Qur’an adalah masa dimana berkumpulnya kehebatan para ahli sastra yang ada sepanjang sejarah. Dan nyatanya, pada saat itu tak ada satupun karya sastra yang serupa Al-Qur’an mampu dilahirkan dari tangan mereka. Karena jika ini adalah hasil karya sastra orang Arab, maka tak bisa dipungkiri, pasti ada sosok yang sanggup menunjukkan karya yang serupa. Sebagai contoh, ketika kita tahu karya JK Rowling adalah fenomenal, ternyata ada banyak karya serupa yang isinya tidak jauh berbeda, Lord of The Rings atau Narnia misalnya, begitupun karya tulisan manusia yang lain. Tapi, tidak dengan Al-Qur’an!

Lalu apakah Al-Qur’an karangan Muhammad? Ingat Muhammad juga orang Arab, maka ketika tak ada satupun ahli sastra yang mampu, tentu saja Muhammad pun tak mampu. Ditambah lagi redaksional hadits yang sangat berbeda dengan bahasa Al-Qur’an. Jika Al-Qur’an adalah karangan Muhammad, maka pasti akan ditemukan kemiripan redaksional hadist dengan bahasa Al-Qur’an, karena tidak akan mungkin seseorang dengan gaya bahasa yang sama mengeluarkan dua karya tanpa ditemukan adanya kemiripan sedikitpun diantara keduanya. Ingat! Bahasa Al-Qur’an juga disampaikan melalui lisan Rasulullah!

Maka kemungkinannya tinggal satu, Al-Qur’an adalah kalam ALLAH. Itulah petunjuk untuk makhlukNya, yang disampaikan melalui seorang Rasul, untuk menuntun manusia agar tahu apa tujuan penciptaannya dan mengerti betul “Mengapa ia harus diciptakan di dunia ini?”.

Maka ketika kita meyakini Al-Qur’an adalah kalam ALLAH, tak ada satupun yang kita ragukan isinya. Termasuk nash-nash tentang keimanan dan hal-hal ghoib yang diberitakan di dalamnya. Tak memilah dan memilih ayat-ayat yang ada sesuai kehendaknya, tapi berusaha agar hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, karena ….

ATURAN ALLAH WAJIB DITERAPKAN … sesuai dengan hakikat penciptaan kita di dunia… Wallahualam.

Pustaka : Nidzomul Islam oleh Syekh Taqiyyudin an Nabhani

One response

  1. Azizul Rahim

    Bang, kalau ada postingan selanjutnya kirim ke email : azizulrachim78@yahoo.com ya…? makasi… YAKUSA

    Januari 28, 2012 pukul 03:22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s