…. jejakku, cintaku ….

Posts tagged “syariat Islam

Waspadai Ekspor Sistematis Penyakit Kaum Luth ke Negeri-negeri Muslim

Musyawarah Nasional (Munas) IX Majelis Ulama Indonesia di Surabaya akhir Agustus lalu menghasilkan 15 rekomendasi, salah satunya adalah terkait fenomena ‪#‎LGBT‬ (‪#‎Lesbian‬, ‪#‎Homoseksual‬, ‪#‎Biseksual‬ dan ‪#‎Transgender‬). Munas MUI memutuskan bahwa LGBT merupakan fenomena global yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan bangsa Indonesia. “MUI memandang bahwa LGBT merusak keberlangsungan masa depan bangsa mencegah semua upaya yang menumbuh-suburkan dan propaganda LGBT baik melalui pendekatan hukum maupun sosial keagamaan,” demikian salah satu hasil rekomendasi MUI.

Sebagaimana diketahui, akhir Juni lalu Mahkamah Konstitusi Pemerintah Amerika Serikat melegalkan pernikahan hubungan sesama jenis di seluruh Negara bagian di Amerika. Akibatnya, tidak sedikit aktivis pro-LGBT di dunia Islam menginginkan negerinya mengikuti jejak Amerika. Tulisan ini mencoba mengulas upaya ekspor penyakit kaum Luth modern ini secara sistematis dari Barat ke dunia Islam, dan bagaimana seharusnya respon masyarakat Muslim terhadap praktek jahiliyah modern ini.

Resistensi Negeri-negeri Muslim terhadap LGBT

Di negeri-negeri Muslim, praktek homoseksual sejak lama dianggap penyimpangan fitrah kemanusiaan sehingga jarang dibicarakan secara terbuka, namun sejak dua decade terakhir ini seiring dengan kian derasnya kampanye hak-hak kaum LGBT, isu ini tidak lagi asing bagi masyarakat Muslim. Apalagi sejak PBB secara resmi mengakui hak-hak kaum Luth modern ini dalam UN Declaration on Sexual Orientation and Gender Identity (Deklarasi PBB terkait Orientasi Seksual dan Identitas Gender) yang diakui dan diadopsi pada 13 Desember 2008. Hampir semua negeri-negeri Muslim (sebanyak 54 negara) menolak menandatangani deklarasi ini, termasuk Indonesia. Sementara sebaliknya nyaris semua negeri-negeri non-Muslim –terutama negeri-negeri di Barat- menandatanganinya (sebanyak 94 negara).

Resistensi umat Islam terhadap praktek LGBT masih terlihat jelas, sebagai contoh di Turki kelompok yang menamakan dirinya Young Islamic Defense bahkan secara menantang berkampanye untuk membunuh kaum Gay dengan menyebarkan poster berisi hadits Rasulullah Saw yang berbunyi :

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah kedua pelakunya”. [HR Tirmidzi : 1456, Abu Dawud : 4462, Ibnu Majah : 2561 dan Ahmad : 2727].

Kampanye ini dilakukan Young Islamic Defense untuk menolak parade Gay di Turki akhir Juni 2015 lalu, dengan terus menyebarkan isi hadist di atas dalam bentuk poster di jalan-jalan juga melalui sosial media, demi melindungi masyarakat Muslim dari bahaya kaum LGBT.

Tahun 2013, Para Ulama Al-Azhar melalui Lembaga Riset Islam (Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah) telah mengeluarkan fatwa haramnya menikah sesama jenis. Pernikahan sesama jenis juga dapat mengakibatkan pelakunya keluar dari agama Islam. Fatwa itu muncul menyusul beredarnya kabar tentang menikahnya dua orang sesama jenis di Perancis, yang mengaku sebagai Muslim. Semua ini menunjukkan resistensi masyarakat masih kuat, namun tak dipungkiri gejala LGBT saat ini telah menjadi momok yang menghantui masyarakat di negeri-negeri Muslim. Karena itu resistensi saja tidak cukup, diperlukan kesadaran politik yang sempurna dari umat Islam dalam menyikapi pergerakan kaum Luth modern ini.

Kekuatan Politik Gerakan LGBT Dibackingi AS dan Barat

Di abad 21 ini, kaum LGBT telah menjelma menjadi sebuah kekuatan politik, karena telah diakui secara politis oleh Amerika Serikat sebagai “negara pertama” dalam konstelasi internasional dengan memfasilitasi tujuan puncak perjuangan kaum LGBT yakni “pernikahan sejenis”. Bahkan yang menggenaskan adalah hak-hak mereka juga telah diakui oleh deklarasi PBB tahun 2008. Rupanya abad ini adalah puncak keberhasilan mereka, dimulai pertama kali oleh Belanda yang melegalkan pernikahan sesama jenis tahun 2001, hingga menyusul hingga menyusul Belgia (2003), Spanyol (2005), Kanada (2005), Afsel (2006), Norwegia – Swedia (2009), Portugal – Islandia – Argentina (2010), Denmark (2012), Brazil – Inggris – Prancis – Selandia Baru – Uruguay (2013), Skotlandia (2014), Luxemburg – Finlandia – Slovenia – Irlandia – Meksiko (2015), dan terkini Amerika Serikat (2015). Hingga akhirnya sekarang mereka pun hendak merambah ke negeri-negeri Muslim.

Nampak jelas LGBT sudah menjadi salah satu alat politik Barat dalam menjajah masyarakat Muslim yang dibahanbakari oleh industri hiburan kapitalis dan lifestyle hedonis yang linear dengan sistem nilai sekuler dan liberal. AS bahkan secara serius mendanai program baru bernama “Being LGBT in Asia” yang diluncurkan oleh UNDP dengan pendanaan US$ 8 juta dari USAID dan dimulai Desember 2014 hingga September 2017 mendatang. Program ini fokus beroperasi di Asia Timur dan Asia Tenggara khususnya di Cina, Indonesia, Filipina dan Thailand, dengan tujuan meminimalisir kendala bagi kaum LGBT untuk hidup di tengah masyarakat. Program berbahaya ini sangat aktif dalam memberdayakan jaringan LGBT di lapangan untuk mengokohkan eksistensi mereka secara structural dan kultural di negeri-negeri sasaran.

Di udara, jaringan media Barat juga secara agresif mengekspose komunitas minor LGBT di tengah masyarakat Muslim, sebagai contoh komunitas pesantren waria di Yogyakarta – Indonesia yang diliput oleh BBC, majalah TIME dan the Huffington Post selama bulan Ramadhan lalu yang mengambil angle opini bahwa keberadaan mereka seolah-olah telah diterima secara luas oleh masyarakat Muslim. Kampanye di udara ini semakin ramai dengan kicauan tokoh-tokoh dunia hiburan serta tokoh-tokoh pemikir liberal di negeri Muslim. Mereka terus memproduksi narasi bahwa Islam ‘membenarkan’ praktek LGBT dan masyarakat Muslim pun bisa menerima eksistensi kaum luth modern ini.

Resistensi Saja Tidak Cukup, Bagaimana Seharusnya Masyarakat Muslim Bersikap?

Para tokoh umat di seluruh dunia Islam tidak boleh membiarkan sikap masyarakat Muslim hanya bersifat temporal dan sporadis, karena sesungguhnya tantangan yang dihadapi sudah berupa kekuatan politik sistematis dengan dana besar dan sangat destruktif. Karena itu secara taktis-strategis para Ulama dan aktivis Muslim di seluruh dunia Islam memiliki tanggung jawab aksi sebagai berikut :

1. Mengkampanyekan visi politik Islam yang sangat humanis dalam melestarikan keturunan manusia dan memelihara keluhuran peradaban Islam, dengan melakukan edukasi ke tengah-tengah umat bahwa semua yang dilarang dan dilaknat oleh Allah pasti juga bertentangan dengan fitrah manusia, dalam hal ini adalah fitrah untuk melestarikan keturunan sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah ayat pertama QS An-Nisa.

﴿يا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ وَ خَلَقَ مِنْها زَوْجَها وَ بَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثيراً وَ نِساءً وَ اتَّقُوا اللَّهَ الَّذي تَسائَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحامَ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيْكُمْ رَقيباً

﴾”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Karena itulah Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk tujuan berkembangbiak alias melestarikan keturunan. Sanksi yang tegas berupa hukuman mati atau diasingkan bagi pelaku liwath (homoseksual) tidak lain adalah untuk membasmi penyimpangan fitrah dan merealisasikan tujuan hakiki Syariah Islam (maqoshid syariah) dalam memelihara nasab (keturunan) manusia. Maraknya komunitas LGBT dalam sebuah masyarakat akan mengakibatkan depopulasi manusia. Kaum LGBT tidak akan mungkin menghasilkan keturunan, apalagi keturunan yang baik, yang hidup di dalam lingkungan yang baik.

2. Merevitalisasi ’amar ma’ruf nahiy munkar dalam masyarakat Muslim. Dr Adian Husaini berpendapat bahwa bentuk kepedulian terbaik kepada para pelaku homoseksual adalah menyadarkan bahwa perilakunya menyimpang, dan kemudian mendukung mereka untuk bisa sembuh dan kembali pada kodratnya. Bukan diberikan motivasi untuk tetap mengidap perilaku menyimpang tersebut dan dibenarkan atas nama HAM. Rasulullah saw mengibaratkan kehidupan masyarakat Islam seperti sekelompok orang hidup dalam sebuah kapal yang merefleksikan bahwa sebuah masyarakat memiliki tanggungjawab kolektif untuk mencegah kemungkaran. Islam membebankan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar pada masyarakat Muslim dan setiap orang yang beriman yang akan berfungsi sebagai sistem kekebalan yang kuat dalam masyarakat untuk mencegah penyebaran penyakit sosial.

3. Mengedukasi umat bahwa ide dan konsep HAM yang sering dijadikan hujah oleh para pegiat LGBT adalah konsep yang bertentangan dengan Islam dan justru membahayakan kemanusiaan itu sendiri akibat paham kebebasan individual egois yang menjadi ruh-nya. Paham kebebasan ekstrim yang terkandung dalam ide ini membuat individu tidak peduli dengan kemashlahatan orang banyak, apalagi generasi di masa depan. Di sisi lain HAM sejatinya juga menjadi alat politik AS untuk mengontrol dunia Islam, yang terlihat dari standar ganda AS dalam penilaian pelaksanaan HAM.

4. Menyeru penguasa negeri-negeri Muslim untuk bersatu dalam naungan Khilafah Islam, karena sesungguhnya inilah perisai sejati umat Islam yang akan menjamin kehormatan generasi Muslim dalam martabat kemanusiaan yang luhur dan mencegahnya terjerumus dalam perilaku hewani seperti LGBT. Sebagaimana perkataan Utsman bin Affan ra., “Sesungguhnya Allah SWT memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang tidak bisa dihilangkan oleh al-Quran.”

Wallahu a’alam
Fika Komara
Anggota Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir

Iklan

Berkarir, haruskah?

Tulisan ini adalah tanggapan atas beberapa respon tulisan saya sebelumnya, pun beberapa respon di FB sesaat setelah kata-kata Ibu Ainun Habibi dipost oleh salah seorang kawan. Banyak diantara ibu-ibu yang masih membela dirinya bahwa wanita karir tidak seburuk itu, bahwa mereka juga berjuang untuk keluarga, bahwa mereka juga memiliki keahlian yang bisa bermanfaat untuk orang lain, bahwa keadaan sekarang yang memaksa mereka sebagian merasa “WAJIB” terjun sebagai pekerja, dan respon sejenisnya.

Satu hal yang harus kita sepakati dalam membahas setiap permasalahan hidup adalah standar menilai yang sama, sehingga tak akan ada perang pendapat dari masing-masing kepala yang tak ada ujung pangkalnya. Ingat pembahasan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi beberapa tahun lalu yang sulit menemui kata sepakat? Ya karena standar dalam menilai masih diserahkan ke kepala manusia semata, entah itu sebagai wakil rakyat, sebagai pekerja seni, sebagai pengusaha hiburan, dan profesi yang lainnya, maka definisi apa itu porno pun beragam bentuknya. Dan jangan harap akan menemui kesepakatan yang dikehendaki. Lalu apa seharusnya yang layak dijadikan standar?

Sebagai umat ISLAM, tentu hukum Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya yang harus dijadikan standar. Maka jelas, apa definisi aurot yang boleh terlihat di depan umum atau tidak, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan begitu, tak peduli ia pekerja seni, tak peduli ia pengusaha hiburan, tak peduli ia aktivis pejuang HAM perempuan, semua harus tunduk pada hukumNya, sang pencipta manusia, yang Maha Tahu apa yang paling terbaik bagi umatNya, siapapun mereka. Lalu bagaimana ISLAM menyikapi begitu banyaknya perempuan yang akhirnya berkiprah di ruang publik?

ISLAM telah mengatur dalam syariatnya, apa beban kewajiban laki-laki dan perempuan, karena Allah Maha Tahu apa sejatinya maksud penciptaan kedua jenis manusia itu, ada laki-laki dan ada perempuan. Allah telah menyampaikan bahwa beban mencari nafkah merupakan KEWAJIBAN laki-laki sebagai suami, bukan perempuan. Lalu apa kewajiban perempuan? Mereka memiliki kewajiban sebagai Ummu warobatul bayt, Ibu dan Pengatur Rumah Tangga. Lalu ketika keadaan memaksa wanita bekerja karena alasan ekonomi misalnya, apa lantas hukum itu akan berubah? Ingat! Hukum Allah sampai kapanpun tak akan pernah berubah! Yang WAJIB selamanya akan menjadi wajib kecuali ada indikator lain yang diterangkan dalam nash. Maka ketika syariat menerangkan bahwa beban kewajiban nafkah itu ada ditangan suami, maka bagaimana jika kondisi tertentu ia tak mampu? Sakit yang tak memungkinkan kerja, atau meninggal misalnya, bagaimana lantas si istri bisa memenuhi kebutuhan anaknya?

Dalam ISLAM ada mekanisme yang jelas, bagaimana sekalipun tidak bekerja, maka keluarga yang kehilangan peran suami/ayah tetap bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang pertama, kewajiban itu berpindah pada ahli warisnya atau kerabatnya yang mampu, dan mereka berdosa jika tidak melakukannya (QS. Al Baqarah : 233). Lalu bagaimana jika ahli waris dan kerabatnya tidak ada yang mampu menanggung nafkahnya? Maka hal tersebut menjadi kewajiban negara! Itulah urgensinya memperjuangkan agar syariah bisa diterapkan dalam bingkai negara, tentu saja untuk menjamin pelaksanaan hukum yang hanya mampu diterapkan jika ada negara! Silakan cari buku pendukung tentang mekanisme pengolaan kekayaan negara dalam sistem ISLAM hingga mampu menjamin kesejahteraan seluruh rakyatnya. Era kekhilafahan telah menunjukkan bukti yang jelas, bahwa sistem ISLAM adalah sistem yang paling manusiawi, karena memang diturunkan untuk mengatur manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang tua, orang miskin dan orang kaya, lajang dan berkeluarga, ataupun yang sehat dan yang sakit. Namun, bagaimana jika dalam kondisi tertentu negara juga tidak mampu? Maka kewajiban itu berpindah ke tangan kaum muslimin yang mampu (QS. Adz Dzariat : 19).

Lalu bagaimana menyikapi dengan perempuan yang bekerja dengan alasan ingin mengaktualisasikan ilmunya? Dalam ISLAM hukum asal wanita bekerja MUBAH, bukan WAJIB ataupun HARAM. Namun, kemubahan itu bisa menjadi haram jika tidak memenuhi ketentuan syariat. Antara lain, jika pekerjaan itu melalaikan kewajiban utamanya sebagai Ibu dan pengatur rumah tangga, termasuk lalai dalam mengasuh anak-anaknya yang telah menjadi amanahnya, atau bekerja tanpa ridlo suaminya, maka pekerjaan itu harus ditinggalkan, karena yang mubah tidak boleh mengalahkan yang wajib. Dalam hal ini, ketentuan nash sudah jelas, bisa dicari ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan kewajiban utama seorang perempuan, terlebih seorang istri dan seorang Ibu.

Jadi sampai kapanpun, hukum wanita bekerja tak pernah berubah menjadi WAJIB, dan yang perlu kita upayakan untuk menolong para perempuan yang akhirnya merasa “WAJIB” bekerja karena kondisi adalah, memperjuangkan agar syariat bisa ditegakkan, karena itu satu-satunya jalan menjamin maslahat, untuk setiap umat.

Ibu mengandung, itu hal biasa. Ibu meregang nyawa dikala melahirkan, menjadikannya istimewa. Ibu menyusui bayinya, memang sudah fitrahnya. Ibu mendidik putra-putrinya, menjadikannya mulia.

Namun….

Ibu mati-matian bekerja demi nafkah keluarga adalah sumber derita dan malapetaka! Tak percaya? Lihatlah di media, bagaimana wajah generasi kita, kebebasan dijadikan kiblat pergaulan, kehidupan hedonis dijadikan anutan, budaya permisiv dijadikan acuan, para idola layar kaca dijadikan pujaan, dan bagaimana materi dijadikan tujuan !

Wallahualam.


Ummi, dengarkan Abi

“Mi, dompetnya taro di tas saja, nanti jatuh” kata suami mengingatkan sesaat sebelum Aku membonceng motornya

“Sakunya panjang kok Bi, gak pa-pa” Jawabku merasa yakin kalo dompetku akan aman di saku jaket yang memang muat dimasuki dompet sebesar plat nomer kendaraan itu

Lalu suamiku memacu motornya memecah keheningan malam. Baru jam 9, tapi daerah kampung Ibu memang sudah mulai sepi sekalipun masih belum menjelang tengah malam. Suamiku memacu motornya melewati gang-gang sempit yang hampir tak ada keramaian, selain penjual nasi goreng dengan beberapa pembeli di salah satu sudut gang. Kupegang erat pinggang suamiku untuk sedikit menghangatkan tubuhku yang tersapu dinginnya angin malam. Dan pada belokan gang berikutnya, iseng kurogoh saku jaketku untuk memastikan bahwa dompetku aman-aman saja. Dan DEG! Kemana gerangan benda persegi hitam itu?

“Bi,bi.. brenti bentar, kayaknya dompet Ummi jatuh deh” seketika suamiku menghentikan motornya dan melongok ke sekeliling, berharap dompet itu masih ada di sekitar

“Gak ada Mi?” tanyanya memastikan aku sudah mencarinya di sepanjang jalan yang kulewati. Aku menggelengkan kepala

“Gak ada, padahal baru 5 menit jalan, dompetnya gede lagi, di jalan juga gak ada orang, kok udah gak ada ya Bi” kataku sambil sedikit merengut

Akhirnya aku dan suami kembali menyusuri jalan sepanjang yang sudah terlewati. Melihat hampir di setiap sudutnya, bahkan di selokan yang mengelilinginya. Pencarian kami pun diulangi hingga tiga kali dan dibantu keluarga dan tetangga dekat. Tapi tetap saja, dompet itu tak juga tampak wujudnya.

“Ya sudah Bi, udah malem, kita pulang saja, sapa tahu nanti ada yang nemuin” kataku pasrah.

Sampai di rumah, aku masih memikirkan nasib dompet itu. Bukan karena isinya yang memang tak seberapa, karena hanya satu bendel  5000an yang sedianya akan kubagikan pada beberapa ponakan serta beberapa kartu identitas saja, tapi rasa penasaran mengapa bisa raib secepat itu? Bayangkan, hanya sekitar 5 menit, ya 5 menit saja, benda itu sudah raib tak berbekas. Kami langsung mencarinya karena kupikir dompet itu berukuran sangat besar, sehingga kalo jatuhpun pasti bunyi dan mudah terlihat, lagipula jalanan dan selokan di sekeliling cukup bersih , sehingga kalo jatuhpun akan mudah dicari. Ditambah lagi saat kami lewati hampir tak ada orang di sekeliling, kecuali penjual nasi goreng dan beberapa pembeli yang mangkalnya pun agak mojok dan agak cukup jauh dari berlalunya kendaraan kami.

“Gak apa-apa Mi, kalo masih rizkinya pasti balik lagi. Isinya gak banyak kan?” Suamiku menenangkanku yang sedari tadi seperti menangkap kegelisahanku

“Iya Bi, Ummi gak nyeselin ilangnya kok, tapi nyesel karena tadi gak dengerin kata-kata Abi, coba kalo Ummi nurut sama pesen Abi, pasti gak akan seperti ini” sesalku. Suamikupun tersenyum

“Itu salah satu pelajaran berharga buat Ummi, Ummi harus tahu bahwa apapun yang Abi pesankan untuk Ummi pasti karena Abi sayang sama Ummi, dan kalo Ummi patuh itu kebaikan untuk Ummi sendiri, iya kan?” Sahutnya, bijak seperti biasa

“Iya, Alhamdulillah yang ilang gak seberapa, semoga yang nemu bener-bener orang yang butuh ya Bi, dan Ummi ikhlas kok, insyaAllah…” lalu kataku…

“Dan Ummi gak lagi-lagi nyepelein pesen Abi, makasih ya Bi” lalu kamipun tersenyum, karena mendapatkan pelajaran yang indah malam ini.

***

Dan untuk para muslimah dimanapun berada, percayalah bahwa Allah mensyariatkan laki-laki sebagai qowwam itu karena DIA Maha Tahu dan Maha Menyayangi kita sebagai seorang perempuan, lalu apa yang menghalangimu untuk mentaatinya? Dan setan apa yang merasukimu hingga harus berjuang penuh peluh untuk adanya “kesetaran jender” yang absurd itu. Ingatlah, bahwa bukan dunia semata yang kita tuju, tapi ada dimensi lain yang membuat kita butuh untuk mematuhi ketentuanNya… dan itulah negeri akhirat…