…. jejakku, cintaku ….

Dakwah vs Retorika Kosong

 

Hari itu saya berkesempatan mendampingi dua orang politisi, satu Misbakhun dari Pansus Century dan satu lagi Ruhut Sitompul selaku Humas Partai Demokrat. Dalam pertemuan bertajuk Skandal Century dan Skandal Wisma Atlet, Pak Misbakhun memaparkan bukti-bukti keterlibatan mantan Menkeu Sri Mulyani dalam kasus bailout Bank Century.

Merasa diserang Ruhut Sitompul mengeluarkan pernyataan membela Sri Mulyani . Meski tidak persis sama redaksinya, tapi kira-kira begini komentarnya, “Sri Mulyani itu orang Indonesia yang dipakai oleh Bank Dunia. Yang punya Bank Dunia itu AS, Jerman, dsb. Kalau ia terlibat kasus korupsi mana mungkin ia dipakai di sana?”

Anda tahu, dalam teori komunikasi, Ruhut ‘si Poltak’ Sitompul itu menggunakan teknik yang disebut oleh para pakar komunikasi sebagai teknik retorika. Orang awam menyebutnya bersilat lidah. Ketika seseorang tertuding sebagai pelaku, maka si tertuduh lalu berkelit dengan memainkan logika status orang tersebut. Ini yang disebut sebagai retorika.

Menurut sejarah teori ilmu komunikasi, teknik retorika pertama kali dikembangkan oleh Corax, seorang pakar retorika bangsa Sycaruse, koloni Yunani di Pulau Sicilia. Saat itu, banyak terjadi perampasan tanah lalu warga kebingungan bagaimana cara membuktikan kepemilikan tanah mereka di pengadilan. Corax, sebagai pihak yang membantu orang untuk memenangkan haknya lalu menyusun teori retorika yang dinamakan Techno Logon (Seni Kata-Kata).

Saya tidak akan menjelaskan seperti apa teori tersebut, tetapi praktisnya begini; ketika misalnya ada seorang pejabat kaya yang dituduh melakukan korupsi, maka untuk membela dirinya ia akan berkata, “Bagaimana mungkin seorang yang kaya raya melakukan tindak kejahatan korupsi? Padahal hartanya sudah berlimpah ruah. Untuk apa ia melakukan pencurian uang seperti itu?”

Atau seandainya ada seorang tokoh agama yang dituduh melakukan pencabulan, misalnya, untuk membela diri akan dikatakan, “Saya ini orang yang paham agama, saya tahu halal dan haram, saya tahu berzina itu haram, manalah mungkin saya melakukan tindakan keji yang telah diharamkan oleh agama. Lagipula saya sudah berumah tangga dan istri saya lebih cantik daripada perempuan yang menuduh saya menzinahinya.”

Menakjubkan bukan? Publik bisa tercengang dan sejenak bisa membenarkan pernyataan dua contoh di atas. Dalam kehidupan berbangsa saat ini, banyak politisi yang secara alami atau juga mengikuti pelatihan retorika. Ketika rakyat menuduh anggota dewan sering plesiran ke luar negeri dan menghabiskan banyak anggaran, mereka lalu beralibi bahwa ‘perjalanan dinas’ itu dilakukan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk tamasya, bahwa mereka juga keletihan dan merasa berat selama perjalanan tersebut, dan lain sebagainya.

Di pentas dakwah dan panasnya perang pemikiran antara haq dan batil, juga antara satu kelompok dengan kelompok lain, teknik retorika juga sering digunakan, baik secara sadar ataupun tidak. Misalnya, kalangan yang menentang perjuangan penegakkan syariat dan khilafah sering menggunakan retorika di antaranya seperti ini;
•    “Khilafah itu utopia, mana mungkin bisa mempersatukan umat Islam yang telah hidup dalam beragam suku bangsa dan bahasa?”
•    “Mustahil bisa menerapkan syariat Islam di tanah air, bukankah rakyat kita ini majemuk; beragam agama, pasti akan muncul konflik di antara elemen bangsa!”
•    “Syariat Islam dan khilafah itu kan bukan budaya asli nusantara, tidak layak dijadikan sebagai aturan dalam kehidupan berbangsa!”
•    “Mau menerapkan syariat Islam? Syariat yang mana? Islam itu kan beragam! Ada mazhab Syafi’i, Hambali, Hanafi, Maliki, lalu mau pakai yang mana? Tidak mungkin itu semua disatukan!”
•    “Kita ini tinggal di Indonesia, maka harus mengikuti aturannya orang Indonesia, jangan pakai aturan dari luar kebudayaan bangsa kita!”
•    “Kalau kita menjadi negara Islam, apa yang non muslim bakal dipaksa masuk Islam, atau harus dibunuhi? Mustahil itu yang namanya khilafah”
•    (dan masih banyak lagi yang mungkin Anda bisa menambahinya sendiri)

Pernyataan dan pertanyaan di atas seolah logis dan ilmiah. Akan tetapi bila ditelusuri secara dalil aqliy maupun naqliy, sebenarnya itu hanya retorika kosong. Misalnya, apakah yang non muslim bakal dipaksa masuk Islam dalam kehidupan di bawah syariat Islam dan khilafah Islamiyah? Pastinya tidak, karena ada nash yang melarang pemaksaan beragama dan secara fakta hal itu tidak pernah dilakukan oleh para penguasa muslim.

Begitupula bila dinyatakan bahwa syariat Islam itu bukan produk asli budaya nusantara, kita tinggal balik bertanya; bukankah demokrasi dan HAM juga bukan produk asli tanah air? KUHP yang dipakai di tanah air juga buatan Belanda? Dan siapa bilang Nusantara tidak lekat dengan syariat Islam? Banyak bukti-bukti peninggalan sejarah yang menunjukkan Nusantara sudah punya hubungan kuat secara sosial, politik dan militer dengan khilafah Islamiyah.
Dakwah memang aktifitas bicara. Tapi bukan asal bicara, ia harus berlandaskan dalil aqliy maupun naqliy. Bukan hawa nafsu. Semua utusan Allah telah dibekali beragam bukti kekuasan Allah berupa mukjizat untuk melumpuhkan argumen dan bantahan kaum-kaumnya.

Adapun ‘senjata’ yang digunakan orang-orang fasik, kafir atau zindik untuk menentang para nabi dan rasul adalah retorika yang berlandaskan hawa nafsu, bukan thariqah aqliyah (metode berpikir yang menggunakan akal untuk mencari pembuktian) sebagai landasan penentangan mereka terhadap petunjuk Allah.

Tanda bahwa mereka menentang dengan hawa nafsu, bukan dengan dalil, adalah seperti terjadi pertanyaan seorang nabi tentang kebiasaan kaumnya menuhankan berhala padahal berhala itu buatan mereka sendiri. Karena kepepet dan tidak punya dalil bantahan, kaumnya hanya menjawab pendek:

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.”(QS. al-Maidah: 104).

Jadi, bila Anda sudah paham kewajiban berdakwah, maka siapkanlah retorika yang bernas. Mengandung dalil yang kuat; aqliy maupun naqliy. Serta jangan takut dengan retorika-retorika kosong yang sering dilontarkan para penentang dakwah.

.

Penulis : Ust.Iwan Januar, http://www.iwanjanuar.com

2 responses

  1. dany

    Assalamu Alaikum Ustad, mau bertanya, kapankan suatu pernyataan dapat dikategorikan sebagai retorika ? Misalkan saya menyatakan “badan saya gemuk”, apakah pernyataan saya dapat dikategorikan sebagai retorika ?
    Terima kasih…

    Maret 31, 2012 pukul 23:43

  2. Kapitalisme adalah racun,yg suatu saat bisa mengakibatkan bubarnya NKRI.

    April 12, 2012 pukul 23:17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s