…. jejakku, cintaku ….

Terbaru

Saya Marah !

Saya marah…

Sangat marah….

Ketika saya dihina, disepelekan dan dicampakkan !

apalagi ….

Jika itu dilakukan pada Ayah dan Ibu saya !

terlebih…

jika itu adalah Pencipta Saya!

Pencipta Ayah dan Ibu Saya!

….

Ya… Kami berhak marah…

ketika aturan Allah dilecehkan… hukumNya disepelekan… dan ketetapanNya dalam kitabNya dicampakkan!

 

Iklan

The Dagelan Continues…

Di tengah-tengah keriuhan berita tentang penggerebegan dan penangkapan para anggota ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah) di berbagai tempat di tanah air setelah seminar tentang ISIS di JIEX Kemayoran beberapa hari lalu, saya mendapatkan kabar bahwa nanti malam, sekitar pukul 19.30, 16 orang warga Indonesia yang ditangkap di Turki akan tiba di tanah air. Berdasarkan informasi yang berkembang, keenam belas orang itu datang ke Turki sebelum menyeberang ke wilayah Suriah, untuk bergabung dengan ISIS.

Tapi menurut seorang kawan yang bertugas di Markas Besar Polri, ke-16 orang itu bukanlah 16 orang yang dilaporkan menghilang oleh keluarganya dan berencana untuk ke Turki, pekan lalu. “Enam belas orang yang baru datang ini sebenarnya sudah ditangkap lama sebelumnya,” ujarnya. Sementara, dalam berbagai pemberitaan, ke-16 orang warga Surabaya, Solo dan Malang yang terdiri dari orang tua dan anak-anak itu digambarkan juga bahwa mereka akan bergabung dengan ISIS.

Kawan saya ini kemudian bercerita, bahwa sebenarnya ke-16 orang yang “akan tiba di Bandara Soekarno Hatta” nanti malam ini sebenarnya sudah tiba kemarin. Semula, Mabes Polri dan Interpol Indonesia akan mengumumkan keberhasilan mereka menjemput “para anggota ISIS” itu dalam sebuah konferensi pers yang mereka selenggarakan. Tapi rupanya, Departemen Luar Negeri Indonesia memprotes karena merasa tidak dihargai kontribusinya. Sebab, Departemen Luar Negeri merasa ikut membantu negosiasi untuk melepaskan ke-16 warga Indonesia yang ditangkap di Turki itu.

Karena mendapat protes keras, akhirnya Mabes Polri dan Interpol Indonesia mengurungkan rencana konferensi pers mereka. Keenam belas orang warga Indonesia yang sudah mendapat label sebagai anggota ISIS itu kemudian diangkut dan diinapkan ke National Traffic Management Centre (NTMC) Mabes Polri di jalan MT Haryono. “Skenarionya nanti mereka seolah baru datang, dan kemudian digelar konferensi pers bersama,” kata sumber di Mabes Polri tadi.

Sssttt… cerita tentang penangkapan di Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia pun sebenarnya lucu-lucu loh… Mulai dari yang ditangkap masih dalam status wajib lapor (dan rajin melapor), tapi dibikin drama dengan penangkapan heboh di depan Mall. Padahal kalau tidak ada niat show, polisi bisa langsung menangkap dia saat laporan mingguan ke polisi. Belakangan diketahui pula bahwa orang-orang yang disebut-sebut sebagai anggota ISIS dan ditangkap di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang kemarin juga masih dalam pemantauan polisi, dan bahkan dalam status wajib lapor.

Proyek baru tampaknya masih bikin kikuk polisi. Sebab, menurut seorang perwira berbintang satu di mabes Polri, sebenarnya polisi juga masih bingung harus memakai undang-undang apa untuk menjerat orang-orang yang baru datang dari Suriah. Polisi, dan BNPT memang sudah meminta Presiden Jokowi untuk mengeluarkan Perpu larangan ke daerah konflik, tapi Wakil Presiden Jusuf Kalla menolaknya… “Cukup undang-undang yang ada saja. Teroris kan selama dia berbuat jahat siapa saja harus dihukum. Tidak perlu pakai Perppu,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (26/3/2015).

To be continued…

dikutip dari jurnalis ANTEVE Hanibal Wijayanta dalam akun facebooknya…

WANITA PENGHUNI SURGA

imagesperempuansholeh

Oleh : KH Hafidz Abdurrahman

Dari Atha’ bin Abi Rabah berkata, Ibn ‘Abbas berkata padaku, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya”

Ibn ‘Abbas berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku, ya Rasulullah, agar Allah Menyembuhkannya.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Jika kamu mau, kamu bisa bersabar, dan kamu mendapatkan surga. Tetapi, kalau kamu mau, aku pun akan mendoakanmu, agar Allah menyembuhkanmu.”

Wanita itu tanpa ragu menjawab, pilihan yang diberikan Nabi, “Aku memilih bersabar, ya Rasul.” Dia pun melanjutkan penuturannya, “Tetapi, saat penyakit ayanku kambuh, auratku tersingkap. Mohon doakanlah aku, agar auratku tidak tersingkap.” Nabi pun mendoakannya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]

Subhanallah, alangkah rindunya hati ini pada surga-Nya yang begitu indah. Yang luasnya seluas langit dan bumi. Betapa besarnya harapan ini untuk menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Ketika Nabi menyebut wanita hitam legam, yang mungkin di mata manusia bahkan tidak dilirik sedikit pun, lebih-lebih dia menderita penyakit kambuhan, ternyata dia bisa meraih kemuliaan yang luar biasa. Dialah penghuni surga. Dia mendapatkan kesaksian dari Nabi saw. sebagai salah seorang penghuninya, di kala nafasnya masih dihembuskan. Jantungnya masih berdetak. Kakinya pun masih menapak di permukaan bumi.

Oh, alangkah indahnya. Mata, pikiran dan perasaan kita pun berdecak ingin mengetahuinya, apa gerangan yang mengantarkannya meraih kemuliaan luar biasa itu? Karena dia wanita biasa, berkulit hitam legam, bahkan menderita penyakit kambuhan. Dia bukan wanita yang cantik jelita, berparas elok, berkulit putih bak batu pualam, bukan pula pesohor. Sekali-kali tidak. Dia, kata Ibn ‘Abbas, hanya wanita bisa yang berkulit hitam.

Wanita hitam itu mungkin tidak mempunyai kedudukan di mata manusia. Tetapi, kedudukannya mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya. Ini bukti, bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Ini juga bukti, bahwa kekayaan dan kedudukan di mata manusia juga bukan tolok ukur kemuliaannya di sisi Allah. Namun, kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita pada kedudukan yang mulia di sisi-Nya. Dengan ketakwaan, keimanan, keindahan akhlak, amal shalihnya, wanita yang rupanya biasa saja di mata manusia itu pun menjelma menjadi secantik bidadari surga. Subhanallah..

Ketika wanita yang hitam legam itu lebih memilih menerima keputusan (qadha’) Allah, yaitu penyakit ayan yang terus-menerus kambuh. Ketika wanita biasa dan penderita ayan itu sanggup menerima keputusan Allah, dia rela, dia lebih memilih bersabar dengan kondisinya, sementara di depannya terbentang pilihan kesembuhan, maka kerelaan dan kesabarannya dalam menerima keputusan Tuhannya itulah yang mengantarkannya menjadi wanita penghuni surga. Dipersaksikan Nabi di saat masih hidup di dunia.

Iya, wanita mulia ini, meski secara lahirnya biasa-biasa saja, telah berhasil melewati fitnah dalam kehidupannya di dunia. Betapa tidak, kondisi fisiknya yang hitam legam, penyakit ayan, auratnya yang tersingkap semuanya itu adalah fitnah yang menghampiri hidupnya. Namun, dia hadapi fitnah itu. Fitnah itu tidak membuatnya jatuh, bahkan terperosok dalam kemaksiatan, mempertanyakan dan bahkan memberontak keputusan Allah SWT. Sebaliknya, semua fitnah itu dihadapi dengan perasaan qana’ah, ridha, ikhlas dan sabar. Sembari meminta kepada Nabi, agar didoakan, saat dia mendapati fitnah auratnya tersingkap, itu saja yang ditutup oleh Allah SWT. Karena itu aurat. Sungguh luar biasa. Allah akbar.

Iya, hidup ini adalah fitnah (ujian). Fitnah bukan hanya berupa keburukan, sebagaimana kondisi yang menimpa wanita tadi, tetapi fitnah juga bisa berupa kebaikan. Kecantikan fisik, harta melimpah, kepopuleran dan seluruh kebaikan yang kita miliki sesungguhnya merupakan fitnah kehidupan kita di dunia. Seluruh kebaikan ini bisa jadi akan memerosokkan, menjatuhkan dan bahkan menyesatkan kita. Maka, Allah pun secara khusus mengingatkan:

أَلاَ إِنَّ فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوْا

“Ingatlah, sesungguhnya mereka benar-benar telah terjatuh dalam kubangan fitnah itu.” [Q.s. at-Taubah [9]: 49]

Ketika kecantikan fisik, kekayaan yang berlimpah, kepopuleran dan seluruh kebaikan dunia tidak digunakan untuk melakukan ketaatan, bahkan digunakan dan dieksploitasi untuk melakukan kemaksiatan, maka semua kebaikan ini merupakan fitnah yang memerosokan, menjatuhkan dan bahkan menyesatkan si empunya. Tetapi, jika semuanya tadi digunakan untuk melakukan ketaatan kepada pemilik sejati kebaikan itu, yaitu Allah SWT, maka fitnah tadi tentu tidak membuatnya terperosok, terjatuh apalagi tersesat. Karena semuanya itu bisa dikelola sesuai dengan amanat Pemilik-Nya.

Kesadaran itulah yang dimiliki oleh Khadijah binti Khuwailid, dan putri tercintanya, Fatimah binti Muhammad saw. tuan para wanita penghuni surga. Kecantikan, kekayaan, kemuliaan dan seluruh kebaikan yang dimilikinya diberikan untuk Allah dan Rasul-Nya. Khadijah pun mendapatkan salam dari Allah dan Jibril, dibangunkan rumah untuknya di surga, semasa masih hidup di dunia. Fatimah pun sama, mendapatkan persaksian dari ayahandanya, Nabi Muhammad saw., sebagai penghuni surga, bahkan dinobatkan sebagai tuan para wanita penghuninya. Subhanallah.

Iya, ketika kecantikan wanita, kekayaan, kemuliaan dan seluruh kebaikan yang dimilikinya membuatnya sibuk berdandan, demi mendapatkan kulit yang putih, tetapi enggan memutihkan hatinya, maka semuanya itu menjadi fitnah kehidupan yang memerosokkannya. Mereka begitu khawatir dengan segala hal yang bisa merusak kecantikkannya, tetapi sama sekali tidak khawatir, jika keimanan dan hatinya yang bersih ternoda oleh noda-noda hitam kemaksiatan kepada-Nya, Na’udzu billah.

Kecantikan fisik bukanlah segalanya. Betapa banyak kecantikan fisik yang justru mengantarkan pemiliknya pada kemudahan dalam bermaksiat. Maka seperti apapun rupa kita, seperti apapun fisik kita, janganlah pernah merasa rendah diri. Syukurilah nikmat Allah yang sangat berharga. Kecantikan iman, kecantikan hati dan akhlak mulia kita.

Bagi wanita berkulit hitam, yang menderita penyakit ayan, maka penyakit ayan ini sebenarnya bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan, karena banyak anggota menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan.

Tapi, lihatlah perkataannya. Lihatlah, adakah satu kata saja yang menunjukkan dia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah dia mengeluhkan betapa menderitanya dia? Betapa malunya dia karena menderita penyakit ayan? Namun, ternyata bukan itu yang dia keluhkan. Justru yang dia keluhkan adalah auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.

Subhanallah. Dia lebih khawatir bila auratnya yang tersingkap, bukan mengkhawatirkan penyakitnya kambuh. Dia tahu betul akan kewajiban seorang wanita menutup auratnya. Auratnya juga merupakan kehormatan dan harga dirinya. Maka, dia pun berusaha menjaganya, meski dalam kondisi ketidaksadarannya akibat sakit ayat itu. Inilah salah satu ciri wanita shalihah, penghuni surga. Mempunyai ‘iffah, sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya.

Selain itu, keralaan dan kesabaran wanita itu yang disebutkan Nabi saw., “Jika kamu mau, kamu bisa bersabar, dan kamu mendapatkan surga. Tetapi, kalau kamu mau, aku pun akan mendoakanmu, agar Allah menyembuhkanmu.” Tanpa ragu dia menjawab, “Aku memilih bersabar, ya Rasul.” [Hr. Bukhari dan Muslim]. Dia lebih memilih bersabar dalam deritanya. Salah satu ciri wanita shalihah yang ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi musibah dengan kesabaran yang luar biasa.

Iya, manusia memang tidak akan mampu mencapai kedudukan mulia di sisi-Nya, dengan seluruh amalan perbuatannya. Namun, Allah akan memberinya jalan untuk meraihnya, dengan cara memberikan cobaan kepada hamba-Nya, cobaan yang tidak disukainya. Setelah itu, Allah memberinya kesabaran untuk menghadapi cobaan itu. Dengan kesabarannya dalam menghadapi cobaan, dia pun meraih kedudukan mulia yang sebelumnya tidak bisa diraihnya dengan amalannya.

Nabi saw. bersabda, “Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan menyabarkannya hingga mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.” [Hr. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Haadits Shahih 2599].

Maka, saat cobaan menimpa, kesabaran kita akan mengantarkan kesempurnaan iman kita. Kita berharap, dengan kesabaran kita dalam menghadapi cobaan Allah akan Mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat kita pada kedudukan yang mulia di sisi-Nya.

Semoga seluruh fitnah (ujian) yang menimpa kita, baik dalam bentuk kebaikan maupun keburukan, tidak akan memerosokkan, menjatuhkan bahkan menyesatkan kita. Amalkanlah doa yang diajarkan oleh menantu Nabi saw. ‘Ali bin Abi Thalib:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُضِلاَّتِ الْفِتَنِ

“Ya Allah, hamba berlindung kepada-Mu dari fitnah yang menyesatkan.”

Amin.. amin.. amin ya Mujiba as-Sailin.

Saat Satu Pintu Tertutup, Pintu Lain pun Terbuka

Tak pernah terbayang di benak keluarga saya, salah satu dari enam anak bapak terlibat permainan uang dari lempar gadai mobil hingga terlilit hutang yang luar biasa besarnya. Hingga total hutangnya melebihi seluruh aset yang kami miliki, 2 rumah dan sebidang tanah. Mungkin ini ibarat mendapat durian runtuh, tiba-tiba kami harus merelakan seluruh aset untuk pergi tak bersisa. Dan sungguh, tak pernah sekalipun terbayang di benak saya, seluruh aset keluarga benar-benar habis dengan begitu mudahnya!
.

Tapi sekali lagi, Allah memang Maha Berkehendak. Dan pilihan kami hanya satu, IKHLAS! Bukankah menghilangkan seluruh bumi seisinya adalah juga mudah bagi Allah? Lalu mengapa kita musti ngeyel untuk mempertahankan sesuatu yang memang diambil oleh Pemilik Sejatinya?
.

Tapi juga bukan Allah, jika Ia tidak Maha Penyayang. Allah tak akan pernah membiarkan hambaNya telantar. Saat Ia menutup satu pintu, yakinlah ada banyak pintu siap dibukakannya, kita hanya perlu satu kata, SABAR!
.

Satu per satu pintu itupun akhirnya terbuka. Adik akhirnya diangkat menjadi pegawai tetap di tempatnya bekerja setelah menunggu hampir dua tahun lamanya. Kakak pertama akhirnya mendapat kesempatan untuk memiliki kantin sendiri, dan tak lagi menjadi juru masak untuk orang lain. Dan saya, Alhamdulillah mendapat rejeki untuk menempati rumah kontrakan yang cukup besar dengan sewa yang luar biasa murahnya, dan Alhamdulillah lagi, suami sudah mendapatkan pekerjaan yang benar-benar dinikmatinya dengan pendapatan yang membuatnya bisa menyisihkan sedikit demi sedikit untuk kelak kami membeli rumah sendiri… insyaAllah….
.

Dan kami akan terus bersabar, hingga Allah membuka sudut-sudut pintu yang lain, dan tentu saja tanpa melewatkan kata yang lain, SYUKUR!
.

Subhanallah… Walhamdulillah… Allahuakbar !

Setengah Jalan ?

cov106-gbr

Tak terasa…

sudah setengah jalan,

menuju ajal

….

Bagaimana jika jalan itu tak sepanjang yang kau kira ?

 

Renungan untuk Para Guru

anak-sedih1

Oleh Abu Abdirrahman

Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama kami memiliki seorang teman yang jenius. Terlihat sekali dia tidak butuh untuk belajar sungguh-sungguh untuk menguasai pelajaran Matematika dengan baik. Sepertinya kami belum pernah bertemu dengan siswa secerdas anak ini.

Barangkali dia termasuk sosok-sosok langka yang pernah ada. Karena bakat luar biasa itu pula agaknya tidak ada yang memperhatikan dan memaksimalkan potensinya, mungkin semua berpikir, “Oh dia sudah bisa, tidak perlu dibantu!” Lalu dia pun sering menggunakan kemampuannya untuk meledek guru-guru dan memperlihatkan kelemahan-kelemahan mereka. Ini menyebabkan guru-guru tersebut mengabaikan bahkan membencinya.

Pada suatu hari seorang guru memintanya untuk menyelesaikan satu soal di depan kelas. Dia tampaknya sengaja menyelesaikan soal dengan cara yang tidak diajarkan, dan keluar dari buku teks yang kami gunakan. Na’asnya bukannya memberikan dukungan dan apresiasi terhadap talentanya, sang guru justru menolak penyelesaian teman kami itu, meskipun hasilnya benar, dan menganggapnya menyimpang dari kurikulum.

Parahnya lagi dia memarahi teman kami tersebut dan mengecamnya di hadapan kami semua. Sang guru rupanya tetap menyimpan marahnya, dan membalasnya dengan cara yang spesial, nilai merah. Murid jenius itu pun gagal dalam bidang studi Matematika, sementara saya –yang sampai sekarang tetap tidak menyukai pelajaran ini –dan teman-teman yang lemah lainnya lulus. Demikian satu talenta hebat yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh umat ini suatu saat kelak dibunuh dengan sengaja.

Saya teringat dengan teman tersebut ketika membaca kasus serupa di sebuah Universitas di Kopenhagen Denmark. Sebuah pertanyaan fisika berbunyi: Jelaskan cara mengukur ketinggian gedung dengan barometer (alat pengukur tekanan udara)! Pada umumnya mahasiswa menjawab: Dengan mengukur perbedaan antara tekanan udara di permukaan tanah dan tekanan udara di puncak gedung.

Tetapi salah satu jawaban membuat marah dosen penguji dan langsung memberi nilai nol tanpa menuntaskan membaca jawaban. Jawaban yang membuat marah itu ialah: Ikatkan barometer tersebut dengan tali yang panjang kemudian jatuhkan ke tanah dari puncak gedung, jika sudah sampai ke tanah, ukurlah berapa panjang tali tersebut.

Meskipun jawaban tersebut benar adanya, tetapi dapat dimengerti Dosen tersebut marah; si mahasiswa memberikan jawaban dengan cara pikir yang terlalu dangkal tidak ada hubungan sebenarnya dengan barometer maupun Fisika.
Mahasiswa tersebut melakukan banding kepada pihak kampus dan dikabulkan. Rektorat memberinya kesempatan lain dengan dosen yang lain pula. Sang dosen mengajukan pertanyaan yang sama secara lisan.

Dengan penuh percaya diri sang mahasiswa memberikan jawaban, ”Ada banyak cara yang dapat kita lakukan,

Pertama: dengan melemparkan barometer dari puncak bangunan, perhatikan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh barometer untuk sampai ke tanah, dengan memakai persamaan gravitasi kita dapat mengetahui tinggi gedung.

Kedua: jika waktunya siang hari bisa dilakukan dengan mengukur panjang bayangan barometer dan bayangan gedung, dengan rumus persamaan (tinggi termoter/tinggi bayangannya = tinggi gedung/tinggi bayangannya) dapat diketahui tinggi gedung tersebut.

Ketiga: Jika Anda tidak ingin repot-repot memikirkan urusan ini, maka cara yang terbaik ialah katakan kepada petugas keamanan, ‘Barometer ini saya hadiahkan kepada Anda, jika Anda memberitahu saya dengan benar berapa tinggi gedung ini.’ Tapi jika kita ingin memperumit masalah ini, maka kita gunakan barometer ini terlebih dahulu untuk mengukur tekanan udara di atas permukaan tanah, kemudian tekanan udara di puncak gedung, lalu hitunglah selisih antara keduanya!”

Sang Dosen pun bertanya, “Mengapa Anda tidak menulis jawaban ini? Anda tentunya paham Dosen Anda menunggu jawaban ini.”
Mahasiswa ini menjawab, ”Para Dosen sendiri yang mempersempit cara berpikir mereka, memaksa kami berpikir dengan cara mereka!”

Para pembaca yang mulia, sungguh disesalkan tidak jarang kita temukan para pendidik seperti ini, merasa terusik ketika ada seorang siswa yang lebih unggul daripada mereka: kecerdasan, bakat, atau keterampilannya. Bukannya diberi motivasi dan memberikan perhatian khusus, justru ada saja yang mematikan bakat-bakat luar biasa tersebut.

Bagian yang menyentakkan dari kedua kasus di atas ialah: bahwa si jenius Denmark, Niels Bohr, kemudian tidak hanya sekedar lulus dari matakuliah tersebut, tetapi menjadi satu-satunya orang Denmark yang meraih penghargaan nobel di bidang Fisika. Sementara teman kami yang jenius tersebut, dia tidak melanjutkan pendidikannya, saya tidak tahu entah di mana dia sekarang. Saya adalah saksi hidup atas ketidakadilan yang diterimanya, atas pemaksaan pola pikir dengan cara yang picik.

Andaikata dia telah meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya, namun saya berharap dia masih dalam keadaan sehat wal afiat.

Kesimpulan yang ingin saya sampaikan ialah bahwa untuk membangun dan membina satu bakat kita membutuhkan banyak dana, waktu dan tenaga. Sementara untuk mematikan seribu bakat kita hanya membutuhkan sebuah lingkungan belajar yang membuat suntuk, atau pendidik yang tidak berkompeten, atau tidak sportif yang mampu membunuh bakat siswa-siswanya hanya dalam waktu satu minggu saja.

Betapa banyak bakat-bakat unggul yang berguguran di sekolah-sekolah kita, atau di perguran-perguruan tinggi kita, hanya karena pemiliknya berani berpikir dengan cara yang berbeda dari para pendidik mereka.!?

(qiblati)

Seperti Mereka…

belahan-jiwa

“Mi, kok kayaknya usaha Abi gak cepat melonjak kayak banyak orang ya. Ada yang sebentar bisa punya banyak toko, banyak cabang bisnis, punyak aset macem-macem…” kata suamiku suatu ketika. Ah, bukankah suami juga manusia, yang kadang mungkin terancam kejenuhan, atau bahkan keputus asaan…

“Iya, Abi emang gak punyak macam-macam seperti mereka…” Aku diam sebentar, lalu…

“Abi gak punyak utang yang harus dipikirkan cicilannya, Abi gak punyak banyak waktu yang hanya dihabiskan untuk mengejar keuntungan, Abi juga gak bingung jika nanti ditanya Gusti  Allah apakah ada riba barang sedikitpun dalam harta kita?” Kulihat suamiku melihat kearahku, seolah mengerti bahwa ada banyak hal yang membuat nya jauh lebih istimewa sekalipun mungkin ‘belum seberhasil’ layaknya seorang bisnisman sejati.

“Iya, kalo dipikir-pikir, selalu saja ada jalan ya Mi kalo kita butuh sesuatu” Lalu senyumnya mengembang, sesuatu yang selalu kuusahakan hadir di bibirnya.

Walaupun kadangkala, sesekali ‘wajah cemberut’ kuhadirkan di hadapannya, hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang mungkin tak disadarinya. Ah, bukankah itu hanya ‘sedikit bumbu’ yang menghiasi perjalananku dalam memahami setiap sisi dirinya?…