…. jejakku, cintaku ….

Posts tagged “hikmah

Menemani Selama 40 Hari

kata-mutiara-islam-tentang-kematian-2

Alkisah seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat: “Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku.”

Lalu ditanyakanlah hal itu kepada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti.
Tapi anak-anaknya menjawab, “Mana mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat.”

Keesokan harinya, dipanggillah semua adik-adiknya. Dan beliau kembali bertanya, “Adik-adikku, sanggupkah diantara kalian menemaniku di dalam kubur selama 40 hari setelah aku mati nanti? Aku akan memberi setengah dari hartaku!”

Adik-adiknya pun menjawab, “Apakah engkau sudah gila? Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.”

Lalu dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya, untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke se antero negeri.

Akhirnya, sampai jugalah pada hari di mana Konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah. Kuburnya dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang Tukang Kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman wasiat tersebut. Lalu Tukang Kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah Konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris akan kesanggupannya.

Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat. Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat sambil membawa Kapaknya. Yang paling berharga dimiliki si Tukang Kayu hanya Kapak, untuk bekerja mencari nafkah.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.

Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat. Di benaknya, sudah tiba saatnya lah si Konglomerat akan diinterogasi oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Malaikat Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”

Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah dari harta warisannya”, jawab si Tukang kayu.

Apa saja harta yang kau miliki?”, tanya Mungkar-Nakir.
“Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki”, jawab si Tukang Kayu.

Kemudian Mungkar-Nakir bertanya lagi, “Dari mana kau dapatkan Kapakmu ini?”
“Aku membelinya”, balas si Tukang Kayu.
Lalu pergilah Mungkar dan Nakir dari dalam kubur tersebut.

Besok di hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya, “Apa saja yang kau lakukan dengan Kapakmu?”
“Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar”, jawab tukang kayu.

Di hari ketiga ditanya lagi, “Pohon siapa yang kau tebang dengan Kapakmu ini?”
“Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi ngak ada yang punya”, jawab si Tukang Kayu.
“Apa kau yakin?”, lanjut Malaikat.
Kemudian mereka menghilang.

Datang lagi di hari ke empat, bertanya lagi “Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual?”
“Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata”, tegas tukang kayu.

Begitu terus yang dilakukan Malaikat Mungkar Nakir, datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar dengan Kapak tersebut.

Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu tersebut. Berkata Mungkar dan Nakir, “Hari ini kami akan kembali bertanya soal Kapakmu ini”.

Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut. Ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.

Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dan lari meninggalkan mereka sambil berteriak, “Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi.”

Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya, “Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu. Di dunia ini harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak ini, tapi Malaikat Mungkar-Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan dan persoalkan masih saja di seputar Kapak ini. Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak? Entah berapa lama dan bagaimana aku menjawabnya.”

Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, “Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, ilmunya sejauh mana diamalkan?” (HR. Turmudzi)

Sumber : ONE DAY ONE JUZ Community

Iklan

The Power of Family

Namaku Wina lengkapnya Sri Winarsih, kini usiaku sudah mencapai 28 tahun. Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahku seorang pegawai negeri dengan penghasilan yang sangat rendah, sedangkan ibu seorang ibu rumah tangga yang hanya dapat membantu meringankan suaminya dengan berjualan jajanan keliling kampung. Seingatku, aku tidak pernah mendengar ayah ibuku mengeluhkan tentang hal itu.

Aku dilahirkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Aku tidak sempurna seperti bayi-bayi lainnya, tubuhku kecil karena aku lahir prematur. Mungkin karena ibu terlalu giat bekerja agar dapat membantu ayahku dalam mencari nafkah. Oleh karena orang tua tidak mempunyai banyak biaya untuk perawatanku di rumah sakit, maka orang tuaku membawaku pulang ke rumah untuk dirawat dengan peralatan seadanya. Berkat dukungan ayahku, ibuku merawatku sebaiknya mungkin dengan sangat berhati-hati. Sehubungan aku lahir belum cukup umur maka tubuhku membutuhkan kehangatan yang lebih, kata ibuku dulu untuk dapat menghangat tubuhku maka digunakan lampu belajar bekas pemberian tetangga. Orang tuaku berharap aku dapat tumbuh dengan sempurna seperti layaknya anak-anak pada umumnya.

Alhamdulillah dengan dukungan ayahku dan berkat pertolongan Allah maka aku dapat tumbuh dengan cepat dan sehat. Namun di tengah perjalanan hidupku terjadi suatu kecelakaan yang dampaknya terasa hingga tamat SMA. Saat berusia 5 bulan aku jatuh dari tempat tidur ibuku. Saat itu ibuku sedang membuat kue untuk dijual hari itu. Ibu terkejut mendengar tangisanku yang secara tiba-tiba itu. Aku sudah tergeletak di atas lantai. Setelah diperiksa, alhamdulillah tidak ada cedera di tubuhku. Ibu tidak membawaku ke rumah sakit hanya diperiksa sendiri saja, karena saat itu ibu tidak punya uang. Dengan cekatan ibu menggendongku dengan penuh kasih sayang, dengan kehangatannya yang hingga saat ini masih terasa dan selalu kurindukan.

Sejak kecil aku mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan, tubuhku kaku, tidak lincah seperti teman-temanku. Semakin besar gerakanku semakin kaku, sampai akhirnya aku di bawa ke rumah sakit yang berada jauh dari desa kami tinggal. Sebetulnya orang tuaku tidak mempunyai uang untuk itu, tetapi dengan berbagai usaha yang halal akhirnya ayahku mampu mengumpulkan sedikit uang untuk berobat ke kota.

Sesampainya di rumah sakit aku ditangani oleh seorang dokter yang cantik dan baik hati, lemah lembut tutur katanya, namanya dokter Mila.

Dari pemeriksaannya ternyata aku mengalami kelainan pada tulang kaki dan tanganku, sehingga aku harus menjalani beberapa terapi untuk menormalkan kembali fungsi tulang-tulangku agar bisa berjalan dengan baik. Salah satu penyebabnya kemungkinan pada saat aku terjatuh pada usia 5 bulan itu. Baru beberapa hari aku tinggal di rumah sakit persediaan uang ayahku menipis, akhirnya dengan sangat terpaksa ayah ibu membawaku kembali ke kampung. Orang tuaku pasrah atas ujian yang Allah berikan. Apapun yang akan terjadi semua adalah kehendak-Nya. Usaha orang tuaku patut kuacungi dua jempol, bahkan bila memungkinkan empat jempol sekaligus.

Dengan telaten setiap hari ibuku melakukan terapi sendiri di rumah, sementara ayahku membuatkan aku tempat untuk belajar berjalan dari bambu. Sebelum ayahku pergi bekerja aku selalu diajak untuk melakukan latihan secara rutin dengan penuh kasih sayang. Aku melihat tidak ada sedikitpun guratan kesedihan di wajah mereka, senyum bahagia selalu menyelimuti bibirnya saat memberi semangat padaku untuk melakukan latihan tersebut. Apalagi kalau sudah melihat aku bosan, ibu selalu membujuknya dengan janji akan membuatkan aku makanan kesukaanku. Ayah pun demikian tidak pernah luput memujiku dengan perkembangan kemampuanku untuk berjalan.

Tanpa terasa aku sudah duduk di bangku SMA, aku masih selalu diantar jemput oleh ibuku karena aku memang belum dapat berjalan dengan sempurna. Jalanku masih pelan-pelan takut jatuh, ibu selalu menggandeng tanganku dan memapah aku berjalan. Kegigihan beliau dalam membimbing, benar-benar memacu hatiku untuk bertekad mewujudkan cita-citaku menjadi seorang dokter ahli tulang yang cantik dan sukses seperti Dokter Mila.

Hari demi hari kulalui dengan dukungan dan kehangatan orang tuaku, terutama ibu. Sampailah pada tahun ke 3 di SMA, prestasi belajarku melesat cepat, nilai pelajaranku sangat baik.

Pertolongan Allah pun tiba. Aku mendapatkan bantuan dari Pak Haji Sholehudin, seorang yang dermawan di kampungku, sehingga orang tuaku tidak begitu dipusingkan dengan biaya sekolahku di SMA. Walaupun demikian ayah dan ibuku tidak berhenti atau bermalas-malasan mencari nafkah, karena pada prinsipnya tidak mau merepotkan orang lain.

Pak Haji Sholeh adalah pedagang di pasar di kota, istri tercintanya telah meninggal dunia 15 tahun yang lalu. Meski usahanya sangat maju namun kehidupannya sangat sederhana. Beliau hidup bersama 5 orang anak yatim piatu di rumahnya yang sangat sederhana. Kepeduliannya kepada orang yang tidak mampu jauh lebih peduli dibandingkan dengan orang kaya yang ada di kampungku. Menurut cerita dari ibuku, sejak masih muda beliau gemar sekali bersedekah, begitu pula dengan almarhum istrinya. Baginya harta dia sesungguhnya adalah harta yang dia berikan untuk orang lain. Subhanallah!!

…Allah mendengar doa dan harapan orangtuaku dalam shalat Tahajud di keheningan malam yang sepi. Tak henti-hentinya ibu berdoa untuk kebahagiaan dan keberhasilanku…

Dengan segala keterbatasan dan dukungan dari orangtua, aku mampu menyelesaikan pendidikan di SMA dengan prestasi dan nilai yang gemilang. Acara wisuda di sekolah sangat meriah. Kami saling berpelukan, menangis karena haru bahagia. Kami sadar kami akan berpisah dengan teman-teman dan entah apakah kami akan bertemu kembali atau tidak. Kelak kami akan menjadi apa? Kami tidak tahu, semua itu adalah rahasia Ilahi.

Allah mendengar dan mengabulkan semua doa dan harapan orang tuaku, yang selalu kudengar saat ibuku selesai menunaikan shalat Tahajud di keheningan malam yang sepi. Bersamaan dengan mengalirnya airmata dari bola matanya yang indah kemudian sebait doa pun meluncur dari bibirnya. Tak henti-hentinya ibu selalu mendoakan aku, demi kebahagiaanku, keberhasilanku. Kadang aku berpikir kapankah ibu tidur? Setiap aku terbangun ibu sedang berzikir, berdoa, mengaji, shalat dan banyak lagi serangkaian ibadah yang dilakukannya.

Selepas SMA aku diterima di Perguruan Tinggi Negeri yang paling terkemuka di Indonesia, dengan jurusan yang diminati banyak pelajar SMA yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).

Terima kasih Ya Allah, Kau mengabulkan cita-citaku menjadi mahasiswa kedokteran apalagi di Universitas Indonesia. Subhanallah tiada henti-hentinya aku bersyukur.

.

Mendapat kenikmatan besar dan musibah memilukan

Qadarullah, mungkin karena kelewat bahagianya mendengar aku diterima di Fakultas Kedokteran UI, ayahku kena serangan jantung kemudian meninggal dunia. Sejak itu ibuku hijrah ke Jakarta, menemaniku karena aku saat itu belum sempurna betul. Setelah mengantarkan aku ke kampus, ibu pergi bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter yang kebetulan menjadi dosenku, namanya dr. Sudiyanto SpBO (dokter Spesialis Bedah Orthopedi). Dosen yang baik hati  ini memiliki 2 anak yang secara kebetulan anak sulungnya adalah kakak kelasku, 3 tahun diatasku.

Dr Sudiyanto pun merasa prihatin dengan kondisiku, sehingga dengan tulus membantuku pengobatanku dengan terapi medis secara gratis. Alhamdulillah dalam jangka waktu 1,5 tahun aku sudah dapat berjalan dan tanganku dapat digerakkan dengan lentur seperti teman-temanku yang lainnya.

Sepeninggal ayah, aku mendapatkan beasiswa karena aku termasuk anak yatim yang berprestasi, dan dari keluarga yang miskin.

Hari demi hari kulalui bersama ibuku, dengan kesetiaannya ibuku selalu menemani aku dalam belajar, selalu memberi semangat, menjadi inspirasiku dalam menyelesaikan studiku. Dalam jangka waktu 5 tahun aku lulus sebagai dokter umum, kemudian dilanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sebagai dokter spesialis bedah orthopedic, sesuai cita-citaku dulu. Pendidikan ini pun dapat kuselesaikan dalam jangka waktu 3 tahun. Allahu akbar!

Ibu telah mengantarkan aku menjadi seorang dokter dengan kelembutan, kesabaran, ketekunan, dan doa  tulus yang dikabulkan Allah…

Tibalah saatnya aku menjalani wisuda sebagai Dokter Spesialis Bedah Ortopedi. Dalam hatiku dan selalu dipenuhi rasa syukur kepada Allah. Malam hari sebelum wisuda aku tidak bisa tidur, kupandangi wajah ibuku yang sudah tampak tua kelelahan, aku hanya bisa berucap lembut: “Ibuuuuu, terima kasih karena kau telah mengantarkan aku menjadi seorang dokter dengan kelembutan, kehangatan, kesabaran, ketekunan, yang pasti doamu sangat tulus untukku, Allah telah mengabulkan doamu. Aku persembahkan gelar dan ijazahku untukmu, engkaulah yang patut mendapatkan gelar itu. Ibuuuu aku sangat mencintaimu…”

Tanpa terasa matahari pun muncul dari persembunyiannya, aku dan ibuku sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri upacara wisuda. Kami berangkat dengan menggunakan becak, namun tiba-tiba kami dikejutkan dengan kedatangan Dr Ade Sutisna, putra sulung Dr Sudiyanto.

Saat itu kami hendak menaiki becak yang sudah kami pesan, dengan sedikit memaksa beliau mengajak kami untuk ikut masuk ke dalam kendaraannya. Sebagai penghargaan padanya akhirnya kami mengikutinya. Sesampainya di kampus UI ternyata aku sudah ditunggu oleh Dr Sudiyanto dan istrinya.

…Subhanallah di zaman modern ini masih tersisa manusia ningrat yang mau menjadikan orang miskin menjadi menantu tanpa pertentangan…

Sepulang acara wisuda, malam harinya keluarga Dr Ade Sutisna berkunjung ke rumah kontrakan kami yang sangat kecil. Di luar dugaan, kunjungan mereka bertujuan melamarku untuk dijodohkan dengan Dr Ade. Subhanallah, kami hanya mampu menangis haru dan rasa syukur. Ternyata di zaman modern ini masih tersisa manusia ningrat yang mau menjadikan orang miskin ini menjadi menantunya tanpa proses pertentangan. Rupanya sejak aku masuk kuliah Dr. Sudiyanto sudah berniat menjodohkan aku dengan putranya. Tanpa sepengetahuan beliau dr Ade menaruh hati padaku.

Dua tahun kemudian kami menikah dan merajut keluarga sakinah hingga sekarang. Dalam kebahagiaanku, kebaikan almarhum ayahku tak pernah terlupakan. Hanya doa yang kupanjatkan kepada Allah, satu-satunya balas jasaku pada ayahku. Semoga doaku menjadi amal ayah yang tiada terputus.

Duhai ayah, seandainya saat ini Allah mengizinkanmu masih hidup, betapa bahagianya dirimu, ikut merasakan kebahagiaanku. [voa-islam.com]


Berupaya, Tak Pernah Sia-sia

Kulihat kelelahan suamiku sekembalinya malam itu. Ini sudah bulan ketiga dia berputar hingga keluar kota dengan motor tuanya yang masih sering ngadat jika harus bepergian jarak jauh. Dia berkeliling untuk segera memulai usahanya, mencari kandang untuk usaha ternak yang sudah sejak lama diimpikannya. Aku sudah tak menghitung lagi sudah berapa kali dia cerita pemilik kandang yang ditemuinya tidak berminat untuk menyewakan atau tidak ada kesepakatan harga. Ada yang terlalu mahal, ada yang tempatnya tidak kondusif, ada yang bermasalah, ada yang pemiliknya kurang bersahabat dan entah berapa banyak alasan lainnya.

Sesekali dia melihat perutku yang semakin membuncit, dan berkata,

“Doakan Abi segera bisa memulai usaha sebelum Dedek lahir ya” lalu mencium perut dan keningku.

Tak pernah ada keluh kesah. Tak pernah ada putus asa. Tak pernah ada rasa pesimis. Akupun selalu tersenyum mendengar ceritanya, yang bagiku seperti dongeng yang sangat indah, dan kadang kutimpali,

“Gak apa-apa Bi, entar kalo langsung jadi juragan ternak, lebih perhatian sama bebeknya lagi daripada sama istri” dan sudah pasti dia akan selalu meyakinkanku bahwa tidak akan mengurangi perhatiannya padaku.

Dan Aku selalu yakin, upayanya tak akan pernah sia-sia, dan Allah akan membukakan jalan kelak pada saat yang tepat. Dan ya, setelah lebih tiga bulan Dia tak pernah lelah mencari dan menelusuri, akhirnya tanpa disangka tempat itupun diperolehnya. Dan lebih yang tidak disangka lagi, ternyata hanya berjarak kurang dari 1 km dari rumah kontrakan kami dan pemiliknyapun tidak memungut uang sewa, asal kami merawat tempat itu sebaik-baiknya. Subhanallah wallahuakbar… Alhamdulillah ya Allah…

“Gak nyangka ya Dek, jauh-jauh cari tempat sampai keluar kota, ternyata dapetnya cuman di kampung tetangga, luas dan gratis lagi” ucapan suamiku suatu kali.

Ya, itulah rahasia Allah yang selalu Maha Indah. Allah akan selalu menguji hambaNya sesuai dengan kadar keimanannya. DIA perlu tahu sejauh mana niat, tawakal dan upaya kita menjemput rizkiNya. Dan DIA lah juga yang maha menetapkan seberapa banyak rizki yang kita peroleh, dan tugas kita hanyalah menunjukkan kesabaran dan kesyukuran kita akan setiap ketetapanNya.

Maka dakwah pun seperti itu. Penolakan dari setiap orang yang kita dakwahi hanyalah skenarioNya yang Maha Indah untuk melihat sejauh mana perjuangan dan pengorbanan kita untukNya. Kelak, Allah pun akan membukakan jalan kemenangan saat penderitaan, perjuangan, pengorbanan dan upaya kita sudah dirasa cukup!

Jadi, apapun hasilnya, teruslah berupaya… karena berupaya itu… tak pernah sia-sia…


Cintailah Aku Apa Adanya

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif sertaberperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.

“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”.

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya:

“Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”

Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”. Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan …

“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya. “Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang. Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. Kamu selalu pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal. Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami. Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu”.

“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

.

sumber : ekspresi-diri.blogspot.com


Dalam sebuah Perjalanan

Aku sangat menikmati melakukan perjalanan jauh, apalagi perjalanan yang InsyaAllah karena Allah. Dan salah satu kebiasaanku (selain suka ngantuk dan puless di kendaraan) adalah mengamati pemandangan dan orang-orang di sekitarku, orang-orang yang bisa memberikan banyak gambaran tentang kehidupan.

 

Kemarin duduk di sebelahku salah seorang tokoh anggota parlemen salah satu partai politik di Indonesia. Perempuan yang sungguh sibuk, hingga karena kesibukkannya beliau menitipkan sang anak ke beberapa pesantren sejak SMP. Seorang ibu yang anggun dan bersahaja, memiliki kriteria perempuan idaman masa kini. Melihatnya aku jadi teringat si Tole, keponakan yang super lincah. Sang ibu seorang pekerja pabrik, saat Tole masih terlelap sang ibu sudah harus beranjak kerja, dan saat sang ibu kembali, si Tole sudah menikmati mimpi malamnya. Sang ibu harus banting tulang setelah si ayah pergi sejak Tole masih 2 tahun. Dulu si Tole selalu menangis saat terbangun sang ibu sudah tak ada di sampingnya, tapi sekarang dia sudah biasa. Aku lagi-lagi teringat kenangan masa kecil, kenangan yang tak akan pernah hilang dari ingatan, tentu saja kenangan dengan mamak dan bapak tercinta. Aku tidak tahu, seberapa banyak kelak si Tole mengingat kenangannya bersama sang ibunda.

 

Aku juga sempat berbincang dengan sosok lainnya. Seorang ibu paruh baya yang terbiasa melakukan perjalanan dengan segudang perbekalan dan menginginkan nyamannya sebuah perjalanan. Dia sempat mengeluh perjalanan yang membuatnya lelah fisik, capek. Aku menemaninya berkeliling dan sempat kutunjukkan beberapa sahabat-sahabatku. Seorang sahabat yang hamil 8,5 bulan dan melakukan perjalanan yang sama, lalu lebih banyak lagi sahabat dengan bayinya yang belum genap setengah tahun, sahabat yang membawa serta 2-3 anaknya yang masih kecil-kecil, dengan jarak tempuh yang lebih jauh. Sempat ia bergumam, ”saya aja capek neh, apalagi mereka ya?” hmmm….melihat senyum sahabat-sahabat saya yang istimewa, saya meragukan pernyataannya.

 

Kali ini saya duduk disamping seorang ibu muda yang kalem, lembut dan tak banyak bicara. Sekilas dia seperti ibu rumah tangga biasa, dia tak banyak bicara kecuali saya yang memulainya. Sampai akhirnya kita terlibat sebuah diskusi yang hangat tentang gender, salah satu ide yang selama ini ternyata sempat membuatnya bingung, apa sebenarnya kehebatan ide ini sehingga begitu banyaknya aktivis perempuan yang memperjuangkannya. Dan setelah kita berdiskusi cukup panjang, dia berkata ”Baru kali ini saya ketemu sama orang yang kontra sama ide gender”, dan ternyata beliau seorang bergelar Master, setingkat di atas saya, dan seorang pendidik yang sangat aktif di lingkungan tempat tinggalnya. Seseorang yang tidak saya sangka, di balik keberdiamannya, tersimpan semangat mencari ilmu yang luar biasa, dan jarang saya menemui orang-orang yang gelarnya lebih tinggi dari saya bisa membuka diri ketika berdiskusi, bukan justru menonjolkan dirinya. Bukankah seharusnya begitu seorang yang berilmu?

 

Ada satu kejadian saat perjalanan, AC di bis sempat tak berfungsi karena goncangan, sehingga beberapa saat terpaksa kita harus berhenti untuk memberi kesempatan Pak Sopir memperbaikinya. Aku jadi teringat pesan amir perjalanan kami sebelum berangkat,

 

Saat Muhammad Al Fatih bertempur untuk menaklukkan Konstantinopel, dia berpesan ”Prajuritku, bukan banyaknya musuh yang aku takutkan, bukan canggihnya persenjataan musuh yang aku takutkan, bukan pula kokohnya benteng musuh yang aku khawatirkan, tapi yang aku cemaskan adalah kemaksiatan kalian sepanjang perjuangan yang justru membuat musuh memporak-porandakan perjuangan kita”

Ah, semoga ngadatnya AC yang sedikit mengurangi kelancaran perjalanan bukan karena kemaksiatan yang kami lakukan. Dan semoga dalam perjuangan ini kami bisa mengalahkan musuh terbesar kami, yaitu kemalasan, kekurangdisiplinan, kekurang ikhlasan, keragu-raguan, ketakutan, kesombongan dan rendahnya daya juang kami. Amin.

 

*Perjalanan menuju perjuangan memang tak mudah, tapi yakinlah kita akan menikmati hasil dari puncak perjuangan kita, InsyaAllah*


Merekah di Alam Nyata

Sebut saja namanya Khansa. Dia yang mengajariku untuk menjadi diri sendiri. Dulu, Aku sering mengomentari tentang penampilannya yang tidak seperti akhwat kebanyakan. Kerudung polos gelap tanpa motif, dan gamis polos gelap dengan model yang selalu sama, ditambah lagi dengan wajah polos tanpa polesan bedak, dan tas ransel bututnya yang digendong kesana kemari. Cuek dan apa adanya. Dia tak perlu merasa harus tampak anggun dan modis. Hingga dari kejauhan aku selalu hafal dari cara berjalannya dan gamis yang dikenakannya.

Tapi akhirnya aku tahu, isi hati dan kepalanya, jauh lebih anggun dari penampilannya. Seandainya banyak lelaki yang mengenalnya, tak hanya melihat dari tampilan luarnya, aku yakin mereka akan berlomba mendapatkannya. Khansa, kelak, betapa beruntungnya seseorang yang mendampingimu… karena menikmati anggunmu, yang tak pernah terlihat oleh laki-laki manapun di dunia ini.

Mariam, sebut saja seperti itu. Dia yang mengajariku tentang arti berbagi dan peduli. Anak orang berada yang bisa saja mengontrak satu kamar untuk dirinya sendiri. Tapi dia rela berbagi kamar bertiga, karena tahu aku salah satu penghuni yang tak mampu jika harus membayar sendiri. Tiap kali membuka bungkusan nasi, selalu aku yang dicarinya. Jika dia tak mendapatiku, maka nasi itu akan tetap disimpannya dan menungguku, untuk bersama menikmatinya. Hampir setiap hari, tak pernah lelah menanyakan keadaanku, dan akan selalu menawarkan buku-buku barunya untuk kubaca terlebih dulu. Gamis-gamis kesayangannya akan sedikit dikecilkan untuk kukenakan, karena selalu tahu hanya gamis itu-itu saja yang kukenakan ke kampus.

Dan namamu, Mariam, selalu ada dalam lirih harapku. Karena aku tahu, tak sanggup membalas semua senyum dan uluran tulusmu dengan yang lebih baik, kecuali DIA.

Panggil saja Aulia. Sosok yang mengajariku tentang arti sebuah kehadiran, yang selalu menebarkan kebahagiaan untuk orang lain. Orang mengenalnya sebagai perempuan yang tak pernah menolak amanah, dan membuat orang disekitarnya selalu bisa mengandalkannya, sesulit apapun. Kadang aku berpikir, mana sempat dia menyelesaikan urusannya, jika orang lain terus yang dia penuhi keinginannya. Tapi dia selalu tersenyum, dan merasa kebahagiannya adalah disaat membuat orang lain bahagia, dengan keberadaannya.

Aulia, kau secantik namamu dan seindah senyummu. Aku yakin, akan ada banyak sahabat yang tak berhenti mengingat dan mendoakanmu, selalu.

Mereka, salah satu diantara sekian banyak… yang membuat hidup ini merekah…

Nyata indahnya…..

*Untuk kalian semua…  terimakasih telah mengajariku, menjadi manusia…  seutuhnya